KESAH.ID – Sekarang yang lebih dikenal adalah Sungai Dama dan Gunung Manggah. Padahal kawasan perbukitan yang tersambung dengan Bukit Selili itu disebut oleh para penulis masa lalu dengan nama Gunung Damar. Di hutan perbukitan ini dulu warga mencari getah damar, dan pulang-pergi menggunakan perahu melewati sungai yang kemudian dinamai Sungai Damar. Terdiri dari banyak perbukitan, kini bukit-bukitnya punya nama sendiri-sendiri seperti Gunung Udik, Gunung Sayur dan ada juga yang dinamai Gunung Jepang.
Kalau kangen Karangmumus biasanya saya akan pergi ke Warung Kopi Kebabom yang berada di Jalan Tarmidi. Warung itu persis berada di seberang Pangkalan Pungut GMSS SKM, Komunitas Peduli Sungai yang bertekun mengedukasi warga Kota Samarinda untuk menjaga, merawat dan menghormati air.
Biasanya saya akan mengajak Pak Iyau atau Bachtiar untuk ngopi. Laki-laki ini sangat setia dan tekun menjaga serta merawat Ruang Terbuka Hijau di tepi Sungai Karangmumus yang kemudian dijadikan outlet dan pusat edukasi.
Tapi hari itu Pak Iyau sibuk sehingga saya ngopi sendiri. Untung di warung kopi saya bertemu dengan teman lain yang lama tak bersua hingga tenggelam dalam obrolan.
Karena Mas Sigit pemilik kedai kopi mulai menaikkan bangku ke atas meja, saya dan teman yang bertemu disitu mengakhiri kongkow-kongkow asyik itu.
Sebelum pulang saya singgah dulu ke Pangkalan Pungut menyapa Pak Iyau yang tengah bersih-bersih.
Karena nyaman, Pangkalan Pungut memang kerap dijadikan tujuan para pemancing. Namun mereka kerap kali meninggalkan sampah yang terpancing dari sungai di beton turap, tak membuangnya ke tempat sampah. Padahal Pak Iyau selalu mengingatkan pemancing untuk tidak meninggalkan sampah begitu saja.
Setelah ngobrol sana-sini, Pak Iyau menyebut nama Gunung Jepang ketika saya menunjuk ke perbukitan di sisi utara, ke arah wilayah Daerah Rumbia. Dia menyebutkan wilayah itu dulu tempatnya bermain saat masih kecil.
Sayapun langsung terpikir, kalau Gunung Jepang bisa menjadi rute untuk kegiatan Susur Gang Samarinda yang sebelumnya telah menapaki Bukit Steleng.
Dan kemudian di WAG Susur Gang Samarinda saya usulkan jalur ke Gunung Jepang. Usulan itu disetujui dan Susur Gang Samarinda berikutnya akan menuju Gunung Jepang.
Ketika di ketik di Google Maps, titik Gunung Jepang muncul. Nampaknya wilayah yang kelihatan hijau tanpa permukiman ini terhubung dengan perbukitan atau gunung yang dikenal sebagai Gunung Damar.
Namun di mesin pencari Google hampir tak ada informasi tentang Gunung Jepang ini.
Lewat postingan di media sosial saya mencoba menanyakan pada seorang kawan yang punya pengetahuan luas soal ‘gunung-gunung’ di Kota Samarinda. Namun tak ada jawaban yang cukup panjang darinya. Dia menyebut itu hanya memori pendek dari warga saat Jepang menduduki Kota Samarinda.
Memang ada cerita tentang pasukan Jepang yang menduduki bukit-bukit di Samarinda sebagai benteng pertahanan dari serangan udara sekutu.
Dalam literatur pada masa kolonial, nama Gunung Damar dan Gunung Selili sering disebut beriringan. Keduanya memang tersambung, satu di bagian utara dan satu di bagian selatan. Kedua gunung ini dicatat mempunyai potensi batubara.
Di Gunung Selili kemudian muncul sebutan lain yakni Gunung Steling atau Steleng. Sementara nama Gunung Damar sepertinya luruh, orang lebih sering menyebut Gunung Manggah.
Yang lebih dikenal justru nama Sungai Dama, yang bermula dari sebutan Sungai Damar namun kemudian huruf r-nya luruh.

BACA JUGA : Pintu Bendungan
Nama tempat atau toponim di Samarinda atau Kalimantan Timur pada umumnya memang sering dihubungkan dengan sungai.
Wajar saja karena pada umumnya permukiman yang kemudian berkembang menjadi kampung, desa dan kota bermula dari pinggiran badan air seperti sungai, danau dan rawa.
Di sepanjang aliran Sungai Mahakam misalnya, daerah-daerah yang namanya berhubungan dengan air ialah kampung atau desa yang dimulai dengan sebutan Long, Lung, Loa, Luah, Muara, Teluk, Tepian dan lain-lain. Selain itu ada daerah yang dimulai dengan sebutan Karang dan Kedang.
Selain itu ada banyak daerah yang dimulai dengan kata sei yang sekarang kemudian lebih sering disebut sungai.
Nama Sei Damar yang kemudian lebih dikenal. Konon disebut Sungai Damar kerena sungai ini menjadi tempat lalu lalang perahu para pencari damar menuju hutan yang berada di perbukitan.
Cerita lain di muara sungai yang masuk ke Sungai Karangmumus dulu ada dermaga, dermaga tempat mengumpulkan hasil bumi, salah satu yang utama adalah damar.
Dan di kelurahan Sungai Dama ini bukit yang kemudian lebih dikenal adalah Gunung Manggah. Sebutan ini dikarenakan ada jalan yang memisahkan antara Gunung Damar dan Gunung Selili yang konturnya menanjak. Yang terbaru, Gunung Manggah kerap juga disebut Gunung Mangga karena menjelang puncak tanjakan berderet penjaja buah. Salah satu yang banyak dijajakan adalah buah mangga.
Sebutan Gunung Damar kemudian semakin luruh karena pemukim yang mendiami perbukitan kemudian menamai bukit-bukitnya dengan nama baru. Ada Bukit Rumbia, Bukit Udik, Bukit Sayur, Bukit Jepang lain-lain.
Banyaknya nama baru ini merupakan penanda bahwa kawasan ini merupakan area pengembangan Kota Samarinda secara organik. Samarinda yang dulu di masa Kolonial Hindia Belanda wilayahnya hanya membentang dari Karangmumus hingga Karang Asam Besar kemudian bertumbuh ke arah timur. Mulainya dibangun jembatan dan jalan melintas diatas Sungai Karang Mumus. Jembatan yang menghubungkan antara wilayah pelabuhan dengan daerah ke arah Gunung Selili itu dinamakan Jembatan Satu.
Di masa kemerdekaan wilayah Kota Samarinda semakin diperluas. Masyarakat tidak lagi terkonsentrasi di pinggiran Mahakam melainkan hingga menaiki bukit-bukit. Diatas Sungai Karangmumus kemudian dibangun lagi jembatan-jembatan. Antara lain Jembatan Sungai Dama, Jembatan Arief Rahman Hakim dan Jembatan Kehewanan. Dari tiga jembatan ini ada jalan menuju perbukitan di Gunung Damar.
Ketika Kota Samarinda diresmikan sebagai wilayah administrasi, daerah yang dulu merupakan pusat pemerintahan Kolonial Belanda masuk dalam Kecamatan Samarinda Ulu. Wilayahnya berada di sisi utara Sungai Mahakam dan barat Sungai Karangmumus. Sisi timur Sungai Karangmumus masuk dalam wilayah Samarinda Ilir. Dan wilayah bagian selatan Sungai Mahakam masuk dalam wilayah Kecamatan Samarinda Seberang.
Kelak jumlah kecamatan dimekarkan menjadi 6, lalu dimekarkan kembali dan menjadi 10.

BACA JUGA : Bukit Steling
Berkumpul di Jalan Rumbia, tepat jam 5 sore rombongan Susur Gang Samarinda mulai berjalan. Ke arah utara kami berjalan, mulanya datar saja. Namun tak lama setelah melewati plang bertulis Gang Musik dan Gang Campursari di sebrangnya, jalanan terasa menanjak.
Dalam hati saya berguman “Sebentar lagi ada Gang Dangdut”.
Samar-samar terdengar musik yang nadanya mampu mengoyang badan. Bukan dari Gang Dangdut tapi dari sejengkal tanah lapang tempat ibu-ibu berkumpul untuk Senam Zumba. Beberapa tahun terakhir ini ibu-ibu di Samarinda memang rajin berolahraga gerak badan yang diiringi musik jedag-jedug.
Di ujung tanjakan ternyata pertigaan, satu ke kiri satu ke kanan. Teman yang memandu perjalanan Susur Gang Samarinda memberi komando “Ke kanan”. Dan tanjakan panjang serta tinggi ada di depan mata.
Rasanya saya ingin menguji kekuatan, naik tanjakan sambil berlari. Tapi niat itu saya urungkan agar dianggap tak cari perhatian. Kaki mulai terasa tegang dan nafas menjadi lebih pendek. Tapi pemandangan baru cukup untuk mengalihkan perhatian. Di tanjakan panjang dan cukup itu sekurangnya ada 3 café atau Kedai Kopi. Yang paling atas kalau tak salah bernama Kopi Jadi.
Selepas Kopi Jadi hanya menyisakan sedikit tanjakan menuju jalan tanah. Berdiri disini akan terlihat pemandangan jurang, lembah dan perbukitan dengan blok-blok permukiman di kelerengannya. Pada satu sisinya ada bukit yang ditumbuhi banyak pohon aren.
Masih ada sedikit tanjakan dengan jalan tanah yang kemudian akan membuat kita serasa berjalan di pungung bukit. Ada bangunan rumah tapi tak padat.
Sebelum turunan ada tanah yang cukup lapang untuk melihat ke arah sisi Bukit Selili dan Sungai Mahakam. Dari sini deretan kendaraan yang mengular menaiki Gunung Manggah kelihatan.
Setelah itu jalanan gang cenderung menurun, beberapa turunannya terasa suram. Walau telah disemen, tetap saja muncul kekhawatiran kaki akan terpeleset.
Ada banyak gang untuk turun ke arah kanan yang bisa tembus ke Jalan Otto Iskandar Dinata, Jelawat dan Biawan.
Sementara kalau turun ke arah kiri akan tembus ke Jalan Damai. Turunan sungguh ekstrim, ada yang berupa jalan semen, namun ada juga yang berupa tangga atau undakan semen yang jumlah anak tangganya 50-an lebih.
Masyarakat yang tinggal disini pasti kakinya kuat karena harus naik turun dengan jalan kaki.
Di kesempatan pertama Susur Gang Samarinda setelah menuruni punggung bukit diguyur hujan lebat. Sempat berteduh namun hujan tak berhenti dan air di gang mulai naik. Akhirnya diputuskan untuk menerobos hujan melewati gang-gang yang telah tergenang air.
Untung pada kesempatan yang kedua walau mendung hujan tak turun. Dan di sisi permukiman yang berada di Gang atau Jalan Damai kami bertemu dengan aliran Sungai Damar. Terlihat kecil dan terhimpit oleh rumah di kanan kirinya, bahkan di beberapa titik sungai lenyap karena berdiri rumah diatasnya.
Dan ketika melewati Jalan Damai masih ada satu titik genangan walau tidak dalam. Namun cukup untuk mencipratkan air ketika ada kendaraan lewat cukup kencang.
Itu luapan dari Sungai Damar yang menyempit, mendangkal dan dibuntu oleh berbagai sampah.
Sungai Dama telah menjadi nama kelurahan, namun Sungai Damar yang menjadi asal-usul penamaannya telah dilupakan.
Nampaknya ini telah menjadi fenomena umum, karena ada banyak kelurahan di Samarinda yang diawali dengan sungai atau sei, namun tak lagi tahu dimana sungainya. Kalau tak hilang sungainya sudah menjadi parit.
Seperti Sungai Damar, konon dulunya sungai ini bisa dilewati perahu. Tapi kini jelas tak mungkin.
Masih ada satu PR yang tersisa dari Susur Gang Samarinda. Dua kali menyusuri deretan Bukit Damar, Gunung Jepang belum disinggahi. Lain waktu kami pasti akan kesana.
note : sumber foto – IG Susur Gang Samarinda








