KESAH.ID – Ada puluhan prediksi kiamat yang berhasil mempengaruhi manusia satu jagat. Tapi belum satupun yang terbukti. Walau begitu setiap ada kejadian besar di dunia, kita dengan mudah mengatakan ‘Kiamat sudah dekat’.  Mungkin benar kiamat sudah dekat namun yang pasti bumi belumlah akan tamat.

Hampir semua sistem kepercayaan di dunia mempunyai keyakinan akan hari kiamat walau dipahami berbeda-beda. Tapi secara umum kiamat dipahami sebagai akhir dari dunia atau jaman, semua kehidupan berhenti karena kehancuran bumi.

Berdasarkan tanda-tanda tertentu berkali-kali muncul anggapan bahwa kiamat sudah dekat. Namun ramalan-ramalan itu sampai sekarang tidak terbukti. Tak ada yang bisa memastikan kapan kiamat akan terjadi.

Tanda-tanda umum yang kerap memicu pandangan kolektif bahwa kiamat sudah dekat ketika terjadi bencana di mana-mana, perang besar, kemerosotan moral, kelaparan, wabah penyakit, praktek seksual yang makin bebas, banyak orang terkena gangguan jiwa/stress, muncul banyak ajaran dan nabi palsu, krisis lingkungan, kemunculan benda-benda langit tak biasa dan lain-lain.

Dulu saya pernah benar-benar merasa takut ketika beredar ramalan bahwa kiamat sudah dekat.

Namun lama kelamaan kiamat tak mengkhawatirkan lagi, bukannya tak percaya akan terjadi melainkan yakin tidak dalam waktu dekat ini.

Kepercayaan pada kiamat sebenarnya muncul dari keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada mulanya akan berakhir. Ada alpha ada omega, ada awal ada akhir.

Hanya saja awal dan akhir dari berbagai unsur serta mahkluk di dunia tidaklah sama sejak semula. Bumi dengan segala sesuatunya terus berevolusi.

Bumi ada jauh sebelum kehidupan bermula, manusia sekarang nenek moyangnya juga ada setelah kehidupan pertama sudah berlangsung milyard-an tahun.

Dan evolusi apapun di bumi ini berjalan secara acak, berlangsung begitu saja seolah tanpa tujuan.

Manusialah yang kemudian memaknai evolusi itu.

Hingga kemudian kerap merasa menjadi mahkluk yang paling maju dalam evolusi, paling sempurna karena berbeda jauh dengan mahkluk hidup lainnya.

Ilmu pengetahuan yang mendalami evolusi, terutama genetika sudah terang membuktikan bahwa manusia secara genetis tidak berbeda jauh dengan beberapa binatang lainnya. Misalnya dengan Simpanse atau Orang Utan.

Peneliti sudah membuktikan bahwa DNA manusia 97-98 persen identik dengan DNA Gorilla dan Simpanse. Struktur molekuler otaknya juga memiliki ciri khas yang amat mirip.

Kenapa dengan sedikit perbedaan saja sudah cukup membuat manusia berbeda jauh dengan Simpanse, Orang Utan, Gorilla, Bonodo yang merupakan saudara dekatnya?.

Jawabannya ada dalam proses otak dan cara kerja otak. Evolusi di otak manusia melahirkan neuron cermin yang lebih banyak, membuat manusia mempunyai altruisme yang lebih baik dibanding dengan primata besar yang berjalan tegak lainnya.

Jumlah neouron cermin yang lebih banyak membuat manusia lebih bisa bekerja sama dalam jumlah besar dibandingkan dengan Simpanse, Orang Utan, Gorilla dan Bonobo. Manusia bahkan bisa bekerja sama dengan orang yang tidak dikenalnya, orang yang berasal dari kelompok lainnya.

Evolusi penglihatan pada manusia juga membuat kerja otak manusia menjadi lebih sempurna sehingga memungkinkan manusia mengembangkan ketrampilan yang tidak dimiliki oleh mahkluk hidup lainnya.

Dibanding dengan mahkluk lainnya, penglihatan manusia adalah yang paling baik, walau matanya bukan yang terbaik.

Dengan penglihatan yang jelas, 3 dimensi dan menangkap warna dengan sempurna, manusia bisa mengenal segala sesuatu lebih detail. Burung matanya lebih baik karena bisa memandang lebih luas, namun tidak tajam dan tak mengenali warna. Makanya burung kerap menabrak kaca.

Elang yang digambarkan sebagai burung dengan mata tajam, sebenarnya juling, pandangannya ganda.

Sedangkan dalam soal pendengaran, manusia kalah baik dibandingkan dengan Ngengat, Kelelawar, Burung Hantu, Gajah, Anjing dan Kucing.

Dan walau suka mencium, penciuman manusia kalah hebat dibandingkan dengan anjing. Makanya polisi atau petugas pabean kerap menggunakan penciuman anjing untuk mendeteksi segala sesuatu yang dianggap illegal.

BACA JUGA : Guru Sibuk Update Status, Murid Rajin Bikin Konten

Ilmu pengetahuan secara teknis dan teoritis juga menerima adanya kemungkinan energi atau daya hidup akan habis. Bumi yang bermula dari ledakan besar, suatu saat daya karena ledakan itu akan padam. Matahari bisa membengkak, menelan planet lainnya dan kemudian hancur.

Tapi ilmu pengetahuan seperti halnya kepercayaan tak bisa memastikan kapan hal itu akan terjadi. Kalaupun bisa memberi patokan, waktu yang diperkirakan juga diluar jangkauan kita, masih jutaan bahkan milyard-an tahun lagi.

Sejak tahun 1900 satu persatu gunung es dan gletser di kutub utara dan kutub selatan bumi mulai mencair. Revolusi industri memicu peningkatan emisi gas rumah kaca dan karbon dioksida sehingga meningkatkan suhu permukaan bumi.

Para ilmuwan memprediksi setelah tahun 2040 pada musim panas tidak akan terlihat es di kutub utara.

Jika seluruh es di kutub mencair diperkirakan permukaan air laut akan mengalami peningkatan hingga 70 meter. Dampaknya akan banyak pulau kecil dan kota pesisir akan terendam air, ditutupi oleh laut sehingga luas daratan akan menyusut. Badai dan topan juga akan meningkat.

Lapisan es yang mencair dan kemudian airnya tersebar ke seluruh permukaan bumi juga akan membuat rotasi bumi menjadi semakin melambat.

Namun ini belum akan membuat kehidupan bumi tamat walau mungkin akan ada perubahan besar. Beberapa mahkluk hidup kemungkinan akan punah seperti beruang kutub dan mahkluk lain yang membutuhkan udara serta suhu sejuk untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Masyarakat pada umumnya juga akan kerap tertimpa bencana keairan, banjir ekstrim kemudian akan lebih sering terjadi.

Biota air juga akan mengalami kesulitan karena peningkatan suhu air demikian juga dengan karang laut. Peningkatan ketinggian permukaan air laut akan menyulitkan karang untuk melakukan fotosintesis.

Pertumbuhan karang yang terganggu pada akhirnya akan menganggu proses berkembangbiaknya ikan dan biota laut lainnya yang menjadikan karang sebagai habitatnya.

Bencana alam kerap disebutkan sebagai tanda-tanda kiamat, bahkan serasa kiamat bagi mereka yang mengalaminya. Tapi sudah ribuan kali terjadi bencana, lagi-lagi tidak pernah membuat bumi hancur lebur seluruhnya.

Bencana bahkan bisa disebut sebagai kemestian alam, terlebih di daerah-daerah yang berada dalam pengaruh patahan bumi dan cincin api {gunung api}.

BACA JUGA : Jangan Main Main Dengan Jejak Digital 

Sesungguhnya soal kiamat yang terjadi hingga saat ini hanyalah perkiraan-perkiraan atau ramalan dengan berbagai tujuan.

Dan ada beberapa prediksi atau ramalan yang kuat pengaruhnya walau kemudian memang tak terbukti.

Dengan memakai penanggalan Maya Kuno ada yang menyatakan bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Waktu itu dikatakan kiamat terjadi karena bumi ditabrak oleh planet Nibiru.

Tabrakan tidak terjadi, perhitungan penanggalan maya untuk hari kiamat ternyata merupakan salah persepsi. Pun demikian dengan planet Nibiru, keberadaannya juga disangsikan. Namun kisah tentang planet Nibiru yang akan menabrak bumi terus diulang bahkan oleh mereka yang mengaku sebagai ilmuwan.

Ada satu orang yang sangat rajin mempublikasikan prediksi tentang kiamat, namanya Harold Camping.

Pada tahun 1992 dia menerbitkan buku dengan judul 1994, yang diprediksi olehnya sebagai tahun kiamat. Ternyata ramalannya meleset, namun dia kembali membuat prediksi pada tahun-tahun berikutnya.

Selain itu banyak juga prediksi lain yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh mistikus, spiritual atau keagamaan. Prediksi yang kemudian membuatnya mempunyai banyak pengikut.

Bahwa dari antara tanda-tanda yang disampaikan oleh para peramal, tukang prediksi sebagian diantaranya benar memang tak bisa disangkal.

Seperti banjir besar, epidemi penyakit, gunung es mencair, kekeringan, penggurunan dan lain-lain.

Hanya saja kejadian-kejadiaan itu tidak membuat bumi hancur lebur secara keseluruhan. Dan diluar banyaknya kejadian buruk, bumi pun di beberapa titik mengalami perbaikan. Ada lahan yang tadinya gurun kemudian menjadi hutan, yang tadinya kering kemudian lebih lembab, ada daratan baru muncul dan lain sebagainya.

Jadi khawatir akan kiamat boleh-boleh saja tapi yakinlah bahwa bumi belum akan tamat apalagi dalam waktu dekat ini.

Kiamat pasti akan terjadi karena evolusi bumi pada ujungnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Tapi kita yang hidup sekarang ini tidak akan mengalami karena sudah mati duluan.

note : sumber gambar – PIKIRAN-RAKYAT.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here