KESAH.ID – Bahkan ketika Samarinda masih berhutan dan belum dihuni orang sebanyak sekarang ini banjirpun kerap terjadi. Tapi banjir bukanlah bencana karena peluang dan potensi banjir disadari, diadaptasi dan diantisipasi oleh masyarakatnya. Hanya saja budaya air semakin lama semakin hilang dari kota ini dan banjirpun jadi bencana. Sayangnya cara menangani banjir baik cara masyarakat dan pemerintah malah membuat banjir jadi makin parah.

Hampir dua puluh tahun lalu ketika saya mulai tinggal di Samarinda, hujan merupakan anugerah yang menyenangkan untuk saya.

Waktu itu aliran air PDAM di lingkungan saya tinggal kelakuannya mirip pencuri, datang tak diundang pergi tanpa pamit. Jadi mesti ditunggui, begadang setiap malam. Dan sama seperti peronda malam, tidak setiap malamnya beruntung bisa memergoki pencuri.

Buat saya dan tetangga satu lingkungan, PDAM artinya Perusahaan Daerah Angin Melulu karena lebih sering mengeluarkan bunyi desis angin ketimbang air saat kran dibuka. Air bukan hanya mati hidup tapi segan mengalir.

Seringnya begadang malam hanya menghasilkan zonk membuat ada yang memulai memasang pompa air, yang lain segera mengikuti. Tengah malam ketika kebanyakan warga di wilayah lainnya sudah bermimpi main air, pompa dinyalakan.

Telinga sayapun  akrab dengan bunyi desing mesin pompa. Saya mulai punya feeling mana bunyi yang berhasil menyedot air dan mana yang hanya sia-sia menghisap angin hampa.

Kondisi susah air yang hampir permanen itu menjadikan hujan lebat jadi penyelamat. Setiap kali air dicurahkan dari langit, saya bisa menampung air hujan lewat talang. Air yang ditangkap oleh atap itu jika derasnya bertahan bisa memenuhi 6 drum.

Berbekal air hujan yang dipanen lewat talang itu, tandon air akan terisi penuh. Istirahat malam saya tidak akan terganggu.

Bertahun-tahun lamanya saya melakoni kebiasaan itu, untungnya sekarang tidak lagi karena saluran air ledengnya sudah lebih besar, tekanan airnya juga sudah tinggi sehingga ketika kran dibuka airnya terasa seperti semburan.

Sayapun tak perlu lagi menampung air hujan.

Bersamaan dengan itu hujan kemudian menjadi masalah buat saya. Setiap kali hujan turun dini hari atau pagi-pagi sekali, perasaan hati saya jadi muram.

Hujan selalu mengkhawatirkan karena perjalanan mengantar anak ke sekolah kemungkinan besar akan terganggu.

Masalahnya setiap kali hujan turun dan cukup deras, jalanan yang akan saya lalui untuk mengantar anak saya sekolah dengan cepat akan tergenang.

Jalan KS. Tubun dan Pasundan memang dengan cepat berubah menjadi sungai ketika hujan turun. Genangannya bukan hanya cukup dalam tetapi juga berarus.

Untunglah banyak jalan tikus yang bisa dipakai untuk menjadi jalur alternatif menghindari genangan di jalan utama. Namun tetap saja berjudi karena genangan di gang-gang atau jalanan kecil bahkan bisa lebih dalam dari jalan utama.

Meski genangannya tidak akan bertahan lama namun sampai sekarang ruas jalan KS. Tubun dan Pasundan selalu menjadi yang pertama muncul di akun-akun media sosial yang mengabarkan kondisi wilayah Kota Samarinda saat diguyur hujan.

Semuanya sudah mahfum, hingga saat hujan deras tidak ada lagi yang bertanya “KS Tubun dan Pasundan banjir nggak ya?”

Andai ada yang nekat bertanya pasti segera disahuti “Ikam hanyar di Samarinda lah,”

Untung saja anak saya sekolahnya sudah tak melewati jalur itu.

Namun bukan berarti jalur dari rumah ke sekolah bebas genangan. Tetap ada genangan namun tak separah genangan di KS. Tubun dan Pasundan.

Samarinda memang cepat tergenang saat hujan deras, terlebih lagi jika hujan turun setiap hari.

BACA JUGA : Kasus Munir Disentil Bjorka Juga

Setahu saya setiap akan dilaksanakan pemilihan walikota, para calon yang bersaing akan berlomba-lomba menyakinkan masyarakat Kota Samarinda dengan rencana  dan program untuk mengatasi banjir.

Jujur saja saya tak terlalu menyimak apa yang direncanakan oleh para calon itu.

Namun seperti sudah menjadi kebiasaan, gairah untuk mengatasi banjir biasanya hanya akan terlihat di masa awal menjabat. Dan kemudian akan muncul klaim bahwa titik genangan atau lama genangannya sudah berkurang.

Dan setiap pemimpin nampaknya punya pandangan sendiri soal apa penyebab utama banjir. Ada pemimpin yang menganggap banjir di Samarinda terjadi karena saluran air dipenuhi oleh sampah. Maka setelah dilantik menjadi Walikota, kegiatan pertama untuk mengatasi banjir adalah blusukan ke got-got.

Tapi ada juga pemimpin yang beranggapan banjir di Kota Samarinda terjadi karena sungai-sungainya makin menyempit dan dangkal. Karenanya hampir sepanjang masa jabatannya yang ada dalam benak adalah normalisasi sungai.

Walikota berikutnya akan belajar dari para pendahulunya, maka program untuk mengatasi banjir adalah revitalisasi drainase {got/parit/saluran air} dan normalisasi sungai.

Program pembangunan untuk mengatasi banjir kemudian makin semarak, kota seolah berbenah. Dan kebetulan cuaca agak berpihak, hujan deras berhari-hari jarang terjadi.

Di media sosial mulai ada apresiasi, titik banjir berkurang, airpun lebih cepat menjadi surut.

Tapi cuaca walau bisa diprediksi kelakuannya akan sulit ditebak.

Hujan kembali lebih sering terjadi.

Rabu, 14 September 2022 dinihari hujan deras menguyur sebagian wilayah Kota Samarinda. Pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika {BMKG} berkategori sedang hingga lebat. Curah hujannya antara 88 hingga 99 milimeter.

Hasilnya sekitar jam 09.00 kurang lebih 31 ruas jalan terendam termasuk permukiman di sekitarnya. Ketinggian air antara 30 hingga 80 centimeter.

Bukan hanya genangan, guyuran air hujan juga menyebabkan longsor di 17 titik. Tersebar di kecamatan Samarinda Kota, Samarinda Ulu, Samarinda Utara dan Sungai Pinang.

Pantauan di media sosial menunjukkan banyak warga menuliskan status bahwa banjir lebih parah dari sebelumnya.

Ada yang bergurau “BBM naik, airpun naik,”

Soal banjir orang Samarinda memang suka bergurau, mungkin sudah terbiasa.

Maka slogan bebas banjir diartikan oleh mereka sebagai air bebas kemana-mana. Banjirnya berpindah-pindah, suka-suka dia.

Soal banjir saya jadi ingat perkataan teman agar tak jumawa. Dia menyatakan berhasil tidaknya sebuah program mengatasi banjir, misalnya pengerukan sungai tidak bisa segera bisa dinilai.

“Satu sampai dua tahun biasanya banjir  di dekatnya akan hilang tapi setelah itu akan kembali lagi,” ujarnya.

Jadi sia-sia dong upaya penanggulangan banjir?.

Tidak juga, dalam jangka pendek cukup untuk menaikkan pamor tapi dalam jangka panjang tidak. Bahkan mungkin bakal membuat mereka yang dapat giliran memimpin pada masa berikutnya bakal lebih sakit kepala.

BACA JUGA : Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi 

Dahulu banjir pernah menyenangkan untuk orang Samarinda, namanya banjir kap. Ketika hujan deras dan air naik, kayu gelondongan bisa dihanyutkan dari hutan ke anak-anak sungai dan kemudian dirangkai jadi rakit untuk dihanyutkan di Sungai Mahakam.

Di Samarinda telah menunggu kapal besar yang akan membeli. Banyak juragan kayu pulang uang yang tak cukup dimasukkan dalam saku, uang dibawa dengan kantongan bahkan karung.

Di masa itu konon di pinggiran Sungai Karang Mumus sekalipun banyak pengerjajian kayu, sawmill sebutannya.

Bukan hanya hutan-hutan di hulu Mahakam yang ditebangi, hutan di seputaran Samarindapun juga dihabisi.

Seiring dengan perkembangan Kota Samarinda yang semakin masuk ke wilayah daratan, rawa diuruk dan bukit dipangkas untuk membangun perumahanan, banjir kemudian menjadi bencana.

Karena daerah yang kerap tergenang parah berada di dekat aliran Sungai Karang Mumus, masyarakat Samarinda kerap berkilah kalau banjir datang karena pintu bendungan Lempake {Benanga} dibuka.

Padahal kalau kita pergi kesana tidak ada pintu air yang bisa dibuka tutup. Air akan langsung mengalir jika ketinggiannya melebihi spillway.

Sekarang anggapan itu tak populer lagi. Tapi anggapan bahwa banjir di Samarinda karena Sungai Karang Mumus masih ada dalam benak banyak orang.

Berapa kerugian setiap kali terjadi banjir di Samarinda, entahlah.

Tapi bisa dipastikan besar, karena meliputi kerugian langsung dan tidak langsung. Bukan hanya materi dan waktu melainkan juga perasaan.

Dan nampaknya perkataan bijaksana bahwa banjir adalah tanggungjawab kita semua tak mungkin lagi bisa dihindari.

Sepintas kalimat itu sungguh arif bijaksana dan benar adanya. Tetapi terus mengulang kalimat itu akan membuat kondisi banjir akan tetap begitu-begitu saja.

Tanpa artikulasi yang jelas soal siapa yang harus bertanggungjawab terhadap banjir akan sulit bagi publik untuk menuntut perbaikan secara holistik dan komprehensif.

Persoalan banjir yang paling utama saat ini tidak terletak pada perilaku masing-masing orang melainkan besarnya peluang bagi tiap orang untuk merusak sumber daya alam dan daya dukungan lingkungan perkotaan.

Peluang ini muncul akibat peran, fungsi dan kebijakan lembaga publik tidak berjalan.

Ambil contoh saja soal penggunaan ruang. Betapa semua ruang perlindungan, ruang ekologis dan keamanan dilanggar. Semua diduduki dan ditindas.

Bukan hanya rawa  dan bukit yang hilang melainkan juga sempadan jalan, sempadan bangunan, sempadan parit dan lainnya lenyap.

Padahal semua ada aturannya tapi okupasi terus terjadi.

Dan anehnya terkadang pemerintah sendiri yang melanggar. Rumah di tepian sungai digusur tapi kemudian muncul bangunan atau infrastruktur lain, bukan hanya ditepi melainkan tiangnya berdiri kukuh di badan sungai.

Banjir adalah tanggungjawab kita semua bisa diterima tatkala pemerintah sudah tidak lagi menganaktirikan lingkungan hidup dan daya dukung lingkungan. Selama proyek mengatasi banjir masih berupa infrastktur parsial, maka kita tahu siapa yang paling bertanggungjawab terhadap banjir.

Siapa coba?. Ya kamu, kamu yang berjanji untuk membebaskan kota ini dari banjir.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here