KESAH.IDMerasa populer, program yang dijalankan mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat dan kebanggaan lainnya kerap membuat pemimpin menjadi tipis telinga. Suara, masukan atau kritik dari masyarakat ditanggapi dengan peringatan untuk tidak membuat fitnah. Apapun selain pujian diframing sebagai sebuah serangan. Padahal tak ada program atau proyek yang sempurna, selalu terbuka ruang untuk perbaikan di masa mendatang.

Sebut saja namanya Yusron, politisi yang telah makan asam garam kursi wakil rakyat yang diduduki puluhan tahun karena berpindah-pindah partai. Ibarat belut, Yusron termasuk kategori politisi licin yang terus berada di orbit dalam setiap perpindahan atau perubahan politik akibat kontestasi.

Merasa sudah teruji di jalur parlemen, Yusron ingin berpindah haluan dengan mengabdikan diri sebagai pemimpin eksekutif. Diapun berancang-ancang untuk mengikuti pemilihan walikota, kota yang menjadi ibukota dari sebuah provinsi.

Seng ada lawang. Ketika dirinya maju menjadi calon walikota yang lain keder. Sejak awal sudah kelihatan kalau Yusron yang bakal jadi pemenang. Persiapan paling serius diantara calon-calon lainnya. Selalu terlihat ada kesibukan di posko pemenangannya.

Memakai strategi lama yang dipakai para walikota pendahulunya, Yusron mengandeng erat para ketua RT. Mereka inilah tulang punggung untuk menjangkau masyarakat pemilih. Kepada mereka Yusron menjanjikan jika menang maka pembangunan kota akan berbasis pada tingkat RT.

Rasanya dalam janji kampanyenya disebut dengan jelas bahwa setiap RT akan mendapat anggaran sekian juta dalam satu tahun anggaran.

Menjelang pilwakot, Ketua RT sibuk. Termasuk sibuk mengikuti pertemuan-pertemuan di hotel, hotel terbaru di kota waktu itu.

Dan di hari pencoblosan, tabulasi angka di TPS menunjukkan Yusron menang dengan angka yang meyakinkan. Bukan kemenangan yang istimewa sebab dia telah mempunyai pemilih loyal di daerah pemilihan kota yang selama ini diwakilinya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Yusron bergerak cepat mewujudkan janji-janji politiknya. Mirip Donald Trump yang segera menghentikan berbagai bantuan keuangan untuk program-program di luar negeri lewat USAID, WHO, UNFPA dan lain-lainnya.

Pada ulang tahun kota saat Yusron menjabat di tahun pertamanya perayaannya begitu meriah. Para Ketua RT begitu antusias menyambut hari ulang tahun kota, antusiasme yang belum pernah ada di masa-masa sebelumnya.

Di tiap muka gang ada spanduk, baliho atau cetakan lainnya dari Ketua RT dan warga untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada kota. Tentu saja yang dipasang di cetakan itu foto Yusron sebagai walikota.

Dan yang lebih mengejutkan di tepian jalan mulai muncul baliho berisi program masing-masing RT termasuk anggarannya. Luar biasa, Yusron mendorong keterbukaan informasi publik mulai dari tingkat RT.

Keterbukaan ini patut diapresiasi, walau kalau dibaca dengan teliti banyak diantara kegiatan yang diprogramkan serta anggarannya bikin geli.

Sayangnya yang terbuka soal anggaran hanya di tingkat RT. Di sekitar Balaikota tidak ada spanduk besar berisi uraian dana gelondongan APBD Kota. Dan pada banyak proyek bongkar pasang berbagai infrastruktur kota jarang ditemui spanduk atau papan yang mencolok dengan informasi nama proyek, pelaksana, durasi dan berapa anggarannya.

Di tahun pertama kepemimpinannya kota memang semarak dengan gairah pembangunan yang berbasis RT, pembangunan yang dilakukan lewat Pokmas atau kelompok masyarakat.

Puja-puji untuk Yusron bergema dimana-mana. Andaikan waktu itu Yusron mencalonkan diri jadi presiden pasti menang telak di kota ini, biarpun melawan Joko Widodo atau Prabowo Subianto.

BACA JUGA : Ormas Tambang

Dan waktu berlalu, masa bulan madunya dengan Ketua RT berlalu. Anggaran kemudian lebih banyak untuk infrastruktur perkotaan.

Jelas sekali kota menjadi semarak dengan pembangunan. Alat-alat berat nangkring di jalan menjadi pemandangan sehari-hari.

Ada beberapa fokus pembangunan yang bisa disarikan dari geliat bongkar pasang, tutup gali dan pengusuran.

Fokus pertamanya adalah revitalisasi ruang publik. Dibangun taman-taman yang disertai dengan pedestrian. Pun juga trotoar diperlebar dan dipercantik serta diberi bangku dan tiang-tiang agar tidak menjadi tempat parkir kendaraan atau dilewati pengendara motor untuk memintas jalan atau menghindari kemacetan.

Yang berikutnya adalah fokus untuk mengatasi banjir. Sungai di normalisasi dengan membersihkan sisi kanan kiri sungai dari permukiman. Setelah dikeruk dan dilebarkan, sungai kemudian ditanggul dan diturap dengan beton.

Bukan hanya sungai tetapi juga got atau saluran drainase. Saluran air diperdalam dan diperlebar. Badan saluran diganti dengan beton cor. Bersamaan dengan itu juga dilakukan pengantian atau pembaharuan pipa air bersih.

Dua pekerjaan yang berhubungan dengan air itu semapt membuat masyarakat terganggu cukup lama karena jalanan sering buka tutup. Atau lalu lintas jadi tak lancar karena jalan hanya menyisakan satu lajur.

Mengatasi banjir memang menjadi prioritas karena warga kota yang dipimpin oleh Yusron telah lama mengeluh dengan intensitas banjir. Kotanya baru diguyur hujan sejenak sudah muncul genangan dimana-mana. Jalanan semen sering berubah menjadi sungai dengan aliran air yang cukup untuk membuat kendaraan kecil hanyut.

Pasti Yusron sudah membayangkan andai di masa kepemimpinannya kota tak mengalami banjir besar, namanya pasti akan harum. Dia akan menjadi salah satu Walikota terbaik dari kotanya. Jalan untuk menuju kedudukan yang lebih tinggi seperti menjadi Gubernur akan lebih lapang.

Dengan pengalamannya mengatasi banjir, niscaya pemilih di kota atau daerah lain yang juga kebanjiran akan menempatkannya sebagai calon pemimpin yang bisa mengatasi banjir.

Tanda-tanda banjir bisa diusir muncul di berbagai titik banjir. Satu persatu titik banjir berhasil dilenyapkan. Ada perempatan yang selalu banjir disaat hujan, kemudian lancar jaya lalu lintasnya. Ada ruas jalan yang selalu tergenang dalam disaat hujan, bisa dilalui tanpa kekhawatiran.

Puja-puji mulai bergema di segala penjuru kota untuk Yusron.

Suara warga terhadap banjir tak lagi frontal.

Ketika ada genangan warga akan mengatakan “Masih banjir tapi airnya sudah cepat surut,”

Artinya tujuan untuk mempercepat atau memperlancar air melalui sungai dan drainase mulai menunjukkan hasilnya.

Bayang-bayang kota terbebas dari banjir mulai kelihatan. Yusron makin percaya diri memimpin kotanya. Makin rajin blusukan, bahkan sampai ikut-ikutan mengatur parkiran.

BACA JUGA : Tongkat Musa

Warga karena pengaruh influencer, buzzer, key opinion leader dan sosok lain di media sosial memang mudah mengamini perubahan sesaat. Eco chamber effect menciptakan euforia.

Memang tak semua warga merupakan pemerhati banjir, walau sering kebanjiran tak berarti warga punya cukup pengetahuan soal hal ihwal dan musabab banjir.

Yang bertekun mengamati banjir pasti paham, keberhasilan menghilangkan genangan di satu titik sering kali karena genangan itu dipindahkan ke tempat lain.

Anggapan bahwa banjir mulai bisa diatasi adalah ketergesa-gesaan. Bisa jadi kota yang dipimpin oleh Yusron tak lagi direndam banjir besar karena syarat-syarat untuk banjir belum terpenuhi. Seperti belum ada hujan besar dan lama di hulu, atau hujan besar dan lama di sebagian besar wilayah kota tidak bersamaan dengan pasang sungai yang menjadi pintu keluar air ke laut.

Dan akhirnya saat itu tiba. Ada kabar daerah di hulu terendam air cukup tinggi, wilayahnya lumpuh karena genangannya luas.

Dan air itu akan menuju hilir, dalam perjalanannya akan mengenangi banyak wilayah di sekitar aliran sungai.

Karena sungai-sungai telah dinormalisasi aliran air dari hulu menjadi lebih cepat. Dulu butuh waktu 3 sampai 4 hari, sekarang dalam 1 atau 2 hari saja sudah sampai.

Dan setelah cukup lama tak ada dapur umum, perahu di jalan, akhirnya kisah itu kembali didengar.

Yang berwenang soal air mengirimkan surat ke Yusron sebagai walikota untuk menyatakan keadaan darurat banjir di beberapa wilayah. Lewat surat itu diberi anjuran, jika ketinggian air telah melewati batas tertentu, warga diminta untuk mengungsi secara mandiri tanpa harus menunggu dievakuasi oleh petugas.

Yusron memang tangkas, sat-setlah. Mendengar warganya kebanjiran, dia tak segan berbasah-basah menenggok dan menemui sambil menguatkan semangat dengan berjanji akan memenuhi kebutuhan warga.

Dan tentu saja harus digelar konperensi pers. Yusron tetap semangat berbicara, sementara yang menemani berhadapan dengan para pewarta seperti tertunduk lesu. Mungkin usai dimarahi habis-habisan oleh Yusron.

Kabar baiknya Yusron mengucapkan permintaan maaf untuk masyarakat. Upaya mengatasi banjir ternyata belum tuntas. Bla..bla…bla… Yusron mendaraskan berbagai alasan dan langkah yang mesti ditempuh ke depan.

Sayangnya lagi-lagi Yusron masih menunjukkan kebiasaannya baperan. Kalau ini yang di-spill adalah konten kreator yang kerap mengunggah konten yang menurut Yusron tendensius untuk menyalahkan pemerintah.

“Bukan saatnya untuk saling menyalahkan,” ujar Yusron.

Sebagai himbuan moral, jangan saling menyalahkan mungkin memang benar.

Tapi soal banjir memang ada yang salah. Kota yang dipimpin Yusron dalam catatan sejarah mempunyai puluhan anak sungai. Banyak daerah dinamai dengan awalan sungai, namun sungai-sungainya lenyap, hilang atau mati fungsi.

Kota ini kehilangan banyak ruang air, padahal kotanya kaya dengan hujan.

Alih-alih memulihkan atau menyediakan ruang air, untuk mengatasi banjir malah lebih dipilih membuat jalan pembuangan air lebih lancar jaya. Logis saja, namun menjadi tak tepat karena outlet atau jalan pembuangan air ke laut terpengaruh pasang surut.

Di luar itu para ahli sungai kerap mengatakan “One river one plan”.

Dan nampaknya untuk sungai ada banyak rencana dari masing-masing pihak. Yang paling mudah, sungai yang dianggap sebagai biang banjir di kota yang dipimpin oleh Yusron berhulu di daerah lainnya.

Sampai hari ini belum terdengar omon-omon antara Yusron dan pemimpin daerah tetangga untuk mengatur sebuah rencana bersama.

note : sumber gambar – NON PROFIT JOURNALISM