KESAH.IDCara terbaik untuk memandang Sungai Mahakam dari ketinggian adalah naik ke bukit pandang yang ada di Gunung Steleng. Dulu lebih dikenal dengan nama Gunung Salili, nama Salili adalah nama lain dari La Madukelleng. Tokoh yang kerap dikaitkan dengan berdirinya Kota Samarinda. Namun kemudian lebih populer dengan nama Steling atau Steleng. Nama ini muncul dalam kaitannya dengan peristiwa pertempuran antara bala tentara Jepang dan Sekutu.

Sebenarnya saya lebih menyukai pemandangan hamparan sawah yang luas dengan latar belakang perbukitan menghijau  di kejauhan. Pandangan mata yang membuat hati serasa lega.

Saya memang lahir dan kemudian tinggal di daerah seperti itu. Membuka pintu belakang rumah akan kelihatan bentang sawah hingga di deret perbukitan dengan sembulan puncak gunung tinggi bersaput awan.

Bukit atau gunung walau menyenangkan, menyisakan memori tentang perjuangan berjalan kaki cukup jauh untuk pergi ke rumah kakek dan nenek serta saudara-saudari lainnya.

Maka piknik ke bukit-bukit dan juga laut bukanlah kesenangan favorit saya.

Saya lebih menyukai dataran dan kelok-kelok sungai di perlembahan.

Tapi bukit tak bisa saya hindari terlebih ketika tinggal di Samarinda. Bukit-bukit di Samarinda selalu menjadi tempat untuk menikmati keindahan alam, suasana entah menjelang pagi atau menjelang malam. Syahdu kata para pecinta bukit.

Di Samarinda, bukit sering disebut gunung. Karena banyak perbukitan maka banyak area atau wilayah yang dinamai sebagai gunung.

Maka jangan heran karena gunung tak identik dengan tempat tinggi, ada daerah dengan nama diawali gunung sering kebanjiran.

Gunung pertama yang sengaja saya datangi adalah Gunung Steleng. Seingat saya, selama lebih dari dua puluh tahun tinggal di Samarinda, bukit ini sudah saya datangi sebanyak tiga kali. Dan istimewanya, 3 kali ke Gunung Steleng saya selalu datang dengan salah seorang teman yang sama.

Kala pertama kali naik ke Gunung Steleng, saya diajak oleh Ocha atau Kahar, yang kemudian dikenal dengan nama panjang Kahar Al Bahri. Waktu itu dia tengah menjadi dinamisator Jatam Kaltim. Dia mengajak saya naik ke Gunung Steleng untuk mengambil gambar pemandangan Mahakam dari ketinggian.

Waktu itu drone belum populer sehingga untuk mengambil gambar dari atas atau dengan mode bidik mata burung, kamera mesti berada diatas obyek dengan cara naik ke tempat atau posisi yang lebih tinggi.

Saya memerlukan gambar Sungai Mahakam dari atas yang dilewati iringan ponton untuk merangkai kisah film dokumenter yang sedang getol-getolnya saya geluti. Dari atas Gunung Selili selain klip-klip video untuk bahan utama, saya juga mendapat banyak potongan gambar untuk isian atau hiasan. Gambar-gambar beauty shoot.

Pada film-film dokumenter awal saya, Ocha selalu menjadi salah satu talentnya. Selain itu juga sering bertindak sebagai fixer dengan menunjukkan tempat-tempat yang cocok sebagai latar pengambilan gambar.

Karena datang ke Gunung Steling untuk mengambil gambar, saya merasa waktu itu tidak sedang berpiknik. Bahkan saya juga tak menyadari kalau bukit itu merupakan salah satu destinasi piknik yang populer di Samarinda.

Asyik merekam gambar, saya juga tak bertanya-tanya kenapa dinamakan Steleng. Pun juga saya tidak tahu kalau bukit atau gunung itu punya sebutan lain yakni Salili atau Selili.

Menyusuri Gunung Steleng serasa berjalan di dalam hutan.

BACA JUGA : Walikota Baperan

Kali kedua saya naik ke Bukit Steleng juga bukan untuk piknik. Saya ikut ramai dengan kelompok anak-anak yang menamakan diri XR Bunga Terung. Kelompok yang menerapkan metode aksi langsung tanpa kekerasan ini memilih Bukit Steleng sebagai tempat aksi menyuarakan keprihatinan terhadap mitigasi iklim yang penuh omong kosong.

Dua puncak Steleng yang kami datangi. Pada puncak atau ruang pandang pertama kami berfoto-foto dengan perangkat aksi berupa miniatur smelter, eksavator, kebun sawit dan lainnya. Dan kemudian pada puncak kedua dengan latar kelokan Sungai Mahakam kami berfoto dengan membentang spanduk dan menyalakan bom asap warna-warni.

Pada kesempatan ini saya datang bersama Ocha juga.

Dan pintu masuk atau titik naiknya berbeda dengan waktu pertama kali saya datang ke Bukit Steleng ini. Memang untuk naik ke Bukit Steleng ada beberapa pintu masuk.

Baru-baru ini saya naik kembali ke Bukit Steleng. Kali ini datang dengan kelompok yang berbeda yakni gerombolan yang menamakan diri Susur Gang Samarinda. Karena sudah bosan dan hafal gang-gang di Kecamatan Samarinda Ulu, Susur Gang Samarinda mulai bergeser menapaki gang-gang di Kecamaan Samarinda Ilir.

Perbukitan dipilih, karena di bukit-bukit ini juga banyak kawasan permukiman yang padat dan penuh dengan gang-gang kecil.

Kali ketiga saya datang ke Bukit Steleng ini masih bersama Ocha juga.

Dan pada kedatangan yang ketiga ini, saya mendatangi tiga titik pandang. Dua diantaranya ternyata sudah berbayar karena dioperasikan sebagai destinasi wisata oleh kelompok pemuda setempat atau mungkin oleh Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis.

Karena tujuannya untuk berolah raga sembari mengenal daerah yang dilewati, pada kesempatan kali ini saya lebih punya waktu untuk mengamati, menikmati dan membincang Gunung Steleng ini.

Gunung ini sekarang sedang ditembus oleh pembangunan terowongan. Terowongan dimaksudkan sebagai jalan untuk mengurangi konsetrasi lalu lintas yang menumpuk melewati Gunung Manggah atau Jalan Otto Iskandar Dinata.

Pembangunan terowongannya sudah hampir selesai.

Gunung Damar dan Gunung Selili yang dulu selalu disebut beriringan nampaknya akrab dengan terowongan. Dulu ada beberapa terowongan di Gunung Selili yang kemungkinan merupakan peninggalan aktivitas penambangan batubara di masa Hindia Belanda.

Dalam catatan yang ditulis pada buku Borneo : It’s Geology and Mineral Resources, Gunung Damar dan Gunung Selili disebut mempunyai batubara.

Terowongan sisa penggalian batubara ini kemungkinan sudah runtuh atau tertutup. Namun di masa pendudukan Jepang, kemungkinan terowongan ini masih dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan, menjadi semacam benteng.

Masyarakat kemudian mengenal sebutan Gunung Jepang.

Sebutan ini bisa jadi merujuk pada memori tentang pemanfaatan Gunung Selili dan mungkin juga Gunung Damar untuk pertahanan Jepang dari serangan sekutu.

Menurut cerita dulu di puncak Selili ada tower atau pos pemantauan yang dijaga pasukan Jepang untuk mencegah serangan udara dari pasukan sekutu pada markas Jepang yang ada di perlembahan Samarinda.

Tanjakan dan turunan tajam di Bukit Steleng menguji kekuatan kaki dan nafas.

BACA JUGA : Pintu Bendungan

Dalam catatan yang ditulis oleh Fathur di blog idenesia, asal usul sebutan Steleng atau Steling bermula dari kata Sterling. Sebutan ini berasal dari kisah tentara Jepang yang menjadikan Bukit Selili sebagai benteng pertahanan dari serangan udara lawan.

Lawan yang datang saat itu adalah sekutu, yang dipimpin oleh Tentara Australia. Namun masyarakat mengira mereka adalah bala pasukan Inggris yang disebut sebagai Sterling. Dalam pengucapan lama-lama bunyi r menjadi luruh hingga menjadi Steling. Dan kemudian ada juga yang lebih sreg mengucap Steleng.

Pada percakapan di sosial media, Chai Siswandi mengatakan Steling atau Steleng adalah nama lain dari Selili. Menurut Chai, Selili adalah nama yang dinisbatkan sebagai tanda wilayah atau diberikan untuk La Madukelleng. Nama lain dari La Madukelleng adalah Daeng Selili. Selain di Samarinda, nama Selili juga dikenal di Perak Malaysia.

Tentu ada banyak cerita tentang Selili, pun juga Steleng atau Steling. Tapi yang pasti wilayah itu kini dikenal dengan permukiman di bukit-bukit, sebagian sangat padat hingga mengingatkan pada Favela, permukiman padat di area berbukit-bukit yang ada di kota-kota besar Brazil.

Dari tampakannya sudah jelas kawasan permukiman didaerah ini berada dalam tingkat kemiringan yang tinggi dengan potensi bencana longsor.

Untung saja warganya terbilang ramah-ramah dan tak keberatan ditanyai jika kita merasa tersesat. Menyusuri wilayah ini selain labirin gang-gang, tanjakan dan turunan tinggi serta pemandangan Samarinda ke arah Sungai Mahakam, Sungai Karang Mumus dan sisi utara lainnya memang mempesona.

Tapi kita akan mudah gugup dan khawatir tersesat, tapi jangan khawatir turuni saja jalanannya karena pasti akan bertemu jalan besar dan ramai.

Sebenarnya ingin berlama-lama diatas ruang pandang Bukit Steleng ini. Tapi hari mulai surup dan gelap akan segera datang. Akhirnya kaki mesti dilangkahkan untuk segera meninggalkan ruang ketinggian Samarinda ini.

Di jalanan menuruni puncaknya ada banyak kejutan. Terutama jenis-jenis pepohonan buah-buahan. Ada pohon buah kapul dan rambai serta salam yang tengah berbuah. Dan yang lebih mengejutkan ternyata ada pohon melinjo dengan buahnya yang sudah memerah berjatuhan di sekitar pangkal pohon.

Hanya datang sekali memang tak cukup untuk mengenali perbukitan ini dengan dalam. Besok-besok mesti dijadwalkan lagi untuk menyusuri gang, tanjakan dan turunan di Bukit Steleng agar bisa menulis lebih panjang lagi.

note : sumber foto – IG Susur Gang Samarinda