“Youtube lebih dari televisi,” kata Jovial Da Lopez.

Jovial yang bersama saudaranya Andovi membangun channel skinny Indonesia 24 merasa apa yang tidak bisa ditampilkan atau ditemukan di televisi bisa ditemukan di Youtube. Youtube memberi kesempatan kepada para kreator untuk mengunggah karyanya berdasarkan idealisme masing-masing.

Namun ketika para kreator dan penonton Youtube terus bertambah, sebagai korporasi Youtube kemudian mulai mengubah algoritmanya untuk mencapai tujuan korporasi yaitu meraup iklan sebesar-besarnya.

Algoritma Youtube lebih menyukai kreator-kreator yang rajin mengupload video dengan durasi yang cukup panjang. Agar dalam setiap video bisa disisipi 3 sampai 5 iklan. Banyaknya iklan yang ditayangkan akan berhubungan dengan banyaknya uang yang diperoleh oleh Youtube dan Youtuber.

Melihat perkembangan itu, Jovial kemudian mengatakan “Youtube kini tak lebih dari televisi,”.

Selain karena ada arus perpindahan selebritas dari televisi yang kemudian merambah Youtube. Apa yang ada di Youtube kemudian ada di televisi dan apa yang ada di televisi kemudian juga ada di Youtube.

Situasi ini membawa benturan terutama pada para kreator yang mempunyai idealisme dan sikap tertentu terkait dengan karya serta platform untuk mengunggahnya.

Tujuan para kreator dan tujuan korporasi dalam industri kreatif memang kerap tak sejalan. Dan berakhir dengan kelam, entah karena kreatornya menyingkirkan diri atau disingkirkan.

Dan tentu saja ini tidak hanya terjadi di Youtube, melainkan juga terjadi di platform lain seperti radio, televisi, musik, film dan lain-lain. Kita kerap kehilangan talenta-telenta terbaik akibat hubungan mereka yang kemudian tidak seiring sejalan dengan tujuan korporasi tempat mereka berkarya.

Dalam dunia industri kreatif dikenal istilah indie.

Indie adalah singkatan dari kata independent, artinya sifat-sifat yang mandiri, bebas, merdeka. Musisi indie artinya mereka membuat label sendiri, memproduksi karya sendiri, melakukan promosi dan publikasi oleh mereka sendiri. Mereka tidak berada di bawah label musik mainstream atau korporasi besar.

Memilih di jalur indie artinya dalam berkarya atau berekpresi tidak terikat pada kepentingan label-label besar yang menaunginya. Karya tidak semata ditujukan untuk pasar.

Istilah indie ini kemudian melebar bukan hanya di jalur musik melainkan juga penulisan atau perbukuan. Muncul buku-buku indie, buku yang tidak diterbitkan oleh penerbit mainstream. Atau kemudian dikenal dengan istilah self publisher.

BACA JUGA : Berpikir Kreatif dan Ekonomi Kreatif 

Konflik antara Konami dan Kojima merupakan contoh lain dari perbedaan visi antara korporasi dengan kreator dalam industri kreatif.

Hideo Kojima adalah seorang pengembang games. Semasa kanak-kanak dipaksa oleh ayahnya menonton film, tidak boleh tidur sebelum film selesai. Kojima bercita-cita menjadi seorang sutradara film.

Ayahnya meninggal saat Kojima berusia 13 tahun sehingga tidak memperoleh dukungan untuk mengejar dan mewujudkan cita-citanya. Mengenal game yang mengabungkan kekuatan film dan permainan interaktif yang seru membuat Kojima memutuskan untuk bekerja di Konami, perusahaan pembuat games.

Proyek games pertamanya di Konami berjudul Pinquin Adventure, Kojima bertindak sebagai asisten director.

Kojima memperoleh tanggungjawab pertama untuk mengembangkan game sendiri terjadi kala dirinya diminta mengambil alih action game Metal Gear. Keterbatasan daya komputasi pada saat itu membuat Kojima berinovasi, merubah Metal Gear dari kisah tentang pertempuran menjadi kisah tentang tawanan yang berusaha menyelamatkan diri secara diam-diam.

Di tangan Kojima lahirlah stealth games dan mendapat tanggapan yang sangat positif di pasar saat diluncurkan. Tiga tahun kemudian kembali diluncurkan Metal Gear 2, Solid Snake yang sangat sukses di pasaran dan mendatangkan keuntungan besar bagi Konami.

Sejak saat itu Metal Gear menjadi franchise yang sukses dimana-mana. Dan sampai saat ini ada lebih 20 judul game Metal Gear yang melambungkan nama Konami, juga mengisi pundi-pundi keuntungannya.

Sementara oleh para kritikus, Kojima disebut sebagai aetur pertama untuk video games. Sebutan aetur biasanya diberikan kepada pembuat film yang mana gaya personal dan kontrol atas aspek-aspek produksi membuatnya menjadi karya yang unik dan pribadi.

Kojima kerap disamakan dengan Francis F Coppola karena games Kojima mempunyai aspek cerita yang kuat dan keindahan yang memukau.

Kojima telah menjadi maestro games di Konami.

Tahun 2015 mulai terdengar kasak-kusuk adanya hubungan tidak harmonis antara Kojima dan para petinggi di Konami. Kojima juga mengatakan bahwa Metal Gear Solid V – The Pantom Pain adalah video games terakhirnya.

Konon status Kojima dan timnya sudah dirubah dari karyawan tetap menjadi karyawan kontrak yang kontraknya akan berakhir saat video gamesnya dirilis.

Studio Kojima yang berada di Amerika Serikat kemudian ditutup oleh Konami dan diganti menjadi Konami Los Angeles Studio. Dan nama Kojima hilang dari semua produk promosi dan website Metal Gear.

Konami membuang Kojima, sang maestro video games yang membesarkan Konami dalam jagad produsen gaming.

Konami secara kejam menyingkirkan Kojima karena adanya pergeseran rencana bisnis dalam perusahaan. Para pembesar Konami memandang masa depan mobile games lebih cerah sehingga fokusnya akan kesana.

Presiden Konami, Hideki Hayakawa menyebut mobile gaming adalah masa depan.

Pandangan ini dipengaruhi oleh keberhasilan video games Dragon Collection. Sebuah permainan yang dimainkan di handphone atau media sosial. Sederhana dan mudah dimainkan oleh semua orang hingga kemudian sukses, jutaan orang memainkannya.

Sejak saat itu mobile gaming menjadi pendorong baru keuntungan bagi Konami.

Sementara games yang dikembangkan oleh Kojima yang berbasis pada PC dan konsol cenderung menunjukkan penurunan perolehan keuntungan.

Konami akhirnya tidak mau berinvestasi terlalu besar pada jenis-jenis games yang dihasilkan oleh Kojima dan timnya.

Untuk para pembesar Konami, mereka menemukan kenyataan bahwa mengeruk keuntungan besar tak perlu dengan membuat games yang rumit, membutuhkan waktu panjang untuk mengembangkan dan tentu saja menyedot banyak uang.

Games sederhana yang beroperasi di platform mobile ternyata bisa mendatangkan keuntungan besar dan membuat pundi-pundi keuangan perusahaan mengelembung.

Perubahan orientasi perusahaan dalam sebuah industri tertentu memang biasa. Bagaimanapun perusahaan akan selalu berorientasi pada keuntungan bukan mahakarya.

Maka membuang maestro sekalipun tak akan ditangisi oleh perusahaan. Para pengemarnya atau fans dari games lah yang mungkin sedih dan terluka.

BACA JUGA : Menyambut Kemustahilan 

Dalam sebuah wawancara di podcast Deddy Corbuzier, Soimah tidak mau disebut sebagai seniman atas penampilannya yang laris manis di televisi.

“Saya pekerja seni,” begitu ujarnya.

Jawaban itu menyiratkan bahwa penampilan Soimah di televisi tidak mewakili karakter kesenimannya. Dia tampil sebagai penghibur sebagai sosok yang dimaui oleh para produser acara di televisi.

Ngotot menjadi dirinya sendiri berpotensi untuk kehilangan pekerjaan dan penampilan di layar televisi.

Deddy Corbuzier sebelum terkenal dengan ‘close the door’, pernah mempunyai acara talk show yang mempunyai warna tersendiri di televisi, walau judulnya talk shownya Hitam Putih.

Mungkin karena banyak permintaan untuk menjaga karakter talk shownya, namun karena rating yang bisa jadi tidak bagus akhirnya Hitam Putih pensiun dari layar kaca.

Maka sama dengan Kojima, sang maestro games yang selalu melahirkan mahakarya. Ketika dianggap tak menguntungkan lagi untuk perusahaan maka nama besar atau maestro sekalipun bakal digeser atau dilenyapkan.

Dalam industri kreatif hubungan antara kreator dan korporasi memang tidak selalu mulus. Kreator memang kerap kali sangat perfeksionis. Sehingga berekplorasi dengan berbagai macam hal untuk mencapai kesempurnaan. Oleh perusahaan hal semacam ini kerap dianggap sebagai pemborosan, baik waktu maupun uang.

Beruntung akhir dari pertempuran buruk antara Konami dan Kojima berakhir baik. Kojima yang tidak punya apa-apa selepas dari Konami mampu bangkit. Menggunakan segala koneksinya berhasil membuat studio di Jepang dan kemudian meluncurkan gamesnya sendiri dengan judul Death Stranding.

Dan Kojima kembali diundang dalam perhelatan Games Show Awards untuk menerima penghargaan The Industry Icon Awards atas karya-karyanya di industri gaming. Kojima tetap seorang maestro dan selalu melahirkan mahakarya.

Konami paska Kojima tetap meluncurkan Metal Gear, yang tidak mendapat tanggapan baik dari pasar. Metal Gear jeblok dan bahkan diolok-olok oleh para gamers. Tapi secara usaha, Konami terus bertumbuh, pendapatan dan keuntungan perusahaan naik. Memang bukan oleh games konsol melainkan oleh mobile gaming.

Secara bisnis atau mencari keuntungan, keputusan pembesar Konami untuk fokus pada mobile gaming adalah tepat.

Perseteruan antara kreator dengan entitas bisnis pada dasarnya adalah pertempuran ideologis. Para kreator kerap kali tampil sebagai seseorang yang visioner perfeksionis, sementara entitas perusahaan bertujuan mencari untung.

Pada titik tertentu para kreator kerap dianggap tidak peka pada bisnis, pada tujuan perusahaan untuk mencari keuntungan.

Idealnya baik kreator maupun korporasi bisa saling paham dan menghormati tujuan masing-masing. Korporasi mestinya memahami bahwa seorang kreator butuh untuk melahirkan mahakarya. Namun sebaliknya juga seorang kreator mesti memahami bahwa entitas bisnis mesti memaksimalkan profit.

Idealisme tidak harus berlawanan dengan kepentingan bisnis. Akan selalu ada pasar yang menguntungkan untuk sebuah mahakarya. Apalagi jika mahakarya itu mampu menghasilkan perubahan menuju peradaban manusia yang lebih baik.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here