KESAH.ID – Guru mendapat tempat terhormat dalam sejarah peradaban kita. Namun sebagai profesi, guru kerap tidak mendapat perhargaan yang selayaknya. Guru dan dunia pendidikan kemudian kerap melakukan tindakan yang berada di luar nalar dan logika pendidikan.

Guru kerap disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Bagaimana sebutan itu bermula?.

Di masa lalu, jaman bahari, guru menempati posisi yang terhormat dalam masyarakat dan kebudayaan.

Guru bahkan lebih terhormat ketimbang raja dan pemimpin lainnya. Seorang raja sekalipun pasti mempunyai guru di sampingnya.

Guru adalah kehidupan, karena ilmu dipercaya sebagai sumber kehidupan dan dari guru ilmu itu diperoleh.

Kata guru berasal dari bahasa Sansekerta. Gu berarti kegelapan dan ru berarti terang. dengan demikian guru berarti terang yang mengusir kegelapan, seseorang yang bertugas memberi pencerahan.

Orang Jawa yang suka otak atik gathuk kemudian menjabarkan guru sebagai orang yang di-gugu dan di-tiru. Kata-katanya dipercaya dan tindakannya akan diteladani.

Sebagaimana diartikan seperti diatas maka tugas guru bukan hanya mengajar dalam kelas untuk menularkan ilmunya. Selain mengajar guru juga harus bisa bertindak sebagai penasehat, pemberi motivasi, memberi pertimbangan dan memberi contoh atau suri teladan terutama dalam menyelaraskan antara omongan dan tindakan.

Tugas seperti itu dinyatakan secara ekplisit oleh Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional dalam semboyan “Ing ngarso sung tulada, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.

Guru di depan memberi teladan, ditengah membangun semangat dan di belakang memberikan dorongan.

Meski terhormat, tugas guru kemudian menjadi sangat berat.

Makanya guru kemudian disebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Tanpa tanda jasa karena guru menghasilkan sumberdaya manusia yang kemudian sukses. Ada yang jadi presiden, menteri, pejabat tinggi, pengusaha sukses, wakil rakyat, pemimpin politik dan lain-lain yang bukan hanya terkenal melainkan juga berlimpah harta.

Namun guru-gurunya tetap miskin, tidak memperoleh imbalan sebanyak yang bisa didapatkan oleh para murid-muridnya.

Bahkan ketika para muridnya yang setelah sukses kerap memuji para gurunya dan punya kuasa untuk meningkatkan kesejahteraan guru, mereka tidak melakukan hal itu.

Guru yang dalam perkembangan kemudian identik dengan pengajar di depan kelas semakin lama semakin kehilangan kehormatan di depan murid-muridnya.

Kenyataan ini terlihat dari berbagai macam keluhan yang kerap diungkapkan oleh para siswa. Pada umumnya siswa beranggapan guru ketika mengajar hanya memfokuskan perhatian pada materi yang diajarkan sehingga kerap lalai pada kondisi masing-masing muridnya.

Di dalam kelas guru secara ekplisit juga kerap menunjukkan sikap pilih kasih, mempunyai murid-murid favorit.

Beban yang berat baik di sekolah maupun di rumah dan masyarakat membuat guru menjadi kurang persiapan ketika mengajar. Guru kemudian bersikap kurang wajar terhadap murid-murid yang kritis, yang mempertanyakan apa yang diajarkan.

Tuntutan untuk mengejar indikator-indikator dalam kurikulum juga menjadikan guru menjadi seorang penuntut, rajin memberikan tugas kepada para muridnya. Banyaknya tugas dari guru secara bersamaan membuat belajar di mata murid berarti mengerjakan tugas.

Pendidikan juga terobsesi oleh disiplin namun bukan soal waktu melainkan hal-hal yang tak punya kaitan langsung dengan ilmu dan proses belajar mengajar seperti seragam, warna sepatu bahkan hingga potongan rambut.

Suasana belajar mestinya menyenangkan, namun para guru lebih sering ingin tampil berwibawa, jaim sehingga suasana kelas jadi kaku dan tegang.

Guru yang adalah pendidik kerap kali juga suka bersikap sinis, senang menyindir-nyindir dan membanding-bandingkan. Dan guru lebih suka tampil ditakuti ketimbang dihormati, makanya guru yang paling terkenal adalah guru galak.

Pahlawan tanpa tanda jasa kemudian kerap tampil tidak menyenangkan di dalam kelas. Bukan karena tak mau tapi karena situasi dan kondisi yang kerap membuat mereka tampil seperti itu.

BACA JUGA : Jangan Main Main Dengan Jejak Digital 

5 September 2022 beredar video berisi rekaman penghancuran handphone di hadapan siswa, dari seragamnya nampak tingkat menengah atas.

Ratusan handphone dihancurkan dengan alat pemotong besi beton.

Kalau ditanya alasannya pasti demi ketertiban karena handphone kerap disekolah kerap digunakan untuk kepentingan non pendidikan oleh anak-anak seperti main game, main judi online atau melihat video-video yang bikin horny.

Dan sekolah memang diijinkan untuk memiliki kebijakan tersendiri dalam mengatur ketertiban di sekolahnya. Misalnya melarang siswanya membawa handphone dan kemudian memberi hukuman pada yang melanggarnya.

Menyita masih bisa diterima dan kemudian akan diberikan kembali setelah jam pelajaran usai.

Namun menghancurkannya apalagi menunjukkannya secara demonstrative dihadapan siswa apakah itu pendidikan?.

Dalam artian tertentu inilah potret wajah pendidikan kita sehingga tak sedikit yang menyebutkan bahwa sistem pendidikan kita tidak berhasil.

Berbagai riset yang merujuk pada standar keberhasilan pendidikan terkini memang menunjukkan skor yang diperoleh oleh warga didik di Indonesia rendah, kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia apalagi Singapura.

Cacat logika memang kerap mewarnai intitusi pendidikan kita yang amat terobsesi untuk menghasilkan manusia ‘disiplin’ dan ‘bermoral’.

Kekerasan terhadap handphone adalah salah satunya, padahal handphone adalah property seseorang. Bagaimana mungkin pendidik mengajarkan penghancuran property milik orang lain.

Terkait kekerasan, dunia pendidikan kita juga lekat dengan kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Dan lagi-lagi cara menghadapi kasusnya juga tidak mendidik. Kasus kekerasan fisik dan seksual kerap disembunyi, diselesaikan secara kekeluargaan.

Seolah kalau menyelesaikan secara terbuka dianggap akan mencoreng dan mencemarkan nama baik institusi. Korban kekerasan fisik dan kekerasan seksual dalam lingkungan pendidikan kerap menjadi korban dua kali. Sudah terluka namun tidak mendapat pembelaan yang semestinya, mesti menanggung deritanya sendiri.

Dihubungkan dengan apa yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara berbagai kejadian itu menunjukkan dunia pendidikan telah kehilangan nilai-nilai utamanya.

Kini kerap didengang-dengungkan tentang pendidikan merdeka, kampus merdeka, guru penggerak dan lainnya. Apakah mungkin itu akan merubah wajah dunia pendidikan kita jika mereka yang terlibat didalamya adalah mereka yang selama ini berada dalam ekosistem munafik, namun menyembunyikannya atas nama pendidikan moral?.

BACA JUGA : Banjir Adalah Tanggungjawab Kita Bersama

Guru dimasa lalu memang lebih dikaitkan dengan spiritualitas, namun guru pada saat ini merupakan profesi. Yang diutamakan dari seorang guru adalah kompetensi, karena tujuan pendidikan adalah memberikan ilmu, pengetahuan dan ketrampilan.

Inilah salah satu masalah utama dalam dunia pendidikan di Indonesia, ketersediaan guru yang terampil atau berkompeten.

Meski terhormat profesi guru bukanlah profesi yang menjadi tujuan mereka-mereka yang terbaik ketika mengikuti pendidikan. Mereka yang terampil lebih ingin menjadi dokter, manajer, direktur, polisi, tentara dan profesional lainnya.

Kenapa profesi pendidik tidak keren?. Karena dunia pendidikan memang serba terbatas. Negara misalnya tidak cukup mengalokasikan dana untuk membuat wajah pendidikan cerah ceria. Alokasi dana pendidikan terbatas sehingga sekolah tidak bisa menyediakan sarana dan prasarana terbaik.

Hal ini kemudian berhubungan dengan bahan belajar mengajar yang kemudian juga minimum. Kegiatan belajar mengajar menjadi kurang maksimal. Murid meskipun rajin datang ke sekolah, namun di sekolah kurang antusias untuk belajar. Sekolah menjadi tetap menarik hanya karena bisa bertemu dan berkegiatan dengan teman-teman sebayanya.

Ketidakmampuan pemerintah untuk menanggung biaya pendidikan menyebabkan pendidikan di Indonesia kemudian menjadi salah satu yang termahal karena pendidikan diliberalisasi.

Mereka yang sekolah di SD, SMP dan SMA/SMK negeri mungkin belum merasakannya. Tapi yang sekolah di sekolah swasta akan paham.

Dan nanti di tingkat perguruan tinggi sekalipun negeri, para orang tua siswa SD, SMP dan SMA/K negeri baru akan kaget, ternyata biaya kuliahnya tinggi sekali.

Masalahnya sudah membayar tinggi namun anaknya tetap begitu-begitu saja, konon katanya sang dosen lebih suka menugaskan asisten untuk memberi kuliah. Dosen utamanya sibuk dengan proyek-proyek di luar lingkungan kampus.

Maka kita harus maklum kalau sampai sekarang mahasiswa yang KKN masih saja punya kegiatan favorit membuat plang jalan di tempat KKN-nya untuk menunjukkan bahwa mereka pernah Kuliah Kerja Nyata disana.

Padahal untuk apa kuliah tinggi-tinggi jika hanya bisa meninggalkan papan nama jalan, papan kelurahan dan pot-pot untuk separator jalanan.

note : sumber gambar – TRIBUNNEWS.COM

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here