KESAH.ID – Susur Gang Samarinda lahir dari kegabutan pandemi dan berkembang menjadi perjalanan menyusuri gang-gang kota yang menyimpan sejarah, kehidupan, dan inovasi warga yang sering terabaikan. Tanpa aturan ketat atau ambisi besar, Kawan Susur melangkah bukan hanya untuk olahraga, tapi juga untuk menangkap cerita kota yang sering tenggelam dalam hiruk-pikuk pembangunan. Dari gang kecil hingga jalan tersembunyi, setiap langkah adalah cara memahami Samarinda secara lebih dekat—apa adanya, dengan segala keunikannya.
Rabu malam, 11 Juni 2025, dua Kawan Susur tiba-tiba jadi selebriti dadakan di udara. Bukan di Netflix, bukan juga di TikTok, tapi di RRI Pro 1 Samarinda dalam program Obrolan Komunitas. Momen bersejarah ini pantas dicatat di buku diary (atau Google Docs, kalau mau lebih modern), sebab untuk pertama kalinya Susur Gang Samarinda tampil dengan format audio-visual di jagat publik.
Sebetulnya, Susur Gang sudah beberapa kali jadi bahan tulisan media, termasuk oleh RRI sendiri. Tapi tetap saja, tampil di RRI membawa sensasi tersendiri. Ini bukan perkara Kawan Susur mendadak jadi pendengar radio setia. Hubungan dengan RRI terjalin karena aktivitas gang-gang-an mereka yang seringkali nyasar ke tempat-tempat absurd.
Dulu, saat Susur Gang baru bertumbuh, jalur favoritnya meliputi perbukitan Arga Mulya, jalan sekitar KS. Tubun, Bhayangkara, Pasundan, Kampung Jawa, hingga Samarinda Kota. Salah satu jalur yang pernah disusuri adalah gang kecil di samping Gang Arjuna 2 yang mengarah ke Jalan Bhayangkara atau Taman Samarendah. Di situ ada dinding tembok yang dijebol—entah siapa yang jebol, yang jelas Kawan Susur memanfaatkan lubang itu untuk menyusup ke sebuah kebun di lereng bukit.
Ternyata, di bawah kebun ada kolam air dengan bangunan kecil di sampingnya. Bukan kolam renang eksklusif, bukan pula tempat pemandian putri duyung, melainkan kolam pengendapan milik Perumdam Tirta Kencana Samarinda. Gang setapak menuju kolam itu lumayan licin, lengkap dengan lumut-lumut bandel yang bikin kaki terpeleset kalau kurang waspada.
Di ujung gang, ada rumah tua dengan atap limasan, dinding separuh tembok, separuh kayu. Sekilas mirip rumah-rumah peninggalan Belanda, tapi tunggu dulu, masa sih? Model bangunannya agak bikin ragu untuk langsung mengklaim sebagai sisa kolonial.
Di sekitaran lokasi ini beredar cerita urban legend Hantu Anak Belanda, tentang bocah-bocah Belanda yang konon tertimbun di sebuah gua setelah asyik bermain air. Memang, pada tahun 1932, kolonial Belanda membangun sistem pengolahan air di kompleks yang kini jadi Perumdam Tirta Kencana. Tapi soal rumah tua ini, tidak ada bukti historis yang mendukung bahwa ia benar peninggalan Belanda.
Keputusan menamakan jalur ini sebagai Jalur RRI muncul setelah Kawan Susur berkali-kali lewat dan akhirnya bertemu seorang warga setempat—seorang lelaki berusia 60-an tahun yang sedang asyik memberi makan ayam. Sambil menebar sisa-sisa makanan, ia mengungkapkan bahwa rumah tua tersebut adalah bekas stasiun penyiaran pertama RRI Samarinda.
Pernyataan itu langsung dicek di Google dan benar adanya. Napak tilas jejak RRI Samarinda pun jadi petunjuk bahwa rumah tua ini memang punya sejarah penting—meski bukan sejarah kolonial. Kini, jalur ini menyimpan cerita unik yang lebih dari sekadar jalur biasa.
Tapi hati-hati kalau ingin menyusuri Jalur RRI. Satpam Perumdam Tirta Kencana mungkin bakal mengira Kawan Susur sedang melakukan penyusupan ilegal karena jalur ini melewati pagar belakang Perumdam dan masuk ke wilayah kolam pengendapan yang berstatus Objek Vital. Jadi kalau ketahuan, siap-siap kasih alasan yang meyakinkan—atau pura-pura jadi reporter RRI yang sedang mencari jejak sejarah. Siapa tahu lolos!

BACA JUGA : Rossi Risau
Susur Gang Samarinda sendiri merupakan gerombolan yang terbentuk secara organik. Kegiatan ini tidak lahir dari workshop, lokakarya atau seminar yang bertabur Rencana Tindak Lanjut. Susur Gang Samarinda juga bukan organ yang mempunyai visi, misi, program yang dinyatakan dengan jelas lewat dokumen AD ART, SOP dan lainnya. Aturan Susur Gang Samarinda hanya satu “Datang jam 5 artinya terlambat”
Susur Gang Samarinda yang sering memasang hastag #partaikubuRUN atau #sarekatbakarkalori sebenarnya muncul dari kegabutan karena pembatasan sosial di masa pandemi Covid 19.
Karena tak bisa kemana-mana, muncul gagasan untuk berkegiatan yang tak melanggar aturan pembatasan sosial dan protokol kesehatan. Jalan-jalan menyusuri gang sambil bermasker menjadi pilihan. Mulanya hanya naik turun perbukitan Argamulya, menyusuri gang kecil di tengah permukiman yang ada di perbukitan dan kadang jalan setapak melewati kebun warga.
Titik kumpul dan titik berangkatnya disebut Mexico, di Jalan KS Tubun. Dan usai jalan sore biasanya dilanjutkan dengan kongkow-kongkow. Setelah kebijakan pembatasan sosial dilonggarkan, usai jalan membakar kalori, kalori yang terbuang diganti dengan nongkrong di Warung Angkringan Elly.
Kelak warung ini menjadi Warung Puncak Elly, membesar setelah warung pecelnya didatangi oleh Nex Carlos.
Lama kelamaan jalurnya makin memanjang, kearah kota bisa sampai Citra Niaga, Pelabuhan dan sekitarnya. Kearah Karangmumus, Pasar Segiri, Unmul dan seterusnya. Juga ke Raudah, Pasar Ijabah dan tepian Mahakam.
Jalan sambil bercerita, memotret hal-hal menarik yang ditemui. Kisah tentang Susur Gang masih diposting di akun media sosial masing-masing. Mulai ada yang memperhatikan karena catatan postingan kerap menyorot Program Pro Bebaya yang waktu itu sedang gencar-gencarnya.
Olahraga jalan kaki yang mudah, murah dan menyenangkan ini tidak punya banyak aturan. Selain jam berangkat yang tepat yakni jam 5 sore, rute yang dipilih harus melewati gang-gang kecil, menyisip dan menyusup jalan yang terhimpit oleh rumah.
Akhir tahun 2024, Susur Gang Samarinda kemudian lebih diurus. Jalan sore tiap hari Selasa dan Jum’at ini kemudian diberitahukan secara terbuka lewat flyer yang disebar di media sosial. Dan sebuah akun official instagram dibuat dan dikelola oleh admin.
Susur Gang Samarinda kemudian bukan hanya mudah, murah, menyenangkan, tetapi juga meriah karena setiap kali jalan diikuti oleh belasan orang.
Mengakomodir keinginan banyak Kawan Susur, jalurpun berkembang. Bukan hanya kerkutat di Samarinda Ulu dan sebagian kecil Samarinda Kota, melainkan mulai menjelajah hingga Samarinda Ilir, Sungai Kunjang bahkan ke Samarinda Seberang.
Postingan Susur Gang Samarinda mulai di-mention oleh komunitas pejalan kaki atau komunitas perkotaan lainnya. Reach dan Engagement Susur Gang Samarinda mulai membesar, mulai dikenal.
Apa dan bagaimana Susur Gang Samarinda dibiarkan terbuka saja. Biarlah masing-masing Kawan Susur menyatakannya sesuai dengan aspirasi masing-masing.
Bisa saja jalan kaki sore ramai-ramai ini jadi kampanye ‘gemar jalan kaki’, bisa juga jadi ruang belajar tentang kota, atau mungkin kelak bisa menjadi medan advokasi untuk ruang dan layanan publik, semacam urban activism.
Ke mana Susur Gang Samarinda akan melangkah selanjutnya? Sejauh ini belum ada peta yang pasti. Tapi satu hal yang jelas: selama masih ada gang-gang tersembunyi dan cerita di tiap sudut kota, perjalanan ini akan terus berlanjut.
BACA JUGA : IKN Semalam
Kota sering digambarkan sebagai kumpulan jalan raya, ruang koneksi yang penuh transaksi. Warga berinteraksi dalam ruang pertarungan kepentingan, tenggelam dalam urusan masing-masing. Tinggal berpuluh tahun di sebuah kota, tapi miskin tabungan cerita. Yang diceritakan hanya tentang peningkatan karir, peluang usaha, investasi untuk hari tua dan segala iuran serta cicilan yang membuat hidup makin terhimpit.
Di balik gang, warga saling bertegur sapa tanpa basa-basi yang berlebihan, anak-anak bermain tanpa takut mengganggu lalu lintas, dan aroma dapur rumah tangga bercampur jadi satu, membentuk identitas yang tidak akan ditemukan di pusat kota yang penuh dengan etalase.
Orang sering lupa, kota mempunyai banyak labirin, gang-gang sempit, lorong kecil yang hanya dibatasi dinding dengan pintu rumah yang selalu terbuka agar tak gerah.
Di balik langkah kecil dan dinding rumah ada gang-gang yang menghubungkan kehidupan, sebuah ruang yang mungkin terbatas namun menyimpan banyak kisah agar hidup tak terasa sempit dan terus menghimpit.
Gang adalah buku pustaka besar yang menyimpan kisah tersembunyi tentang kota yang luput dari mata kebijakan dan pemberitaan para pewarta yang lebih gemar melihat gebyar kota.
Memasuki sebuah gang berarti membenankan diri dalam kehidupan kota yang lebih dalam, lapisan ruang yang mungkin tidak masuk peta wisata dan dalam rencana jangka panjang pembangunan hendak disingkirkan. Karena setiap gang pasti punya cerita, bahkan sumbangsih untuk peradaban kota.
Sebagian warga kota pasti bersorak senang, kotanya akan makin rapi karena wilayah hunian padat di tepi sungai segera digusur dan kemudian akan dibangun taman, ruang publik, ruang terbuka hijau yang menunjukkan betapa beradabnya kota ini.
Tapi orang lupa, di wilayah yang distereotip sebagai slum area itu, sumber nutrisi dan protein kota dihasilkan. Tahu dan tempe berasal dari sana.
Siapa yang tahu di sebuah gang kecil yang sering kebanjiran karena mulanya adalah rawa-rawa, dihasilkan keripik singkong yang menemani warga kota melamun sambil melepas penat.
Atau siapa yang menyangka kalau di gang depan kuburan ada rumah dan bengkel yang seratus persen sumber energinya sudah dipenuhi dengan energi surya.
Menyusuri gang-gang, jalanan penghubung antar kawasan sebenarnya sebuah upaya untuk menyambung dan menabung empati, menjaga altruisme dalam diri warga kota yang mulai menipis karena urusan hidup masing-masing.
Maka jalan kaki menyusuri gang di sore hari bukan semata cari sehat dan bugar, juga bukan hanya untuk menambah teman nongkrong saat perkopian. Tapi ini tentang interaksi, interaksi sesama Kawan Susur, interaksi dengan lanskap kota, bau kota, suara kota, apapun tentang kota yang ditangkap dengan seluruh indera.
Tangkapan indera yang akan tersimpan sebagai memori, dokumentasi yang merekam rasa, wasasan, pengetahuan, daya kritis yang mungkin memacu imajinasi tentang bagaimana kota harus dibangun dan dihidupi di masa depan.
Tidak ada pretensi untuk menjadikan Kawan Susur menjadi pengamat kota, ahli kebijakan publik, pengamat transportasi umum, budayawan kota, seniman kota, sosiolog dan ekolog perkotaan. Biarlah Kawan Susur menjadi apa yang diingini oleh dirinya sendiri, tetap berwarna walau kebanyakan baju yang dipakai saat susur gang hitam-hitam.
Yang pasti Kawan Susur setiap kali menyusuri gang-gang Kota Samarinda, adalah warga kota yang terbuka menangkap semua yang terlihat, terdengar, terasa, tercium dan terpikirkan tentang kotanya. Menyusuri gang, menjadi Kawan Susur berarti tengah belajar menjadi warga Samarinda, mau cinta, mau benci, mau rindu atau mau berharap, terserah saja.
Ketahuilah, Samarinda itu unik dan menarik jika ditangkap apa adanya.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








