KESAH.ID – Bjorka, seorang hacker yang mengaku berasal dari Warsawa Polandia menghebohkan jagad maya Indonesia. Berbagai dokumen berhasil dibobol olehnya dan kemudian ditawarkan lewat situs keamanan siber breachforums. Interaksi dengan netizen Indonesia, membuat Bjorka membuat postingan panjang tentang kasus Munir di twitternya.

Galibnya manusia selalu ingin tahu segala sesuatunya tentang orang lain. Maka informasi tentang orang lain siapapun dia selalu menarik perhatian dan menjadi bahan perbincangan.

Dulu dikenal istilah koran kuning {yellowpapers}, surat kabar yang halamannya sarat dengan berita berisi gosip seputar orang-orang tertentu, skandal dan juga kejahatannya.

Dalam masa selanjutnya, informasi yang bersifat pribadi itu bahkan dikemas sebagai bentuk hiburan. Di layar kaca kemudian marak dengan aneka acara yang disebut sebagai infotainment. Segala tindak-tanduk para pelaku dunia industri diobral dalam jenis acara ini.

Internet merubah segala, semua orang yang terhubung dengannya bisa menjadi pengkabar yang tidak semuanya sadar akan kaidah-kaidah pemberitaan.

Isu keamanan {data} pribadi kemudian menjadi salah satu masalah yang krusial dalam dunia internet.

Selain karena cara kerja berbagai layanan di internet memang berbasis data, namun pada sisi lainnya data terutama data pribadi juga rawan disalahgunakan untuk berbagai kepentingan yang tidak didasari oleh persetujuan dari pemiliknya.

Segala sesuatu yang online atau berada dalam jaringan pada dasarnya bekerja sendiri karena sistemnya dilengkapi dengan algoritma tertentu. Dalam sebuah sistem sudah ditanamkan kecerdasan buatan.

Untuk melindungi data sebuah sistem akan dilengkapi dengan kunci keamanan, berlapis-lapis sehingga yang bisa mengaksesnya hanya mereka yang punya otoritas. Tingkatan otoritasnya juga bermacam-macam.

Aman tidaknya sebuah sistem harus diuji dari serangan pembobolan dari luar. Para penyusup atau pembobol dikenal sebagai hacker.

Tingkatan atau jenis hacker bermacam-macam. Mulai dari yang iseng untuk seru-seruan, cari uang hingga mereka yang punya tujuan ideologis dan juga politis untuk membongkar praktek atau perilaku buruk negara, pemerintah, tokoh politik dan institusi lainnya.

Salah satu yang fenomenal adalah wikileaks yang diinisiasi oleh Julian Assange. Situs yang diluncurkan pada tahun 2006 ini mempublikasikan berbagai dokumen negara maupun perusahaan yang bersifat rahasia kepada publik.

Disebut wikileaks karena penerbitannya menggunakan mesin MediaWiki yang digunakan dalam situs media Wikipedia.

Pada tahun pertama didirikan, wikileaks berhasil mengumpulkan lebih dari 1 juta dokumen dan tahun berikutnya bisa mengumpulkan hampir 10.000 dokumen per harinya.

Wikileaks menguncang dunia ketika pada tahun 2010 membocorkan dokumen perang Afganistan, perang Irak dan serangkaian kawat diplomatik Amerika Serikat.

Julian Assange kemudian menjadi buruan terutama pemerintah Amerika Serikat. Ada kurang lebih 18 dakwaan kriminal yang dialamatkan untuk menjeratnya oleh otoritas hukum di Amerika Serikat.

Julian Assange sendiri kini berada dalam penahanan di Inggris dan tengah diupayakan untuk diektradisi agar bisa diadili di Amerika Serikat.

Ekstradisi ke Amerika Serikat sudah disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri Inggris, namun para pendukung Julian Assenge terus melakukan perlawanan dengan mengajukan banding baik ke pengadilan Inggris maupun pengadilan HAM Eropa.

Atas nama kebebasan bermedia, Julian Assange dan wikileaks telah mendapat penghargaan internasional. Seperti New Media Awards dari The Economist, UK Media Awards dari Amnesty International, News York Daily News menempatkannya sebagai ‘Situs yang benar-benar merubah berita’ hingga dinominasikan sebagai calon peraih Nobel Perdamaian pada tahun 2011.

Fenomena pembocoran dokumen rahasia oleh wikileaks juga telah difilmkan baik dalam bentuk dokumenter maupun film cerita.

BACA JUGA : Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi

Tahun 2010 lalu wikileaks membocorkan kurang lebih 3.059 dokumen yang berkaitan dengan Kedubes Amerika Serikat di Jakarta. Kawat diplomatik yang dibocorkan berasal dari jaman pemerintahan Presiden Suharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono.

Dokumen yang dibocorkan mempunyai kode khusus yakni PTER, PREL, PGOV, PHUM, KTIP, KCRM, KWMN, SNIG, KFRD, ASEC, PREF, ELAB, dan KMCA.

Sebagian kode itu bisa dipecahkan sebagai kode untuk tema terorisme, permasalahan dalam negeri, HAM, buruh atau tenaga kerja, pengungsi, pertahanan, pemilu dan permintaan informasi biometrik serta biografi dari Kemenlu Amerika Serikat.

Dan setelah itu isu keamanan data di internet lebih ditujukan pada modus penambangan data oleh berbagai layanan terutama yang dari luar negeri. Pertengahan tahun 2022 ini, Indonesia mulai diguncang oleh kemunculan hackers anonim yang dikenal sebagai Bjorka.

Tentu saja ini bukan nama asli. Nama Bjorka nampaknya diambil dari Bjork Guomundsdottir musisi dan artis asal Islandia.  Foto profil Bjorka di twitter memang diambil dari kompilasi wajah Bjork yang sering tampil nyentrik sehingga  ketika dipadukan tampil sebagai sosok yang menyeramkan.

Dalam akun twitternya yang sudah ditangguhkan, Bjorka mengaku berasal dari Warsawa, Polandia. Selain di twitter, Bjorka kerap muncul dalam situs keamanan siber BreachForums.

Di situs ini Bjorka kerap memperjualbelikan berbagai informasi yang berhasil diretas baik dari perusahaan maupun pemerintah Indonesia.

22 Agustus 2022, Bjorka mengklaim telah meretas data pengguna indihome. Data yang diunggahnya diklaim berisi  rincian informasi milik pelanggan IndiHome yang meliputi domain, platform, browser, URL, Google keyword, IP, resolusi layar, lokasi pengguna, e-mail, gender, nama, NIK, dan sebagainya.

Beberapa hari kemudian Bjorka juga mengklaim memiliki data terkompresi sebesar 18 GB yang berisi 1,3 milyard data pemegang kartu SIM di Indonesia. Data itu meliputi data nomor telepon, nomor KTP (NIK), informasi nama operator seluler, serta tanggal registrasi nomor telepon.

Bjorka menawarkan data itu seharga 50 ribu USD dengan metode pembayaran uang kripto Bitcoin atau Ethereum.

Pada bulan September 2022, Bjorka kembali menawarkan data yang diretasnya dari KPU. Data terkompresi sebesar 4 GB itu berisi data pemilih di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 100 juta orang. Untuk membuktikan keasliannya, Bjorka memberikan sekitar 2 juta contoh data secara gratis.

Dan Jumat, 9 September 2022, Bjorka kembali mengklaim mempunyai data dokumen dan surat menyurat dari Presiden Joko Widodo. Salah satu contoh yang diunggah diduga berasal dari Badan Intelejen Negara.

Dalam unggahannya di forum, Bjorka mengklaim memiliki 679.180 dokumen yang berasal dari korespodensi antara Presiden dan BIN dari tahun 2019 hingga 2021.

Meski bernuansa jual beli data, Bjorka kemudian jadi populer di kalangan netizen. Kejahatannya diabaikan sehingga Bjorka lebih tampil sebagai ‘martir’ pembongkar kebusukan.

Di akun twitternya, Bjorka mulai menyentil banyak sosok mulai dari Menkominfo, Ketua DPR, hingga Denny Siregar seorang buzzer yang sangat pro pemerintah.

Bjorka tampil sebagai orang asing yang sangat tahu dan peduli pada isu politik serta kepemerintahan di Indonesia yang diwarnai oleh praktek oligarki.

BACA JUGA : Edward Pilih Wanita Daripada Tahta Jadilah Lilibet Ratu 70 Tahun Lamanya

Mirip seperti para seleb medsos dimana para pengemarnya kerap menantang pujaannya untuk melakukan sesuatu, pengemar Borkja di twitter juga melakukan hal yang sama.

Salah satu yang diminta adalah membongkar kasus Munir.

Buat yang tidak familiar, yang nggak kenal atau mulai lupa, Munir adalah aktivis HAM yang meninggal di atas pesawat Garuda Indonesia dalam perjalanan dari Jakarta menuju Belanda.

Munir dibunuh dengan cara diracun, arsenik dibubuhkan dalam minuman pada tanggal 7 September 2004. Pembunuhan atasnya dianggap sebagai tindakan kriminal biasa, sehingga kasusnya akan kedaluwarsa atau tidak bisa diusut kembali setelah 18 tahun.

Padahal Tim Pencari Fakta telah menyimpulkan bahwa pembunuhan Munir adalah pembunuhan yang dilakukan oleh aktor negara tanpa didahului proses hukum atau extra judicial killing. Dan dalam proses peradilan yang menjadi tersangka adalah orang yang terhubung dengan BIN.

Munir sendiri adalah sosok aktivis yang getol membongkar penculikan yang dilakukan oleh kelompok dalam Komando Pasukan Khusus yang disebut dengan Tim Operasi Mawar. Kelompok ini pada periode 1997-1998 telah menculik sekurangnya 13 orang aktivis.

Muchdi Purwopranjono yang saat itu baru menjadi Danjen Kopassus dihentikan dari jabatannya. Namun pada tahun 2003, Muchdi ditunjuk sebagai Kadep V BIN.

Memanfaatkan jaringan Non Organik BIN, Muchdi ditenggarai merencanakan pembunuhan pada Munir. Pollycarpus Budihari Priyanto, Pilot Garuda Indonesia yang kemudian menjadi eksekutornya.

Pollycarpus dalam penerbangan Munir ke Belanda, bertindak sebagai corporate security. Saat transit di Bandara Changi Singapura, Pollycarpus menemui Munir dan mengajak ke Kedai Coffee Bean. Polly memesan minuman dan membubuhkan racun arsenik. Minuman yang kemudian dihabiskan oleh Munir.

Dari Singapura, Pollycarpus kembali ke Jakarta. Munir meninggal ketika pesawat Garuda Indonesia berada diatas langit Rumania, dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol Belanda.

Peradilan atas kasus Munir pun digelar. Sekurang tiga terdakwa yang diajukan ke peradilan yakni Indra Setiawan, Dirut Garuda saat itu yang dinyatakan bersalah karena membuat surat palsu. Indra kemudian bebas setelah menjalani hukuman selama satu tahun.

Kemudian Pollycarpus dinyatakan bersalah karena membubuhkan racun arsenik ke dalam minuman Munir. Polly kemudian bebas pada tahun 2014.

Terdakwa lainnya yakni Muchdi PR dinyatakan tidak bersalah karena tuduhan sebagai perencana pembunuhan tidak cukup bukti.

Kasus ini kemudian menjadi misteri, mengingat tersangka utama yang dihukum tidak punya urusan langsung dengan Munir, tidak ada persoalan pribadi atau apapun yang cukup untuk menjadi alasan baginya secara meyakinkan untuk melenyapkan Munir.

Tim Pencari Fakta merekomandasikan kasus Munir sebagai kasus HAM berat dan mendesak untuk segera dibentuk Peradilan Ad Hoc. Namun rekomandasi dari Tim Pencari Fakta tidak pernah diindahkan.

Baik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Joko Widodo tidak pernah menindaklajuti temuan dan rekomandasi Tim Pencari Fakta.

Kasus ini seolah-olah diulur-ulur hingga akhirnya akan kadaluwarsa.

Bjorka mengurai panjang lebar kasus Munir dalam postingannya. Dan kemudian mengakhiri dengan pertanyaan menyentil “Apa yang terjadi dengan anda Pak Presiden?”.

Tentu yang dimaksudkan olehnya adalah Presiden Joko Widodo.

Sebenarnya tidak ada hal baru yang diungkapkan oleh Bjorka tentang kasus Munir.

Namun sekurangnya cuitan Bjorka tentang Munir telah membantu mengingatkan kembali bahwa September kita masih hitam.

Soal apakah benar Bjorka itu orang Warsawa Polandia atau bukan adalah tugas para polisi siber dan punggawa di Lembaga Sandi Negara untuk membuktikannya.

Adalah memalukan jika nanti yang membongkar identitas Bjorka justru para netizen kepo.

Jadi jangan sampai netizen giat bekerja sementara aparatur negara juga lebih bersemangat untuk ngeles serta gencar mementahkan apa yang dibongkar oleh Bjorka sebagai palsu atau penuh rekayasa.

Oh, iya siapa tahu ternyata Bjorka itu singkatan dari Bocah Jorok dari Karawang.