KESAH.ID – Peluncuran Chat GPT menjadi penanda babak perpindahan kepakaran dari manusia ke mesin. Banyak orang merasa terancam karena kemampuan yang dipunyai oleh mesin kecerdasan buatan. Namun jangan-jangan kecerdasan buatan justru akan menjadi pintu masuk untuk pengembangan otak buatan. Yang memungkinkan kita untuk memilih smart implant tertentu untuk mengefektifkan kerja otak.
Revolusi teknologi informasi dan komunikasi membawa kelimpahan informasi serta pengetahuan. Terjadi disrupsi sumber-sumber informasi dan pengetahuan. Pada satu sisi mengembirakan karena akses terhadap informasi dan pengetahuan menjadi semakin meluas, mudah dan juga murah.
Namun pada sisi lainnya juga berkembang hal yang buruk menyangkut validasi informasi dan pengetahuan yang beredar luas di internet. Kebebasan dan kemudahan untuk mempublikasikan segala sesuatu membuat filter informasi dan pengetahuan menjadi terabaikan.
Internet, media sosial dan platform komunikasi atau pertukaran informasi lainnya justru menjadi medan pertempuran berebut pengakses, pengaruh dan pengikut atas informasi atau pengetahuan tertentu yang tidak berdasar pada kebenaran obyektif.
Tom Nichols dalam buku The Death of Expertise mengatakan “90 persen dari semua hal {di dunia maya}, adalah sampah.”
Jurnalis senior yang juga sastrawan, Bre Redana mengambarkan situasai yang dinyatakan oleh Tom Nichols secara lebih lugas dengan mengatakan “Sekarang kalau di stadion ada 50 ribu penonton bola, maka sebanyak 50 ribu itulah pakar sepakbola. Semua bisa bikin opini dan menyebarluaskannya.”
Adalah hak setiap orang untuk punya pikiran sendiri dan mengungkapnya pada orang lain. Tidaklah masalah ketika orang sok tahu lalu menyebarluaskan. Yang menjadi persoalan ketika informasi yang tidak berdasar itu dipakai untuk menyangkal pendapat para pakar.
Informasi para pakar disangkal dengan modal pikiran yang membanggakan kedungguan.
Ketika penetrasi internet mulai masif, bersamaan dengan itu berkembang penularan HIV/AIDS. Internet kemudian dipakai oleh para penentang konsensus untuk pencegahan penularan HIV/AIDS, menyebarluaskan berbagai mitos terkait penyebab, penularan dan pencegahannya.
Fakta soal penularan dan pecegahan yang telah dirumuskan oleh para ahli kesehatan di dunia, ditentang dengan gagasan-gagasan ngawur, sebagian bernuansa moral dan religi. AIDS digambarkan sebagai penyakit kutukan, penyakit yang akan menyerang orang-orang yang tidak bermoral.
Thabo Mbeki, Presiden Afrika Selatan bahkan bisa terpengaruh oleh pendapat semacam itu sehingga menolak bantuan obat-obatan dan bantuan lainnya untuk mencegah penyebarluasan HIV/AIDS di negerinya.
Faktanya, virus HIV tidak memilih-milih. Ibu rumah tangga yang setia hanya berhubungan seks dengan suaminya, merawat anak dengan baik, rajin beribadah dan sederet kebaikan lainnya tetap saja bisa tertular HIV karena suaminya yang kurang ajar.
Dan ketika kemudian hamil, anak yang dikandung, bayi yang tak tahu apa-apa bisa terlahir sebagai anak HIV positif.
Penyangkalan terhadap hal semacam ini membuat penderita dan korban HIV/AIDS menjadi lebih banyak dari yang seharusnya. Apa yang seharusnya bisa dicegah ternyata tidak dilakukan.
Dan kejadian itu berulang ketika dunia dilanda pandemi Covid 19. Di internet beredar berbagai macam opini, pernyataan yang dilengkapi dengan hasil penelitian yang tak jelas juntrungannya. Hasilnya muncul kelompok antivaksin sebagai akibat dari mempercayai informasi-informasi itu.
Bayangkan, andai kelompok ini menjadi kelompok mayoritas mungkin saja pandemi Covid 19 masih terus berlanjut hingga hari ini.
Teknologi kerap kali berkembang secara revolutif namun kecerdasan manusia berkembang secara evolutif sehingga kerap tertinggal jauh. Hanya saja manusia sering cenderung mengejar ketertinggalan tidak dengan belajar, melainkan justru dengan mempertahankan kebodohan.
Bukti itu dengan mudah ditemukan di internet. Ditengah semua kemajuan sains yang berhasil memberi bukti secara obyektif, masih banyak orang mengkampanyekan bumi datar, anti vaksin dan tahayul-tahayul lannya yang kemudian ‘diimani’ oleh banyak orang.
BACA JUGA : Angin Musim Dingin Demografis
Revolusi konginitif membawa manusia menjadi mahkluk paling superior di muka bumi karena kemampuan otaknya lebih efektif dan efisien dibanding mahkluk lainnya.
Meski begitu watak primitifnya masih terbawa. Dokter Ryu Hasan, ahli neurosains mengatakan bahwa otak rasional jarang dipakai. Manusia lebih suka menggunakan otak emosional ketimbang otak rasionalnya. “Kita malas berpikir rumit.” ujar Ryu Hasan.
Salah satu contoh yang kerap diberikan olehnya adalah keinginan manusia untuk secara cepat mendapat jawaban yang pasti, kesimpulan segera atas fenomena tertentu. Hasilnya adalah cara berpikir yang hitam putih atau biner.
Realitas yang hanya didekati dari sisi A atau B itu kemudian kerap membawa pada kesalahan logika yang umum yakni jumping conclusion. Akibatnya saat terjadi bencana alam, masyarakat kemudian menyimpulkan bahwa tsunami terjadi karena masyarakat di daerah yang terkena bencana, hidupnya penuh dengan pelanggaran atas ajaran dan moral agama. Sebuah kesimpulan yang nampaknya logis namun antara sebab dan akibat sebenarnya tidak nyambung.
Kebiasaan malas berpikir ini di masa modern kemudian semakin dimanja oleh teknologi. Di mulai dari penemuan komputer, teknologi turunan yang berbasis padanya kemudian banyak mengantikan tugas manusia berpikir.
Yang semakin cerdas bukan manusia melainkan alat. Salah satu yang fenomenal adalah smartphone.
Ironisnya dengan alat yang cerdas ini semakin banyak manusia secara bebas menunjukkan kedungguannya. Karena smarphone, otak manusia semakin jarang dipakai karena berpindah ke ujung jari.
Jika internet membawa kepakaran dari ahli ke masyarakat umum, smartphone kemudian membuka babak baru yakni membawa kepakaran dari manusia ke mesin.
Kepakaran itu kini dinamai sebagai kecerdasan buatan yang bekerja mirip otak manusia karena dilengkapi dengan mesin pembelajaran {deep learning machine}. Dengan kemampuan belajar, mesin kemudian bisa memperbaiki atau belajar dari kesalahannya sendiri. Salah satu hal yang sulit dilakukan oleh kebanyakan manusia.
Jika sebelumnya Kecerdasan Buatan atau AI hanya dilekatkan atau menjadi salah satu fitur pelengkap program, platform atau aplikasi, kini AI sudah berdiri sebagai platform tersendiri sehingga bisa menjadi tempat untuk mencari jawaban atau mendapat sesuatu tanpa harus bertanya pada ahlinya.
Ai kini berfungsi sebagai teman, konsultan, narasumber, pakar, informan dan lain-lain, tempat kita bertanya, meminta tolong atau bahkan menyuruh untuk memberikan sesuatu yang kita butuhkan.
Chatbot GPT yang baru-baru diluncurkan dan kemudian menghebohkan bisa kita perintah dengan teks untuk memberi jawaban atau uraian. Bentuknya mulai dari pidato, esai, puisi hingga gurauan yang bisa menghibur hati saat kita gabut.
Hebatnya AI baik yang diproduksi oleh OpenAI maupun perusahaan lainnya bukan hanya mampu diperintah untuk menghasilkan teks. DALL-E, AI buatan OpenAi juga mampu menghasilkan gambar berdasarkan deskripsi teks yang kita perintahkan.
Ibaratnya kita yang pemalas berpikir ini hanya butuh keinginan lalu keinginan itu kita ungkapkan pada AI dan kemudian AI akan memikirkan dan membuatkannya untuk kita.
Singkatnya AI adalah teknologi dengan kemampuan untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya membutuhkan kecerdasan manusia, atau tugas yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan kecerdasan atau otak manusia.
Meski mengagumkan teknologi AI sebenarnya belum mampu mengalahkan kemampuan otak manusia. Karena tidak mempunyai pengalaman nyata sebagaimana halnya manusia, jawaban AI biasanya lemah di konteks. Sehingga jawabannya bersifat umum atau kurang spesifik dalam konteks tertentu.
Sebagai mesin, AI juga tidak mempunyai emosi karena ketiadaan indra dan hormon. Meski sepintas bisa saja AI menghasilkan kalimat yang berempati namun tetap saja pemahaman atas emosinya rendah.
AI bisa saja mempunyai banyak pengetahuan, tergantung dari dataset atau big data yang menjadi sumbernya. Namun pengetahuan itu bukan berasal dari pengalamannya. AI bisa mengambarkan sesuatu namun gambarannya akan jauh berbeda dengan manusia yang bisa melihat langsung, merasakan pengalaman berada di suatu tempat.
Meski tidak mudah terdistraksi seperti halnya manusia, AI tidak bisa punya keinginan sendiri, apa yang dipelajari olehnya sudah ditentukan oleh programmer atau pembuatnya.
Dengan berbagai kelemahannya, AI tetap saja amat berguna terutama untuk mereka yang malas berpikir, ingin dapat jawaban yang cepat dan lain-lain. Namun dalam beberapa tahun ke depan dengan semakin banyak perhatian diarahkan pada AI, niscaya akan ditemukan atau dihasilkan berbagai macam jenis AI yang lebih mumpuni dari yang ada saat ini.
BACA JUGA : Kota Dan Aroma Yang Membuat Jatuh Cinta
Ilmu pengetahuan telah berhasil memetakan cetak biru mahkluk hidup. Berbagai jenis tumbuhan baru telah dihasilkan melalui rekayasa genetik. Tumbuhan tidak lagi dibiakkan secara vegetatif maupun generatif melainkan sudah bisa melalui kultur jaringan. Dengan model pembiakan semacam ini bisa dihasilkan satu jenis tumbuhan yang seragam dan dalam jumlah yang banyak sekaligus.
Pembiakan aseksual juga telah berhasil dilakukan pada binatang. Pada tahun 1998 telah lahir seekor domba hasil kloning yang dinamai Dolly. Dolly adalah seekor domba yang dibiakkan dari sel induknya dalam laboratorium.
Proses Dolly menjadi embrio tidak sama dengan bayi tabung yang mempertemukan sel telur dan sperma dalam tabung/gelas di laboratorium. Sel telur yang kemudian berkembang menjadi domba Dolly tidak dibuahi.
Beberapa percobaan rekayasa genetika lainnya telah menghasilkan mahkluk buatan yang umurnya bisa lebih panjang dari biasanya. Ke depan jika tidak terhalang oleh masalah etis, munculnya mahkluk super hanya tinggal menunggu waktu.
Dan masa depan kecerdasan buatan jika digabungkan dengan temuan neourosains kemungkinan besar bisa dikembangkan menjadi otak buatan atau sekurangnya bagian otak tertentu. Langkah kesana sebenarnya sudah dilakukan oleh Neuralink, perusahaan rintisan yang didirikan oleh Elon Musk.
Kelak bisa jadi akan ada smart implant semacam susuk yang dilengkapi dengan kode dan program tertentu yang bisa memicu kerja otak. Ada susuk kreatif, yang bisa dipakai oleh orang dengan otak tidak kreatif namun ingin menjadi pekerja sektor kreatif. Ada susuk ingatan, yang bisa memperbaiki kinerja memori pada orang-orang yang mulai pikun. Atau ada susuk penglihatan sehingga mereka yang buta karena kerusakan saraf atau jaringan otak bisa melihat kembali.
Bayangkan jika teknologi rekayasa genetik dan otak buatan ini digabungkan maka akan terlahir mahkluk hidup termasuk manusia jenis atau etnis baru yang diciptakan untuk tujuan tertentu. Misalnya dilahirkan untuk menjadi ilmuwan, olahragawan, tentara, seniman, pakar keuangan, pemimpin dan lain-lain yang algoritma otaknya sudah di-set sejak awal untuk menjadi yang terbaik.
Jalan manusia yang adalah ciptaan untuk menjadi pencipta sudah semakin dekat.
note : sumber gambar – MIXEDNEWS.COM








