Sama seperti kebanyakan orang, ketika bertemu dengan seseorang yang tulisannya renyah dan menarik maka saya akan bertanya “Bagaimana bisa menulis seperti itu?”

Dan sekali waktu, seseorang yang saya tanya menjawab “Menulislah setiap hari, jadi tidak jadi,”

Jawaban konyol itu kemudian saya ikuti sejak lima belasan tahun lalu, ketimbang jawaban-jawaban lain yang pernah saya dengar sebelumnya.

Ketika saya mulai sering menulis dan beberapa tulisan muncul di media massa kemudian ada yang bertanya “Kenapa menulis?”

Saya jawab “Karena ada banyak hal yang bisa ditulis,”

Jawaban itu sebenarnya merupakan cermin dari kekaguman saya atas beberapa penulis yang piawai menjadikan hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari menjadi bahan tulisan yang memikat.

Mereka yang saya kagumi antara lain adalah Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Satjipto Wirosarjono, Ahmad Sobary, Prie GS, Farid Gaban, Emha Ainun Nadjib dan lain-lain.

Namun kalau ditanya lebih dalam lagi, kemungkinan saya akan memberi jawaban yang normatif dengan mengatakan bahwa menulis adalah sarana untuk mengekspresikan diri, menumpahkan kegelisahan, kekesalan dan juga kepedulian.

Atau mungkin saja saya akan memberikan jawaban yang lebih mulia bahwa menulis merupakan cara untuk melakukan perubahan cara berpikir masyarakat untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik.

Ada rentang jawaban yang panjang, sebab dari hari ke hari apa tujuan saya menulis bisa berbeda-beda. Sesekali saya juga berpikir seperti politisi, menulis saya jadikan cara untuk membangun citra atau reputasi. Yang bisa membuat orang membaca tulisan bukan karena apa yang saya tulis melainkan karena saya yang menulis.

Namun pada akhirnya, tujuan dari menulis adalah agar tulisan dibaca oleh banyak orang.

BACA JUGA : Kreator dan Korporasi dalam Industri Kreatif

Dulu agar tulisan punya kemungkinan dibaca oleh banyak orang, cara satu-satunya yang paling efektif adalah mengirimkan ke koran atau media cetak lainnya. Tulisan pertama-tama mesti memikat redaktur kolom atau opini. Jika tak berhasil maka tulisan hanya akan menjadi sampah.

Tapi kalau tak terlalu yakin dengan mutu tulisan, masih ada jalan lain. Bangun hubungan baik dan berteman dengan mereka yang bertanggungjawab atas ruang kolom atau opini. Siapa tahu sebagai teman, dia akan sedikit menurunkan standar kelayakan.

Kehadiran internet merubah segalanya. Mempublikasikan tulisan menjadi lebih gampang karena kini tulisan bisa diposting lewat media sosial, personal blog, community blog dan media-media online yang jumlahnya ribuan.

Jangkauan tulisan juga bisa semakin luas karena siapapun yang suka pada tulisan kita kemudian bisa membagikan lewat berbagai platform berbagi informasi, baik yang terbuka maupun yang tertutup.

Kini masalahnya adalah semua orang berbagi tulisan, ada lautan tulisan yang bersaing untuk menarik minat pembacanya. Yang tidak menarik menjadi layu sebelum berkembang.

Ide atau tema menarik sekalipun tidak akan berhasil memikat pembaca apabila kemasannya tidak menarik.

Maka untuk menarik pembaca, sebuah tulisan mesti dikemas dengan baik sehingga mampu meraup pembaca.

Istilah menarik tentu saja subyektif. Apa yang menarik bagi seseorang belum tentu menarik bagi orang lainnya. Hanya saja sebuah ide yang unik, baru dan dekat dengan pembaca umumnya akan menarik perhatian banyak orang.

Ide-ide yang menarik akan semakin memikat jika kemudian disajikan dengan tulisan yang penuh gaya, baik gaya bahasa maupun cara menuturkannya.

Konon cara terbaik untuk menuturkan adalah dengan bercerita. Tulisan ketika dibaca seolah menjadi sebuah cerita yang dituturkan oleh penulisnya kepada pembaca.

Jaman telah berubah dari waktu ke waktu, tapi ada satu yang relative tidak berubah yaitu kesukaan manusia pada cerita. Sebab manusia selalu ingin tahu, ingin tahu orang lainnya, ingin tahu masyarakat lainnya, ingin tahu bangsa dan negara lainnya.

Kedahsyatan cerita masih tetap sama dari jaman old hingga jaman now, yaitu tetap dipercaya, meski mengisahkan hal yang tidak sebenarnya.

Cerita tentang asal usul manusia pertama misalnya, meski ilmu pengetahuan telah memfalsifikasi lewat teori evolusi namun kebanyakan dari kita masih terus mempercayai bahwa homo sapiens berasal dari sepasang manusia pertama.

BACA JUGA : Berpikir Kreatif dan Ekonomi Kreatif 

Bagaimana membuat tulisan yang bertutur kemudian kerap disebut dengan menulis kreatif. Awalnya menulis kreatif lebih dikaitkan dengan fiksi.

Jadi menulis kreatif sederhananya adalah cara melahirkan tulisan non fiksi dengan meniru cara menulis fiksi.

Maka lahirlah tulisan non fiksi yang penuh gaya. Dalam dunia berita kemudian lahir yang disebut feature. Pada opini kemudian lahir esai, sementara pada karya ilmiah lahir tulisan ilmiah populer. Dan didunia kreatif lainnya seperti pemasaran, produksi konten, film dan videografi lahirlah coppy writing.

Mari kita lihat dalam dunia pemberitaan atau media massa. Tempo kemudian mempelopori yang disebut dengan jurnalisme sastrawi. Dan gaya pemberitaan atau penulisan ini kemudian diikuti oleh banyak media lainnya sehingga lahirlah gaya menulis ala mojok, ala tirto dan lain sebagainya.

Gaya direct story telling ala-ala pemasar bukan hanya diikuti oleh mereka yang kerap menayangkan siaran langsung di facebook atau instagram, melainkan juga para kreator di Youtube.

Kesemuanya mulai berupaya untuk menarik perhatian dari awal, mulai dari judul sehingga dikenal istilah judul yang clickbait. Judul yang merangsang orang untuk meng-klik atau membukanya.

Sayang kemudian banyak yang hanya pintar dan memikirkan judulnya saja tapi isinya kopong melompong sehingga membuat banyak orang kecewa dan membuat gaduh.

Salah satu yang kerap dikutip tentang menulis adalah apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer.

Pram mengatakan “ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,”

Terkait dengan ‘keabadian’ internet terutama lewat google telah membantu mengabadikan sebuah tulisan. Sebuah tulisan yang dipublikasikan di internet akan meninggalkan jejak digital, jejak yang bisa ditelusuri kapanpun jika di-index oleh google atau mesin pencari lainnya.

Tanpa niat untuk tidak hormat pada Pram, saya merasa apa yang diungkapkan olehnya terlalu tinggi untuk menyemangati dan mengobarkan semangat menulis.

Tidak usah bercita-cita terlalu tinggi terhadap tulisan kita. Cukup semangati diri untuk menulis dengan harapan agar tulisan yang kita posting bisa segera menggerakkan orang lain.

Dan menulis kreatif adalah satu formula yang ampuh untuk mencapai tujuan itu.

Sederhananya tulisan kreatif apapun bentuknya, sebagainya disusun dengan formula berikut ini agar efektif dan syukur-syukur bisa mengeser nasib.

Formula dasar sebuah tulisan kreatif adalah hidup, kontekstual dan mengerakkan.

Buatlah koneksi antara pengetahuan dengan pengalaman. Sebab tahu banyak tidak sama artinya dengan paham. Maka menyambungkan antara pengetahuan dan pengalaman akan melahirkan pemahaman.

Penjelasan data, fakta, analisis dan lainnya hanya akan menjadi pengetahuan jika tak dikaitkan dengan pengalaman. Apakah itu harus pengalaman kita sendiri sebagai penulis, tentu saja tidak. Pengalaman orang-orang ternama, pengalaman orang lain selama berhubungan denga napa yang kita tuliskan bisa kita ambil.

Berhasil mengkaitkan bahasan kita dengan pengalaman siapapun sebagai pribadi, maka akan membawa pembacanya berada dalam situasi yang sama sehingga akan lebih mudah untuk memahami apa yang kita sampaikan.

Merasa terkait dengan pengalaman pribadinya maka seseorang yang membaca tulisan pasti akan terus membaca sampai akhir karena ingin tahu ending-nya. Syukur-syukur lagi kemudian mengambil sikap dan melakukan aksi nyata.

Kenapa pengalaman?. Karena pengalaman hidup akan membawa orang kepada wilayah emosinal. Dan emosilah yang akan membawa orang kepada ingatan. Coba periksa ingatan kita, apa yang paling kuat?. Pasti pengalaman-pengalaman yang paling emosional seperti jatuh cinta, dipermalukan, memenangkan perlombaan dan lain sebagainya.

Mungkin saja kita akan merasa tulisan kita tidak sedalam, seluas, sedetail para guru, dosen dan peneliti.

Jangan khawatir, tidak memberi banyak pengetahuan tidaklah mengapa, ketimbang memberi banyak namun data, fakta dan informasi hanya menjadi deretan sunyi yang tidak menghasilkan apa-apa. Tugas penulis kreatif bukan menyajikan pengetahuan yang mendalam melainkan membuat orang tertarik dan peduli atas isu tertentu.

Seseorang yang tertarik dan peduli maka akan tergerak untuk tahu lebih banyak lagi. Mempelajari secara lebih mendalam agar bisa mempraktekkannya dalam hidup atau aktifitas keseharian.

Berhasil membuat tulisan dalam formula seperti ini  niscaya tulisan kita akan berhasil menciptakan makna, makna yang mungkin akan menyumbangkan setitik energi untuk merubah dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here