KESAH.ID – Akhirnya saya pergi juga di IKN, bahkan di kedatangan pertama ke KIPP saya langsung merasakan menginap di rusun ASN. Sempat singgah dan berdiskusi sejenak di Kantor Otorita IKN, dalam perjalanan pulang ke Samarinda saya mulai bertanya yang terjadi itu “Membangun IKN” atau “Membangun di IKN”. Saya hanya berharap IKN bukan Jakarta yang dipindahkan ke tanah Kalimantan.
Dulu saya girang kalau dapat undangan ke luar daerah, tapi sekarang agak-agak mikir. Selain capek, ada PR lain yakni menjawab pertanyaan tentang IKN. Ya, begitu tahu saya dari Kalimantan Timur, basa-basi pertama pasti tentang IKN.
Padahal pengetahuan faktual saya tentang IKN, nol besar. Saya belum pernah menginjakkan kaki di IKN, kecamatan yang menjadi Kawasan Inti Pusat Pemerintahan yakni Sepaku, tak secuilpun saya ketahui. Saya hanya sering mendengar kalau Sepaku itu identik dengan ITCI, perusahaan HTI.
Beberapa tahun lalu saya memang sering ke Penajam Pasir Utara, ke Petung, Waru, Sungai Tunan, Api Api dan lain-lain. Tapi Sepaku tidak sama sekali, hanya ditunjukkan arahnya saja “IKN kesana,”
Jadi pengetahuan tentang IKN hanya berasal dari sumber luar, lewat pemberitaan, konten media sosial, diskusi dan beberapa paparan atau presentasi dari OIKN yang saya peroleh lewat sumber lain.
Beberapa kali saya diajak kesana, tapi tak terbersit keinginan untuk ikutan pergi. “Nanti saja kalau sudah jadi,” ucap saya dalam hati. Mau dioleh-olehi souvenir dari IKN, sayapun tak terlalu tertarik.
Apakah saya termasuk dalam golongan yang sinis pada IKN? Tidak juga.
Bagaimanapun juga sebagai seseorang yang pernah belajar jurnalistik, sikap sinis bukanlah pilihan. Saya lebih memilih untuk skeptis, atau tidak begitu saja percaya dengan semua rencana-rencana yang hebat-hebat itu.
Akhirnya saya harus pergi ke IKN. Dan seperti seorang pemain golf yang melakukan hole in one, pada kepergian saya pertama kali ke IKN langsung menusuk jantung. Saya langsung menginap di Rusun ASN dan berdiskusi di Kantor OIKN yang bentuknya membulat itu.
Namun karena hanya semalam, tak banyak impresi yang saya lihat. Hampir sebagian hanya saya lihat dari kejauhan ketika melewati. Terasa benar bahwa Kawasan Inti Pusat Pemerintahan memang dibangun sebagai kota hijau. Sekurangnya tamannya dibangun dengan sangat serius dan tentu saja sangat mahal walau luasnya hanya sepenggal. Pohon-pohon yang ditanam jelas harganya puluhan juta sebatang.
Blok-blok lain yang tidak terbangun juga menghijau seragam karena warisan Hutan Tanaman Industri. Bisa jadi itu wilayah yang sudah dikapling oleh investor tapi belum diapa-apakan. Pohon yang kelihatan menghutan itu adalah jenis eukaliptus.
Ketika berdiri di balkon unit rusun ASN, terlihat di dak teratas ada panel surya. Saya tak tahu persis apakah rusun dan bangunan lainnya listriknya dipasok oleh PLTS. Yang pasti di KIPP tidak terlihat tiang dan kabel-kabel listrik, urusan ini kelihatan memang rapi.
Sebagai Kota Hijau, IKN memang didesain akan digerakkan oleh energi terbarukan. Kendaraan yang akan lalu lalang di dalam kawasan adalah kendaraan listrik. Saat ini memang sudah ada bus listrik yang melayani mobilitas ASN dari hunian ke kantor. Tapi mayoritas kendaraan yang lalu lalang di IKN masih kendaraan yang digerakkan oleh BBM.
Masih bisa dimaklumi karena fokusnya memang masih menyelesaikan pembangunan KIPP sampai tahun 2029 nanti.
Intinya, walau saya sudah datang ke IKN namun pertambahan pengetahuan saya tentangnya tak terlalu bertambah banyak. Apapun itu masih banyak yang bernuansa subyektif, hasil pengamatan tanpa konfirmasi, validasi dan diskusi tentangnya.

BACA JUGA : Kelebihan Listrik

Perjalanan saya ke IKN lewat pintu masuk di Samboja, kelihatan ada perbedaan. Kalaupun ada yang menyedihkan ialah gerombolan Beruk yang bermain di pinggir jalan, menunggu pemberian yang lewat. Pada saat tertentu harus hati-hati, karena ada gerombolan besar yang menyeberang jalan, bahkan duduk-duduk di tengah jalan.
Kabarnya populasi Beruk yang cangkruk di pinggir jalan ini bermula dari kebiasaan warga atau pelintas yang membuang sampah di titik tertentu. Kumpulan sampah yang sebagian berisi sisa makanan itu yang kemudian memanggil Beruk datang.
Dan Beruk itu makin senang tinggal-tinggal di tepi jalan karena yang lewat kemudian melempar makanan. Duduk-duduk dan dapat makanan, membuat Beruk-Beruk itu malas memanjat pohon untuk mencari makanan. Dan jumlah Beruk pemalas makin hari makin banyak.
Melewati Suko Mulyo {Semoy 3} suasana mulai terlihat berbeda. Kesibukan pembangunan kian terasa. Di Bumi Harapan, Tengin, Bukit Raya kalau tak salah terlihat sekali perubahannya. Ada banyak rumah makan, coffee shop dan guest house atau penginapan serta bangsalan atau kos-kosan.
Lalu lalang tronton mengangkut material juga jadi pemandangan biasa, di saat hari panas, debu bertebaran.
Dari kejauhan terlihat bangunan-bangunan tinggi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan.
Rasanya tak salah untuk menyimpulkan kalau gerak dan dinamika pembangunan di dalam kawasan dan di luar kawasan sepertinya tidak senada dan searah.
Di dalam Kawasan Inti Pusat Pemerintahan sekilas pembangunannya rapi jali. Namun di luar kawasan, pembangunan seperti tak terkendali, auto pilot. Diam-diam saya khawatir kelak kita akan menyaksikan pemandangan yang menggangu mata. Antara luar dan dalam kawasan tak senada.
Memang ada masalah, walau sudah ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara Baru, wilayah Kalimantan Timur yang kemudian menjadi bagian dari IKN belum sepenuhnya berada dalam pengelolaan Otorita IKN.
Kecamatan, Kelurahan dan Desa yang kemudian menjadi bagian dari IKN masih diurusi oleh kabupaten induknya yakni Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.
Rencana Tata Ruang dan Wilayah IKN memang sudah ada, hanya saja pengawasan untuk menjaga atau mewujudkannya belum sampai ke tapak. Sampai 2029 nanti OIKN masih berfokus pada pengembangan kawasan inti, perumahan untuk ASN dan infrastruktur transportasi didalam kawasan.
Sementara laju pembangunan di luar kawasan yang dilakukan oleh sektor privat maupun warga tak kalah cepatnya. Berbagai macam bangunan usaha tumbuh mengikuti keinginan dan kemampuan masing-masing. Jika jalanan di dalam kawasan terasa lebar-lebar dan tak terhimpit bangunan, jalanan di luar kawasan terasa makin terhimpit oleh bangunan.
Bukan mengada-ada kalau kemudian terselip rasa khawatir. Jangan-jangan cerita IKN akan seperti Jakarta. Kelak tetap akan ada cerita penggusuran, pembongkaran dan penyingkiran demi pengembangan dan perluasan infrastruktur kota.
Pun juga banjir. Walau dalam berbagai dokumen IKN disebutkan dirancang sebagai Spon City, kota yang bakal menyerap air hujan. Namun laju pembangunan di luar Kawasan Pusat Inti Pemerintahan jelas-jelas memanggil banjir.

BACA JUGA : Rossi Risau

Semua itu hanya duga dan kira saya. Sebab hanya semalam saya berada disana, tak cukup waktu untuk memverifikasi, memvalidasi dan mencari informasi lebih.
Tapi tidak salah walau hanya dengan pandangan sekilas kalau kemudian saya menyampaikan apa yang saya lihat lebih berwatak ‘Membangun di IKN” ketimbang “Membangun IKN”.
Menurut saya dua hal ini mempunyai perbedaan yang substantif.
Membangun di IKN, sangat kelihatan karena aktivitas disana sangat kental dengan pembangunan. Semua sibuk menyelesaikan proyek atau investasi masing-masing. Dengan sibuk membangun sendiri bisa jadi ada anomali, tidak semua akan mengacu pada apa yang dibayangkan atau dinarasikan dalam dokumen-dokumen tentang IKN.
Membangun di IKN, bisa diibaratkan menempatkan gedung-gedung, sarana dan prasarana serta infrastruktur lainnya di IKN namun tak mampu membangun watak, kebudayaan dan praktek kehidupan yang berbasis kota hutan, kota spon dan jenis kota hijau lainnya seperti yang dicita-citakan.
Terasa benar di dalam gedung-gedung KIPP seperti ada kehidupan yang dipindah dari Jakarta. Bau Jakarta masih sangat kental.
Dari jendela rusun ASN memandang keluar memang kelihatan ada hijauan di sekeliling. Namun di dalam tetap saja berasa hidup dalam hutan beton.
Akankah kita gagal membangun ibukota baru?. Tak perlu tergesa menarik kesimpulan itu. Apa yang kelihatan sekarang ini mungkin konsekwensi awal karena pembangunan ibu kota sedang dalam masa awal, masih sangat dasar.
Walau sudah berkantor di IKN, Otorita IKN masih fokus pada gedung, belum fokus membangun atmosfir ibu kota yang terhubung dengan etno ekologi, geologi dan geografi setempat.
Masih perlu waktu untuk menguji hal ini.
Masalahnya kalau “Membangun IKN” dan “Membangun di IKN” tak sama-sama dilakukan, kelak mungkin kita akan melihat dan merasakan Ibu Kota Nusantara adalah Jakarta yang dipindahkan di sepenggal Kalimantan Timur.








