Dedi Yuliardi Ashadi adalah nama yang diberikan oleh orang tua setelah kelahirannya pada tanggal 21 Juli 1963. Tak lama sesudah dilahirkan kedua orang tuanya meninggal sehingga Dedi kemudian dibawa ke Jakarta dan diasuh oleh neneknya.
Menurut tuturan Denny JA, pendiri Lingkaran Survei Indonesia, rumahnya tak beda jauh dengan kediaman Dedi di wilayah Kramat Sentiong Jakarta Pusat.
Denny mengenal Dedi saat hadir dalam ulang tahun teman sekolahnya. Pada acara ulang tahun itu Dedi yang waktu itu berumur 10 tahunan tampil menghibur dengan menyanyi, berjoget dan melucu.
Menurut Denny, gaya khas Dedi adalah menari meliuk-liuk dengan gaya sangat kewanitaan. Seorang anak laki-laki yang sengaja mengalunkan suara dan meliuk seperti wanita.
Penampilan dan ketrampilannya membuat Dedi mendapat perhatian dari para tetangganya. Mereka kerap berkumpul, mendengar nyanyian dan ocehannya yang menghibur.
Denny tak lama tinggal di Kramat Sentiong sehingga tak tahu kabar lagi kabar Dedi yang terkadang diteriaki “Bencong,” oleh anak-anak yang lebih kecil. 30 tahun kemudian Denny berjumpa kembali dengan Dedi yang sudah dikenal dengan nama panggung Dorce, di pesta pernikahan temannya.
Dedi eh Dorce ternyata masih mengenal Denny sebagai teman masa kecilnya.
Di masa kecilnya, Dorce memang pernah bergabung dengan kelompok bernyanyi Bambang Brothers.
Tak heran jika dia kemudian dikenal handal menyanyikan berbagai genre music mulai dari jazz, pop hingga dangdut. Dorce juga fasih mendendangkan lagu berbahasa asing, mulai dari lagu Mandarin, Inggris, Belanda, Arab, Hindia, Jerman dan Perancis. Mandarin, Inggris, Belanda, Arab, India, Belanda, Jerman, Prancis, dan sebagainya.
Nama Dorce adalah pemberian dari Myna, teman mangkal di Taman Lawang, Menteng. Saat itu tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa didapat oleh para waria yang mau tetap eksis menunjukkan jatidirinya.
Beberapa saat menjual diri di Taman Lawang, digawangi oleh Myna, Dorce, Chenny Han dan beberapa temannya kemudian berniat keluar dari lingkungan malam kelam itu. Mereka kemudian mendirikan Fantasy Dolls. Kelompok penghibur di panggung yang menampilkan tarian, nyanyian dan lawakan.
Kelompok ini kemudian terkena dan tampil dimana-mana. Tata Dado juga merupakan salah satu penghibur yang lahir dari kelompok ini.
Chenny Han sendiri kelak menekuni dunia tata rias dan fashion. Sempat ke Amerika Serikat dan kemudian iseng mengikuti pemilihan ratu waria sedunia dan menang. Chenny Han kemudian pulang kembali ke Indonesia dan membuka salonnya sendiri.
Selain manggung bersama dengan Fantasy Dolls, Dorce juga mengembangkan diri dengan melakukan penampilan solo. Bakat besar yang diasah terus menerus membuatnya dengan cepat menjadi bintang dalam dunia hiburan di tanah air.
Sempat berganti-ganti nama panggung yakni Dorce Ashadi, Dorce Urang Aring, Dorce Manice, Dorce Alkafeer, pada akhirnya nama yang paling dikenal adalah Dorce Gamalama. Gamalama adalah nama gunung di Ternate, Maluku Utara.
Sejak tahun 1984, Dorce Gamalama kemudian menjadi nama panggungnya. Usai menunaikan ibadah haji di tahun 1990, Dorce menambahkan namanya menjadi Dorce Gamalama Halimatussadiyah.
BACA JUGA : Selamat Tinggal ‘Smokey Mountain’ Bukit Pinang
Dorce mengemparkan publik pada tahun 1983 karena melakukan operasi ganti kelamin dari laki-laki menjadi perempuan. Operasi dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya oleh ahli bedah plastik Prof. Dr. dr. Joehansyah Marzoeki Sp.BP. Perubahan identitas dan pergantian kelamin disahkan oleh Mahkamah Agung.
Dalam perjalanan karirnya Dorce telah berhasil bukan hanya menjadi penyanyi dan penghibur melainkan juga aktris pemain film. Sekurangnya ada 4 film yang dibintanginya dari tahun 1989 hingga 2009.
Dorce juga berakting dalam sinetron televisi. Sinetron yang diperaninya antara lain Incan, Encim, Oncom dan Kecil-kecil Mikir Jadi Manten.
Pada dunia tarik suara, Dorce pernah meluncurkan sebuah single berjudul Cintaku Kendor di Jalan. Di tahun 2006, Dorce memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia {MURI} karena selama 5 bulan dari November 2005 hingga Maret 2006 berhasil meluncurkan sembilan album.
Cukup lama Dorce menguasai panggung hiburan tanah air utamanya melalui televisi. Talkshow yang dipandu oleh Dorce di beberapa stasiun televisi membuatnya pernah mendapat julukan Oprah Winfrey-nya Indonesia.
Dunia pertelevisian akan mencatat Dorce Show yang kemudian berubah menjadi D’Show sebagai salah satu talkshow tersukses di televisi. Eko Patrio adalah salah satu pelawak yang pernah bersama-sama dengan Dorce menjadi host talkshow berjudul Kencan.
Capaian lain yang istimewa dari Dorce adalah pernah tampil dan menghibur 6 Presiden Republik Indonesia, mulai dari Suharto hingga Joko Widodo. Sebuah pencapaian yang amat jarang dicapai oleh penampil lainnya.
Setelah mata acara Bunda Dorce Jalan Jalan, Dorce yang sudah tampil dengan jilbab kemudian mulai surut dari layar kaca.
Lama tak terdengar kabarnya, Dorce kemudian mengemparkan karena berniat untuk bekerja menjadi sopir Raffi Ahmad. Penampilannya sudah sangat berubah, Dorce nampak tidak sehat.
Bertahun-tahun Dorce menderita penyakit yang membuat dirinya tak lagi bebas beraktivitas. Butuh banyak biaya untuk perawatan dan penyembuhan, Dorce sempat melontarkan permintaan bantuan pada Presiden Megawati dan Joko Widodo.
Rabu {06/02/2022} terdengar kabar duka. Dorce Gamalama meninggal dunia pukul 08.00 WIB di RSPP Simprug. Pembawa acara dan entertainer sejati ini meninggal dalam usia 58 tahun.
Dorce dikabarkan meninggal bukan karena penyakit yang lama telah dideritanya. Covid 19 konon yang membuatnya hidupnya berakhir, Dorce dimakamkan dengan protokol Covid 19.
Dunia hiburan tanah air kehilangan sosok penghibur yang menjadi panutan. Dorce sebagai pesohor tidak terkena sindrome selebritas yang lazim dipertontonkan para selebriti saat ini.
Mendapat penghasilan besar dari penampilannya di televisi tak membuat Dorce suka pamer kekayaan. Apa yang diperoleh lebih banyak diberikan kepada orang lain, terutama mereka yang senasib dengan dirinya dahulu.
Untuk membuat namanya tetap berada di orbit, Dorce tak pernah membuat kontroversi atau kegaduhan yang akan membuat namanya terus diperbincangkan.
BACA JUGA : Hafalkan! Ibu Kota Negara Adalah Nusantara
Gus Dur memaknai terima kasih sebagai memberi apa yang diperoleh untuk dikasihkan pada.orang lain. Terima langsung kasih. Prakteknya ketika diundang sebagai narasumber atau pembicara yang diberi honor, Gus Dur sudah punya rencana kepada siapa amplop yang diterima itu akan diberikan. Amplop honor diberikan kepada orang lain tanpa pernah Gus Dur membukanya terlebih dahulu.
Menurut Eko Patrio, Dorce juga berlaku demikian. Honor atau bayaran dari televisi bahkan yang belum diterima namun sudah dipastikan akan diterima akan diberikan oleh Dorce kepada sesiapa saja yang hendak dibantunya.
Dorce mempunyai banyak anak asuh dan ada ribuan anak yatim yang disantuninya. Dorce mengabdikan hidup dan pencapaian untuk anak-anak ini serta rekan-rekan yang senasib dengannya.
Sebuah perjalanan kehidupan yang tidak mudah. Meski di panggung atau di layar televisi Dorce selalu nampak ceria, sesungguhnya perjalanan hidupnya diwarnai banyak kegetiran bahkan ketika dia sudah mendapat pengakuan di mata hukum dan publik.
Ada banyak pihak yang tak bisa menerima kehadiran Dorce dan identitasnya. Tak sedikit penampilannya dicekal atau dilarang, iklan-iklan yang dibintanginya juga banyak yang akhirnya tidak tayang.
Transgender juga transeksual sampai sekarang masih belum diterima kehadirannya secara penuh dalam ruang publik. Laki-laki yang ingin atau merasa sebagai perempuan {waria} dan kemudian melakukan operasi perubahan kelamin, meski mendapat pengakuan secara hukum sekalipun tetap saja mengalami banyak diskriminasi.
Meski populer dan disukai banyak orang, Dorce selama hidupnya banyak memendam kegusaran dan terluka karena diskriminasi. Kerap dihujat dan dihina karena dianggap melawan kodrat serta hukum agama.
Masih kuat dalam masyarakat kita pandangan bahwa kaum waria adalah sebuah penyimpangan, identitas seksual itu dianggap bukan sekedar penyakit melainkan juga aib.
Mereka kemudian kerap mengalami dehumanisasi, tidak pernah dipandang hanya sebagai seorang manusia seutuhnya, mereka kerap diolok-olok sebagai manusia jadi-jadian.
Ilmu pengetahuan terutama neourosains sudah bisa menjelaskan dengan gamblang soal dinamika kerja dan kondisi otak yang membuat seorang laki-laki merasa diri sebagai perempuan. Atau sebaliknya. Namun pengetahuan itu tak cukup untuk merubah persepsi terhadap transgender atau transeksual. Padangan terhadap kelompok ini lebih didasari oleh sistem nilai dan moralitas tertentu.
Jika seorang Dorce yang telah membuktikan diri penuh prestasi dan pengabdian yang tulus pada masyarakat masih terus mengalami diskriminasi, apalagi sosok-sosok transgender atau transeksual yang tak punya nama.
Berbagai macam acara yang diselenggarakan oleh kaum transgender dilarang atau dibatalkan dimana-mana. Jangankan acara yang bersifat hiburan atau kontes, sebuah seminar tentang transgender saja bisa digeruduk oleh massa.
Kita yang mengagung-agungkan keberagaman, ternyata belum mampu bersikap terbuka dan benar terhadap kemajemukan identitas seksual. Identitas yang tentu saja tidak dibuat-buat.








