KESAH.IDNegeri kita kaya dengan sumber energi. Namun energi yang murah meriah menurut pemerintah bisa dinikmati karena subsidi, bukan karena tata kelola SDA yang efektif dan berkelanjutan. Maka energi murah meriah selalu membuat pemerintah sakit kepala.

Sampai tahun 80-an penjual bensin eceran terbilang masih jarang. Warung-warung umumnya menjual minyak tanah. Di kampung atau desa, selalu ada juragan minyak, tempat truk tangki datang singgah mengisi drum-drum besi untuk kemudian dijual pada masyarakat atau pengecer.

Saya bertetangga dekat dengan pangkalan minyak sehingga tak perlu pergi jauh untuk membelinya. Setiap kali membeli, saya membawa jerigen berukuran 10 liter.

Waktu itu belum ada listrik sehingga minyak tanah bukan hanya dipakai untuk menyalakan kompor tetapi juga untuk penerangan sehari-hari, untuk lampu teplok dan sesekali lampu petromax atau strongking.

Nanti setelah listrik masuk desa terlaksana kebutuhan minyak tanah berkurang. Setiap sore saya tak lagi punya kesibukan membersihkan semprong dan mengisi minyak lampu teplok. Jerigen untuk membeli minyak diperkecil, 5 literan.

Dan setelah lebih dari 30 tahun berurusan dengan minyak tanah akhirnya kebiasaan untuk membersihkan kompor dan menganti sumbunya berakhir. Minyak tanah diganti dengan gas lewat program konversi di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Seingat saya sebelum konversi harga minyak tanah kurang lebih Rp. 2500. Namun setelah konversi harganya melonjak, setiap bulan naik dan keberadaannya juga semakin langka.

Era energi murah dan akrab dengan masyarakat berakhir. Yang disebut dengan kompor adalah kompor gas. Makin mahal dan makin langkanya minyak tanah mau tak mau membuat masyarakat beralih ke kompor gas walau banyak yang ketakutan gasnya akan meledak.

Minyak tanah menjadi yang pertama dicabut subsidinya karena dianggap paling membebani keuangan negara. Konon untuk mengolah minyak mentah menjadi minyak tanah biayanya sama besar dengan mengolahnya menjadi avtur, bahan bakar untuk pesawat.

Kini mencari minyak tanah sama seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, susah sekali. Dan harganya juga membuat mata terbelalak, lebih mahal dari pertalite yang masih disubsidi. Minyak tanah yang langka itu oleh penjualnya bisa dihargai 20-an ribu ke atas.

Pemakainya memang masih ada sebab kompor legendaris bermerek Hock yang sumbunya mulai dari 10 sampai 30 masih ada yang menjualnya.

Barangkali masih ada orang yang benar-benar ketakutan memakai kompor gas, ketakutan bakal meledak benar-benar tersimpan dalam benak. Sehingga gagal move on dari kompor minyak.

Dan seperti yang sering diutarakan, pemerintah tidak benar-benar mencabut subsidi. Yang ada subsidi kemudian dialihkan agar lebih efektif dan terutama tidak semakin membebani keuangan negara.

Subsidi minyak tanah kemudian dialihkan ke subsidi gas LPG yang dikemas dalam tabung 3 kg.

Dan mulailah keruwetan timbul, sebab barang yang sama mempunyai 2 harga berbeda. Harga disubsidi dan harga pasaran.

Barang yang sama persis namun harga berbeda membuat lebih banyak orang memilih untuk memakai dan membeli yang lebih murah, yang disubsidi.

Pemerintahpun kemudian pusing kepala dan merasa subsidi menjadi tidak tepat sasaran. Selain itu muncul pula kejahatan lainnya, memindahkan isi gas bersubsidi ke tabung gas non subsidi. Pembeli mencari yang lebih murah, penjual merubah yang murah menjadi yang harga normal.

Subsidi kemudian selalu ruwet. Bukan hanya gas tapi juga BBM lainnya seperti solar dan pertalite juga listrik.

Masalah subsidi seperti lingkaran setan, berusaha keluar dari mulut singa tapi malah masuk ke mulut buaya.

Konversi minyak tanah ke gas LPG 3 kg dianggap berhasil oleh pemerintahan Presiden SBY, namun kemudian bikin pusing kepala Presiden Jokowi. Sehingga sebelum akhir pemerintahannya Presiden Jokowi berniat melakukan konversi gas LPG 3 kg ke kompor listrik.

Kalau dulu orang takut gas meledak, nanti orang takut akan kesetrum.

Dan jika konversi gas 3 kg ke kompor listrik berhasil bukan tidak mungkin kelak kemudian akan membuat guling kuming Presiden penganti Jokowi.

BACA JUGA : Ada Banyak Tanda Kiamat Namun Dunia Belum Akan Tamat

Juan Pablo Perez Alfonso, seorang politikus dari Venezuela yang punya peran besar dalam pendirian OPEC pernah mengatakan “Sepuluh sampai dua puluh tahun dari sekarang kalian akan melihat minyak akan menghancurkan kita. Minyak adalah kotoran dari iblis,”

Yang dikatakan olehnya tidak seluruhnya benar namun tak bisa dipungkiri bahwa sebagian telah terbukti. Karena perang Rusia dan Ukraina membuat harga minyak tidak karu-karuan, ekonomi seluruh dunia terganggu.

Lepas dari itu minyak memang sejak lama telah memicu konflik bahkan perang. Mulai dari konflik internal hingga konflik antar negara dan internasional. Petroagresi bukan hanya dilakukan oleh Amerika Serikat, melainkan juga negara kaya sumberdaya minyak lainnya seperti serangan Iran ke Irak dan Kuwait. Juga Venezuela ke Kolombia.

Negara kaya minyak selain gemar memulai konflik internasional juga kerap menjadi sasaran invasi atau serangan dari negara lainnya.

Kawasan petrodollar, Timur Tengah sampai sekarang hampir tak pernah absen dari serang menyerang baik antar negara maupun antar faksi.

Masalah yang selalu berkaitan dengan minyak dan sumber daya alam lainnya kemudian memicu munculnya tesis tentang ‘Kutukan Sumber Daya Alam’.

Tesis ini pertama kali dikemukakan oleh Richard Auty pada tahun 1993 untuk menjelaskan bagaimana negara-negara dengan SDA yang melimpah tidak mampu memanfaatkan kekayaan tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonominya.  Pertumbuhan ekonomi negara yang kaya dengan SDA ternyata lebih lambat dari negara dengan SDA yang sedikit.

Tesis ini tidak 100 persen benar, namun sebagai warga dari negara yang kaya dengan SDA kita melihat tanda-tanda kutukan itu nyata di hadapan kita.

Papua yang kaya dengan emas, ditambang sejak tahun 70-an dan menjadikan perusahaan tambangnya menjadi salah satu yang terbesar di dunia ternyata kilau emasnya tak segemerlap kehidupan warganya. Masyarakat Papua yang pulaunya merupakan salah satu pulau terkaya di Indonesia, kehidupan warganya ternyata getir.

Pun demikian dengan Kalimantan, pulau yang merupakan lumbung energi di Indonesia. Ekplotasi besar-besaran terhadap kayu hutan, migas dan batubara ternyata tidak membuat warganya berkelimpahan energi.

Listrik sering mota-mati dan gas sering menghilang dari pasaran serta antrian di SPBU jadi pemandangan yang biasa.

Dalam daftar orang kaya di negeri Indonesia, mereka namanya tercantum di peringkat atas sebagian dikarenakan mendapat konsensi untuk mengekploitasi kekayaan SDA di Kalimantan.

Dan apa yang ditinggalkan untuk warga Kalimantan?. Bencana ekologis yang semakin sering, lubang-lubang bekas tambang yang terbiarkan, kebakaran lahan,  tanah longsor dan hutan yang tak mampu lagi menghidupi masyarakat di sekitarnya.

Kenapa kekayaan dan keindahan alam yang banyak didaraskan dalam lagu serta puisi juga dicatat oleh para penjelajah nusantara sebagai ‘untaian manikam di khatulistiwa’ justru mendatangkan kegetiran pada warga tempatan?.

Sebab negara yang mestinya bertanggungjawab untuk melakukan tata kelola ternyata dipenuhi oleh pemimpin dan pemangku kebijakan mulai dari tingkat atas sampai tingkat bawah yang berperilaku koruptif.

Jika ditelisik lebih dalam negara akan terbukti memfasiliti penjarahan SDA. Apa yang terjadi di negara kita adalah contoh yang sempurna dari state capture corruption.

BACA JUGA : Guru Sibuk Update Statur, Murid Rajin Bikin Konten

Pada tabung gas LPG 3 kg dituliskan peringatan “hanya untuk orang miskin’. Masalahnya tabung gas ini dijual bebas di pengecer-pengecer. Siapa yang datang bisa membelinya tanpa validasi apakah miskin atau tidak.

Maka bisa diduga, pemerintah dengan mudah mengatakan bahwa subsidinya banyak bocor. Yang menikmati subsidi bukan masyarakat yang dituju, bukan orang miskin melainkan orang mampu.

Sebagaimana alasan yang dipakai untuk menaikkan harga pertalite, maka alasan ini pula yang dipakai untuk membuat rencana konversi gas 3 kg ke kompor listrik.

Rencana ini sudah diujicoba di beberapa daerah.

Program migrasi dari kompor gas ke kompor listrik konon akan memakai kompor yang berkekuatan 1000 watt.

Agak aneh karena keluarga miskin, kapasitas listrik terpasang di rumahnya umumnya masih 450 watt, listik yang bertarif subsidi.

Tentu kalau diberi kompor listrik 1000 watt tak akan mampu menyalakannya.

Dan jika harus meningkatkan kapasitas listriknya maka paling tidak harus 1200 watt. Kategori sambungan listrik yang tidak disubsidi.

Jika untuk mensukseskan kebijakan kompor listrik lalu pelanggan yang disubsidi sampai dengan sambungan 1200 watt maka jumlah pelanggan listrik yang disubsidi jumlahnya akan sangat besar.

Niat untuk mengurangi beban subsidi tentu menjadi sulit untuk dicapai.

Sekali lagi urusan tarif memang ruwet. Lagi-lagi barang yang sama, yang bisa bikin rambut berdiri kalau kesetrum ternyata harganya beda-beda. Tarif listrik memang punya kasta.

Teknologi semakin maju, tapi kita sendiri kerap menghambat kemajuan teknologi dengan perhitungan-perhitungan dan kategori yang ruwet.

Padahal akan lebih mudah jika yang namanya sambungan listrik ya sambungan saja. Seperti telepon, tersambung saja. Tarif tinggal ditentukan oleh banyaknya pemakaian.

Kalau mau membedakan ya tarifnya, makin besar pemakaian semakin mahal harga per Kwh-nya.

Di luar masalah teknis kelistrikan dan urusan hitung-hitungan subsidi. Konversi dari kompos gas ke kompor listrik juga membuat banyak alat memasak tak bisa dipakai. Peralatan masak entah panci, wajan atau apapun yang terbuat dari aluminium tak akan bisa dipakai, lama panasnya.

Peralatan masak yang cocok untuk kompor listrik adalah yang terbuat dari besi.

Nah makin ribet kan.

Tapi mungkin pemerintah memang menyukai yang ruwet dan ribet, biar masyarakat mumet kalau ikut mikir.

Maka benar kalau  joko tingkir ngombe dawet, sebab ojo dipikir marai mumet.

Jadi nanti kalau Pak RT nanti datang membawa kompor gas, wajan dan panci besi ya terima saja.

Tapi kalau khawatir meterannya njeglek karena listriknya nggak kuat, jual kompor, wajan dan pancinya lalu masak pakai tungku. Panaskan panci dengan arang kayu atau arang tempurung, tapi kalau ingin lebih panas lagi pakailah arang batubara.

note : sumber gambar – CNNINDONESIA.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here