KESAH.IDPaska demo akhir Agustus 2025 nama Ferry Irwandi, konten kreator yang juga CEO Malaka Project melejit dengan tenggara atas demonstrasi dan segala eskalasinya. Ferry kemudian lebih sering tampil di saluran publik, di talk show mainstreams televisi. Namun yang mengejutkan adalah reaksi dari TNI yang diwakili oleh beberapa Jenderal karena menganggap beberapa pernyataan Ferry cukup untuk membuatnya dipidana. Wakil TNI menyebut Ferry telah mencemarkan nama baik TNI lewat kekhawatirannya terhadap darurat militer.

Sekitar 4 atau 5 tahun lalu saya sudah mulai menonton konten-konten Ferry Irwandi. Seingat saya waktu itu dia masih bekerja sebagai ASN di Kementerian Keuangan.

Ferry masih mencari-cari bentuk untuk kanal youtubenya itu.

Ketika kebanyakan youtuber mengisi kanalnya dengan konten percakapan, social experiment, vlogging dan lainnya, Ferry mulai ikut mempopulerkan model konten yang disebut sebagai video esai.

Dalam beberapa kontennya, Ferry membagi videonya menjadi tiga bagian sebagaimana yang biasa dilakukan untuk membuat tulisan.

Sebenarnya ada beberapa kreator yang memakai model itu, tampil sebagai story teller dengan naskah yang dipersiapkan sangat baik. Selain Ferry ada juga Doktor Indrawan Nugroho yang khusus membahas ekonomi dan bisnis.

Kelak Ferry dan Indrawan, keduanya sama-sama masuk dalam payung Close The Doors.

Ketika membangun kanal youtube Borneo Corner yang kemudian tak cukup energi untuk mempertahankannya, model konten ala Ferry Irwandi menjadi salah satu referensi.

Penonton Ferry Irwandi pasti dengan segera akan mengenali salah satu konten di Borneo Corner yang terpengaruh olehnya. Walau tak seketat dia dalam melakukan scritpting.

Yang pasti Ferry memang disiplin dalam menyiapkan konten. Dia mengumpulkan banyak data, mendalami dan kemudian menerangkan dalam tuturan yang runut dengan bahasa yang diupayakan sesederhana mungkin.

Walau tampilannya tak sebergas kebanyakan youtuber lain alias cenderung tampil kalem dan lemes di depan kamera, tapi karena yang disampaikannya berisi, konten Ferry menjadi menarik.

Diluar hal itu, saya sebenarnya tertarik untuk mengikuti kontennya karena Ferry berlatar pegawai negeri. Maka sebagai pegawai dan kemudian membuat kanal dengan isi yang kritis dan kritikan yang tajam, Ferry tidak seperti kebanyakan ASN.

Seorang teman yang juga ASN menyebut Ferry sebagai “Pegawai negeri yang punya otak,”

Perlahan-lahan konten Ferry menemukan bentuknya. Koneksinya diantara para kreator juga mulai terbentuk. Ferry tumbuh menjadi edukator publik lewat analisis ekonomi, politik bahkan intelejen yang berbasis pada riset media sosial.

Barangkali sebagai ASN, lama kelamaan konten youtubenya mulai membuatnya berdiri di simpang dan silang jalan. Ferry akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya yang sebenarnya prestisius untuk kebanyakan orang. Menjadi ASN di lingkungan Kementerian Keuangan adalah impian banyak orang.

Mengundurkan diri dari ASN, Ferry kemudian menjadi konten kreator 100 persen, sebuah keberanian yang masuk akal karena akun IG-nya difollow kurang lebih 3 juta orang dan kanal youtubenya difolow 2 jutaan orang. Angka pengikut yang menempatkan dirinya menjadi salah satu influencer yang kuat.

Bukan lagi sebagai ASN, opini dan analisis Ferry Irwandi makin tajam, kritiknya semakin menohok. Dan kanalnya tumbuh menjadi salah satu referensi bukan hanya untuk anak-anak milenial tetapi juga diperhatikan oleh media dan para pihak lainnya.

BACA JUGA : Geng Marquez

Nama Ferry kian melambung ketika bersama dengan Cania dan Coki Pardede mendirikan Malaka Project. Sebuah proyek yang diinspirasi oleh Tan Malaka yang mencurahkan hidup dan pemikirannya untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari cengkeraman mitos dalam pemikiran dan tindakannya.

Ferry dan kawan-kawan ingin menjadi edukator publik, meneruskan cita-cita Tan Malaka agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rasional.

Bersamaan dengan melambungnya nama Pesulap Merah yang membongkar trik tipu-tipu para penyembuh, Ferry juga melambung karena tantangan untuk menyantet dirinya. Yang berhasil menyantet dirinya akan diberi mobil Toyota Alphards.

Tantangan serupa juga diberikan oleh Pesulap Merah yang akan memberi bonus rumah kalau tak salah.

Ferry tetap sehat setelah mengumumkan tantangannya. Mungkin saja banyak dukun santet mengirimkan santet padanya, diam-diam tapi tak tembus. Bukan karena Ferry sakti, melainkan karena santet sebenarnya tak ada. Kata Pesulap Merah, santet itu intimidasi atau teror. Santet yang implementatif sebenarnya meracuni orang. Racun yang melukai lambung sehingga yang disantet akan muntah darah.

Sekali lagi Ferry bukan sakti melainkan rasional dan membebaskan dirinya dari mitos. Santet yang dibayangkan oleh banyak orang jelas tak rasional. Bagaimana mungkin seseorang bisa membunuh orang lain dari jauh dengan cara menusuk boneka jerami.

Sampai sekarang belum ada kurir yang tak kelihatan yang bisa mengirim jarum atau gumpalan rambut dari jauh dan kemudian masuk ke tubuh orang lain lalu membuatnya sakit atau mati.

Irasionalitas lain yang dibongkar oleh Ferry adalah fenomena garam krosok yang kemudin laku di marketplace karena dilabeli Garam Rukiah.

Ferry mulai bermain dalam ruang yang berbahaya, kepercayaan yang berbau religius. Soal santet, Ferry mungkin banyak pendukungnya, tapi menyerang Garam Rukiah jelas butuh keberanian sendiri. Keyakinan religius jelas sulit untuk diperdebatkan dan ujung-ujungnya bisa berakhir dengan tuduhan penistaan agama.

Tapi yang diserang oleh Ferry bukan soal keyakinannya, melainkan komodifikasi barang biasa yang kemudian dilabeli dengan khasiat yang tiada tara. Cara berdagang yang curang dengan memanfaatkan kelemahan masyarakat Indonesia yang ingin dapat manfaat secara instan dan percaya terhadap mitos.

Berkali-kali melakukan gebrakan di domain publik, nama Ferry menjadi melambung. Dari seorang konten kreator, Ferry tumbuh menjadi Key Opinion Leader. Dia laris manis diundang kesana kemari termasuk tampil di podcast kreator lain maupun talkshow di televisi.

Melakukan mirip yang dikerjakan oleh Pesulap Merah, Ferry Irwandi menjadi lebih punya pengaruh karena ada basis pemikiran dan visi di belakangnya. Mendorong masyarakat untuk menjadi rasional, menyingkirkan kabut mistis dalam pemikiran, menjadikan apa yang dilakukan oleh Ferry bernuansa penyadaran dan pendidikan.

Spektrum Ferry menjadi lebih luas bukan hanya pada dunia hipnotis, klenik atau sulap-sulap. Layanan publik, politik ekonomi, bahkan judi online dibongkar oleh Ferry Irwandi dengan kesimpulan-kesimpulan analisis yang sangat berani, termasuk menunjuk orang.

BACA JUGA : Kurang Sampah

Nama kreator dan CEO Malaka Project ini kemudian semakin melambung seiring terjadi demonstrasi di berbagai wilayah Indonesia.

Analisis terkait demo yang kemudian berakhir rusuh menunjukkan ada pihak-pihak yang bermain, menunggangi aksi demonstrasi itu. Ferry menyebutkan beberapa akun di media sosial yang melakukan agitasi dan provokasi.

Yakin dengan yang ditemukannya, Ferry menyebutkan siap dipenjara jika informasinya salah.

Eskalasi demo yang kemudian meningkat menjadi aksi massa tak terkendali dan mulai menyasar obyek-obyek vital. Ferry kemudian menyerukan untuk melakukan ‘jeda aksi’. Menurutnya perkembangan aksi yang dimulai dari kekecewaan terhadap DPR RI bisa berkembang ke arah yang membahayakan demokrasi.

Lewat kajian historis dan pola-pola yang berkembang pada aksi terkini, Ferry menyuarakan kekhawatirannya terhadap pilihan ‘Darurat Militer’ untuk menyelesaikan atau menguasai keadaan.

Potensi untuk penerapan darurat militer memang tinggi, ada suara yang nadanya mengarah kesana.

Jika darurat militer diterapkan, rakyat tak akan bisa bersuara. Semua aspirasi akan dihadapi dengan senjata, demokrasi mati.

Umumnya elemen aksi kemudian memang mengendorkan ritme melihat pergerakan aksi massa yang kemudian ditunggangi, atau terjadi saling tunggang itu. Situasi kemudian mulai tenang dan beberapa tuntutan dari massa aksi yang pertama mulai ditanggapi, sekurangnya lewat ucapan para pemimpin.

Namun giliran Ferry yang tidak tenang karena TNI kemudian berusaha mempidanakannya karena dianggap menyesatkan publik dengan kesimpulan soal darurat militer. TNI yang diwakili oleh beberapa Jenderal yang kemudian berkonsultasi dengan polisi mengungkapkan ketersingungan. Ferry dianggap memfitnah, mencemarkan nama baik TNI.

Padahal kalau dirunut, yang lebih dahulu bicara soal darurat militer adalah Tempo. Ada cerita yang diungkap Tempo perihal usulan darurat militer yang kemudian ditolak. Usulan untuk menetapkan darurat militer dianggap terlalu cepat.

Kenapa TNI begitu sensitif dengan sebutan darurat militer?. Bisa jadi takut kalau istilah darurat militer dianggap sebagai niat untuk kudeta. Padahal antara darurat militer dan kudeta dua hal yang berbeda.

Jadi urusan Ferry Irwandi sepertinya TNI terlalu baperan, tentu bukan institusinya melainkan jenderal-jenderal tertentu yang yakin kalau ada tindak pidana yang dilakukan oleh Ferry dalam konten-kontennya.

Para Jenderal boleh yakin, tapi mungkin mereka lupa kalau institusi tak boleh marah, tak boleh tersinggung. Dan sudah ada keputusan kalau institusi tak boleh menuntut.

Seseorang boleh dipidana kalau menghina, memfitnah atau mencemarkan nama baik orang per orangan.

Untung TNI segera sadar sehingga membangun komunikasi dengan Ferry Irwandi dan seperti biasa persoalan kemudian diselesaikan dengan maaf memaafkan. Semoga TNI makin piawai berjalan di titian demokrasi.

note : sumber gambar – TIRTO