KESAH.ID – Adalah bisa kita membuat perbandingan, biasanya obrolan semacam ini seru untuk kelas obrolan di pos ronda atau warung kopi yang mana sebuah pernyataan tak perlu diseriusi dengan konfirmasi, validasi atau verifikasi. Cukuplah untuk membuat suasana jadi segar. Tapi membanding-bandingkan di ruang publik butuh parameter yang lebih dalam, tidak bisa langsung mengeneralisasi. Perbandingan yang serampangan malah bisa dipakai sebagai modus untuk berkelit dan mengaburkan persoalan oleh mereka yang sebenarnya berlaku culas dan busuk dalam proyek tertentu.
Adalah biasa kita membuat perbandingan ketika menilai atau hendak memutuskan sesuatu. Pada urusan proyek pemerintah, proposal yang biasa dipilih atau dimenangkan adalah yang memberikan penawaran paling murah. Paling murah berdasarkan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi artinya yang mengajukan proposal mencari untung paling sedikit.
Tapi dalam urusan memilih warung di mana kita hendak membeli sesuatu, ukuran harga paling murah belum tentu menjadi pilihan. Masih banyak faktor lain yang membuat seseorang menentukan pilihan untuk membeli di warung mana.
Bisa jadi meski lebih mahal, sebuah warung akan dipilih karena yang jualan cantik dan ramah, atau jaraknya lebih dekat sehingga bisa dijangkau dengan jalan kaki atau bersepeda. Atau warung tertentu dipilih karena pada hari itu sedang ada program khusus, promosi Jum’at Berkah.
Walau membanding-bandingkan adalah kebiasaan kita, namun sesungguhnya banyak perbandingan kalau ditelisik tidak seimbang, atau tidak sebanding. Dalam bahasa Inggris sering diistilahkan tidak aple to aple.
Ambil contoh soal BBM. Di masa orde baru ketika Indonesia merupakan penghasil migas, harga BBM terasa murah. Namun seiring dengan berkurangnya cadangan migas, harga BBM makin naik. Kenaikan harga BBM terjadi karena pemerintah mengurangi subsidi.
Maka setiap kali pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM, masyarakat di berbagai penjuru berdemonstrasi. Anak-anak muda di Makassar terkenal karena demo BBM, mereka sering menyandera truk tangki.
Masyarakat melakukan demonstrasi karena kenaikan harga BBM akan selalu mengakibatkan efek berantai, harga barang dan jasa lainnya ikut naik. BBM dan transportasi adalah salah satu komponen utama dalam menghitung harga produksi dan harga jual.
Ketika BBM naik, akan muncul perbandingan-perbandingan dengan negara lain. Dan muncul nama-nama negara lain yang mestinya tak terlalu berbeda jauh dengan Indonesia namun bisa menjual BBM-nya dengan harga yang jauh lebih murah.
Dengan mudah kita kemudian menyebut BBM di Indonesia sebagai mahal, karena dibandingkan begitu saja dengan Libya misalnya yang cadangan migasnya lebih besar dari Indonesia. Dengan cadangan yang lebih besar, Libya bisa mengekspor migasnya. Hasil ekspor itu uangnya dipakai untuk memberi subsidi BBM kepada masyarakatnya. Karena subsidi masyarakat Libya bisa menikmati harga BBM yang lebih murah dari Indonesia.
Pun begitu juga dengan Malaysia. Harga BBM di Malaysia lebih murah karena subsidi yang diberikan pemerintah lebih besar dari Indonesia. Masyarakat Malaysiapun bisa menikmati BBM yang harganya lebih murah.
Maka membandingkan harga BBM antara negeri yang satu dengan negeri lainnya tidak otomatis valid karena dibalik harga BBM ada kebijakan lainnya, ada cadangan migas yang berbeda.
Harga BBM di Indonesia lebih mahal pertama karena pemangkasan subsidi. Subsidi BBM semakin lama dianggap membebani keuangan negara. Subsidi untuk BBM dari pemerintah ke pemerintah berikutnya selalu dikurangi agar kemudian mendekati harga komersil.
Alasan kedua harga BBM di Indonesia menjadi lebih mahal karena Indonesia adalah negara pengimpor migas. Produksi migas di Indonesia tidak mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri.
Alasan lainnya yang kemudian membuat harga BBM di Indonesia terasa lebih mahal karena inefisiensi dalam produksi, distribusi dan lainnya. Dalam dunia per-BBM-an, sudah lama ada kuasa mafia, para pencari untung yang sampai sekarang tidak pernah buntung.
Begitu kuatnya para mafia ini sampai mereka bisa mengatur-atur Pertamina, perusahaan yang paling bertanggungjawab pada urusan BBM di negeri ini.
BACA JUGA : Marc Mundur
Sekarang ini yang lagi ramai dibanding-bandingkan adalah Whoosh, Kereta Cepat.
Isu kereta cepat ini menyeruak karena Menteri Keuangan Purbaya terang-terangan tak mau ikut campur membayar hutang pembangunannya. Menurutnya tanggungjawab untuk membayar hutang ada pada Danantara.
Borok terungkap. Kereta yang membanggakan itu ternyata boncos, sudah beroperasi namun pendapatannya belum cukup untuk membayar hutang pembangunannya.
Sebenarnya soal seperti ini biasa saja, Garuda, maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia juga sudah lama terlilit persoalan yang sama, sampai hampir dipailitkan. Untung saja yang memberi hutangan banyak, jadi masih lebih banyak yang tak setuju dipailitkan. Utang Garuda berhasil dinegosiasikan.
Di dunia usaha biasa saja hal semacam itu, yang punya hutang bisa lebih galak dari yang memberi hutang.
Masalahnya pembangunan kereta cepat itu melabrak semua perhitungan komersial. Proyek ini lebih bernuansa kebanggaan. Biar negeri ini sekelas Tokyo atau Beijing karena punya kereta cepat.
Tenggara bahwa pembangunan kereta cepat sebetulnya bukan hal yang mendesak terlihat dari ketidaksetujuan menteri perhubungan waktu itu, Ignasius Jonan yang bisa disebut sebagai Bapak Kereta Api era baru. Sebagai orang yang lama berada dalam sektor manajemen bisnis, Jonan tahu pembangunan kereta cepat tak menguntungkan secara ekonomi.
Tapi Jonan hanya seorang menteri. Dan tugas menteri membantu mewujudkan cita-cita atau keinginan presiden. Maka bukannya mendengarkan dan mencermati pemikiran pembantunya, sang presiden justru mengambil langkah mengganti menteri.
Yang berperan besar dalam mewujudkan rencana pembangunan jalur kereta cepat, justru KSP dan Kementerian Marves, sosok yang berpengaruh itu adalah Luhut Binsar Panjaitan.
Mulanya yang akan menggarap adalah Jepang. Jepang sendiri telah lama dikenal mempunyai teknologi yang mumpuni soal kereta api cepat.
Shinkansen demikian sebutan kereta api cepat di Jepang. Kereta ini diluncurkan sejak tahun 60-an. Tak heran jika kemudian menjadi ikonik. Shinkansen menjadi ikonik karena selain cepat, juga dikenal nyaman, tepat waktu dan aman.
Tapi kemudian China yang dipilih. Kereta api China lebih banyak pilihan, ada Gaotie, Dongche, Chengji, CR450 dan Maglev Shanghai. Dari sisi kecepatan, kereta api China mempunyai kecepatan lebih tinggi. Dan China juga lebih punya pengalaman membangun jaringan kereta api yang lebih jauh, dengan kondisi geografis yang lebih menantang.
Dengan mengandeng China, proyek kereta api cepat ini kemudian dimiliki oleh PT Kereta Cepat Indonesia China {KCIC}. KCIC adalah perusahaan joint venture antara Konsorsium BUMN Indonesia dengan saham 60 persen dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd China dengan saham sebesar 40 persen.
Namun dalam operasionalnya, semua SDM dari Indonesia.
Beroperasi sejak April 2025, Whoosh menjadi kereta yang paling banyak dipakai untuk berfoto ria oleh para penumpangnya. Dan ada banyak orang menyempatkan untuk pergi dari Jakarta ke Bandung hanya untuk menaiki kereta ini.
Tapi dengan harga yang ‘disubsidi’ operasi kereta ini sebenarnya merugi hingga sulit untuk membayar hutangnya sendiri.
BACA JUGA : Jambu Air
Begitu Sang Koboy, ngomong, menteri keuangan yang sedang jadi kebanggaan walau belum ada gebrakan ekonominya yang terbukti, jagad maya riuh.
Riuh dengan perbandingan soal harga yang kelewat kemahalan untuk pembangunan jaringan kereta cepat was wis wus bablas angine itu.
Seperti biasa di Indonesia reaksi memang selalu cepat tapi juga cepat masuk angin.
Media sosial memang cocok dengan gaya komunikasi orang Indonesia kebanyakan yang suka sekali komentar.
Dibandingkanlah biaya pembangunan antara kereta api cepat di Arab Saudi dan di China yang kemudian keluar dengan angka yang jomplang sekali. Jelas yang di Indonesia kelewat mahal.
Kita lupa kalau soal harga itu bukan angka obyektif. Tidak ada satupun harga yang bisa sama sedunia. Paling patokannya hanya rata-rata, yang kemudian dikomentari sebagai mahal atau murah.
Harga akan terkait dengan banyak parameter.
Di China pembangunan kereta api cepat bisa lebih murah karena teknologinya mereka kuasa, semua ada di tangan mereka. Sementara di Indonesia, kita membeli. Walau kemudian ada istilah TKDN, Tingkat Kandungan Dalam Negeri. Yang dinamakan TKDN itu bisa saja barang luar negeri tapi dirakit di Indonesia, TKDN-nya tenaga kerja.
Cina dan Arab Saudi adalah dua negara yang berbeda dengan Indonesia. Indonesia negara demokrasi, Arab Saudi negara kerajaan dan China negara komunis. Dua negara ini kekuasaan pemerintahnya begitu besar.
Maka soal lahan, Arab Saudi dan China tak kesulitan dengan ganti rugi, tak perlu membayar ganti untung. Di Indonesia lain ceritanya. Semua pembangunan besar pasti akan menyedot uang besar untuk ongkos ganti lahan. Dan jadi lebih besar lagi karena yang cari untung dari lahan bukan hanya pemilik lahan.
Kondisi geografis juga menjadi penentu kenapa proyek kereta cepat di Indonesia uangnya membengkak. Jaringan ini melewati perkotaan, kawasan permukiman dan kontur tanah yang tidak rata.
Kereta api tidak hanya melewati daratan, tapi juga harus melayang dan kemudian menembus bukit lewat terowongan. Ongkos ini yang kemudian membuat biaya membengkak.
Dan lagi-lagi tambah membengkak karena tetap ada yang cari untung. Di Indonesia berlaku adagium carilah untung selama ada kesempatan karena kesempatan tak datang dua kali. Dan pembangunan kereta cepat adalah kesempatan karena mungkin tak akan terulang lagi.
Benar bahwa mungkin ada inefisiensi dalam pembiayaan, pasti ada yang bocor dan proyek besar biasanya bocornya tidak halus.
Tapi jangan mudah terlalu cepat membanding-bandingkan jika perbandingannya tidak sebanding.
Karena salah-salah komentar yang sembarangan justru dipakai oleh mereka yang cari untung untuk berkelit, digunakan oleh mereka yang busuk sebagai tameng.
Yakin pasti pembangunan kereta api cepat ada yang tidak beres, tapi alasannya bukan semata karena lebih mahal dari pembangunan serupa di China dan Arab Saudi.
note : sumber gambar – SUARA








