KESAH.ID – Smartphone membuat segala sesuatunya menjadi serba digital. Selain memudahkan hidup, kemampuan digitasi dengan dan melalui smartphone akan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus. Masalahnya jejak digital tidak selalu berasal dari aktivitas diri kita di internet atau media sosial. Jejak digital bisa saja berasal dari orang lain yang merekam atau mendokumentasikan kita di ruang publik. Maka waspadalah.

Sapiens dalam perjalanan evolusinya kemudian bertumbuh menjadi mahkluk pekerja atau homo faber. Untuk hidup manusia mesti bekerja, baik bekerja dengan dirinya sendiri maupun bekerja pada orang lain.

Namun selain mesti rajin bekerja ternyata manusia juga butuh bermain. Makanya selalu ada liburan atau bahkan cuti karena setelah terus menerus bekerja keras, seseorang butuh istirahat, piknik atau healing untuk kembali menyegarkan diri.

Maka selain mahkluk bekerja, manusia juga merupakan mahkluk bermain {homo ludens}.

Kini kita bisa melihat ada banyak orang kerjanya bermain, memainkan permainan tidak dengan main-main seperti olahragawan profesional, bintang film, pemain teater, pemain games dan lain-lain.

Insting bawaan untuk bermain kemudian kerap disalah artikan sebagai gemar main-main. Akibatnya kehidupan di dunia kerap disalah artikan sebagai panggung sandiwara, tempat berpura-pura.

Pengemar music rock pasti mengenal lagu God Bles berjudul Panggung Sandiwara yang liriknya ditulis oleh Taufik Ismail.

Untuk mereka yang gemar membaca karya William Shakespeare pasti akan paham bahwa frasa ‘dunia ini panggung sandiwara’ pertama diutarakan oleh karakter Jaques pada monolog yang berjudul As You Like It.

Lewat karakter Jaques, Shakespeare ingin mengutarakan bahwa dunia ini tak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Dalam pentas itu lakon yang dimainkan didasarkan pada umur. Manusia akan berakting berdasarkan umurnya, hingga kemudian masuk babak terakhir dari episode yang harus dimainkan yakni usia tua.

Lirik lagu Panggung Sandiwara yang dirilis oleh God Bless pada tahun 1977 mengutarakan hal yang hampir sama dengan apa yang dituliskan Shakespeare dalam monolognya. Hanya saja ada gugatan, soal peran yang dianggap tidak wajar, peran pura-pura atau bersandiwara.

Jika Shakespeare dan God Bless menganggap dunia sebagai panggung sandiwara, Ronald Reagan, Presiden Amerika Serikat justru mempersempit dengan mengatakan “Politik tak ubahnya bisnis pertunjukan”

Artinya dunia politik tak ubahnya seperti sandiwara.

Dan memang benar, para politisi memang kerap berlaku seperti aktor, pemain sandiwara. Sepak terjangnya seperti sebuah akting, memainkan peran tertentu dalam skenario politik.

Dengan agenda atau program politik tertentu, para politisi akan tampil di hadapan publik dengan lagak lagu yang disesuaikan dengan agenda atau program itu. Penampilan yang mungkin tidak sesuai dengan identitas, watak atau kepribadian dirinya yang sesungguhnya.

Politik kemudian erat dengan citra.

Dan pencitraan yang berlebihan pada akhirnya kerap membuat orang kecewa.

Sosok yang dicitrakan lebih karena kepedulian pada rakyat, kebijaksanaannya, kerendahan hati, tidak mengejar kuasa dan seterusnya ternyata gemar bermain, main perempuan, main uang rakyat, main perintah dan main dalam memberikan ijin.

Menganggap dunia dan politik sebagai panggung sandiwara kemudian membuat para pelakonnya main-main dalam memainkan permainannya.

BACA JUGA : Banjir Adalah Tanggungjawab Kita Bersama 

Smartphone telah membuat masyarakat semakin dekat dan lekat dengan internet.

Dengan smartphone aktivitas dengan dan dalam internet menjadi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dan salah satu yang paling digemari adalah bersosial media.

Selain menjadi jembatan penghubung antara satu orang dengan orang lainnya, sosial media juga berkembang menjadi wadah untuk berbagai teks, foto, grafis dan video yang teramat digemari oleh kebanyakan orang.

Media sosial kemudian menjadi wujud yang semakin sempurna sebagai panggung kehidupan.

Di dalam media sosial seseorang memperoleh kebebasan penuh untuk menjadikan dirinya sebagai apa atau siapa.

Dengan smartphone, media sosial menjadi alat untuk menciptakan sekaligus mengenggam panggung dunia.

Drama di media sosial kemudian menjadi semakin kompleks dibandingkan dengan dunia nyata. Di media sosial orang dengan mudah berpura-pura, berganti-ganti peran mirip bunglon.

Dunia maya kemudian identik dengan kepalsuan dan kepura-puraan.

Ada banyak akun palsu untuk mengekpresikan kecenderungan atau identitas diri yang berbeda dari dunia nyata.

Sedangkan kepura-puraan dikenal dengan istilah flexing. Pura-pura kaya, pura-pura bahagia, pura-pura banyak teman, memamerkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak dipunyainya.

Dilengkapi dengan berbagai fitur untuk menunjukkan tanggapan dari orang lain, banyak pemakai media sosial kemudian kecanduan like, komentar dan lainnya. Mendapat banyak tanggapan membuat dirinya merasa jadi istimewa.

Demi mengejar itu semua dan untuk menjadi viral apa saja dilakukan, ibarat tujuan menghalalkan cara. Beberapa diantaranya bahkan bertaruh nyawa, tetapi tak sedikit pula yang berlaku kurang senonoh, memamerkan pose-pose atau perilaku seru namun saru.

Terhubung dengan orang lain memang selalu terasa menyenangkan. Dan algoritma media sosial memang disusun dengan tujuan untuk itu. Pemakai akan ‘dijebak’ dalam keinginan untuk tahu tentang orang lain dan memberitahukan dirinya pada orang lain.

Pemakai media sosial kemudian menjadi oversharing, segala sesuatu tentang dirinya terus dibagikan. Semua orang diberi tahu siapa dirinya, siapa temannya, siapa yang dibenci, pergi kemana, lagi apa, moodnya saat ini, imajinasi dan mimpinya dan lain-lain.

Selain rajin membagi apa saja, kebiasaan mengikuti, mengulik atau kepo pada apa saja di media sosial akan membuat seseorang kemudian aktif memberi tanggapan, bahkan pingin menjadi yang pertama dalam menanggapi sesuatu.

Segala sesuatu dengan cepat ditanggapi agar tidak merasa ketinggalan tak peduli bahwa itu penting atau tidak, kompenten atau tidak. Soal kompetensi dunia maya atau media sosial kerap disebut pembawa era kematian pakar. Yang jadi ahli atau pakar segala sesuatu di internet bukan benar-benar pakar melainkan mereka yang paling berani, paling keras bersuara, atau pintar menghubung-hubungkan hal-hal yang tidak berhubungan.

Media sosial menjadi tempat paling sempurna untuk mereka yang lambe-nya turah karena gemar mengobral kata-kata atau kalimat yang tidak perlu, penuh kebencian, hujatan, ancaman dan omong kosong.

BACA JUGA : Kasus Munir Disentil Bjorka Juga

Ketika piknik untuk healing dengan asupan vitamin sea pada hamparan pasir pantainya akan selalu tertinggal jejak tapak kaki. Namun jejak itu akan mudah hilang karena sapuan angin, ditimpa oleh pijakan orang lain atau karena sapuan gelombang air laut yang mencium bibir pantai.

Namun tidak demikian dengan jejak dari aktivitas kita di internet atau media sosial. Apapun yang kita lakukan di internet atau media sosial akan meninggalkan jejak yang disebut digital footprint atau jejak digital.

Tidak seperti jejak kaki dipantai, jejak digital sulit untuk dihilangkan. Jejak digital terdiri dari jejak digital aktif dan pasif.

Jejak digital pasif adalah catatan yang terekam perihal riwayat aktivitas kita di internet, situs yang kita kunjungi, alamat IP, lokasi dan lainnya. Sedangkan jejak digital aktif adalah segala sesuatu yang kita tinggalkan atau terdokumentasi di internet atau gadget yang tercipta karena peran aktif penggunanya.

Walau tersedia fasilitas untuk menghapus tidak berarti apa yang kita batalkan akan hilang dari internet. Status, foto atau video yang kemudian kita sadari tak pantas dan tak tepat lalu kita hapus, tidak otomatis akan hilang.

Yang kita hapus mungkin saja hilang dari beranda atau halaman kita tapi bisa jadi tetap tersebar karena telah lebih dahulu dibagi oleh orang lain, dicapture atau bahkan didownload dan kemudian disebarkan kembali oleh orang lain.  Apa yang telah tersimpan di halaman orang lain atau bahkan gadget orang lain tentu saja sudah diluar kendali kita.

Di dunia nyata ada banyak orang kemudian celaka karena kesembronoannya diinternet. Apa yang dibagi olehnya disimpan oleh orang lain dan kemudian dipakai untuk menjatuhkannya bahkan mengirim ke penjara.

Konon kabarnya selain melakukan tes wawancara, kini banyak perusahaan melakukan tracking digital bukan hanya pada karyawannya tetapi juga calon karyawan dan pihak-pihak lain yang akan dijadikan partner atau mitra. Jejak digital di internet dipakai sebagai salah satu kriteria penilaian penting.

Sayangnya jejak digital belum menjadi kesadaran penting dari kebanyakan pemakai internet dan media sosial. Sehingga dengan mudah orang berlaku sembrono, menganggap apa yang dibagikan hanya sebagai gurauan atau seru-seruan. Padahal apa yang dianggap receh itu di masa depan bisa jadi senjata untuk menjatuhkan reputasi, menjadi alasan untuk membatalkan beasiswa atau bahkan jadi senjata untuk membatalkan posisi dan kedudukan yang mestinya sudah ada dalam genggaman tangan.

Memasuki ruang internet dan media sosial berarti kita masuk dalam ruang dimana kita akan diawasi oleh orang lainnya. Dan dengan smartphone tidak ada lagi ruang yang bebas dari amatan orang lain. Tak sedikit orang yang terjerembab karena olahnya diruang publik direkam oleh orang lain dan kemudian disebarkan di media sosial.

Yang direkam tidak menyadari. Hingga kemudian mereka yang tampil gagah, garang dan galak di jalanan kemudian menjadi letoy karena video rekamannya saat menempeleng orang lain, menendang pengendara lain yang tersebar di media sosial dipakai oleh polisi sebagai bukti untuk mempersangkakan dirinya.

Masih mending kalau polisi yang memanggil atau datang, sebab tak sedikit yang menginterogasi justru rombongan masyarakat lainnya, dipersekusi.

Inilah dunia kita sekarang ini. Dunia yang dimana-mana ada mata yang mengawasi semua tingkah laku kita yang kemudian didigitasi dan disebarluaskan melalui internet serta media sosial sehingga meninggalkan jejak yang sulit untuk dihapuskan.

Karena jejak digital tidak hanya berasal dari apa yang sengaja kita kreasi atau posting di media sosial, maka berlaku hati-hati, bertindak penuh kontrol baik tidak hanya berlaku di internet atau media sosial melainkan juga di dunia nyata.

Jangan sampai hanya karena khilaf sesaat dunia dan masa depan kita menjadi gelap.

Pikirkan dalam-dalam sebelum bertindak, jangan mudah mengikuti emosi sesaat dan tetap waspada karena hampir tidak ada tempat yang aman di dunia kita dari jejak digital yang kita tinggalkan maupun dari digitasi yang dilakukan oleh orang lain.

note : sumber gambar – TIRTO.ID 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here