KESAH.ID – Awalnya, listrik hanya digunakan untuk penerangan dan peralatan dasar seperti setrika, tetapi seiring waktu, penggunaannya meluas ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dapur dan industri. Munculnya PLTU berbasis batu bara mempercepat elektrifikasi, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang signifikan. Kini, PLN menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan listrik, mengelola kelebihan pasokan, serta beradaptasi dengan tren energi terbarukan agar transisi dari energi fosil dapat berjalan tanpa hambatan.
Jika harus mengenang memori paling melekat tentang listrik, yang pertama kali terlintas dalam benak saya adalah bohlam lampu 5 watt. Hingga usia 12 tahun, saya tinggal di rumah yang setiap sore selalu disibukkan dengan membersihkan torong lampu, mengisi minyak tanah, dan menyalakan lampu saat senja tiba. Ada berbagai jenis lampu: teplok, duduk, dan gantung, yang menjelang tengah malam sebagian akan dimatikan.
Begitu matahari menghilang, kehidupan pun menjadi remang-remang. Tak heran jika bulan purnama selalu dinantikan, karena saat itu kami bisa keluar rumah atau berjalan-jalan malam tanpa perlu membawa senter atau obor.
Hari-hari tertentu menjadi istimewa ketika ada acara seperti kendurenan atau sembahyangan di rumah. Pada momen seperti itu, lampu petromak—yang kami sebut “strongking”—akan dinyalakan. Lampu ini bekerja dengan cara memompa tangki agar minyak menyembur dan membakar sumbu. Sumbu khusus pada lampu petromax dikenal dengan istilah “kaos lampu.”
Nama “Petromax” berasal dari penemunya, Max Graetz, yang menciptakan lampu ini pada tahun 1910. Panggilan masa kecilnya, “Petrol Max,” akhirnya diabadikan sebagai merek dagang.
Menghidupkan lampu petromax membutuhkan keterampilan khusus. Normalnya, setelah minyak dipompa dan spuyer dibuka, kaos lampu dinyalakan dengan membakar spiritus yang ditempatkan di wadah di bawahnya. Namun, bagi yang sudah mahir, penggunaan spiritus bisa dilewati. Mereka cukup menyalakan korek di dekat lubang spuyer yang menyemprotkan minyak ke kaos lampu—meskipun cara ini kadang-kadang menimbulkan semburan api yang harus segera ditiup agar kap lampu tidak terbakar.
Saat itu, rumah saya belum memiliki listrik. Meskipun di jalan depan rumah sudah berdiri tiang listrik dari kayu, aliran listrik hanya tersedia bagi Kompleks Kawedanan, kantor pembantu bupati yang kini menjadi kantor kecamatan. Seingat saya, listrik itu juga digunakan di rumah Eyang Bupati, mantan bupati Purworejo, yang rumahnya berjarak empat rumah dari kediaman orang tua saya.
Sementara itu, rumah kami dan para tetangga bergantung pada minyak tanah sebagai sumber penerangan. Dalam keadaan darurat, kami menggunakan lampu senter yang ditenagai baterai. Pemandangan baterai dijemur di halaman saat matahari terik bukan hal yang asing, karena diyakini bahwa sinar matahari bisa mengisi ulang energi baterai yang mulai redup.
Untuk memasak, kami masih mengandalkan kayu bakar. Segala sesuatu dimanfaatkan untuk menyalakan tungku, mulai dari pelepah dan daun kelapa kering hingga sabut dan batok kelapa. Dapur yang terus berasap menjadi tanda bahwa kehidupan berjalan dengan baik.
Liburan sekolah menjadi saat-saat yang menyenangkan, terutama karena saya lebih memilih menghabiskannya di rumah Mbah Kulon—sebutan bagi kakek dan nenek dari garis ibu—yang tinggal di Kutoarjo, sebelah barat rumah kami. Sementara itu, kakek dan nenek dari garis bapak disebut Mbah Wetan, karena mereka tinggal di Kaligesing, sebelah timur rumah kami.
Di rumah Mbah Kulon, listrik sudah tersedia karena Mbah Kakung bekerja di PJKA dan tinggal di rumah dinas Jawatan Kereta Api. Tegangan listrik di sana masih 110 volt, sehingga sengatannya hanya terasa seperti gigitan semut api—berbeda dengan listrik 220 volt yang lebih kuat, mampu menyedot atau bahkan melempar seseorang ketika tersengat.
Listrik di rumah Mbah Kulon digunakan dengan hemat. Rata-rata bohlam yang digunakan hanya 5 watt—tidak begitu terang, tetapi jauh lebih benderang dibandingkan lampu teplok atau lampu gantung.
BACA JUGA : RAJA AMPAT
Setelah Golkar memenangkan pemilu untuk ketiga kalinya, aliran listrik semakin meluas dengan tiang-tiang beton buatan Wika yang menyalurkan daya ke rumah-rumah. Saat itu, bersamaan dengan program Abri Masuk Desa, pemerintah juga menggencarkan Program Listrik Masuk Desa. Rata-rata rumah mendapat pasokan listrik sebesar 450 watt—cukup untuk penerangan tetapi belum bisa digunakan secara luas.
Listrik saat itu masih sangat terbatas. Selain penerangan, biasanya hanya digunakan untuk setrika. Seiring kehadiran listrik, setrika arang perlahan ditinggalkan. Namun, proses menyetrika masih harus dilakukan dengan cermat; jika menyetrika di malam hari, sebagian lampu perlu dimatikan agar meteran tidak “njegleg.”
Selain lampu dan setrika, listrik juga dimanfaatkan untuk televisi. Televisi tak lagi memakai aki, dan tape recorder bisa dihidupkan dengan lebih mudah. Namun, penggunaan radio masih tetap mengandalkan baterai.
Pendek kata, listrik pada masa itu lebih identik dengan penerangan.
Lambat laun, elektrifikasi semakin meningkat. Sekitar kelas 3 SMP, warung es mulai bermunculan, menarik banyak pelanggan yang rela mengantre. Penjual sudah menggunakan mesin untuk menggiling dan mencampur es—es juice menjadi sangat populer. Blender, mixer, dan peralatan lain mulai digunakan untuk memasak serta membuat minuman.
Elektrifikasi merambah ke dapur, lalu merembet ke ruang lain dengan semakin populernya kipas angin. Setelah itu, kulkas dan mesin cuci mulai muncul, hingga akhirnya masyarakat mulai menggunakan AC.
Saat itu, pasokan listrik masih belum berlebihan. Listrik dihasilkan oleh PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) dan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Namun, daya yang dihasilkan terbatas dan pasokannya tidak selalu stabil—terutama ketika musim kemarau, daya PLTA sering kali menurun.
Mati listrik masih menjadi hal biasa. Namun, masyarakat tidak terlalu khawatir, karena sebagian besar rumah masih memiliki lampu minyak, dan minyak tanah masih mudah didapat untuk kebutuhan memasak.
Pemerintah menjadikan peningkatan daya listrik sebagai prioritas. Namun, upaya ini sering kali menimbulkan konflik dengan masyarakat karena pembangunan PLTA memerlukan waduk yang luas, sehingga banyak warga yang terdampak dan harus direlokasi. Pembangunan PLTA hampir selalu diikuti dengan bedol desa.
Salah satu kasus besar terjadi saat pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Perlawanan masyarakat terhadap proyek ini menjadi contoh bagaimana tokoh agama turut membela rakyat kecil ketika berhadapan dengan pemerintah yang menggunakan kekuatan militer untuk melancarkan programnya.
Salah satu figur penting dalam perjuangan masyarakat Kedung Ombo adalah Romo Mangun. Dalam salah satu surat yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri, beliau menulis:
“Di Kedung Ombo tidak ada perang, walaupun seluruh daerah kelilingnya penuh dengan pasukan berbaju loreng dengan senjata-senjata otomatis yang berkesan menakutkan orang, apalagi orang-orang desa dina.”
Elektrifikasi semakin meluas, dan tujuan pemerintah bukan hanya menerangi kehidupan masyarakat, tetapi juga memenuhi kebutuhan investor yang memerlukan energi untuk industri yang bertumpu pada mesin.
Sumber energi utama dalam skala besar akhirnya beralih ke batu bara. Anehnya, pembangkit listrik yang berbasis batu bara tidak disebut PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara), melainkan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap).
PLTU tidak dibangun oleh pemerintah, melainkan oleh investor swasta yang kemudian menjual listriknya kepada PLN. Sebagian besar investor berasal dari luar negeri, dengan Jepang sebagai pemain terbesar melalui perusahaan-perusahaan seperti Mitsui, Tokyo Electric Power, Itochu, J-Power, Sumitomo, Mitsubishi, dan lainnya. Selain itu, perusahaan tambang batu bara besar seperti Adaro, Bukit Asam, dan Barito Pacific juga terlibat dalam bisnis PLTU.
BACA JUGA : Ducati Tegang
Dalam lima belas tahun terakhir, batu bara menjadi pilihan utama untuk pembangkitan listrik karena mampu menyediakan energi dalam jumlah besar dengan harga yang relatif murah. Dampaknya, PLN pun mengalami kelebihan pasokan listrik, meskipun elektrifikasi telah menjangkau hampir semua aspek kehidupan.
Kehidupan modern kini sepenuhnya bergantung pada listrik. Rumah, warung, kantor, ruang tunggu, dan tempat-tempat umum dipenuhi colokan listrik. Bahkan, kafe dan tempat nongkrong favorit sering kali dipilih berdasarkan ketersediaan colokan untuk mengisi daya perangkat elektronik.
Namun, semakin dominannya pembangkitan listrik berbasis batu bara mulai menimbulkan masalah, baik dari segi lingkungan maupun sosial.
Dari perspektif lingkungan, pertambangan batu bara terbuka telah menyebabkan kerusakan alam secara masif. Lubang-lubang bekas tambang sering kali dibiarkan tanpa reklamasi, dan pembukaan lahan skala besar memicu erosi yang menyebabkan pendangkalan badan air. Sedimentasi di sungai dan danau memperparah risiko banjir.
PLN telah berhasil menyediakan listrik bagi masyarakat, tetapi tantangan berikutnya adalah bagaimana menjual listrik sebanyak mungkin. Pelanggan baru kini diwajibkan untuk memasang daya minimal 900 atau bahkan 1200 watt, sementara sambungan 450 watt mulai dihapus. Jika konsumsi listrik menurun, PLN berisiko mengalami kerugian, karena listrik yang didistribusikan adalah hasil pembelian dari penyedia swasta.
Tren energi hijau dan energi terbarukan menjadi dilema bagi PLN. Jika banyak individu dan entitas mulai menghasilkan energi mereka sendiri, konsumsi listrik dari PLN akan berkurang dan menyebabkan potensi kerugian. Di sisi lain, jika rumah-rumah menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan mengintegrasikan kelebihan daya ke jaringan PLN, maka PLN harus membeli surplus energi tersebut—menambah beban finansial.
Mencari model bisnis baru untuk energi listrik terbarukan dalam jaringan PLN menjadi tantangan besar agar transisi energi dari fosil ke terbarukan tidak terhambat. Pemerintah dan industri energi harus memikirkan solusi yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, serta kestabilan ekonomi dan industri.








