KESAH.IDDiseruduk Marco Bezzecchi pada balapan di Sirkuit Mandalika, Indonesia, marc marquez terlihat kesakitan sambil memegang lengannya. Marc langsung dipulangkan ke Madrid dan dokter memintanya istirahat untuk terapi tanpa operasi. Tapi ternyata pemulihan tak berjalan cepat dan Marc harus dioperasi. Paska operasi dokter mengisyaratkan Marc harus istirahat selama 16 minggu. Ducati kemudian mengumumkan secara resmi Marc Marquez mundur dari gelaran Moto GP 2025 karena harus melakukan pemulihan.

Bisa dipastikan setelah balapan di Mandalika yang berakhir dengan cidera, Marc Marquez mundur dari Moto GP 2025. Marc mesti ingin namun tak bisa memaksakan diri untuk ikut. Satu-satunya pilihan bagi Marc Marquez adalah istirahat dari balapan untuk pemulihan cideranya yang membuatnya harus kembali dioperasi.

Untung Marc sudah menyegel gelar juaranya, jika tidak penampilan yang impresif dari awal musim hingga cidera bakal sia-sia. Walau begitu tetap ada kerugian yakni rekor-rekor baru yang kemudian tertunda. Selain itu Marc Marquez kemungkinan besar juga tak bisa ikut mengetes motor untuk persiapan musim 2026 nanti.

Karena tak ada Marc Marquez, Ducati kemudian fokus kepada Pecco Bagnaia yang sebelumnya menunjukkan hasil yang positif di Motegi, Jepang. Pecco seperti kembali on the track.

Tapi di Mandalika dan Philips Island, Pecco kembali melempem. Justru Bezzecchi yang bersinar bersama Raul Fernandez. Aprilia menjadi satu-satunya motor yang berani menantang Ducati.

Kebangkitan Aprilia di akhir musim akan menjadi sinyal kuat untuk seri Moto GP 2026 nanti bahwa Ducati tak akan berleha-leha lagi. Apalagi Ducati sudah tak punya konsesi artinya pengembangan motornya sudah dikunci.

Ducati sudah mencapai puncaknya di GP 2024, karena GP 2025 yang dikendarai oleh Pecco, Diggia dan Marc Marquez ternyata tidak digdaya. Pecco Bagnaia dan Fabio Digianntonio kesulitan dengan GP 2025. Kedua pembalap Ducati ini merasa kesulitan menahklukkan GP 2025.

Hanya Marc Marquez yang berhasil menguasai GP 2025 sehingga dengan cepat mengumpulkan poin yang membuat Marc memimpin klasemen hingga kemudian menyegel gelar juara dunia dengan rekor poin ketika Moto GP masih menyisakan 5 balapan.

Marc memang kelewat istimewa seperti yang kerap disampaikan oleh saingan terberatnya sebelum berpindah ke Ducati yakni Andrea Dovisioso.

Dovi yang selalu menjadi penantang Marquez dengan Ducatinya, tahu persis bagaimana di lintasan Marc bukan hanya berani atau tak takut jatuh. Dovi melihat ‘master’ Marc menahklukkan motor yang bagi pembalap lain sulit dikendarai.

Dovisioso tahu persis kalau Marc Marquez kerap melampaui batas. Batas yang jika dilanggar oleh pembalap lain akan membuat terjatuh, tetapi Marc tidak. Kalaupun terancam jatuh, Marc kerap kali menunjukkan kemampuan melakukan penyelamatan. Motor diperlakukan seperti sapi atau banteng yang ditunggangi oleh pemain rodeo.

Marc mampu mengatasi kekurangan atau kelemahan motor lalu mengkonversi menjadi kecepatan. Hingga kemudian Marc Marquez kerap menunjukkan kemustahilan-kemustahilan utamanya dibanding dengan pembalap lain.

Kemampuan Marc ini oleh pemgamat Moto GP sering dianggap sebagai penghancur tim yang sukses. Seperti Honda, yang jelas sukses bersama Marc. Namun pembalap lain serti Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, Alex Marquez dan Johan Mir, mereka tak pernah sukses. Jangankan merebut gelar juara dunia, memenangi balapan saja susah.

Pun ketika datang ke Ducati, Marc langsung moncer. Kemenangan demi kemenangan diraih, rekor demi rekor dicatat. Dan seperti saat di Honda, tandem Marc Marquez di Ducati yakni Francesco Bagnaia juara dunia dua kali langsung melempem.

Hampir sepanjang musim Bagnaia menderita. Sebagai pembalap yang jadi acuan pengembangan Ducati, Francesco Bagnaia sepanjang Moto GP 2025 selalu mengeluhkan seperti tak mengenal motor yang dinaikinya. Pecco kehilangan kendali atas motornya.

Dan benar eperti yang dikatakan banyak pengamat kalau Marc Marquez hanya bisa dikalahkan oleh dirinya sendiri. Dan kali ini Marc kembali harus berhenti karena cidera yang dialami.

BACA JUGA : Dad Shoes

Selain Marc yang istimewa, saudara laki-lakinya yakni Alex Marquez juga terbilang istimewa pada Moto GP 2025 ini. Alex menjadi satu-satunya pembalap yang konsisten mendulang poin besar selain Marc Marquez.

Nampaknya rekan se tim yang paling cocok untuk Marc memang saudaranya sendiri, yang tidak akan terintimidasi.

Alex berkembang pesat ketika bersama-sama Marc di Gresini. Dan begitu ditinggalkan oleh Marc Marquez yang pindah ke tim pabrikan Ducati, Alex percaya diri. Kepercayaan yang kemudian membuat Alex berhasil mendapat julukan mister P2, karena kerap berada satu podium dengan Marc Marquez.

Francesco Bagnaia sempat memberi signal yang positif dengan kemenangan di Motegi, Jepang. Namun kemudian kembali melempem di Mandalika dan Philips Island.

Di Malaysia, Francesco Bagnaia kembali bangkit, berhasil memperoleh pole position. Pecco kembali di baris depan, pembalap yang cepat.

Raihan positif Pecco ini seperti menutup peluang Aprilia yang sedang mengalami trend naik karena penampilan impresif Marco Bezzecchi karena Jorge Martin didera cidera. Dalam beberapa seri terakhir Bezzecchi menunjukkan diri sebagai penantang paling kencang bagi Marc Marquez di lintasan.

Kehebatan Bezzecchi diperlihatkan di Australia, Bezzecchi yang mendapat hukuman long lap pinalty masih mampu menduduki podium ketiga di balapan utama.

Tapi di Malaysia Marco Bezzecchi kembali terbenam.

Meski belum berhasil menjadi pemenang, Pedro Acosta juga menampilkan permainan impresif. Paska Marc rehat, Pedro menunjukkan penampilan yang meningkat, Pedro hampir selalu berpeluang untuk meraih podium. Walau kemudian sering gagal karena crash. KTM yang dianggap potensial menantang dominasi Ducati ternyata memang masih kalah kelas.

Pada sessi sprint race di Sepang Malaysia, Francesco Bagnaia mampu melakukan strat dengan sangat baik dan langsung melesat kedepan. Pecco tak terkejar lagi sejak lap pertama.

Alex Marquez terus membuntuti namun tak punya cukup kecepatan untuk mengejar dan melewati. Pecco tampil seperti yang diinginkan oleh Ducati yang kehilangan Marc Marquez.

Ducati kembali tampil di depan, Pecco finis disusul Alex Marquez dan Fermin Aldequer yang berhasil melewati Pedro Acosta di lap-lap terakhir. Sebuah penampilan yang manis dari Gresini karena di Sepang,Malaysia Alex Marquez bakal mengunci posisi runner up kejuaraan Moto GP 2025 ini. Dan Fermin juga akan mengakhiri musim ini sebagai Rookie of The Year mengalahkan Ai Oigura dan Somkiat Cantra.

Sayang eforia Ducati kemudian terganggu karena kemenangan Fermin Aldequer dibatalkan karena terkena pinalty soal tekanan ban.

BACA JUGA : Masih Banjir

Dengan bekal kepercayaan diri yang tinggi, Francesco Bagnaia berhasil melakukan start yang sangat baik. Disusul oleh Alex Marquez dan Pedro Acosta yang sama-sama berusaha tampil agresif sejak awal.

Terlihat Pecco akan memimpin dengan nyaman. Sementara Alex dan Pedro berebut posisi. Lewat manuver yang berani Alex berhasil melewati Pedro Acosta. Sepertinya Alex mempunyai kecepatan, sama-sama cepat dengan Pecco.

Alex Marquez kemudian berusaha mengejar Pecco Bagnaia sambil membuat jarak dengan Pedro Acosta. Setelah beberapa kali usaha, Alex Marquez akhirnya berhasil melewati Francesco Bagnaia dan langsung tancap gas.

Keseruan kemudian terjadi antara Francesco Bagnaia dan Pedro Acosta yang bersaing memperebutkan posisi kedua. Beberapa kali terjadi saling salip antara Pecco dan Pedro.

Namun akhirnya Pedro Acosta memenangkan duel.

Francesco Bagnaia bahkan kembali bernasib sial di Sepang, Malaysia. Pecco gagal finish dan mengejar poin Marco Bezzechi karena mengalami masalah dengan motornya. Kecepatan Pecco makin menurun. Ada dugaan Pecco mengalami masalah pada swingarm.

Ketika balapan masih menyisakan 3 lap, Pecco memilih kembali ke garasi karena kehilangan kecepatan motornya. Dengan tidak mendapatkan poin di balapan utama, posisi Pecco dalam klasemen masih berada di bawah Marco Bezzecchi. Petaka masih selalu dekat dengan Francesco Bagnaia yang membalap tanpa bayang-bayang Marc Marquez.

Alex Marquez tak terkejar lagi dan berhasil menutup balapan dengan manis. Sayang kegembiraan Gresini kembali terganggu karena Fermin Aldequer mengalami crash. Manajemen ban Fermin Aldequer lagi-lagi buruk.

Alex Marquez mengukuhkan diri sebagai runner up dalam klasemen Moto GP 2025. Posisinya tak akan terkejar lagi oleh Francesco Bagnaia dan Marco Bezzecchi dengan balapan yang tersisa.

Pekerjaan rumah justru ada pada Pecco Bagnaia yang harus memperbaiki posisinya dalam klasemen sementara. Jika tidak maka Pecco akan mengakhiri musim balap 2025 dengan catatan buruk karena terpental dari 3 besar.

Walau harus mengakhiri musim balap 2025 dengan lebih cepat, bersama dengan Ducati, Marc Marquez kembali menjadi fenomena. Sulit memang untuk menjelaskan kedigdayaan Marc Marquez dengan kemampuan menahklukkan motornya.

Bersama dengan Francesco Bagnaia dan Fabio Digianntonio, Marc Marquez menunggangi GP 2025, tapi hanya Marc yang relatif tampil sempurna dan mampu mendayagunakan kemampuan motornya hingga bisa mengunci gelar dengan cepat.

Sementara Pecco dan Digia menderita, tak mampu mengimbangi Marc Marquez dengan motor yang sama dan data yang terbuka.

Kuncinya pada Marc Marquez yang selalu bisa melakukan yang tidak bisa orang lain lakukan. Maka biarpun datanya dibuka, sulit bagi pembalap lain mengikutinya.

Dengan kemampuan seperti itu Marc selalu menjadi penghancur tim. Teman satu timnya yang lebih dahulu frustasi karena bisa melihat bagaimana Marc Marquez bahkan mampu menjadikan kelemahan motor menjadi kelebihan.

Marc selalu menjadi dambaan pemilik tim untuk meraih prestasi. Namun dalam jangka panjang, Marc Marquez kehadiran Marc marquez buruk untuk keberlanjutan.

Lihat yang terjadi pada Honda. Terlena karena prestasi Marc Marquez, ketika Marc rehat karena cidera, Honda berantakan setelahnya. Sampai sekarang bahkan Honda belum bangkit.

note : sumber gambar – DETIK