KESAH.ID – Mengagungkan citra visual, wajah kota kemudian kerap menjadi homogen. Bau belum masuk dalam pikiran para perencana kota sebagai faktor untuk menghadirkan wajah kota yang mencerminkan identitas aktivitas warganya. Padahal bau dengan mudah akan membuat orang jatuh cinta, terkenang dan selalu rindu akan kotanya.
Hati Agam sedih sekaligus riang. Riang karena cita-citanya untuk melanjutkan sekolah di Medan tercapai, namun sedih karena harus meninggalkan emak dan saudari semata wayangnya di Aceh.
Berbekal restu dan doa, Agam meninggalkan Aceh menuju Medan dengan menumpang bis. Dia memilih duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan, perjalanan dari Aceh ke Medan adalah perjalanan kali pertama meninggalkan kampung halaman.
Perjalanan Agam kurang lebih menempuh jarak 600-an km, jika bis berjalan non stop akan memakan waktu tempuh kurang lebih 13 jam.
“Sudah sampai Medan kah?” tanya Agam pada penumpang yang duduk di sebelahnya.
“Julurkan tanganmu keluar jendela,”perintah orang di sebelah yang malah tak menjawab pertanyaan Agam.
Agam kemudian menjulurkan tangannya keluar jendela, semilir angin terasa mengelus lembut permukaan kulit tangannya.
Ketika Agam menarik kembali tangannya, penumpang yang duduk disebelahnya melirik sejenak dan berkata “Belum, masih jauh.”
Beberapa kali Agam mengulang pertanyaannya dan jawabannya selalu sama.
Hingga kemudian yang terakhir, penumpang di sebelahnya berkata “Sudah, kita sudah sampai.”
Agam penasaran, bagaimana orang itu bisa tahu sudah sampai di Medan hanya dengan melirik sejenak tangannya yang baru dijulurkan keluar jendela.
“Kok bapak tahu?”
Sambil terus menatap ke depan, orang itu menjawab “Lihat tanganmu. Jamnya sudah nggak ada,”
Agam ingat pesan emaknya “Nak, copet di Medan secepat kilat.”
“Iya kak, biar rencong di kanan kiri, dompet dibelakang tetap lenyap,” timpal saudarinya waktu itu.
Kisah diatas adalah kisah rekaan, template gurauan saling ejek seru-seruan antar daerah di masa masyarakat Indonesia belum terlalu baperan. Ejekan atau poyokan dianggap sebagai tanda pertemanan, bukti keakraban.
Salah satu tanda keakraban adalah memanggil teman dengan ciri-ciri negatifnya.
Kota-kota pun tak lepas dari itu. Banyak kota dijuluki dengan ciri-ciri negatifnya seperti Kota Copet, Kota Begal, Kota Tawuran, Kota Amor dan lain-lain.
Dalam batas tertentu sebutan atau anggapan seperti itu bisa mengandung kebenaran, namun sifatnya terbatas. Fenomena ini disebut sebagai stereotype.
Sebagai gurauan tentu tidak masalah, banyak orang bisa menerima dengan lapang dada. Namun ketika anggapan kemudian menjadi prasangka tentu saja akan bermasalah.
Menganggap Medan banyak copetnya dan kemudian kita menjadi waspada tentu saja baik adanya. Namun mengangap semua orang di Medan adalah pencopet, bakal menimbulkan persoalan.
BACA JUGA : Tak Ada Partai Hijau Dalam Pemilu 2024
Bagaimana kota dikenali atau dikenang bisa saja terbentuk secara organik, muncul begitu saja sehingga sebuah kota populer sebagai kota ini atau itu.
Umumnya hal-hal yang paling menonjol atau paling kuat yang kemudian menjadi identitas penandanya. Selain lanskap dan perilaku masyarakatnya, aspek-aspek budaya dan ekonomi juga sering menjadi basis penyebutannya.
Hanya saja branding yang terjadi begitu saja tanpa direncanakan bisa jadi akan merugikan karena bernuansa negatif atau sempit sehingga tak mewakili karakter yang sesungguhnya dari kota itu.
Di masa orde baru ada kota-kota membranding diri dengan satu kata yang punya arti sendiri namun sekaligus singkatan dari aspek-aspek yang mau dikedepankan oleh sebuah kota.
Sebagai contoh Kota Berirama yang artinya Kota Bersih, Indah, Ramah dan Aman. Atau Kota Tepian yang artinya Tertib, Rapi, Indah dan Nyaman.
Masih banyak contoh lainnya seperti Beriman yang berarti bersih, indah, rapi dan aman, atau Bersehati yang berarti bersih, sehat dan rapi. Ada lagi Bersimpuh yang berarti bersih, indah, aman dan patuh.
Namun branding semacam ini tidak berhasil menjadi identitas sebuah kota, sebutan Manado sebagai Kota Bersehati misalnya lebih sering diplesetkan oleh warganya menjadi Kota Berak Sesuka Hati.
Branding karena landskap dan kulinernya malah yang berhasil sehingga Kota Manado lebih dikenal sebagai Kota 3 B yakni Bubur, Bunaken dan Boulevard. Namun lagi-lagi masih diplesetkan menjadi banyak B karena ditambah Bibir dan Babi.
Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar, hukan karena kuantitas jumlah lembaga pendidikannya. Melainkan karena suasana yang cocok untuk belajar juga karena sejarah dalam dunia pendidikan yang lahir disana.
Dilihat dari jumlah sekolah dan perguruan tinggi bisa jadi Jakarta dan Bandung jumlahnya lebih banyak. Namun Jakarta dan Bandung tak disebut sebagai Kota Pelajar.
Namun ciri atau penanda sebuah kota di mata warganya dan orang lain bukanlah bersifat tunggal. Masing-masing bisa mempunyai julukannya sendiri atau kemudian mengamini julukan yang dikatakan oleh orang atau kelompok lainnya.
Kota Samarinda untuk mereka yang memahami peradaban dan kebudayaan dengan cukup dalam akan menyebut Samarinda Kota Basah, kota berperadaban dan berkebudayaan air. Namun untuk mereka yang tidak berpikir terlalu mendalam dengan segera akan mengamini Samarinda Kota Banjir.
Untungnya sebutan Samarinda Kota Tepian kemudian pas dengan kondisi sebagian besar wilayah utama kotanya. Samarinda benar kota tepian karena kotanya dibelah oleh Sungai Mahakam, sebagian besar wilayah dan permukimannya serta pusat-pusat keramaian berada di tepian sungai.
Pengertian Tepian memang aktual karena Samarinda adalah Kota Di Tepian Aliran Sungai {KITAS}.
Jadi Tepian bukan Tertib, Rapi, Indah dan Nyaman. Karena bahkan di tepian sungainya sulit sekali menemukan ketertiban, kerapian, keindahan dan kenyamanan.
Meski begitu tepian sungai selalu ramai, menjadi tempat favorit warga Kota Samarinda untuk berkumpul, menghabiskan waktu, bercengkarama dengan teman sebaya, memadai kasih sampai dengan melamun atau benggong tanpa tujuan.
Air selalu memanggi, tak peduli meski lamat-lamat aroma busuknya kerap menebar menghiasi udara terbuka disekitarnya beserta dengan cubitan nyamuk nakal yang meninggalkan sensasi rasa gatal.
BACA JUGA : Kalau Tak Pamer Nggak Bakal Laku
“Wedeh, bau toko kamu.”
Dan yang agak rasis biasanya akan mengganti ucapan dengan “Bau China ini,”
Reaksi seperti itu kerap ditunjukkan oleh anak-anak ketika ada teman sekolahnya memakai sepatu, tas atau baju baru. Hal-hal yang baru atau fresh dari toko biasanya memang punya bau yang khas.
Dan bau merupakan salah satu faktor penting untuk menarik perhatian, meninggalkan kenangan dan memicu penilaian.
Mempertimbangkan branding kota berdasarkan bau kiranya perlu menjadi pertimbangan bagi para pemangku kebijakan dan masyarakatnya.
Namun tak banyak ahli yang menyorot atau berupaya mendeskripsikan kota dengan baunya. Unsur bau kemudian tidak dihiraukan dalam pembangunan kota. Bau bahkan kerap diidentikan dengan hal-hal yang tidak disukai dari sebuah kota. Dikerdilkan menjadi bau tak sedap.
Victoria Henshaw adalah salah satu ilmuwan pioner peneltian bau kota. Hasil penelitiannya diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Urban Smellscapes, Understandind and Designing City Smell Environments {2013}.
Dalam buku itu dipaparkan tentang peta aroma yang merupakan hasil kerja dari Daniele Quercia, Rossano Schifanella, Luca Mario Aiello dan Kate McLean. Peta bau kota dijaring lewat 3 cara yakni mesin pembau atau olfactometer, menjaring bau yang ditangkap publik lewat situs khusus dan media sosial, dan turun ke lapangan sembari membaui secara manual dengan hidung.
Pembuatan peta bau kota ini mulainya dilakukan di London dan Barcelona, lalu kemudian direproduksi di Singapura, New York, Kyiv, Laussane, Edinburg, Amsterdam, Paris dan lain-lain.
Aspek bau ini dibagi dalam 10 kategori yakni emisi, industri, makanan, tembakau,cairan pembersih, aroma sintetik, limbah, hewan, alami dan angkutan umum.
Hasil dari membaui kota-kota itu kemudian menghasilkan peta bau yang terdiri dari beberapa lapis yakni bau dasar atau bau yang mendominasi, laoisan menengah dan minor yang biasanya sangat lokal atau hanya ada di area tertentu.
London kemudian dikategorikan sebagai kota dengan bau limbah dan emisi, sementara Barcelona menjadi kota dengan aroma sedap makanan dan kesegaran alami.
Singapura, kota yang dikenal rapi dan bersih ternyata diselumuti oleh bau alami karena banyaknya ruang terbuka hijau dan hutan kota. Pluralitas penduduknya juga tercium lewat aroma kuliner di wilayah tertentu, ada bau kari India, bumbu Minang, aroma masakan China dan bau-bau seafood nan wangi. Aroma mayor dan minor menjadi kebanggaan warganya.
Pemerintah Jepang juga sudah mengadopsi bau sebagai bagian dari penataan kotanya. Sejak tahun 2001, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang telah menetapkan 100 tempat yang sangat harum. Tempat-tempat itu bukan hanya destinasi wisata melainkan juga stasiun kota, seperti stasiun Tsuruhashi di Osaka yang harum karena keberadaan kios-kios daging panggang disekitarnya.
Aroma seperti halnya parfum bukan hanya menyenangkan dan membuat nyaman orang. Namun juga mampu membuat cinta bersemi, tumbuh dan menjadi pondasi yang kuat dalam interaksi warga dengan kotanya. Investor dan turispun kemudian tertarik untuk ikut menyambangi. Aroma adalah pesona yang sungguh memikat.
Setiap hari Selasa dan Jum’at sore, saya dan beberapa kawan berusaha rutin untuk olahraga jalan kaki. Jalan menyusuri gang di perkampungan dan perkotaan sekitar Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Kota. Tujuan awalnya tentu biar sehat mengingat badan sudah mulai menua.
Namun lama kelaman jalan-jalan sore kami maknai lebih dalam. Bukan sekedar olahraga tetapi juga bagian dari mengenal kota semakin dalam. Bisa dibilang sebagai blusukan namun tanpa embel-embel elektoral.
Jalan-jalan blusukan di sore hari itu membuat kami bisa menatap dalam-dalam lanskap kota Samarinda, menikmati bunyi-bunyian di lingkungan permukiman, jalanan hingga pusat-pusat ekonomi. Dan yang terpenting kami juga mulai bisa memetakan bau kota Samarinda, yang sayangnya bau mayornya adalah bau limbah, bau yang menguar dari got-got di kanan kiri jalan yang isinya penuh dengan buangan limbah domestik, buangan limbah cair dari dapur dan kamar mandi warga kota.
Di jalanan meski ramai dengan kendaraan bau emisinya tidak terlalu terasa. Apalagi beberapa kendaraan yang lewat justru menyemburkan aroma wangi-wangi, barangkali bahan bakarnya telah diberi wewangian.
Bau menonjol lainnya yang kerap tertangkap lewat semribit angin adalah bau bangkai tikus. Baik di jalan besar maupun jalanan dalam gang baunya cukup mewarnai. Memang gampang menyaksikan tikus terkapar karena terlindas kendaraan saat melintas di jalan.
Di hallway… atau lorong-lorong permukiman yang kanan kirinya tembok atau dinding sering kali tercium aroma urine, sepertinya dinding yang berada di tempat agak sepi kerap menjadi tempat singgah orang yang kebelet kencing.
Apakah Samarinda tak punya bau khas baik yang alami atau lainnya?. Tidak juga. Andai rajin bangun pagi dan kemudian jalan mengelilingi Samarinda bau kesegaran udara pagi masih menenangkan, apalagi jika semalam diguyur hujan, bau earthy, bau bumi atau tanah Samarinda menonjol sekali dan itu menenangkan.
Tapi bau memang belum jadi pertimbangan untuk menata Samarinda sebagai Kota Pusat Peradaban. Samarinda lebih ditata dengan mengagungkan citra visual dan model-model meniru kota lainnya sehingga tampilannya jadi homogen, mirip kota-kota yang jadi tempat studi bandingnya.
Katika Citra Niaga pernah bangkit kembali karena kemunculan kedai-kedai kopi, aromanya sungguh membuat rindu. Wangi bau kopi terpancar di sekitarnya, mampu mengusir kekhawatiran dan ketakutan karena bau Citra Niaga sebelumnya adalah preman dan copet.
Aroma biji kopi yang digiling kemudian diseduh dengan air panas mampu menghidupkan Citra Niaga yang berkali-kali direvitalisasi lewat berbagai proyek namun terus gagal.
Saat kedai-kedai kopi berjaya, bau Citra Niaga sungguh mempesona dan memanggil datang. Hingga tengah malam tak ada kekhawatiran berkendara mengelilingi kompleknya. Walau terkadang ada kejutan di titik titik gelap karena ada suara “Cewek kah?”
Dan ketika mata mencari arah sumber suara akan terlihat rupa dan rona yang bikin hati jadi mewek.
note : sumber gambar – MAULANA YUDHISTIRA








