KESAH.ID – Walau masih terlalu dini untuk mengatakan Marc Marquez akan menyamai rekor Rossi namun tanda-tanda kearah sana sudah mulai terang. Dan Rossi pantas risau karena muridnya yang membalap sebagai rekan satu tim Marc Marquez sampai seri ke 8 belum bisa diharap untuk menghentikan jalan Marc Marquez menguasai Moto GP 2025. Lawan terberat dari Marc justru adiknya sendiri. Walau Alex belum pernah menjadi juara dunia di kelas utama, dia bisa jadi rela membiarkan kakaknya menjadi juara dunia kembali agar bisa menyamai atau bahkan memecahkan rekor Velentino Rossi.
Rossi pantas risau, tahta sebagai legenda Moto GP di era modern dengan 9 kali juara dunia semakin terancam.
Setelah cukup lega karena Marc Marquez cidera panjang sehingga dominasinya di Moto GP terhenti setelah tahun 2019, kemunculan Johan Mir, Fabio Quartaro dan Fancesco Bagnaia yang bersinar terang, masa depan Marc Marquez di Moto GP seperti gelap.
Marc yang cidera lama dan kemudian come back kembali dengan Honda perfomanya tak lagi meyakinkan. Tahta sepertinya akan beralih ke Francesco Bagnaia yang mampu meraih gelar juara dunia dua kali berturut.
Pantas jika Rossi kemudian yakin, Marc Marquez tak akan menyamai apalagi melampaui torehan prestasinya di Moto GP. Rossi yakin walau sudah pensiun dari balapan, prestasinya tak akan dilampaui oleh Marc yang walau masih membalap tapi kesulitan dengan motornya.
Plot twice terjadi ketika Marc yang identik dengan Honda kemudian berani meninggalkan tim yang membesarkan namanya. Marc bukan hanya berani meninggalkan kerjasama mesra yang telah terjalin lama tetapi juga rela kehilangan pundi-pundi pendapatannya lewat kontrak terbesar dengan Honda.
Marc pindah ke Gresini yang mendapat pasokan motor dari Ducati.
Rossi mungkin mulai was-was, tapi tak khawatir benar. Toh di tim satelit Ducati lainnya dan tim utama Ducati ada murid-muridnya disana yang siap mengganjal Marc Marquez. Apalagi Marc akan dibekali dengan motor yang speknya setahun lebih tua dari murid Rossi.
Bisa jadi Rossi mulai menghibur diri kalau Marc hanya hebat di Honda, tidak di lainnya. Sama seperti mereka yang selalu mempertentangkan Messi dan Ronaldo. Messi sering dianggap hebat di Barcelona saja. Sementara Ronalda sudah berpindah-pindah klub dan tetap hebat.
Para pengemar Rossi memang kerap mendegradasi Marc Marquez menutup mata terhadap bakat besarnya. Marc bukan pembalap biasa, sama seperti Messi, dalam kondisi terbaiknya Marc sering kali bertarung di level berbeda dengan pembalap lainnya.
Sebagai pendatang baru di Ducati, Marc ternyata langsung bisa nyetel dengan motornya. Fakta bahwa Marc hanya cocok dengan motor yang dikembangkan untuknya seperti Honda terbantah.
Walau sulit untuk menjadi juara dunia bersama Gresini Racing, namun Marc menyulitkan dua pembalap yang bersaing yakni Francesco Bagnaia dan Jorge Martin.
Di tahun pertamanya menaiki Ducati, Marc berhasil memikat pabrikan Ducati.
Kecepatan beradaptasi dengan motor dan tak pernah mengeluhkan atau menyalahkan motor membuat Marc akhirnya menjadi pilihan manajemen Ducati untuk mengisi kursi pabrikan. Jika Marc tidak luar biasa, tak mungkin Ducati menyingkirkan Jorge Martin, sang juara dunia.
Merekrut Marc Marquez, Ducati bukan hanya kehilangan Jorge Martin, pembalap masa depannya melainkan juga Enea Bastianini, Marco Bezzecchi dan juga Pramac, tim yang merupakan mitra Ducati untuk melakukan pembibitan pembalap mudanya.
Langkah yang diambil oleh Ducati jelas membuat hati Rossi was-was. Ducati ternyata bukan pembela Itali, pabrikan ini nampaknya mengejar dominasi. Dan tak ada pilihan lain untuk meneruskan dominasi baik di arena maupun meningkatkan dominasi di pasar, Marc Marquez adalah pilihan terbaik.
Moto GP 2024 walau tak mengantar Marc Marquez ke tahta juara, namun atmosfir Moto GP jelas diwarnai oleh Marc Marquez. Tanpa menjadi juara, Marc berhasil menjadi bintang paling terang di Moto GP.
BACA JUGA : Ducati Tegang
Tahun 2024 Ducati terguncang dan menguncang. Terguncang karena Pecco Bagnaia sang putra emas ternyata gagal mencetak rekor menjadi juara dunia Moto GP 3 kali berturut-turut. Tahtanya digulingkan oleh Jorge Martin, yang sama-sama mengendarai Ducati namun berada di tim satelit.
Jorge Martin memang ngotot mengejar mahkota juara untuk membuktikan diri pada Ducati bahwa dirinya layak menjadi rider di tim utama. Prestasinya yang gemilang selama ini belum membuatnya dilirik oleh Ducati menjadi pembalap utama. Tiket itu akan diperoleh andai dia jadi juara dunia.
Sayangnya di tim satelit Ducati lainnya juga ada bintang yang bersinar, lebih terang bahkan. Kepindahan Marc Marquez dari HRC ke Gresini menjadi matahari baru di Moto GP. Marc Marquez kembali gemilang, kemenangan yang ditunggu-tunggu kembali datang. Publik lebih menunggu bagaimana penampilan Marc Marquez dengan motor Ducati ketimbang menanti siapa yang akan menjadi juara dunia Moto GP.
Kesimpulannya, Marc Marquez belum habis dan masih menjadi magnet. Magnet di lintasan maupun di pasar komersial.
Ducati hampir pasti memilih Jorge Martin untuk menjadi tandem Francesco Bagnaia di tim utama. Tapi Marc Marquez bikin manuver dengan mengatakan ingin mendapatkan motor terbaik, motor pabrikan namun tak mau pindah ke tim satelit Ducati lainnya. Yang dimaksudkan oleh Marc, dia tak ingin pindah ke Pramac.
Ducati galau.
Dan tersiar kabar Ducati kemudian memilih Marc Marquez untuk bertandem dengan Pecco Bagnaia di tim utama. Jorge Martin patah arang dan langsung menyambar tawaran untuk membalap bagi Aprilia.
Pasar transfer rider terguncang. Pramac juga kecewa dengan Ducati sehingga memilih hengkang ke Yamaha. Kursi penunggang Ducati berkurang dari 8 menjadi 6. Dua penunggang Ducati lain juga memilih hengkang yakni Enea Bastianini dan Marco Bezzecchi.
Tahun 2024 Marc membuktikan dirinya bukan hanya menjadi pembalap aktif yang paling berbakat, namun juga paling berpengaruh di Moto GP. Empat pembalap sudah menjeda tahta juaranya, namun Marc masih bisa membuat peta jalan karirnya sesuai yang dimauinya.
Marc Marquez kemudian menjadi rekan setim murid Valentino Rossi. Publik kemudian berspekulasi kalau di garasi Lenovo Ducati ‘perseteruan’ antara Rossi dan Marquez akan dilanjutkan.
Nyatanya tidak demikian. Marc dan Pecco akrab-akrab saja. Garasinya tidak disekat, seperti yang pernah ditunjukkan oleh Rossi dan Lorenzo.
Ducati memang mengembangkan sistem terbuka, antara satu pembalap dengan pembalap lainnya bisa saling mengintip data.
Hanya saja Rossi masih sering ikut memanas-manaskan suasana. Kekalahan dari Jorge Lorenzo yang membuatnya gagal meraih gelar kesepuluh nampaknya dibebankan pada Marc Marquez. Rossi masih terus berpikir bahwa kegagalannya adalah karena ulah Marc Marquez.
BACA JUGA : Kelebihan Listrik
Moto GP 2025 telah menjalani 8 seri. Marc menjadi pemenang di 4 balapan dan hampir menyapu bersih semua sesi sprint race. Cidera parah dan panjang ternyata tidak mengurangi kemampuannya secara drastis. Meski kekuatannya tak lagi seperti di masa 2013 – 2019, toh Marc Marquez masih menjadi yang paling digdaya.
Jelas sampai seri ke delapan, belum kelihatan sosok pembalap lain yang melakukan perlawanan kepada Marc Marquez. Semua dilahap dengan mudah tanpa duel seru. Duel terseru Marc Marquez justru terjadi ketika memperebutkan podium ketiga di Sirkuit Silverstone dengan Franco Morbideli.
Dan diluar banyak prediksi ternyata yang mampu menguntit Marc Marquez justru adiknya sendiri, Alex Marquez yang lepas dari bayang-bayang kakaknya karena tidak satu tim lagi.
Francesco Bagnaia yang dianggap lebih superior dalam penguasaan pada motor Ducati ternyata melempem. Pecco baru satu kali meraih kemenangan karena Marc Marquez yang sudah nyaman memimpin balapan di Austin terjatuh.
Di sesi sprint Pecco juga masih melempem. Hampir konsisten menjadi yang ketiga juga di balapan utama.
Rossi pantas risau, murid yang dibanggakan dan dianggap bakal bangkit di seri Eropa ternyata belum menunjukkan tanda-tanda mengembirakan. Pecco bahkan belum bisa menunjukkan perlawanan pada marc Marquez. Sebab sebelum melawan Marc Marquez, Pecco harus mampu menunjukkan diri mampu mengalahkan Alex Marquez.
Tak heran jika Marc terjatuh, ekpresi Rossi akan girang.
Tapi dengan Ducati, Marc bukan lagi pembalap yang kerap mencatat rekor terjatuh. Di Honda, Marc sering memaksa motornya melampaui batas. Namun di Ducati tidak.
Pecco pun merana, karena masih terus mengeluhkan motornya. Sementara Marc Marquez sepertinya baik-baik saja padahal mengalami masalah yang sama dengan Pecco Bagnaia.
Bukan rahasia lagi kalau Marc Marquez memang ‘pembunuh’ rekan satu timnya. Berganti-ganti rekan mulai dari Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, Alex Marquez, Pol Espagaro dan Johan Mir, semuanya tak ada yang bisa melampaui Marc Marquez.
Menjadi rekan Marc Marquez, Dani Pedrosa salah satu pembalap berbakat sampai akhir karirnya tak pernah menjadi juara dunia. Pun Jorge Lorenzo yang lima kali menjadi juara dunia juga tidak bisa apa-apa ketika menjadi rekan Marc Marquez di Honda. Marc selalu bisa menutupi masalah motornya.
Dan Bagnaia akhirnya merasakan betapa sulitnya menjadi rekan satu tim Marc Marquez. Kesulitan yang membuat Rossi menjadi risau karena Pecco adalah satu-satunya murid yang diharapkan oleh Rossi bisa menggagalkan niat Marc Marquez menyamai rekor Rossi.
Tapi nampaknya gelar juara dunia Moto GP ke 9 sudah mulai ada dalam genggaman Marc Marquez. Bahkan Marc masih mungkin mengenapi hingga ke 10.
note : sumber gambar – JUARA








