KESAH.IDSalah satu yang sering membuat masyarakat tradisional terkurung dalam kemiskinan adalah ketidakterbukaan pada inovasi yang didukung oleh ilmu pengetahuan atau sains. Temuan dalam bidang pertanian dan peternakan yang berbasis pada sumberdaya setempat sudah banyak. Tapi kungkungan pengetahuan dan pengalaman masa lalu yang sudah dianggap sebagai tradisi yang benar, membuat petani dan peternak kerap menutup diri pada praktek-praktek budidaya baru yang memungkinkan mereka mendapat nilai atau keuntungan lebih.

Kalau ada orang memberi saya ayam untuk dipelihara pasti saya terima dengan senang hati. Namun jika orang itu kemudian berencana memberi sapi, saya akan mikir dua kali. Sapi akan saya terima andai boleh langsung dijual, tapi kalau diberi dengan harapan saya pelihara, rasanya berat.

Jangankan sapi, kambing aja yang makannya lebih sembarang bakal bikin repot untuk ngarit dan ramban.

Sapi tentu berkali-kali lebih repotnya.

Terus terang saya memang tak punya pengalaman memelihara sapi. Jadi hanya melihat dari jauh dan berasumsi betapa repotnya yang punya sapi mesti mencari rumput untuk pakannya.

Tapi terakhir ini soal kerepotan cari rumput sudah mesti saya koreksi dari memori.

Toh ternyata sapi bisa dipelihara dengan pakan kering, bukan hijauan yang langsung disajikan.

Sebenarnya beberapa tahun lalu ada teman yang bercerita soal itu, sewaktu dia aktif dalam organisasi kepemudaan yang giat melakukan pemberdayaan untuk orang-orang muda.

Dengan segala orasinya soal ketahanan pangan, termasuk daging, organisasinya punya niat mulai melahirkan peternak-peternak muda di salah satu wilayah Kalimantan Timur.

Maka selain memberi bantuan sapi, kaum mudanya mesti ditingkatkan sumberdaya manusianya dalam pengetahuan dan ketrampilan untuk beternak.

Dan salah satu yang dipelajari adalah makanannya.

Karena dianggap belum ada yang jago soal itu di Kalimantan Timur maka perlu dilakukan studi banding.

Meski tak akan ikut memelihara sapi, teman saya yang pengurus organisasi itu ikut juga studi banding belajar cara membuat pakan sapi kering, mengolah hijauan untuk difermentasi menjadi pakan.

Sepulang dari studi banding, saya mendapat oleh-oleh cerita. Tentu cerita yang lebih banyak bukan soal pakan sapi, tapi cerita lainnya.

Biar afdol lalu saya bertanya “Jadi kapan akan mulai dibuat pakan keringnya?”

Eh, tiba-tiba teman saya itu seperti kurang bersemangat menjawab.

“Ada bahannya yang nda ada disini,” ujarnya.

Tentu saja saya penasaran, masak Kalimantan Timur yang penuh dengan keanekaragaman hayati ini tidak punya bahannya.

“Memangnya apa yang nggak ada disini,” tanya saya.

“Molase,” jawab teman saya singkat.

Oh, ternyata untuk membuat pakan kering perlu molase, atau tetes tebu.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Yang disebut resep memang lain-lain, tergantung pada tempat yang kita datangi.

Dan setahu saya untuk mempercepat proses fermentasi tak selalu harus memakai molase, bisa saja memakai bahan lain yang mudah dibuat sendiri.

Tapi ya sudahlah, toh teman saya sudah menunaikan tugasnya membawa calon peternak muda untuk studi banding, perkara yang dipelajari di tempat lain itu dipraktekkan atau dimodifikasi itu bukan urusannya. Tupoksi dia hanya mensukseskan studi banding.

Proses fermentasi hijauan {batang dan daun} untuk menjadi pakan ternak {silase}

BACA JUGA : Membela Gibran

Bertahun kemudian tanpa melalui studi banding, akhirnya saya belajar membuat pakan ternak kering di Samarinda. Tepatnya di Berambai, bersama dengan sekelompok petani di sana.

Yang menarik, sebelum saya melihat praktekknya saya sudah terpana dengan pernyataan salah satu penyuluh swadaya yang mengatakan “Tanah kita mempunyai segala-galanya yang kita perlukan,”

Anjrit, pede sekali.

Tapi pernyataannya ternyata bukan omong kosong, sebab yang dijadikan sebagai bahan pakan adalah segala sesuatu yang selama ini dibuang begitu saja.

Pengolahan pakan ternak yang diajarkan olehnya dinamakan silase. Hijauan diawetkan dengan cara fermentasi sederhana, bahkan tanpa campuran apa-apa.

Bahan pembuat silase bukan hanya rumput melainkan juga batang jagung beserta daunnya {tebon}, batang singkong dengan daunnya, ranting dan daun dari pohon lain seperti nangka, lamtoro, kaliandra, sengon dan lain-lain.

Cara pembuatannya ternyata sangat sederhana, batang dan daun diangin-anginkan dulu atau dijemur di panas matahari agar berkurang kadar airnya. Lalu dicincang, biar lebih cepat memakai mesin pencacah sederhana.

Setelah itu cacahannya dimasukkan dalam plastik dan ditutup rapat. Letakkan di tempat yang ada naungannya agar tak terkena matahari langsung. Dalam waktu 4-5 hari, pakan kering itu siap diberikan pada ternak. Tanda kalau hijauan sudah terfermentasi dengan baik adalah bau harum ketika plastik dibuka.

Ketika mengikuti pelatihan di Berambai saya belum bisa mencium bau harum itu, karena bahan pakannya belum terfermentasi.

Beberapa hari kemudian saya mendatangi seorang peternak di Muang Dalam Lempake. Selain melihat lagi bagaimana membuat silase, saya juga bisa melihat, memegang dan mencium wangi hijauan yang telah terfermentasi dengan baik. Memang harum dan memancing minat untuk mencicipinya, tapi saya bukan kambing.

Dan di kandang, beberapa ekor kambing dengan riang memakan hijauan yang telah terfermentasi menjadi pakan kering itu. Tak seperti mata orang yang hijau ketika melihat uang, ternyata mata kambing juga tetap hijau ketika melihat hijauan atau ramban yang telah terfermentasi hingga berwarna kecoklatan.

Kambing kerap dianggap sebagai binatang bodoh, makanya bisa dibodohi dengan pakan kering. Lalu bagaimana dengan sapi yang susunya bisa membuat anak-anak sehat dan cerdas?.

Ternyata sama saja.

Sapi juga doyan silase. Kalau tak percaya pergi saja ke kandang sapi di Lubuk Sawah. Kandangnya kurang lebih 200 meter setelah Taman Salma Shofa.

Sudah sebulan lebih sapi-sapi di kandang itu setiap hari mengkonsumsi silase saja.

Pemberian pakan terfermentasi {silase} membuat lingkungan kandang menjadi lebih bersih, limbah sisa pakan berkurang dan kotoran tidak terlalu berbau.

BACA JUGA : Ekonomi Hijau, Energi Hijau Dan Inflasi Ramah Lingkungan

Kemarin saya mampir ke kandang sapi itu, saat panas mentari berasa memayungi Samarinda dengan panas yang mendidihkan.

“Nggak bahaya ta, sapinya tidak pernah memakan hijauan,” tanya saya pada yang memelihara sapi-sapi itu dengan sepenuh hati.

“Sampeyan mesti piknik lebih jauh,” jawabnya singkat.

Tentu yang dimaksudkan olehnya adalah saya mesti melihat pemelihara sapi di tempat-tempat lain, yang sedari belajar makan sampai gemuk ginuk-ginuk hanya diberi makan dengan pakan kering atau fermentasi.

“Inti makanan itu bukan bentuk atau tampilan warna, tapi kecukupan kebutuhan kalori dan nutrisi,” sambungnya.

Benar juga.

Dalam budidaya di Indonesia, negeri yang ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi ini petani dan peternak kerap menghadapi dua kondisi ektrim yang saling berlawanan. Pada satu masa berkelimpahan dan pada satu masa berkekurangan.

Pakan kering atau pakan yang difermentasi bisa menyeimbangkan kedua sisi ektrims itu sehingga pakan tersedia sepanjang tahun.

Bahan pakan yang berlimpah saat panen tiba, tentu saja murah meriah. Mengawetkan atau melakukan fermentasi atasnya menjadi cara bijaksana agar tak terbuang percuma. Ingat limbah pertanian yang tidak ditangani dengan baik, dibiarkan begitu saja atau bahkan dibakar merupakan salah satu penyumbang emisi karbon utama di Indonesia.

Jangan khawatir dengan kandungan nutrisi pakan kering atau fermentasi. Justru proses fermentasi mampu meningkatkan zat gizi tertentu dalam hijauan. Proses fermentasi juga membuat pakan menjadi mudah dicerna, ternak tidak kehabisan energi untuk mengolah pakan dalam tubuhnya. Pertumbuhan atau penambahan berat badan menjadi lebih terkontrol.

Sedangkan dari sisi harga termasuk didalamnya efektifitas waktu, membuat pakan kering atau fermentasi jelas akan lebih menguntungkan ketimbang menyediakan hijauan segar setiap harinya.

Di luar semua kelebihan itu, pakan kering atau terfermentasi akan membuat kandang lebih bersih karena limbah atau sisa pakannya akan berkurang. Kotoran ternaknya juga tak terlalu bau.

Terakhir kotoran yang lebih halus dan sisa-sisa pakan dari bahan yang sudah dicacah, jika dicampurkan dan kemudian difermentasi kembali akan menjadi pupuk yang matang, baik pupuk padat maupun pupuk cair.

Mematangkan kotoran dan sisa pakan menjadi pupuk, membuat sapi bukan hanya menjadi peliharaan melainkan juga mesin uang. Pupuk bisa dijual, hasilnya penjualan bisa untuk menutupi ongkos pemeliharaan sapi.

Kalau masih ada lebihnya bisa dipakai untuk ngopi-ngopi.