Banyak ide luar biasa berasal dari imajinasi dan jangan ragu untuk menggunakan imajinasimu – Albert Einstein

Saat sudah tidak lagi duduk di bangku sekolah, nama Albert Einstein tidak lagi menakutkan buat saya. Di sekolah, Einstein identik dengan pelajaran dan rumus yang membuat saya dan kebanyakan teman lain mengkerut.

Rumusnya yang paling terkenal yaitu E = mc 2 dari pertama menduduki bangku kelas sampai meninggalkannya tak pernah benar-benar tuntas saya pahami.

Dikenal sebagai ilmuwan besar penemu teori relativitas, pengembang ilmu mekanika kuantum dan mendapat penghargaan nobel dalam bidang ilmu fisika, ternyata Einstein tidak selalu berbicara sebagai seorang scientist.

Ada banyak ucapan atau pemikirannya yang bersifat filosofis, bijak dan humanis.

Salah satu kata bijak dari Einstein yang pertama saya kenal adalah The Difference between genius and stupidity is that genius has its limits.

Ucapan Einstein itu berkali-kali saya dengar dari mulut seorang kawan yang membuat saya serta teman lainnya terbahak-bahak.

Awalnya saya menduga itu ucapan asli hasil rekayasa mulut kawan saya itu sendiri yang memang dikenal piawai bersilat lidah. Namun suatu saat dia mengakui bahwa itu adalah kata-kata dari Albert Einstein.

Sedangkan quote dari Einstein tentang imajinasi diatas belum lama saya dapatkan. Muasalnya adalah perbincangan pinggir jalan saat membandingkan pencapaian peradaban dan keadaban berbagai daerah di Indonesia.

Dalam perbincangan pinggir jalan itu muncul pertanyaan “Kenapa kita tertinggal jauh dibandingkan dengan kawasan lain di Indonesia?”

Sebuah pertanyaan yang sulit dan kalau dijawab sembarangan lalu ada yang merekam serta kemudian menyebarkan di media sosial berpotensi untuk mengundang tuduhan penghinaan atau penistaan.

Saya jawab saja singkat “Mungkin kita kurang imajinatif,”

Tentu jawaban itu tidak memuaskan sehingga kembali dikejar.

Terpaksa saya menjelaskan dengan cukup panjang lebar tentang manusia sebagai binatang yang diberi kemampuan berpikir.

Manusia dimanapun sebenarnya sama, kemampuan berpikirnya berangkat dari berpikir alamiah. Bertanya dan mencari jawaban.

Untuk sekedar hidup, kemampuan berpikir alamiah sudahlah cukup. Sama seperti binatang, yang juga tetap hidup dan berbiak meski tidak sekolah.

Namun dengan perkembangan jaman, munculnya berbagai persoalan, baik antar manusia, lingkungan hidup dan lainnya, berpikir alamiah menjadi tidak cukup.

Manusia kemudian mengembangkan kemampuan berpikirnya hingga kemudian muncul berpikir etis, berpikir sosial, berpikir religius dan lain sebagainya.

Puncak dari evolusi berpikir adalah berpikir ilmiah, sebuah penalaran yang didasarkan atas logika-logika tertentu.

Berpikir ilmiah artinya berpikir kritis. Mempertanyakan, menganalisis, mengevaluasi, memberi alasan dan menyimpulkan berdasarkan hasil analisis serta evaluasi.

Sampai pada penjelasan berpikir kritis, kemudian saya disela.

“Berarti kita kurang maju karena tidak berpikir kritis?”

Saya tak mengiyakan. Bagi saya sudah banyak orang berpikir kritis. Terbukti banyak forum diskusi, seminar, lokakarya, FGD dan lain-lain diselenggarakan. Tanda bertumbuhnya cara berpikir kritis juga ditunjukkan oleh banyaknya protes dan demonstrasi-demonstrasi.

“Jadi kita kurang apa?”

Menurut saya, gerak atau dinamika kemajuan kurang terasa atau tertinggal dibanding dengan banyak daerah lainnya karena kita kurang berpikir kreatif.

BACA JUGA : Menyambut Kemustahilan 

Aristoteles menyebut manusia sebagai animale rationale atau binatang yang berpikir. Meski sebenarnya yang bisa berpikir bukan hanya mahkluk yang berada di bawah kingdom of animale, sebab yang berada di bawah kingdom of plantae juga bisa berpikir.

Hanya saja jenis tumbuh-tumbuhan bisa berpikir tapi tak bisa mengekresikan, sementara binatang bisa berpikir sekaligus juga berekspresi. Dan manusia menjadi yang terbaik karena bisa berpikir teratur dan mengekpresikan secara tepat sehingga bisa ditangkap makna atau pesannya oleh yang lain.

Karena kemampuan itu maka manusia kemudian disebut sebagai homo sapiens, dimana kemampuan berpikirnya bisa menembus batas antara yang ada dan tiada, yang nyata dan tidak nyata, mencari jawab atas permasalahan, mencari nilai dan prinsip dasar serta selalu mempertanyakan segala sesuatu.

Dan dengannya manusia kemudian mempunyai kreativitas dan aktivitas sebagai respon atas lingkungan dan kebutuhan hidupnya yang fisik maupun non fisik, material maupun non material.

Manusia kemudian disebut juga sebagai mahkluk rasional, bernalar dan berlogika.

Hanya saja kebanyakan manusia lebih senang berpikir dengan tidak menggunakan kemampuan rasional. Sebab berpikir rasional itu melelahkan, bernalar atau berlogika kerap menimbulkan perdebatan panjang. Berpikir rasional juga membutuhkan banyak informasi dan pengetahuan.

Maka kebiasaan manusia yang kemudian berkembang dan dominan adalah berpikir menggunakan perasaan. Apa yang dipikirkan adalah apa yang disukai atau tidak disukai, yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Segala sesuatu yang sudah tersimpan dalam memori internal sehingga mudah untuk dipanggil.

Tanda-tanda kesukaan berpikir berdasarkan perasaan adalah tidak memikirkan kepentingan jangka panjang. Seperti masyarakat yang punya banyak hutan, dengan mudah akan menebang kayu secara serampangan. Dipikir kayunya banyak dan nggak bakal habis.

Memang mungkin tidak akan habis jika lahan hutan yang kayunya ditebang tidak dirubah menjadi permukiman, kebun, tambang, jalan atau fasilitas umum lainnya. Namun untuk menumbuhkan sebatang pohon hingga sebesar pelukan orang dewasa akan diperlukan waktu yang melewati satu generasi manusia.

Sama dengan berpikir rasional, berpikir kreatif juga merupakan salah satu model atau cara berpikir. Istilah berpikir kreatif lahir untuk mendobrak kebiasaan berpikir manusia yang kerap berada dalam kerangka atau kotak batas.

Demi kestabilan, kedisiplinan dan lain-lain manusia memang kerap memberi batasan dalam berpikir. Batasannya bisa bermacam-macam mulai dari sistem nilai, sistem religi, payung peraturan atau undang-undang, tupoksi dan lain-lain.

Ayu Utami seorang novelis menyebut gaya berpikir model ini adalah model berpikir kotak, entah empat persegi panjang atau bujur sangkar. Cara berpikir seperti ini tidak memenuhi syarat untuk menghasilkan kreativitas.

Menurut Ayu Utama, berpikir kreatif mesti menggunakan cara pikir sama dengan, atau mencari padanan atau menggunakan metafora. Atau cara berpikir oposisi, mencari sesuatu kebalikannya atau hal-hal yang berlawanan. Dan yang terakhir adalah cara berpikir silang, sesuatu pemikiran dihasilkan dengan mencari irisan-irisan dengan banyak hal lainnya.

Maka berpikir kreatif berdasarkan gaya berpikir yang disampaikan oleh Ayu Utami adalah cara pikir yang kemudian menghasilkan ide yang baru atau ide yang berbeda dengan biasanya.

Cara berpikir kreatif itu bisa dipompa dengan selalu menambah pengetahuan, pengalaman, meningkatkan kemampuan analitik dan bersikap terbuka.

BACA JUGA : Kreasi Kopi Kekinian 

Teman saya di pinggir jalan ternyata bukan tipe orang yang mudah puas. Sehingga masih terus bertanya dan membuat perbandingan.

“Mengapa orang di Jawa sana, Yogya misalnya lebih kreatif?”

Di jaman sekarang ini membanding-bandingkan bisa berbahaya. Apalagi jika tersebar di internet, bakal banyak yang tersinggung, meradang dan lain sebagainya. Segala sesuatu yang bukan hanya akan menimbulkan serangan balik melainkan juga laporan di polisi.

Tapi sudahlah toh ini perbincangan pribadi jadi sambil bergurau untuk mencairkan suasana maka saya jawab saja “Di Jawa, kreatif itu lain artinya. Disana kreatif itu singkatan dari kere aktif,”

Rupanya teman saya ini sungguh serius jadi malah bertanya “Maksud kere aktif itu apa?”

Sebagai ahli silat lidah dengan cepat saya menjawab “Ya, Jawa itu kan sudah dihabisi sejak pendudukan Belanda. Jadi kalau tidak aktif menjadi apa saja jadi uang ya nggak bakal hidup,”

“Oh, jadi kita disini ini kurang aktif ya,” tanyanya.

Daerah yang berkelebihan memang biasanya begitu. Semua serba ada sehingga masyarakatnya tidak terancam atau merasa khawatir terhadap masa depan. Salah satu yang melenakan adalah kelimpahan sumberdaya alam.

Kelimpahan sumberdaya alam menjadi sebuah keunggulan komparatif yang mungkin saja tidak dimiliki oleh daerah lainnya. Namun keunggulan ini belum tentu mendatangkan keuntungan, sebab daerah-daerah lain yang tidak mempunyai kelebihan bisa saja lebih unggul karena bisa mengembangkan keunggulan kompetitif, karena mampu mengembangkan produk atau jasa yang mempunyai nilai tambah, yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar atau mempunyai pasar yang lebih luas.

Rasanya sudah panjang lebar dijelaskan, namun nampaknya teman pinggir saya belum puas dan kembali bertanya “Jadi intinya apa, terkait dengan daerah kita ini?”

Jadi pada dasarnya punya sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang lain itu memang membanggakan. Tapi tak berarti apa-apa jika tak mampu didayagunakan dan digunakan secara berkelanjutan. Maka diperlukan kreatifitas untuk tidak memanfaatkan begitu saja atau menjualnya dalam bentuk bahan mentah.

Namun kreatifitas itu mempunyai syarat. Kreatifitas yang berdaya guna harus bersifat inventif, mempunyai nilai tambah, membawa kemanfaatan yang akan dirasakan oleh pasar. Meski sudah bernada positif, kreatif dan inventif masih perlu ditingkatkan untuk menjadi inovatif.

Menjadi invoatif artinya kreatifitas dan sifat inventif dalam melahirkan produk, jasa atau apapun akhirnya akan diadopsi, diapresiasi, dipakai atau dibeli. Dengan demikian produk dan jasa yang dihasilkan akan diserap oleh pasar.

Disitulah lahir ekonomi kreatif yang artinya segala bentuk kreatifitas menghasilkan uang bagi pelakunya. Hingga pada akhirnya akan memberi sumbangsih pada masyarakat setempat dan daerah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here