Saya mulai membuat akun facebook 4 tahun setelah diluncurkan dari sebuah kamar asrama oleh Mark Zuckenberg dan beberapa temannya.
Saat pertama diluncurkan Mark menamainya situsnya thefacebook, alamatnya di thefacebook.com. Nama facebook diambil dari direktori informasi dan foto mahasiswa Harvard yakni face book.
Beberapa bulan setelah didirikan, facebook mendapat pendanaan dari pendiri PayPal, Peter Thiel sebesar 7,2 milyard. Saat itu facebook sudah berkantor di Palo Alto, California.
Mei, 2008 sewaktu saya mendaftar sebagai pengguna, pemakai facebook di Indonesia jumlahnya baru ratusan ribu. September, 2008 dalam catatan Nick Burcer, jumlah pengguna facebook di Indonesia baru 322 ribu orang.
Saat itu internet masih lebih banyak diakses dengan PC, sehingga belum leluasa penggunaannya.
Di facebook fitur yang aktif saya gunakan saat itu sampai beberapa tahun sebelum kemudian dihilangkan dimatikan adalah facebook note atau fitur catatan.
Sampai sekarang catatan itu sebenarnya belum benar-benar hilang, hanya untuk mengaksesnya cukup berbelit karena navigasi-nya sudah dihapuskan dari tampilan antar muka facebook.
Pada saat yang sama saya juga membuat akun youtube. Istilah youtuber sendiri belum populer waktu itu. Sampai pada tahun 2011, nama-nama yang dikenal di youtube masih sangat sedikit. Raditya Dika, Chandra Liow, Tommy Lee, Edo Cell, Bayu Skak, Reza Arap, Agung Hafsah dan Skinnyindonesian24 boleh dibilang sebagai perintis atau pioner youtuber di Indonesia.
Maret 2011, saya juga membuat akun twitter, 5 tahun setelah aplikasi itu diperkenalkan pada publik. Aplikasi yang terinspirasi oleh SMS ini saat pertama diluncurkan membatasi pesan sebanyak 140 karekater. Baru nanti pada tahun 2017, jumlah karakternya menjadi 2 kali lipat yakni 280.
Kini twitter menjadi medan perang orang-orang garang beradu argumentasi. Saya dulu seperti itu, twitter lebih saya gunakan untuk memaki, marah-marah dan perilaku toksik lainnya kalau listrik mati, PDAM hanya mengeluarkan angin dan lain sebagainya.
Untung di masa itu bangsa Indonesia belum baperan dan rajin saling lapor. Meski sempat ada yang mengancam karena cuitan saya di twitter, namun tak ada satupun yang melaporkan saya ke polisi dengan menggunakan UU ITE.
Pada tanggal 1 Desember 2012 saya kemudian juga membuat akun instagram, dua tahun setelah aplikasi itu diluncurkan oleh pembuatnya. Saya memakai instagram setelah aplikasi itu diakuisi oleh facebook {meta}, sehingga aplikasi yang dulu hanya beroperasi di sistem selulur iphone kemudian bisa digunakan pada telepon berbasis android.
Lebih dari sepuluh tahun aktif menggunakan sosial media, saya mencatat dinamika masyarakat Indonesia di dunia maya. Catatan paling penting adalah berkembangnya media sosial menjadi media baru yang kemudian merontokkan fungsi dan kedudukan media-media mainstreams mulai dari media cetak, media elektronik dan media audiovisual.
Pada media mainstreams ada adagium “bad news is good news’, demikian pula di media sosial, untuk meraup perhatian, memperoleh banyak like, comment dan share, seseorang atau sekelompok orang akan memposting feed, story atau content yang isinya menghalalkan cara untuk beroleh perhatian.
Sama seperti sinetron televisi Indonesia dan drama Korea, di sosial media pemeran utama yang paling menonjol adalah sosok yang bodoh atau jahat sekali.
BACA JUGA : Dorce dan Panggung Kehidupan Yang Belum Berubah
Di dunia yang terbentuk dari keberagaman, masih banyak misteri yang belum tersingkap namun dalam keseharian kita lebih banyak diajarkan untuk memahami segala sesuatu secara hitam putih. Cara kita menanggapi segala sesuatu menjadi sangat sederhana, ukurannya hanya benar atau salah, baik atau buruk, besar atau kecil, tinggi atau rendah dan seterusnya.
Padahal hidup, kehidupan dan kenyataan kerap merupakan paradoks. Dalam diri seseorang ada kenyataan baik sekaligus buruk. Pertentangan itu ada dalam setiap diri mahkluk yang hidup utamanya manusia.
Saya dulu mempunyai seorang teman yang mengambarkan kenyataan itu. Sulit untuk mendeskripsikan dirinya hanya dalam satu kata. Sebab dalam kepalanya, saya dan teman lainnya menemukan pemikiran yang konsisten sosialis.
Namun kampung tengah atau perutnya selalu menyukai makanan kaum borjuis.
Dan kepala bawah atau kelaminnya selalu mengekpresikan watak liberalis.
Maka gambaran dirinya menjadi panjang yakni kepala sosialis, perut borjuis dan kelamin liberalis.
Dengan atribusi semacam itu, dalam pandangan masyarakat umum teman saya ini akan dikategorikan sebagai mahkluk buruk.
Buruk karena antara pikiran dan kelakuan tidak konsisten, integritasnya rendah karena mulutnya tak bisa dipercaya. Apa yang dikatakan dan diyakini tidak terbukti dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa umumnya adalah munafik.
Dalam dunia politik dan aktivisme atau pergerakan, ketidaksinkronan antara pikiran, omongan dan perilaku kerap menjadi bahan olok-olok dari lawan politik atau lawan pergerakan.
Di Inggris ada sindiran atau olok-olok pada hipokrisi golongan kiri namun mempunyai gaya hidup kelas menengah ke atas. Sebutannya adalah Champagne Socialist.
Ramsay MacDonald, perdana menteri pertama Inggris dari Partai Buruh, dianggap sebagai Sosialis Sampanye karena bergaya hidup mewah dan lebih senang bergaul dengan masyarakat elit. Dia kemudian dianggap mengkhianati gerakan buruh. Sikapnya itu kemudian dianggap sebagai penyebab utama berakhirnya Pemerintahan Buruh pada tahun 1931.
Di Amerika Serikat juga muncul olok-olok yang setara yaitu Limousine Liberal. Sindiran ini ditujukan pada kalangan liberal menengah keatas yang gemar bicara soal transportasi massal namun ternyata kemana-mana suka menggunakan transportasi private, mobil mewah atau jet pribadi.
Salah satu yang dijuluki sebagai Limousine Liberal adalah Al Gore, wakil presiden di masa pemerintahan Bill Clinton. Al Gore kerap bicara soal pengurangan emisi gas rumah kaca, namun gemar bepergian dengan SUV dan jet pribadi. Rumah mewahnya di Tennessee juga mengkonsumsi listrik 20 kali lebih besar dari kebanyakan rumah warga lainnya.
Muncul juga istilah Radical Chic dan Terorist Chic.
Radical Chic adalah olok-olok untuk mereka yang mendukung narasi radikal kiri hanya untuk gengsi semata. Sedangkan Terorist Chic adalah mereka yang gemar menggunakan simbol, objek dan estetika yang berkaitan dengan gerakan militan namun kemudian menjadi fashion semata.
Di Perancis ada olok-olok Gauche Caviar atau Kiri Kaviar, di Spanyol disebut dengan Izquerda Caviar, lalu di Afrika Selatan ada sebutan Gucci Communist dan di Jerman diistilahkan sebagai Salonkommunist atau komunis ruang tamu.
Sebutan-sebutan yang berbau olok-olok pada kaum kiri ini kemudian berkembang menjadi serangan yang serupa untuk para aktivis atau intelektual yang biasa menyuarakan narasi ketidakadilan, namun dipandang sebagai cara untuk menaiki tangga sosial yang lebih tinggi. Kelompok ini kerap dikatai sebagai Social Justice Warrior.
BACA JUGA : Selamat Tinggal ‘Smokey Mountain’ Bukit Pinang
Istilah Social Justice Warrior atau SJW muncul sekitar tahun 1991, sebagai sebutan untuk kaum nasionalis Quebec. Mereka bangga beridentitas Perancis dan merasa diri sebagai orang Quebec bukan Kanada.
SJW dimaknai sama dengan kepanjangan untuk menyebut para pejuang atau aktivis tuna wisma dan isu-isu lainnya terkait diskrimasi, ketimpangan atau peminggiran kelompok marjinal.
Twitter pada tahun 2011 memulai penggunaan SJW sebagai hinaan atau derogatory. Semua berawal dari sebuah game, kasus yang dikenal sebagai gamergate itu terjadi ketika seorang pengembang game yang berkelamin perempuan menjalin asmara dengan pengulas game atau reviewer yang berkelamin laki-laki.
Ada fitnah yang mengatakan bahwa pengembang game perempuan berhubungan seksual dengan reviewer laki-laki agar gamenya mendapat ulasan positif.
Gamergate juga menyerang pujian setinggi langit terhadap sebuah game yang sederhana karena tenggara game tersebut digemari oleh kelompok feminist dan aktivis gender.
Perseteruan dalam dunia game ini kemudian merembet ke masalah hak perempuan, isu minoritas, dan kaum termajinalkan.
Dan sejak saat itu Gamergate menyebut sosok yang membela hak-hal perempuan, feminis dan isu sosial yang berlawanan dengan mereka sebagai SJW, bukan dalam arti sebagai sanjungan melainkan sebagai olok-olok.
Dan Social Justice Warrior kemudian diartikan oleh Urban Dictionary versi tahun 2017 sebagai :
“Seseorang yang memanfaatkan perjuangan hak-hak masyarakat sipil sebagai alasan untuk bersikap kasar, merendahkan, dan kadang-kadang mengandung kekerasan, tujuannya untuk melepaskan rasa frustasi atau memvalidasi superioritas moral mereka yang tak beralasan. Perilaku social justice warrior (pejuang keadilan sosial) biasanya punya akibat negatif pada gerakan hak sipil, membalikan arah sekutu potensial dan menyulut perlawanan dari kelompok bigot penarik massa yang terbakar atau dibungkam oleh social justice warrior.”
Di Indonesia istilah SJW kemudian juga populer melalui twitter hingga sekarang. Orang saling mengolok bahkan melakukan dehumanisasi dengan istilah ini.
Twitter yang pada masa awal perkembangan di Indonesia dihuni oleh kaum intelektual yang berbagi pikiran dan kecerdasan melalui kuliah twitter, kini berkembang menjadi medan pertempuran, tempat orang bodoh dan jahat sekali saling mencaci maki. Membaca timeline twitter bisa bikin kepala auto migren.
SJW bahkan kemudian berkembang menjadi stereotype untuk menyebut mereka yang biasa menyerang negara, menyalahkan pemerintah, presiden juga yang lainnya dengan berbicara ngawur lalu viral dan kemudian diserang oleh netizen. Biasanya minta maaf dan membuat pekerjaan mereka terganggu, hidupnya jadi susah karena ada juga yang dilaporkan polisi hingga kemudian dipenjara.
Yang menjadi soal kemudian siapapun yang berbicara kritis kemudian dicap sebagai SJW. Seolah-olah kemudian tidak ada orang yang benar-benar tulus berjuang, jujur berempati dan ingin sebuah keadaan yang lebih baik. Segala pemikiran atau sikap kritis kemudian dianggap ada maunya, pamrih untuk kepentingannya sendiri atau kelompoknya.
Lepas dari berbagai macam drama di sosial media, content, feed atau story yang berisi tebar pesona, pamer atau panjat sosial. Namun olok-olok atau hinaan yang memakai istilah SJW mesti juga dicurigai sebagai cara dari kaum elit, kaum mapan atau kaum yang tengah berkuasa dalam berbagai bidang untuk mengamankan kepentingannya.
Mereka yang tak mau ada perubahan, mereka yang tak terbuka terhadap kritisisme mesti dicurigai berada di belakang arus netizen yang sangat kejam menyerang kaum kritis dan pemikiran alternatif di berbagai isu.
Sebagai pemakai sosial media yang aktif, saya selalu tidak malu mengaku diri sebagai bodoh mengingat perkembangan yang begitu cepat. Dengan menyadari ada yang kurang dalam diri maka kita akan selalu belajar.
Mau belajar akan membuat kita tidak dengan cepat berkomentar dan memandang masalah secara gampang hanya dari sisi hitam atau putih. Sebab warna dunia ini bukan hanya pelangi, melainkan juga ratusan bahkan ribuan kombinasi warna yang dihasilkan dari percampurannya.
Kendalikan jempolmu agar tak menjadi manusia bodoh sekaligus jahat di media sosial.









Dunia hitam putih, bias abu-abu, warna-warni
Comments are closed.