KESAH.ID – Industri sepatu lokal Indonesia kembali berkembang pesat dengan menerapkan konsep ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi. Beberapa brand lokal amat jelas terinspirasi oleh seri-seri populer sepatu milik brand global. Misalnya dari sisi colorway atau linningnya. Namun tak menjiplak plek ketiplek karena terbukti beberapa brand lokal mampu menghasilkan seri up to date tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Amati, Tiru dan Modifikasi telah terbukti membuat China maju dan menjadi salah satu negara terdepan dalam insdustri. Yang mesti dihindari adalah Amati, Tiru dan Murahin, penekanan pada murah ini membuat aspek modifikasi atau inovasi menjadi terlupakan.
Sebagian kita masih akrab dengan ATM, Anjungan Tunai Mandiri walau sudah banyak e-wallet atau merchant-merchant yang menerima pembayaran online utamanya QRIS. Uang kini ada di HP bukan di dompet.
Tapi masih banyak yang belum terlalu percaya diri pergi kemana-mana tanpa uang tunai. Maka begitu masuk mall atau pusat perbelanjaan yang pertama dicari adalah gerai ATM.
“Banyak ATM sudah hilang sekarang,” ujar seorang teman di tepian Sungai Karang Mumus.
Saya tahu yang dimaksudkan olehnya bukan mesin penarik uang mandiri. ATM yang dimaksudkan teman saya itu pasti jenisnya lain.
Dulu sewaktu mula-mula aktif bersih-bersih Sungai Karang Mumus diantara kami istilah ATM memang populer. Ya waktu itu masih banyak ATM di tepian sungai. Yang dimaksudkan dengan ATM adalah Anjungan Tai Mandiri. Begitu sebutan bernada gurauan untuk menyebut jamban baik yang berdiri sendiri maupun ada di batang di sepanjang Sungai Karang Mumus.
Seingat saya ‘ATM’ terdekat dulu ada di sekitar jembatan Kehewanan.
Lalu disepanjang Sungai Karang Mumus ke arah hilir saat sebagian rumah tepi sungai belum dibongkar karena terkena proyek normalisasi.
Kini relatif jumlah ATM di Sungai Karang Mumus mulai berkurang, karena sebagian tepiannya yang menyisakan rumah mulai dibongkar. Jamban di batang mulai langka, atau bahkan sulit ditemukan. Sementara yang berdiri sendiri merangkap menjadi kamar mandi masih bisa ditemukan di beberapa titik permukiman tepi sungai yang belum dibongkar.
Sebagian lainnya menyatu dengan rumah, tak terpisah jadi tak kelihatan.
Makanya istilah ATM mulai jarang terdengar di lingkungan sekitar Sungai Karang Mumus, sebutan Anjungan Tai Mandiri kurang relate lagi.
Ketika industri dan ekonomi kreatif ramai dibincang, istilah ATM kemudian ramai kembali.
Kali ini artinya Amati Tiru Modifikasi, sebuah model yang dipopulerkan oleh para penggerak ekonomi kreatif agar terus bisa berkreasi. Istilah ATM masih lebih bagus daripada istilah Studi Tiru yang kerap dipakai oleh organisasi atau instasi di pemerintahan sehingga sering kali bekas copy paste-nya masih kelihatan karena keteledoran editornya.
Konon istilah ATM ini sudah lama, sudah ada sejak masa orde baru yang waktu itu gencar sekali melakukan percepatan pembangunan. Memang tak ada sosok yang secara spesifik disebut sebagai pencetusnya, namun istilah itu muncul dalam konteks strategi dan inovasi pembangunan di Indonesia.
Jika dijelaskan lebih lanjut, metode ATM merupakan cara cara untuk melakukan riset, pengembangan, dan inovasi dengan mengamati dan meniru keberhasilan yang sudah ada. Kemudian melakukan modifikasi untuk menciptakan produk atau gagasan yang baru dan unik, sehingga berbeda dari tindakan plagiarisme.
BACA JUGA : Lebih Mahal
Jika kita bicara peradaban maka inti dari kemajuan peradaban adalah inovasi tanpa henti. Bangsa atau negara yang melahirkan inovasi selalu menjadi bangsa terdepan, utamanya dalam soal teknologi.
Maka yang ada bayangan orang kebanyakan tentang inovator adalah bangsa-bangsa Eropa atau Amerika Serikat. Kalau di Asia mungkin yang dipandang sebagai inovator adalah Jepang dan kemudian Korea Selatan.
Kenapa bukan China?. Untuk waktu yang cukup lama China memang kerap digambarkan sebagai negeri peniru yang terang-terangan, tukang jiplak plek ketiplek.
Padahal kalau meliaht sejarahnya, bangsa China sesungguhnya merupakan inovator. Beberapa temuan besar dan berpengaruh hingga hari ini lahir di China, sperti kertas, kompas, bubuk mesiu, cara cetak dan lainnya, semua hal itu ditemukan di China. Jadi sebenarnya inovasi atau temuan yang baru tidak asing untuk bangsa China.
Sebuah buku tertua di China menuliskan bahwa semua harus diawali dengan inovasi, seorang pemimpin harus memimpin dengan inovasi.
Inovasi pada bangsa China dikaitkan dengan belajar.
Pembelajaran ini diilustrasikan dengan burung yang sedang belajar terbang. Burung yang belum bisa terbang itu akan mengamati dan meniru burung lainnya yang sudah terbang. Proses itu dilakukan terus, terus dicoba, jatuh bangun sampai berhasil.
Dengan demikian inti belajar untuk berinovasi adalah memperhatikan, meniru dan terus mencoba.
Pola mengamati, meniru dan mencoba terus menerus diperlihatkan lewat belajar menulis kaligrafi. Seseorang akan meniru gurunya sampai tidak bisa dibedakan mana tulisan dirinya dengan gurunnya. Baru kalau sudah bisa meniru seperti gurunya seorang penulis kaligrafi boleh mengembangkan gayanya sendiri. Belajar untuk kemudian bisa melakukan inovasi berarti kerja keras.
Dengan pola seperti ini, bangsa China tidak mengharamkan untuk meniru bahkan persis seperti yang ditiru. Hanya saja mereka kemudian pelan-pelan mencari gaya atau identitas mereka sendiri, tidak berhenti sebagai peniru.
China kemudian kerap menjadi contoh bagaimana pola ATM kemudian membuat China sedemikian maju dan dalam banyak hal kini sejajar dengan Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Korea Selatan. Bahkan dalam batas-batas tertentu China lebih maju.
Tapi itu sekarang, 10 atau 20 tahun lalu China dicibir.
Mungkin yang umurnya 30 tahunan keatas masih ingat dengan istilah Mocin, motor atau mobil China. Sebutan itu bukan untuk menunjukkan kehandalan China melainkan mencibir.
Saya masih ingat seorang teman yang mendapat jatah motor China bermerek JRD. Entah apa kepanjangannya, namun kemudian JRD diartikan Jika Rusak Dorong.
Produk entah motor atau mobil dari China selalu diartikan cepat rusak dan kalau rusak tak bisa diperbaiki.
Awal-awal tahun 2000-an memang bermunculan merek motor dari China yang bentuknya plek ketiplek dengan motor-motor dari Jepang. Sampai sampai ada yang bilang jika motor China dan Jepang disandingkan dengan dihilangkan semua aksesories yang merujuk pada merek, maka sulit dibedakan. Bentuk motor China yang dijual di Indonesia waktu itu memang sebagian besar merujuk pada model Honda Supra.
Yang dicemooh lagi adalah HP China. Memang murah, tapi cepat rusak dan bentuknya meniru-niru HP ternama.
Namun era itu telah berlalu, era meniru karena China kemudian melakukan riset dan pengembangan sendiri sehingga produk-produk China kemudian bersaing dengan produk negara industri lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Eropa.
Mobil dan HP China tak bisa dipandang sebelah mata, juga komputer dan drone.
Motor dari China memang belum terlalu populer, kamera juga belum bisa mengejar ketertinggalan dari Jepang.
BACA JUGA : Bukit Tengkorak
Di Indonesia sudah lama ada peniru. Tapi tak berkembang menjadi inovator yang kemudian punya ciri khas tersendiri, meniru di Indonesia tidak dimaksudkan sebagai langkah belajar melainkan lebih memalsu, menghasilkan barang-barang KW, mirroring dan seterusnya.
Padahal tidak apa-apa meniru, seperti yang dilakukan oleh China dahulu. Dan rasanya beberapa produsen sepatu lokal juga melakukan hal yang sama. Pertama-tama meniru dan setelah mulai laku lalu mempunyai sedikit dana, kemudian disisihkan untuk melakukan riset dan pengembangan sehingga produk-produk berikutnya mempunyai ciri tersendiri.
ATM atau Amati Tiru Modifikasi kemudian dihayati sebagai kemauan belajar sehingga bisa menghasilkan produk yang mempunyai ciri khas tersendiri.
Tapi tak semua punya keinginan untuk menghasilkan sendiri produk yang punya ciri khas atau karakter yang berkelanjutan. Ada jenis peniru yang memang tak berniat untuk membangun brand yang kuat. Meniru dijadikan model untuk menjual apa saja yang sedang laku, apapun yang laku ditiru.
ATM kemudian diterjemahkan sebagai Amati Tiru Murahin.
Jiplak semirip mungkin lalu dijual semurah mungkin.
Dalam banyak hal kelakuan seperti ini terjadi. Tapi ambil contoh dalam hal sepatu, karena industri sepatu di Indonesia sedang mekar-mekarnya, dengan kemunculan banyak brand yang membanggakan.
Salah satu brand sepatu yang sering dijadikan kiblat adalah New Balance. Untuk pengemar sepatu slip on, ada seri New Balance yang memadukan antara slip on dan sneaker dengan corak yang masih cocok dipakai untuk kegiatan formal. Seri itu adalah New Balance 1906L Loafer.
Sepatu keren ini terhitung mahal harganya berkisar antara 3 sampai 5 juta.
Tentu untuk kebanyakan orang yang mau bergaya jelas angka ini kemahalan untuk sebuah slip on. Jika bukan pengemar mati, bisa dipastikan agak tak rela mengeluarkan uang sebesar itu.
Dan ini yang kemudian dibaca oleh para peniru, peniru model ATM, Amati Tiru Murahin.
Di pasaran kemudian muncul sepatu dengan model hampir-hampir mirip, mungkin tingkat kemiripannya 80 hingga 90 persen, dengan harga yang jauh lebih murah. Sepatu yang ditawarkan bukan KW, atau memakai merek NB alias palsu. Sepatu ini diiklankan sebagai 100 persen original karena memakai brand sendiri. Tapi jika disandingkan dengan NB seperti kembar.
Brand lain yang pernah memakai metode Amati Tiru Murahin adalah Weidenmann yang mengeluarkan model sepatu dengan bentuk dan colorway yang sulit dilepaskan dari ciri khas sepatu Solomon. Namun kemudian dalam seri-seri berikutnya Wridenmann mulai menunjukkan ciri khasnya sendiri.
Jika Weidenmann mulai berkembang, yang masih pede melakukan Amati Tiru Murahin adalah Heiden Heritage. Seri sepatu mereka banyak meniru plek ketiplek berbagai model sepatu brand besar yang sedang laris manis.
Sekali lagi Amati Tiru Murahin nggak salah sebagai langkah awal, namun tak boleh berhenti disitu karena akan berhenti melakukan inovasi.
Brand macam Ardiles, Brodo, Unerd, sepintas juga terlihat terinspirasi oleh New Balance. Namun jika diamati lebih lanjut akan kelihatan modifikasinya, yang kemudian membuat produk mereka layak dibeli karena walau murah jelas bukan murahan.
note : sumber foto – BRODO








