KESAH.IDSamarinda itu dekat atau bahkan identik dengar air. Hanya saja lama kelamaan air dianggap musuh oleh kota ini, air hujan yang seharusnya membuat Samarinda lembab kini identik dengan banjir. Melimpahnya air di Karangmumus dalam paruh akhir bulan Oktober ini sudah memakan korban. Cocoknya Samarinda dengan air dikonfirmasi oleh MLQ Farm yang sukses membudidayakan jambu air. Dua jenis jambu air yakni Red Rose Samarinda dan Green Giant menjadi andalannya. Air semestinya anugerah bukan bencana.

Samarinda berair di minggu akhir Oktober 2025 ini, seperti sedang berada di bulan Januari yang sering diartikan hujan sehari-hari.

Rintik hujan Sabtu dini hari hampir membatalkan rencana piknik dadakan yang disusun saat diatas kendaraan sewaktu melewati jalan tol Balikpapan – Samarinda.

Di hari Sabtu itu kami bersepakat berangkat dari rumah masing-masing pada jam 07.30 pagi menuju titik kumpul di sebelah jembatan Perumahan Griya Mukti.

Dalam percakapan di WAG, saya memberi catatan kalau Perumahan Griya Mukti bisa dilewati asal tidak banjir.

Potensi banjir di Griya Mukti memang tinggi karena Jum’at sore saya mendapat informasi TMA di Bendungan Lempake tinggi. Hujan juga terjadi di wilayah hulu Sungai Karang Mumus yang berarti pasokan air dari hulu cukup banyak.

Saya berangkat ke titik kumpul melewati jam yang ditentukan. Bukan karena tak disiplin pada waktu melainkan memastikan rintik hujan tak turun lagi.

Seorang petani di Bukit Suharto punya teori menarik soal tidak tepat waktu ini. Menurutnya orang Indonesia tidak tepat waktu karena di Indonesia banyak tanaman karet. Makanya suka ngaret.

Saya pacu motor di jalan yang masih lengang. Saya berusaha untuk menjadi yang pertama sampai di tikum. Memasuki gerbang Perumahan Bumi Sempaja City, tidak ada tanda-tanda banjir disana.

Di belokan pertama setelah pintu gerbang, warung Mbok Sumirah sudah buka untuk melayani sarapan. Cukup menggoda karena perut belum terisi apa-apa.

Tapi saya tak singgah karena ingin cepat-cepat sampai di titik kumpul melihat keadaan disana. Oh, iya pagi itu seorang kawan mengirimkan foto keadaan jembatan Griya Mukti yang airnya hampir menyentuh lantai bawah jembatan.

Melewati belokan menuju perumahan Griya Multi dari kejauhan saya melihat mobil penuh terparkir di kanan kiri jalan. Di batin mulai muncul kesimpulan “Pasti banjir ini,”

Makin mendekati jembatan, kendaraan yang terparkir makin padat termasuk deretan motor. Fix, banjir.

Dan genangan air sebelum jembatan yang cukup dalam mengisyaratkan saya untuk berhenti, tak perlu meneruskan perjalanan hingga titik kumpul yang disepakati. Saya berbalik dan kemudian mengirimkan pesan di WAG untuk memberi tahu titik kumpul baru, gerbang depan perumahan Bumi Sempaja City.

Piknik dadakan di hari Sabtu ini memang berhubungan dengan air, tapi bukan air hujan atau air banjir walau seorang teman membawa spanduk tentang banjir yang bisa dipakai untuk aksi dadakan.

Air yang ingin kami lihat adalah jambu air.

Kami akan pergi ke Muang Dalam melihat kebun jambu air yang dikelola oleh petani muda bernama Abdul Malik. Pasca Covid 19, Malik mulai menekuni budidaya jambu air yang semula ditanam oleh ayahnya.

Di lahan kurang lebih satu hektar di sekitar rumah tinggalnya, Malik merawat dan membudidayakan dua jenis jambu air, Red Rose Samarinda dan Green Giant.

Ada juga koleksi jambu air lainnya, beberapa jenis dan juga alpokat yang buahnya memanjang seperti ketimun.

Jambu air ditanam dengan dua metode, ditanam di tanah dan ditanam di planter bag atau dulu dikenal dengan istilah tabulapot, tanaman buah dalam pot.

Bersuka memetik jambu air di MLQ Farm

BACA JUGA : Masih Banjir

Ada persepsi umum yang menyebutkan anak-anak muda sekarang atau generasi milenial enggan bertani. Pekerjaan bertani tidak menarik, tak semenarik bekerja di berbagai start up yang walau belum jelas juntrungan untungnya tapi keren.

Saya juga punya kesimpulan itu di kepala.

Namun kemudian terkoreksi karena pertemuan saya dengan Sunil Asfianoer Hirpristomo, seorang pelaut yang kemudian banting stir menjadi petani.

Sebagai petani muda yang sadar akan perubahan lingkungan  hidup, Sunil mempunyai visi misi sendiri yakni mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan, pertanian yang menyediakan pangan sehat untuk masyarakat.  Sunil akrab dengan istilah keren di pertanian seperti pertanian integratif, pertanian zero waste, pertanian cerdas dan lain-lain.

Sunil memperkenalkan saya pada beberapa petani dan peternak muda yang menurutnya mempunyai visi yang sama dengannya.

Dan Abdul Malik salah satunya. Dia antusias memperkenalkan Malik karena usaha yang ditekuninya terbilang jarang. Lewat MLQ Farm, Malik berkonsentrasi pada buah jambu air, buah yang tidak terlalu populer di Kota Samarinda.

Saat berkunjung pertama ke kebunnya, sebagian pohon jambunya sedang tidak berbuah. Namun yang ditanam dalam pot, jenis Green Giant ada beberapa pohon yang berbuah. Malik memilih-milih yang sudah layak dipetik. Dia mengulurkan satu buah yang sudah dibelah. Kress, jambunya terasa renyah saat digigit, tidak telalu banyak air tapi juga tak kering, dan setelah dikunyah rasa manis memenuhi rongga mulut.

Dengan model pertanian intensif, tanaman buah dalam pot bisa berbuah terus menerus asal diberi kecukupan nutrisi.

Kali berikutnya saya berkunjung ke MLQ Farm tidak lagi diantar oleh Sunil yang juga merupakan Ketua KTNA Samarinda Utara-Sungai Pinang. Tapi Sunil tetap mengatur kunjungan itu.

Saya datang kembali ke kebun jambu air yang dikelola Malik bersama Komunitas Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan.

Pasti ada yang tanya apa hubungannya antara Jurnalis Warga dengan isu transisi energi dengan pekebun jambu air. Secara langsung memang tidak, kunjungan ini dimaksudkan untuk memperkuat pengetahuan jurnalis warga terkait sektor ekonomi hijau yang potensial untuk menopang ekonomi Kalimantan Timur jika tambang batubara dipensiunkan secara dini dalam proyek transisi energi.

Pertanian, perkebunan dan peternakan dalam arti seluas-luasnya memang berpotensi untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi baru berkelanjutan di Kalimantan Timur. Pangan baik yang bersifat primer, sekunder maupun tertier adalah kebutuhan abadi, sehingga potensi ekonomi pangan seluas-luasnya selalu ada.

Dan pangan lokal selalu lebih punya nilai lebih tinggi, selain berkaitan dengan kebanggaan lokal juga distribusinya lebih pendek sehingga kesegaran dan harganya bisa lebih bersaing.

Malik yang semula bekerja di sektor pertambangan lalu terkena efisiensi saat pandemi Covid 19, telah membuktikan diri mampu menghidupi keluarga hanya dengan berkebun jambu. Dengan semua pengetahuan yang dicari sendiri, jejaring dengan pembudidaya jambu lainnya, MLQ Farm menghasilkan jambu yang terjamin mutunya.

Produk jambu Malik ditampung oleh mitra penjual di Balikpapan. Yang tidak memenuhi syarat grading akan dijual melalui media sosial. Malik menjual jambu Red Rose Samarinda yang disebutnya sebagai jambu rujakan seharga 20 ribu, sementara Green Giant yang manis dan renyah dijual dengan harga 50 ribu di kebun.

Di toko buah milik mitranya, jambu Green Giant dari kebun Malik diharga 75 ribu rupiah.

Green Giant jambu andalan MLQ Farm

BACA JUGA : Marc Mundur

Informasi kunjungan bersama Jurnalis Warga rupanya bocor. Gambar jambu yang membuat terteguk liur itu beredar dan terlihat oleh seorang kawan lainnya.

Saat bertemu saya ditodong untuk mengantar piknik kesana. Pingin membeli jambunya tapi sekaligus merasakan pengalaman memetik langsung dari pohonnya.

Saya tak langsung mengiyakan, karena harus bertanya lebih dahulu kepada Malik.

Seingat saya, Malik belum berminat menjadikan lokasi kebunnya sebagai destinasi wisata petik. Malik takut kalau tak bisa mengontrol pengunjung dalam memetik jambunya. Selain berpotensi merusak pohon, jambu yang dipetik bisa jadi belum cukup matang dan bisa membuat kualitas rasa yang dijaga olehnya menjadi berkurang.

Saya menyampaikan rencana kunjungan kepada Malik lewat WA yang lagi-lagi nomornya saya dapat dengan bantuan dari Sunil.

Malik mengiyakan.

Pagi itu memang gerimis tapi tak terlalu deras. Walau tak bisa melewati Griya Mukti yang mulai terendam banjir, perjalanan menuju MLQ Farm di Muang Dalam terasa lancar di bawah percikan tipis air hujan saat melewati Gunung Lingai.

Malik sudah menunggu, di ruang tamunya sudah dihampar karpet, air putih, termos berisi teh hangat dan sepiring gorengan.

Tapi kami tak langsung masuk ke ruang tamu, maunya langsung melihat kebun.

Dan Malik langsung mengantar, pertama ditunjukkan koleksi jambu jenis lain di halaman rumahnya. Bentuknya hampir seperti Green Giant tapi postur buahnya lebih pendek. Malik memetik beberapa dan menyodorkan untuk dicicipi.

Lalu Malik mengajak ke samping dan belakang rumahnya tempat puluhan pokok pohon jambu Red Rose Samarinda dan Green Giant ditanam di tanah dan planter bag.

Jambu RRS nya sudah tinggi-tinggi, dibawahnya banyak berserakan buah merah merona. Ya karena tinggi Malik susah untuk membungkus buahnya.

Malik mununjukkan mana yang boleh dipetik. Dia membuka tali tas plastik pembungkus buahnya.

Setelah cukup memfoto dan memvideo pengalaman memetik, Malik kemudian meneruskan untuk mengenapi pesanan.

Setelah memetik, kami istirahat di ruang tamu sambil menikmati segelas teh hangat dan gorengan.

Setelah itu pamit dan terasa benar ketika membawa dua jenis jambu di plastik, beratnya dilebihkan oleh Malik.

Membeli dengan memetik langsung di MLQ Farm jelas menguntungkan. Untung karena punya koleksi foto dan video, untung merasakan jambu tanpa dibatasi, untung dijamu dan untung dilewatkan jauh timbangannya.

Piknik membeli dengan memetik jambu di MLQ Farm memang serba untung.

note : sumber gambar – Yustinus Sapto Hardjanto