KESAH.ID – Cara termudah menilai sebuah bangsa adalah perilaku masyarakatnya di jalan raya. Indonesia terkenal karena ketidaktertiban di jalan raya. Para pengendara sering memakai jalanan umum sebagai sirkuit, memacu habis-habisan kendaraannya seolah sedang dikejar hantu atau setan. Cara berkendara seperti kerap kali bakal mencelakakan pengendara lainnya. Maka di jalan raya, hati-hati saja tidak cukup. Tanpa keberuntungan, bisa saja kita keserempet atau tertabrak. Alon-alon belum tentu kelakon.
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, Bhineka Tunggal Ika, itu realita dan nilai yang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia. Hanya saja menurut beberapa teman, makin kesini yang mungkin bakal tersisa adalah Ika, satu saja.
Bhineka Tunggal Ika menggandaikan toleransi, keterbukaan pada yang lain, kesediaan untuk menerima dan tak merasa lebih dibanding liyan atau yang lain.
Slogan satu komando yang kerap digaungkan setelah Prabowo terpilih menjadi presiden, menjadi salah satu tenggara kalau Bhineka dilemahkan. Kita mulai tak nyaman dengan keragaman, merasa keragaman membuat gerakan kurang gesit.
Makin sulit rasanya mengekpresikan keberbedaan termasuk dalam aspirasi. Berbeda dianggap sebagai gangguan, atau bahkan ancaman.
Maka menjadi sulit untuk mengambarkan Indonesia saat ini, gambaran tentang Indonesia kemudian kerap menjadi glorifikasi atau bahkan imaji.
Wajah asli Indonesia jadi buram, 80 tahun kemerdekaan tidak membuat kita menjadi semakin terang dalam memberi gambaran tentang Indonesia. Terlalu banyak hal buruk ditengah segala kebanggaan kita terhadap negeri gemah ripah loh jinawi ini.
Tapi ada cara gampang untuk menunjukkan kepada orang lain yang bertanya seperti apa Indonesia yang sesungguhnya. Tunjukkan saja jalan raya.
Perilaku masyarakat di jalan raya memang mewakili wajah asli masyarakat Indonesia. Di jalanan kita bisa menyaksikan orang yang tak kompeten mengendarai kendaraan bermotor berjibaku agar bisa secepatnya menuju tempat tujuan dengan cara yang membahayakan orang lain. Kita selamat sampai tujuan di jalan raya, terkadang bukan karena ketrampilan berkendara melainkan beruntung karena tak ditabrak atau diserempet orang lain.
Jalan mestinya tempat orang waspada. Yang berkendara mesti tahu kalau ada tempat-tempat tertentu yang tuas rem harus ditarik atau ditekan dalam. Tapi banyak orang enggan menurunkan gas, padahal jalanan yang dilewati mestinya harus menurunkan kecepatan. Banyaknya cermin cembung di dalam gang-gang adalah pertanda bahkan di jalan jalur lambat, gang sempit di permukiman masih banyak pengendara yang ugal-ugalan.
Perilaku di jalan memang kerap kali merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan oleh para pendidik, tetua dan para teladan lainnya yang kerap memberi nasehat untuk lebih memperhatikan orang lain, menghormati hak orang lain dan seterusnya.
Lihat saja betapa mudahnya pengendara menyerobot lampu merah, parkir tanpa memperhatikan bahwa jalan adalah milik umum. Dan yang paling menyesakkan adalah kebiasaan melawan arus, termasuk di jalan besar dan ramai.
Jalan memang kerap menjadi arena pamer keberanian, termasuk berani tak pakai helm seperti tak ada yang perlu dilindungi dari kepalanya.
Orang Indonesia memang berani, berani melanggar peraturan tanpa rasa bersalah. Dan sedikit yang berani mengingatkan mereka karena salah-salah yang mengingatkan justru celaka.
‘Memangnya kamu siapa?” begitu yang kerap dikatakan oleh mereka yang ditegur.
Bersalah tapi tak merasa salah, dengan mudah dilihat di jalanan. Bukan sekali dua kali yang lebih tertib dan yang lebih hati-hati malah celaka.
BACA JUGA : Ferry Malaka
Mulanya mungkin hanya perilaku individu, namun lama kelamaan diikuti banyak orang hingga kemudian menjadi sebuah kebiasaan, pelanggaran di jalan raya menjadi normal.
Jalanan menjadi ruang tak aman, masing-masing mencari aman sendiri. Banyak yang lupa kalau jalan adalah ruang publik di mana tenggang rasa yang mesti diutamakan.
Dari kecil kita diajar sabar tapi menunggu lampu merah menjadi hijau saja gagal. Kita malah lebih suka menenggang pelanggaran yang dilakukan oleh yang berkuasa. Pelanggaran dalam mengelola negara pun dengan sabar kita tunggu untuk berubah.
Sama seperti halnya politik, di jalanan dan di dalam kebijakan publik isinya akal-akalan. Di jalanan aturan bisa diakali, baik saat ada maupun tiada polisi. Lihat saja mereka yang kepergok, saat ditanya polisi apa salahnya kebanyakan balik bertanya “Memangnya apa salah saya?”. Tak sedikit yang langsung ngegas.
Saat polisi menunjuk tanda larangan, jawaban segera meluncur “Saya nggak lihat” atau “Saya orang baru”. Atau mencoba mengatakan kalau yang dilakukan biasa dilakukan oleh orang lain. Seolah kalau banyak orang melakukan maka diijinkan atau sudah jadi kebiasaan.
Maka banyak drama di jalan raya, seperti yang beredar di video-video yang viral. Macam-macam aktingnya, bahkan sampai ada yang merusak motornya sendiri gara-gara ditilang oleh polisi.
Jalanan memang kerap menjadi panggung pertunjukan. Banyak orang menunjukkan eksistensi, mencari validasi di jalanan dengan berbagai macam cara yang sebagian membuat pemakai jalan lainnya merasa tak nyaman.
Ada banyak Ali Topan yang bukan lagi anak jalanan, tapi telah membesar menjadi raja jalanan.
Yang tak terlalu percaya diri menunjukkan eksistensi sendiri akan bergerombol. Menguasai jalanan dengan berkonvoy dan mudah tersulut emosi jika ada yang menunjukkan ekpresi kurang senang. Kaum penakut dan pemalu jika berada dalam gerombolan bisa saja menjadi mahkluk pemberani dan beringas.
Serombongan amor di jalanan segera merasa lebih penting dari orang lain. Karena beramai-ramai mereka merasa boleh melanggar aturan. Mereka sering merasa harus dimaklumi, padahal tidak ada kepentingannya di jalan.
Semakin malam jalanan semakin berbahaya. Jalanan yang mulai sepi, dikuasai oleh para pembalap liar. Jalan raya dijadikannya sirkuit untuk beradu nyali. Terjebak dalam adu cepat pembalap jalanan, bisa-bisa melahirkan trauma berkendara.
Motor memang kerap menjadi raja jalanan. Ketika jalan macet, trotoarpun diserobot. Gara-gara trotoar sering dijadikan jalan alternatif untuk menghindari kemacetan, alhasil muncul keanehan di trotoar kita yang kemudian dipasangi tiang-tiang untuk menghalangi motor lewat.
Jalanan memang bukan tempat orang sabar, semua tergesa-gesa. Begitu masuk jalan raya langsung tancap gas, seolah tak ada lagi esok.
Gegara jalan kaki di jalan raya sungguh tak aman, banyak orang kemudian enggan berjalan kaki. Ruang pejalan kaki diokupasi, bukan hanya dijadikan jalan pintas pemotor yang mencari cepat tetapi juga para pencari rejeki dengan berjualan di pinggir jalan. DI kota yang mencita-citakan diri sebagai Kota Pusat Peradaban sekalipun, adab menghormati pejalan kaki tidak tumbuh.
Jalan pintas memang telah menjadi budaya di negeri kita. Semua ingin didahulukan atau mencari jalan terpendek tanpa peduli walau harus ditempuh denan menerabas ruang yang merupakan hak orang lain.
BACA JUGA : Tepi Sungai
Setiap tahun polisi di berbagai tingkatan selalu mengadakan kegiatan polisi cilik. Kegiatan yang disukai oleh anak-anak karena mereka diberi seragam polisi. Tujuannya untuk melatih anak-anak agar tertib sejak dini. Tapi kegiatan yang hanya berlangsung sekali, tak mungkin membuat anak-anak disiplin.
Lihat saja, di lingkungan sekolah menengah pertama. Pada siswa SMP tentu saja dilarang membawa motor sendiri ke sekolah. Meski piawai menaiki motor, anak SMP belum akan mendapatkan Surat Ijin Mengemudi. Tapi pagi-pagi banyak anak dengan seragam SMP membawa motor saat pergi di sekolah. Mereka tak akan memarkir motornya di sekolah, karena tidak diijinkan. Maka motor mereka akan diparkir di lingkungan sekitar sekolah, ada yang gratisan tapi tak sedikit warga di lingkungan sekitar sekolah menyediakan layanan parkir di halaman rumahnya.
Pasti para guru tahu, namun mereka tak akan bisa berbuat apa-apa karena motor tidak berada dalam lingkungan sekolah. Sekolah tak bisa apa-apa walau mereka tahu larangan berkendara sendiri ke sekolah telah dilanggar habis-habisan.
Selain gagal mencerdaskan bangsa, sekolah ternyata tak berdaya menghadapi akal-akalan para siswa. Sekolah tak berdaya, mungkin juga jeri menerapkan aturan dengan sangat keras. Takut kalau kemudian orang tua murid yang enggan mengantarkan anaknya setiap pagi protes.
Bisa jadi memang sulit menangkis segala alasan, seperti tidak ada hak sekolah untuk melarang para muridnya ketika berada di luar lingkungan sekolah. Makanya dari pada repot-repot lalu ribut dengan murid dan orang tuanya, sekolah pun tutup mata. Buat sekolah yang penting pelanggaran itu tak terjadi dalam lingkungan sekolah.
Delapan puluh tahun merdeka, ternyata adab kita di jalan raya tak bertumbuh. Jalanan masih saja dijadikan arena balap. Jalanan juga kerap dijadikan tempat parkir, tanpa memperhatikan kepentingan pemakai jalan lainnya. Egoisme dengan sangat mudah dilihat di jalanan.
Dengan bercermin dari apa yang terjadi di jalan raya, bisa dipastikan perjalanan kita menjadi bangsa yang penuh adab masih panjang. Para pemimpin juga tak mampu memberi contoh. Dengan semua kemudahan yang menyertai seorang pemimpin, di jalanan para pemimpin masih saja meminta lebih.
Peradaban negeri ini bakal akseleratif jika para pemimpinnya tak minta dilayani dan diistimewakan di jalanan. Jika para pemimpin masih lewat dengan tat-tet-tot tat-tet-tot, niscaya saat merayakan Indonesia emas nanti, kita bisa-bisa menjadi bangsa yang cemas.
Cemas karena tertinggal jauh dengan negeri-negeri lain, negeri tetangga, secemas saat kita melewati jalan dan kemudian dibelakang ada rombongan pengendara yang berkonvoi untuk menunjukkan eksistensi diri dan kelompoknya.
Note : sumber gambar – RADARBALI








