KESAH.ID – Lokalpun nggak kalah keren, karena desain, bahan dan teknologi yang dipakai juga nggak kalah. Maka buat kaum mendang-mending, alangkah bagusnya beli sepatu lokal ketimbang memburu sepatu merk luar negeri di gerai secondbrand yang kerap kali malah menjual barang-barang tiruan atau KW. Baru, bahan bermutu, desain keren dan harga yang lebih murah adalah nilai yang ditawarkan oleh brand-brand lokal. Jadi nggak perlu ragu untuk membeli sepatu-sepatu buatan Indonesia.
Seingat saya waktu pandemi Aerostreet sebuah perusahaan sepatu dari Klaten melakukan perubahan besar-besaran. Produsen sepatu yang selama ini menghasilkan sepatu untuk anak sekolah ini harus memutar kepala karena distribusi sepatunya anjlok, anak-anak belajar dari rumah jadi tak perlu sepatu.
Aerostreet kemudian melakukan transformasi, dari yang semula menyasar anak-anak sekolah kemudian harus melakukan perluasan sasaran pasar. Yang dipilih tentu saja masyarakat umum terutama yang doyan memakai sneaker.
Trend street wear menguntungkan untuk aerostreet, dunia sedang dilanda demam sneaker. Dan Aerostreet memulai dengan membuat sneaker vulkanisir yang desainnya sudah klasik.
Selain memperluas sasaran pasar, Aerostreet juga merubah cara pemasaran. Produk sepatunya dipasarkan secara langsung melalui media sosial dan market place.
Memakai tagline “Bangga Produk Lokal”, Aerostreet mengebrak pasar dengan item-item sepatu yang harganya agak diluar nalar. Produk sepatu Aerostreet dijual dengan harga seratus ribuan.
Kampanye “Bangga Produk Lokal” ini penting karena dunia persepatuan sedang diserbu oleh brand-brand kepala, merek-merek global yang membanjiri pasar lewat model bisnis secondbrand, sepatu preloved maupun sepatu bekas.
Thrifting sepatu menjamur, penuh dengan aneka lini produk dari Nike, NB, Vans, Converse, Onitsuka dan lain-lain yang harganya sangat miring.
Compass, produsen sepatu lama yang bangkit kembali dan melakukan rebranding berhasil memberi warna. Dengan sistem penjualan langsung dan jumlah item yang terbatas, sepatu Compass menjadi buruan. Di pasaran harganya tergoreng.
Berhasil mendapat sepatu Compass rasanya sama gembiranya dengan memenangkan ticket war. Jalan-jalan di Mall dengan sepatu Compass akan bertemu dengan tatapan bernada iri karena di market place gambar sepatunya diberi label habis.
Untung ada Ventela, yang kemudian ikut mengebrak dengan model sepatu yang liningnya mirip-mirip Vans. Sekilas memang mirroring, namanya saja dimirip-miripkan. Tapi tak apa toh ada kebaharuan yang dihadirkan oleh Ventela lewat color way yang berani.
Produk pertama Ventela memang jenis produk klasik yang sebelumnya dikenal sebagai andalan dari Vans dan Converse. Sepatu dengan model seperti Vand Old Skol memang diproduksi oleh banyak brand. Mirip dengan yang terjadi pada Adidas Samba.
Tiru meniru dalam dunia sepatu sudah biasa dan tak bisa dihindari. Sebuah brand yang sedang merintis tentu saja butuh produk yang diperkirakan mulus masuk pasaran. Mirip atau mengingatkan pada produk merek lain tak apa-apa yang penting bisa menawarkan nilai lebih.
Dalam dunia kreatif dikenal istilah ATM, amati, tiru dan modifikasi. Langkah ini wajar saja sebab sebuah brand tidak selalu memulai dengan modal yang besar. Di awal-awal umumnya belum mempunyai divisi R&D yang mumpuni karena keterbatasan dana.
Mengedepankan idealisme tinggi dengan model yang belum umum di pasaran bisa-bisa berakhir dengan gulung tikar.
Dan terbukti ketika produk-produk perdananya laku di pasaran, Aerostreet, Compass dan Ventela berhasil mengembangkan lini-lini produk yang inovatif, mereka kemudian percaya diri dengan desain sendiri maupun desain-desain hasil kolaborasi.
BACA JUGA : Cermin Jalan
Pandemi Covid berlalu, ekonomi mulai bergeliat kembali dan dunia sepatu lokal makin mengeliat. Trend thrifting menurun karena kios-kios thrift dibanjiri dengan sepatu-sepatu KW. Nampak jelas gerai yang mengklaim menjual sepatu second, ternyata menjual sepatu-sepatu baru yang dikenal dengan istilah mirror, premium, KW super, KW 1 dan lain-lain.
Market place juga dibanjiri oleh produk-produk seperti ini yang diimpor dari Vietnam, China, Thailand bahkan Bangladesh. Di dalam negeri juga banyak pembuat sepatu KW. Harga yang ditawarkan jauh dibawah harga produsen aslinya menjadi daya tarik tersendiri untuk pasar yang sedang doyan bergaya.
Dalam banyak percakapan kebiasaan memakai barang palsu atau KW seperti dinormalisasi. Alasannya sepatu aslinya sangat mahal, jadi wajar ditiru dengan harga yang miring. Kalau ada yang lebih murah kenapa beli yang mahal jadi mantra sakti untuk memaklumi kelakuan buruk mendukung industri pemalsuan.
Bahan, bentuk, warna yang mirip menurut mata orang awam yang kemudian membuat konsumen gemar memakai sepatu KW. Dengan pandangan mata, bentuk yang serupa dianggap serupa pula kwalitasnya.
Padahal jika lebih jeli akan sangat kelihatan bedanya, terutama dari jahitan, pengeleman dan pengukuran lainnya yang memerlukan alat bantu. Yang paling berbahaya dan tidak kelihatan adalah teknologi yang disematkan dibalik sepatu-sepatu itu. Meniru sepatu dengan teknologi tertentu namun tak diterapkan bisa membahayakan pemakainya.
Akhirnya banyak yang kemudian dipermalukan dengan memakai sepatu KW. Sepatunya jebol sewaktu dipakai untuk bergaya. Dengan kualitas seadanya sepatu-sepatu KW kemudian dengan cepat menjadi sampah.
Konsumen di Indonesia yang gemar memakai sepatu KW memang rada-rada aneh. Doyan sepatu palsu tapi suka meremehkan merek dan kualitas sepatu produksi dalam negeri.
Perjuangan sepatu lokal melawan anggapan ini.
Dan beberapa diantaranya berhasil hingga brand-nya perlahan mulai bersaing dengan brand-brand luar negeri.
Geliat sepatu-sepatu lokal kemudian menarik perhatian pada konten kreator. Di media sosial yang kemudian ramai bukan hanya food vlogger atau food reviewer, muncul kreator-kreator baru yang fokus pada sepatu. Beberapa diantaranya mereview hingga ke dalemannya, sepatu dibongkar untuk dibahas satu persatu bahannya, kualitas dan teknologi yang disematkan padanya.
Istilah-istilah dalam dunia persepatuan semakin dikenal oleh masyarakat. Para shoes reviewer mengajarkan banyak hal dalam sebuah produk sepatu. Mereka memberi informasi yang membuat keputusan seseorang dalam membeli sepatu tidak hanya dipengaruhi oleh merek dan model, melainkan juga fungsionalitasnya.
Sepatupun ada literasinya.
Pemakai sepatu yang terliterasi tidak akan membeli sepatu karena godaan merek semata. Dengan pengetahuan yang cukup, konsumen akan membeli sepatu karena pertimbangan model kakinya, dan tujuan untuk apa sepatu itu dibeli.
BACA JUGA : Sepuluh Tahun
Gaya hidup yang makin dinamis dan kegemaran masyarakat berolahraga menjadi salah satu pendorong munculnya berbagai jenis sepatu yang dikembangkan oleh brand-brand lokal. Ada banyak brand yang memulai kiprah bisnisnya dengan produk sepatu olahraga.
Ketika berhasil melakukan penetrasi pasar, mereka kemudian berinovasi dengan sepatu gaya hidup namun bernuansa sport style lalu disusul inovasi-inovasi berikutnya.
Kini pasar sepatu Indonesia makin berwarna dengan kehadiran sepatu-sepatu lokal yang berkualitas. Warga lokal tidak lagi asing dengan merek Ortuseight, Kanky, Mills, Nine Ten, Weiderman, Peavolk, Azza dan lain-lain. Beberapa merek ini mulanya dikenal sebagai produsen sepatu futsal, basket atau lari. Namun kini menghadirkan sepatu-sepatu gaya hidup yang dikembangkan berdasarkan model sepatu yang sebelumnya berhasil menembus pasar.
Lewat strategi kolaborasi, brand-brand ini juga berhasil membuat sepatu yang sukses secara komersial.
Brand sepatu lokal lawas juga ikut bangkit mengikuti trend dan melakukan transformasi produk untuk memperluas pasarnya. Seperti Aerostreet, Ardiles juga dianggap sebagai produsen sepatu anak sekolah. Ardiles kini juga mengembangkan sepatu gaya hidup, sepatu olahraga dan ikut dalam trend sepatu terkini yakni sepatu kalcer.
Lini sepatu kalcer Ardiles yang populer antara lain Conventry, Elmore, Volstog dan lain-lain.
Merek sepatu lain seperti Brodo, Pierro, Leaque, Specs, Ando juga tak mau kalah. Brand sepatu lama dan baru sama-sama berusaha menghadirkan sepatu bermutu, fungsional dengan harga yang lebih ramah pada kantong.
Sepatu sepuh lainnya juga tak mau kalah. Ada Kodachi dan Patobras. Dua brand ini layaknya orang tua yang kemudian disuntik dengan vitamin hingga bugar kembali. Dengan pengalaman yang panjang di dunai persepatuan Indonesia, Kodachi dan Patobras kembali mengangkat bendera untuk menghasilkan produk sepatu yang murah tapi tak murahan.
Mungkin ada seratusan brand sepatu lokal dengan idealisme masing-masing yang berjuang agar masyarakat Indonesia bangga pada produk lokal. Model penjualan berbasis socio dan ecommerce sangat membantu penetrasi pasarnya.
Sama seperti kebanyakan konsumen, pedagang retail juga masih memandang sebelah mata merek-merek lokal sehingga belum banyak etalase toko yang memberi ruang besar bagi merek lokal untuk dipajang.
Di pusat-pusat perbelanjaan kita sering hanya melihat Spech, Leaque, Ardiles, Geoff Max, Brodo dan lain-lain tetapi masih banyak merek lainnya yang belum diberi tempat. Toko-toko malah lebih memberi ruang pada merek-merek luar yang sebagian besar produknya dipalsukan. Di Mall-Mall besar kerap kali ada ‘pameran’ produk KW dari brand-brand kepala. Tapi jarang ada expo atau pameran yang memberi kesempatan pada brand lokal untuk unjuk gigi.
Di tengah persaingan ekonomi dunia yang membuat Indonesia terpuruk karena dijadikan pasar bagi produk-produk gaya hidup, mestinya pemerintah dan masyarakat harus mendukung kebangkitan produk-produk sepatu lokal yang mutu, desain dan fungsionalitasnya tak kalah dengan produk merek ternama.
Para produsen sepatu lokal jika berhasil membuat produk berkualitas dengan harga yang masuk akal, kita akan bisa membalikkan keadaan, membanjiri toko-toko sepatu di negeri seberang dengan produk sepatu bermerek Indonesia, bukan made in Indonesia tetapi mereknya luar negeri.
note : sumber gambar – TEMPO








