KESAH.ID – Saat ini kita tengah merayakan euforia bonus demografi. Dalam bidang ekonomi amat terasa dimana sektor industri atau ekonomi kreatif dipenuhi dengan wirausahawan muda. Masa depan ekonomi Indonesia nampak cerah. Namun perlu disadari bahwa gejala-gejala musim dingin demografi sudah mulai menyerang Indonesia, jika tidak diantisipasi euforia bonus demografi akan jadi jebakan Batman karena terlambat melakukan lompatan paradigma ekonomi baru.
Antara tahun 1970 hingga 1980, Indonesia bisa disebut sebagai negara petro dollar. Sebagai anggota dari negara pengekpor minyak {OPEC}, pemerintah Indonesia ketiban rejeki nomplok karena harga minyak meningkat pesat.
Devisa yang besar dari minyak bumi kemudian dimanfaatkan oleh Presiden Suharto untuk melakukan pembangunan besar-besaran dalam bidang pendidikan, kesehatan serta infrastruktur perekonomian.
Ada dua skema pembangunan besar yakni Inpres {Instruksi Presiden} dan Banpres {Bantuan Presiden}. Inpres adalah pembangunan infrastruktur yang meliputi sekolah, pusat kesehatan, pasar, rumah ibadah dan lain-lain. Sedangkan Banpres adalah bantuan langsung pada masyarakat untuk meningkatkan kesehateraan, contohnya bantuan ternak seperti sapi, kambing dan lain-lain.
Sekitar tahun 1973, pembangunan Sekolah Dasar Inpres mulai digalakkan dengan tujuan meningkatkan akses masyarakat Indonesia terhadap pendidikan terutama di daerah perdesaan dan terpencil.
Selain bangunan sekolah, pemerintah juga mengangkat banyak guru.
Ibu saya yang lulusan SPG namun setamat sekolah kemudian menikah sehingga berprofesi sebagai ibu rumah tangga, akhirnya ikut mendaftar menjadi guru SD Inpres dan diterima. Untung penempatannya tidak jauh, Ibu saya kemudian mengajar di SD Inpres desa tetangga, pergi pulang mengajar bisa naik sepeda.
Namun setelah mengajar kurang lebih 20 tahun, ibu saya kemudian pindah sekolah. Bukan karena bosan atau penyebab lainnya. SD tempat ibu saya mengajar ditutup karena kekurangan siswa.
Ibu saya kemudian mengajar di SD Karitas, SD Katolik Bersubsidi. Waktu itu banyak sekolah mempunyai status sebagai Sekolah Bersubsidi. Sekolahnya milik yayasan atau lembaga swasta namun guru-gurunya sebagian pegawai negeri.
Beberapa tahun mengajar di SD Karitas yang berada di Ibu Kota Kabupaten Purworejo, ternyata kegiatan belajar mengajarnya juga harus diakhiri karena kekurangan murid.
Ibu saya yang pintar menari kemudian pindah mengajar lagi tapi bukan di SD melainkan SMP, yakni SMP Bruderan Purworejo yang juga merupakan SMP Bersubsidi.
Memasuki tahun 90-an, gejala-gejala SD Inpres mulai kekurangan murid sudah terasa. Pendaftar baru mulai menurun, tidak sedikit yang siswa kelas satunya dibawah 10 anak. Dan lama kelamaan semakin menurun hingga ada yang tidak punya siswa kelas 1. SD nya tetap bertahan hanya untuk meluluskan siswa yang ada.
Gejala-gejala SD mulai kekurangan siswa dimulai sejak SPG atau Sekolah Pendidikan Guru mulai ditutup. Guru SD mulai terpenuhi dan tidak lagi menerima pengajar setingkat lulusan SMA. Pun setelah itu perguruan tinggi yang mencetak guru yakni IKIP juga mulai ditutup. Guru atau pendidik kemudian diharuskan lulusan dari Universitas.
Menurunnya jumlah siswa SD tak lepas dari keberhasilan Program Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh Presiden Suharto sejak awal masa kepemimpinannya. Jika rata-rata keluarga di tahun 70-an mempunyai anak 5 orang menjelang tahun 90-an, punya anak 3 saja sudah kebanyakan.
Dan mulai tahun 2020 keatas semakin banyak SD yang terancam kekurangan murid. Bukan hanya di perdesaan melainkan juga di perkotaan. SD kini menjadi sekolah yang paling berebut murid, rebutan untuk menerima. Yang bisa menolak-nolak murid umumnya hanya SMA.
Bahkan SMA pun banyak yang mulai tutup terutama SMA swasta yang tidak favorit.
Cerita SD ditutup akan menjadi cerita biasa karena saat ini banyak daerah tingkat kelahiran barunya sudah sangat menurun. Total fertility rate di Indonesia saat ini sekitar 2,1. Artinya rata-rata perempuan yang menikah melahirkan 2 orang anak sepanjang hidupnya.
Dengan demikian pertumbuhan penduduk sebenarnya sudah hampir mencapai zero population growth. Peningkatan jumlah penduduk yang terutama bukan lagi dari kelahiran melainkan dari usia yang makin panjang. Harapan hidup yang makin tinggi.
BACA JUGA : Kota Dan Aroma Yang Membuat Jatuh Cinta
Usai perang dunia ke II, diseluruh dunia terjadi ledakan kelahiran baru atau baby boom. Generasi ini kini kerap disebut sebagai boomers. Pertambahan populasi yang cepat kemudian menimbulkan kekhawatiran yakni ketersediaan pangan.
Banyak negara kemudian mulai menerapkan pembatasan kelahiran melalui program keluarga berencana.
Perkembangan teknologi dan industrialisasi sektor pangan kemudian membuat ancaman kelangkaan pangan atau kelaparan menjadi berkurang. Kalaupun sekarang ada masalah pangan, problemnya bukan pada ketersediaan melainkan distribusi.
Ethiopia yang beberapa dekade waktu lalu identik dengan kelaparan, kini indeks ketahanan pangannya bahkan jauh lebih baik dari Indonesia.
Lepas dari segala macam indeks yang bisa dipertanyakan, saat ini bisa dikatakan dunia berada dalam kelimpahan pangan. Buktinya salah satu sampah terbesar di dunia berhubungan dengan konsumsi atau pangan yakni plastik kemasan makanan, sedotan, tas kresek dan styriofoam.
Namun bersamaan dengan itu terjadi pelambatan pertambahan penduduk dunia. Sehingga sampah atau limbah sisa makanan juga menjadi semakin banyak. Sampah dan limbah domestik menjadi salah satu penyumbang pencemaran, terutama pada tanah dan perairan.
Pelambatan pertambahan kelahiran baru atau fertility rate sudah menjadi keprihatinan tersendiri bagi banyak negara.
Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus bahkan punya keprihatinan tersendiri atas fenomena ini. Paus menyebutnya sebagai “Demogaphic Winter”.
Gejala musim dingin demogafis nampak dalam fenomena menuanya penduduk. Di kota-kota yang nampak hanyalah orang-orang tua. Jarang terlihat anak-anak.
Di mall, di gang, di taman, di stasiun atau di tempat publik lainnya mulai sulit menemukan perempuan hamil. Rumah sakit khusus bersalin juga semakin berkurang, kini jarang sekali ada BKIA atau Balai Kesehatan Ibu dan Anak.
Suara tangisan bayi semakin menjadi nyanyian yang asing.
Mall, bioskop, restoran dan tempat bermain lama kelamaan menjadi semakin sepi. Jualan pakaian anak bukan sesuatu yang favorit lagi.
Paus Fransiskus mengatakan peradaban modern telah membuat manusia lebih mengutamakan karier sehingga anak dianggap sebagai gangguan atau distraksi. Paus menyebut fenomena ini sebagai penyakit paling berbahaya dari modernitas yang akan mengancam masa depan peradaban manusia.
Bukan hanya Eropa yang mengalami minus pertumbuhan penduduk. Melainkan juga negara-negara Asia yang dikenal produktif dalam menghasilkan anak.
Korea Selatan misalnya rata-rata keluarga hanya mempunyai anak dibawah satu. Artinya banyak pasangan suami istri tidak mempunyai anak.
Ini tidak ada hubungan dengan kesehatan reproduksi atau kemampuan punya anak. Fertility rate tidak ada hubungan dengan mandul atau tidak subur, melainkan dengan keinginan punya anak atau tidak.
Fertility rate atau keinginan punya anak dianggap rendah apabila jumlah anak dalam keluarga lebih dari dua. Jika fertility ratenya hanya dua maka alarm lampu kuning sudah menyala karena masyarakatnya tidak akan bertumbuh.
Logikanya untuk melahirkan generasi baru dibutuhkan dua orang yakni laki-laki dan perempuan. Jika pasangan suami istri kemudian punya anak dua maka petumbuhannya nol, tidak bertumbuh dan tidak berkurang.
Namun jika pasangan suami istri hanya mempunyai satu anak, dimasa depan pertumbuhan penduduknya akan minus, yang tersisa hanya orang-orang tua karena angka harapan hidup makin meningkat.
Selain Korea Selatan, musim dingin demografis yang dingin dan beku telah lebih dahulu mengenai Jepang. Kini Jepang mempunyai penduduk yang lebih banyak orang tuanya ketimbang orang muda.
Anak-anak muda Jepang mulai jarang yang punya keinginan menikah, mereka bahkan takut punya anak. Kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan serta teknologi mengantar generasi di Jepang untuk mementingkan karier. Terbiasa mandiri mereka kemudian ingin menikmati kemandiriannya, bebas dari ketergantungan dengan orang lain.
Kondisi ini membuat dunia perbankan di Jepang menjadi kesulitan karena orang Jepang rajin menabung namun jarang berhutang. Bank kemudian hanya menjadi tempat menyimpan uang namun sulit untuk memutar dan menghasilkan keuntungan dengan menarik bunga pinjaman.
Karena uang tidak berputar maka bank kemudian tidak memberi bunga pada simpanan, penyimpan malah diberi beban untuk membayar. Dan biar orang mau berhutang, kepada mereka yang mau berhutang malah diberi insentif uang. Mindblowing banget bukan.
BACA JUGA : Tidak Ada Partai Hijau Pada Pemilu 2024
Beberapa waktu lalu ramai netizen merujak Gita Savitri, seorang selebgram, influencer dan youtuber yang terang-terangan mengatakan dirinya menganut paham childfree.
Gita dianggap membawa racun untuk generasi bangsa.
Netizen memang kerap begitu, kencang mem-bully tanpa refleksi.
Berkaca pada data, ternyata fertility rate di DKI Jakarta sudah dibawah 2. Jakarta Barat, fertility rate-nya 1,7; Jakarta Selatan 1,8; Jakarta Utara 1,85; Jakarta Timur 1,9 dan Jakarta Pusat juga 1,9. Artinya jauh sebelum disuarakan oleh Gitsav, ada banyak pasangan di DKI Jakarta sudah menganut childfree.
Tanda-tanda Jakarta tidak ramah anak sudah kelihatan lama. Banyak pasangan perantau lebih memilih anaknya diasuh oleh orang tua {kakek nenek} atau saudara lain di kampung halaman. Karena sekolah di Jakarta selain mahal juga jauh dari rumah.
Banyak sekolah dasar favorit di Jakarta yang swasta mulai memindahkan pusat persekolahannya, keluar dari Kota Jakarta ke kota-kota pinggirannya atau bahkan ke kota lainnya agar tetap bisa memperoleh banyak murid.
Ternyata bukan hanya provinsi DKI Jakarta yang fertility rate-nya dibawah 2. Jawa Timur juga dibawah 2 tepatnya 1,91; Bali 1,95 dan DI Yogyakarta 1,89; Jawa Tengah sudah mendekati 2 yakni 2,06 dan Jawa Barat 2,15.
Data dari Sistem Informasi Dini Pengendalian Penduduk {siperindu} menunjukkan di tahun 2023 ini provinsi yang fertility rate-nya diatas 2,5 adalah Papua, Papua Barat, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.
Namun proyeksi tahun depan {2024} hanya akan tersisa tiga provinsi yakni Papua Barat, Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Itu artinya tiap tahun fertility rate per tingkat provinsi akan menurun.
Kita selama ini begitu bergairah bicara soal bonus demografi dimana penduduk negeri kita yang terbanyak adalah penduduk dengan usia produktif yang terbanyak. Entah sudah berhasil memanfaatkan atau belum, yang jelas sumber daya produktif yang kini sedang berlimpah mesti dipersiapkan untuk menghadapi musim dingin demografis yang kian menusuk dan membeku.
Bicara soal pasar bagi produk atau jasa yang dihasilkan oleh pengusaha atau wirausahawan muda saat ini maka harus ada orientasi baru. Dulu ada anggapan menembus pasar Eropa, Amerika atau negara Asia terkemuka seperti Jepang dan Korea adalah prestasi.
Mungkin saat ini sudah harus dikoreksi. Pasar masa depan bagi produk-produk Indonesia bukan lagi negara-negara itu karena pertumbuhan pasar disana rendah akibat pertambahan penduduknya melambat atau bahkan nol.
Pasar masa depan bagi Indonesia adalah Afrika. Unicef menyebutkan dalam 35 tahun ke depan, bayi di Afrika yang akan merubah wajah dunia karena tingkat pertumbuhan populasi terbesar di dunia saat ini ada di Afrika.
Menurut perkiraan disaat Indonesia merayakan Indonesia Emas, empat dari 10 orang di planet bumi adalah orang Afrika.
Perkiraan Unicef pada tahun 2050 nanti Afrika akan menyumbang 26 persen penduduk dunia. Jumlahnya dua kali lipat dari orang China yang pada waktu itu jumlah penduduknya sudah menurun menjadi 1,36 milliar.
Untuk yang tetap mau berorientasi pada pasar negara maju maka perlu meningkatkan kualitas produk dan layanannya menjadi premium. Sebab jika tidak maka akan kalah saing dengan Singapura misalnya.
Saat ini saja layanan pendidikan dan kesehatan di Singapura sudah jauh didepan. Institusi pendidikan dan kesehatan di Singapura lebih banyak melayani masyarakat luar, termasuk masyarakat Indonesia.
Kesimpulannya hati-hati dengan euforia bonus demografi karena bisa jadi itu adalah hiburan semu karena diam-diam musim dingin demografis sudah datang menyerang.
note : sumber gambar – RADARKEDIRI








