KESAH.ID – Para pengkampanye pemilu satu putaran kerap menjadikan hasil survey tingkat kepuasan masyarakat pada pemerintahan Joko Widodo sebagai salah satu alasan kenapa Prabowo Gibran akan memenangkan pemilu dalam satu putaran. Padahal Jokowi Effect yang sebenarnya dan tidak di blow up adalah cawe-cawenya. Jokowi Effect yang sebenarnya adalah campur tangan atau keterlibatan aktif Joko Widodo dalam kampanye memenangkan Prabowo Gibran.

Mungkin nggak sih pemilu presiden 2024 akan berlangsung satu putaran?. Mungkin saja.

Jika melihat hasil-hasil survey terbaru, elektabilitas pasangan Prabowo – Gibran sudah melewati angka 50 persen. Jadi secara teori, kemungkinan itu bisa terjadi.

Meski begitu angka 50 persen atau lebih itu harus dibedah lebih dalam karena belum tentu semua respondennya sudah mantap 100 persen untuk memilih pasangan tersebut pada hari pencoblosan.

Bisa jadi sekian persen dari yang 50 persen atau lebih itu, masih punya peluang untuk berubah pikiran. Keputusannya belum bulat, sehingga masih bisa berpindah pilihan ke pasangan lain.

Masalahnya hasil survey yang berupa highlight itu kemudian dijadikan instrumen kampanye, yakni kampanye satu putaran.

Namun hal semacam ini tak bisa dihindari dalam sebuah kontestasi yang diikuti oleh lebih dari dua pasangan.

Ada banyak alasan yang mendasarinya. Salah satu yang paling utama adalah ongkos penyelenggaraan pemilu yang makin mahal. Dari pemilu ke pemilu, biaya penyelenggaraannya terus membengkak berkali lipat.

Pemerintah yang membiayai pemilu tentu menyukai jika pemilu berlangsung satu putaran agar tak berdarah-darah postur keuangannya.

Alasan lainnya soal tensi politik. Pemilu terutama pemilu kepala daerah dan presiden selalu rawan konflik. Makin sedikit yang bersaing memang punya resiko pengelompokan pendukung yang makin ekstrim.

Persaingan yang keras karena hanya menyediakan satu kursi untuk pemenang, membuat segala cara digunakan untuk meraih kemenangan.

Dan terakhir, kampanye satu putaran dengan menggunakan data survey tentu dimaksudkan untuk membangun opini publik. Pasangan yang digambarkan kuat dan sulit untuk dilawan akan lebih mudah mengkonversi dukungan dari pemilih yang masih ragu-ragu atau belum menentukan pilihan.

Ada kecenderungan dalam otak manusia untuk tidak berpikir rumit-rumit. Pemilih akan mudah digiring untuk menjatuhkan pilihan pada yang digambarkan ‘pasti’ akan menang.

Disini kemudian akan muncul masalah. Survey politik selalu mengambarkan keadaan pada saat survey dilakukan. Maka angka elektabilitas 50 persen lebih itu valid pada saat survey dilakukan. Hasil survey bukanlah ramalan atau proyeksi bahwa pada hari pencoblosan hasilnya akan sama persis.

Survey politik bukan survey fisika, kimia atau biologi yang hitung-hitungannya bisa bertahan dalam jangka tertentu atau bahkan selamanya. Hasil survey politik hari ini,  besok bisa berubah karena ada banyak parameter baru yang menentukan pilihan seseorang terhadap calon tertentu.

Lain ceritanya kalau lembaga yang melakukan survey berani menyatakan bahwa pilihan 50 persen lebih itu sudah merupakan pilihan mati, pilihan yang tak mungkin berubah lagi walau langit runtuh sekalipun.

Yakinkah pemilih sebesar itu tidak akan berubah pilihannya jika dikasih uang dalam jumlah yang besar oleh pihak lawan?.

Dengan begitu sebuah lembaga survey yang kredibel mestinya tidak boleh mengklaim atau ikut-ikutan mengkampanyekan pemilu satu putaran, sebab hasil survey hari ini tidak bisa dipakai untuk mengambil kesimpulan pada hari esok.

Tidak mengucapkan “Pemilu akan berlangsung satu putaran jika dilaksanakan pada hari ini,” merupakan manipulasi sengaja untuk membentuk opini publik untuk menguntungkan pasangan tertentu.

BACA JUGA : Lebih Baik Pilih Orang Dungu

Persoalannya saat ini ada banyak lembaga survey yang merangkap sebagai konsultan pemenangan dalam pemilu, termasuk didalamnya sebagai konsultan komunikasi.

Dengan demikian isu pemilu satu putaran sudah dibangun sejak lama, bahkan ketika pasangan calon presiden dan wakil presidennya belum ada.

Menjelang pemilu 2024, jauh-jauh hari setelah menghembuskan isu Jokowi 3 periode, muncul skenario memasangkan Prabowo – Joko Widodo. Skenario ini jelas bertujuan memenangkan pemilu satu putaran.

Namun skenario ini gagal.

Dan nampaknya Joko Widodo kemudian terobsesi dengan pemilu satu putaran, apapun alasannya.

Meski masih malu-malu, Presiden kemudian mulai ikut cawe-cawe untuk mewujudkan hal itu.

Salah satunya dengan menggalang yang disebut koalisi besar. Mengumpulkan partai-partai besar dan menengah yang mau menyebut dirinya sebagai ‘Orangnya Jokowi’.

Skenario ini tidak mulus, PDIP nampaknya tak merespon dengan baik demikian juga Nasdem.

Lolosnya Nasdem dari genggaman Joko Widodo menimbulkan tantangan baru. Skenario pemilu satu putaran nampaknya sulit untuk diwujudkan.

Joko Widodo nampaknya terus berupaya membujuk PDIP, atau sekurangnya Calon Presiden yang paling potensial dari PDIP untuk bergabung dalam koalisi besar. Namun lagi-lagi gagal.

Kemunculan 3 pasangan calon nampaknya tidak bisa lagi dicegah, sulit untuk dicegat.

Dan Nasdem menjadi juara pertama mengumumkan calonnya. Anies Baswedan diumumkan sebagai capres dengan tagline perubahan.

Anies tak bisa dicegat lagi, maka Ganjar yang mesti dikunci.

Elektabilitas Ganjar yang terus naik karena digambarkan sebagai penerus Jokowi.

Operasi komunikasi dilakukan. Opini Ganjar sebagai penerus Jokowi mesti dihentikan. Pemilu yang nampaknya akan diikuti oleh 3 pasangan kemudian digambarkan sebagai pertarungan antara kubu penerus dan kubu perubahan.

Opini itu terbentuk, Ganjar dieliminasi dengan cara memasangkan Gibran dengan Prabowo. Posisi Ganjar sebagai penerus Joko Widodo tak valid lagi. Ganjar terjepit diantara kubu penerus dan kubu perubahan.

Hasil survey membuktikan skenario cawe-cawe Joko Widodo efektif. Jokowi effect, tidak lagi berada di PDIP dan Ganjar Pranowo melainkan ke Prabowo Gibran. Elektabilitas Prabowo melejit karena dipasangkan dengan Gibran, Anies Muhaimin naik turun, dan Ganjar Mahfud cenderung melemah.

Apakah survey politik mewakili kenyataan yang sesungguhnya?. Bisa jadi iya selama metodologinya benar.

Namun banyak orang menjadi tidak percaya pada hasil survey karena ‘cawe-cawe’ Joko Widodo yang keterlaluan untuk mewujudkan pasangan Prabowo – Gibran.

BACA JUGA : Sapi Kok Nggak Makan Hijauan?

Denny JA, pemilik LSI Denny JA menjadi salah satu sosok yang gencar mengkampanyekan pemilu satu putaran.

Hal ini mengingatkan kembali pada kejadian di pemilu 2009, dimana Denny JA memimpin Gerakan Satu Putaran Saja.

Data survey LSI Denny JA, dipakai olehnya untuk membuat iklan di Televisi, Radio dan Koran. Denny JA juga mengadakan berbagai diskusi untuk memancing perhatian publik.

Pemilu 2009 memang diikuti oleh 3 pasangan calon. Opini yang berkembang, pemilu akan sulit diselesaikan dalam satu putaran. Publik beranggapan mustahil ada pasangan capres dan cawapres yang bisa memperoleh suara lebih dari 50 persen.

Hasilnya, KPU mengumumkan pilpres 2009 berakhir dalam satu putaran. SBY-Budiono menang dan Denny JA mendapat penghargaan dari PWI sebagai The Newsmaker of Election 2009.

Pada pemilu 2024 ini Denny JA kembali mengkampanyekan pemilu satu putaran. Dasarnya tentu saja survey LSI Denny JA terhadap 3 calon pasangan.

Elektabilitas Prabowo Gibran dalam survey LSI Denny JA sudah melewati angka 50 persen. Dengan skenario positif {ditambahkan margin of error ke atas} maka angkanya bisa diatas 53 persen.

Saking seriusnya mengkampanyekan pemilu satu putaran, LSI Denny JA sampai membuat survey khusus, menanyakan kepada pemilih apakah ingin pemilu satu putaran atau tidak?. Hasilnya sebagian besar tentu menginginkan pemilu satu putaran saja, jumlahnya diatas 80 persen.

Salah satu point yang menyakinkan Denny JA bahwa pemilu akan berlangsung satu putaran adalah Jokowi Effect. Denny JA selalu menyebut tingkat kepuasan masyarakat pada pemerintahan Jokowi teramat tinggi, 80 persen.

Dan Jokowi Effect jatuh ke pasangan Prabowo Gibran, yang dalam opini publik adalah kelanjutan dari pemerintahan Joko Widodo.

Apakah benar setinggi itu tingkat kepuasan masyarakat pada pemerintahan Joko Widodo?.

Ada pendapat lain yang menyebutkan realitas survey itu sebagai gambaran masa lalu yang terus di-up.

Dengan mengajukan soal tingginya tingkat kepuasan masyarakat pada Joko Widodo sebagai salah satu alasan pemilu akan berlangsung satu putaran, Denny JA sebenarnya tengah mengeliminir fakta Jokowi Effect yang berdasarkan cawe-cawe.

Joko Widodo sebagai presiden terlibat aktif dalam memenangkan Prabowo Gibran. Bukan hanya lewat kampanye melainkan juga lewat berbagai macam bantuan serta pengerahan kekuatan berbagai elemen untuk memenangkan Prabowo Gibran.

Uang memang bisa memenangkan namun kekuasaan jauh lebih kuat.

Dan tangan-tangan kekuasaan secara terang-terangan melakukan kampanye aktif, mengarahkan pemilih untuk mencoblos Prabowo Gibran.

Joko Widodo tahu persis literasi politik masyarakat Indonesia. Rakyat kebanyakan akan lebih memilih mendengarkan yang masih punya kuasa, dari pada suara kritis dari kaum intelektual, akademisi, kampus dan aktivis.

Yang ngotot menang satu putaran amat percaya diri, suara-suara ‘kenabian’ tentang demokrasi yang sedang dalam ancaman tak mempan di telinga masyarakat kebanyakan.

Mereka yakin se yakin yakinnya, rakyat akan lebih memilih bansos, makan siang gratis, janji semenisasi jalan, kredit murah dan lain-lainnya.

Laparnya masyarakat kita bahkan diwakili oleh pelaksana pemilu di tingkat desa/kelurahan seperti video yang beredar di media sosial. Video ini menunjukkan bahwa ujung tombak demokrasi lewat pemilu ternyata masih berpikir dengan perut, berebut makanan hingga banyak yang tak kebagian.

note : sumber gambar – WARTAKEPRI