KESAH.IDMeski sering dinarasikan begitu indah, cinta yang kerap dianggap abadi selalu punya batas. Pernikahan adalah ujian bagaimana cinta ditransformasi menjadi komitmen untuk bekerja sama dalam suka dan duka seumur hidup.

Witing tresno jalaran saka kulino atau rasa cinta akan tumbuh/hadir karena terbiasa. Ungkapan percintaan ini populer di kalangan masyarakat berbudaya Jawa.  Ada banyak karya sastra dan lagi atau tembang memakainya.

Di balik ungkapan ini ada sebuah prinsip bahwa rasa cinta itu sebuah proses, tidak muncul begitu saja. Maka biasanya ungkapan ini kerap dipakai sebagai alasan pembenaran untuk sebuah pernikahan yang diatur oleh keluarga.

Dalam tradisi Jawa, pemilihan pasangan hidup memang diatur. Seseorang yang saling suka, jatuh cinta setengah mati bisa jadi tidak direstui oleh orang tuanya ketika meminta ijin untuk menikah.

Untuk memilih pasangan, masyarakat Jawa mengajarkan yang pertama bukan soal penampilan dan kemampuan untuk membuat rasa nyaman atau nyambung. Good looking bukan jaminan, masih ada good good lainnya.

Kriteria memilih pasangan secara singkat dirumuskan dalam kriteria 3 B, bibit, bobot dan bebet.

Falsafah ini bermakna untuk memilih pasangan harus memperhatikan, bibit atau latar belakang keluarga. Baik buruknya keluarga mesti menjadi perhatian. Pasangan kalau bisa berasal dari keluarga terhormat, keluarga yang utuh dan bahagia.

Sedangkan bebet berarti status ekonomi keluarga calon pasangan. Berasal dari keluarga yang mapan, mempunyai aset yang cukup untuk menjamin masa depan. Punya kepribadian bagus maksudnya usaha pribadi, rumah pribadi, mobil pribadi dan lain-lain.

Kriteria bobot berkaitan dengan kualitas mental atau kepribadian. Pasangan yang berbobot artinya mempunyai sifat, karakter, kelakuan dan prestasi yang baik atau bahkan membanggakan.

Berdasarkan filosofi ini camon pasangan yang baik atau yang berpotensi untuk diajak membangun rumah tangga yang harmonis adalah yang punya latar good family, good rekening dan good attitude. Good looking adalah bonus.

Cinta yang romantik bukanlah kriteria utama. Begitu jatuh cinta lalu dengan cepat memutuskan “dia adalah jodohku” tidak akan memuluskan jalan ke pelaminan.

Jalan bahkan bisa makin terjal, selain karena kriteria B 3, masih ada lagi hitung-hitungan yang didasarkan pada buku primbon. Biarpun sudah lengket kayak perangko jika orang tua menganggap wetonnya tak cocok maka tak akan direstui.

Kenapa falsafah Jawa seolah tak ramah pada kisah cinta-cintaan nan romantis?.

Dalam budaya Jawa diajarkan hidup itu singkat, sadermo mampir ngombe.

Dalam waktu yang singkat itu kehidupan yang dijalani harus menghasilkan hidup yang bermutu.

Maka jalan sulit yang mesti ditempuh, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Bukan sebaliknya.

Kesenangan sebuah generasi bukan menyenangkan dirinya sendiri tetapi menyediakan ruang dan kehidupan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Itulah inti hidup yakni meneruskan kehidupan dengan melahirkan generasi berikut yang lebih cerah masa depannya.

Menikah atau berpasangan merupakan proses menanggalkan egonya sendiri demi kebaikan bagi pasangan, keluarga, masyarakat (bangsa) dan agama.

BACA JUGA : Me Too, Gerakan Melawan Kekerasan Seksual Di Era Media Sosial

Bagi generasi yang lahir tahun 70-an keatas logika 3 B mungkin tak lagi masuk di hari. 

Generasi dari tahun ini dan setelahnya yang lebih banyak mendengar lagu-lagu kisah percintaan apa Shakespeare memandang cinta sebagai yang utama.

Kalau sudah cinta, tai kucing pun rasa coklat, begitu syair lagu yang dinyanyikan oleh Gombloh.

Dan romantika cinta bahkan sudah dimulai semenjak remaja, seperti yang dikisahkan lewat lagu Kisah Kasih di Sekolah oleh Obbie Mesakh.

Cinta adalah puisi, puisi senja dengan warna merah jingga merona. Begitu narasi generasi terkini yang menyebut diri anak-anak senja.

Maka ketika jatuh cinta, orang kehilangan logika karena cinta memang lahir dari rasa.

Menghalang-halangi cinta itu dianggap membatasi kehendak bebas. Perjodohan atau pernikahan yang diatur-atur menjadi sebuah aib, haram hukumnya.

Benarkah jatuh cinta adalah kehendak bebas?.

Mari kita uji.

Orang sering kali ketika suka pada.orang lain mengatakan “dia tipe aku banget”.

Sementara ketika tak suka akan mengatakan “bukan tipe ku,”.

Ucapan ini menandakan dalam dirinya ada memori tertentu, yang ada begitu saja sehingga akan suka setiap melihat seseorang yang sesuai dengan tipenya.

Ada ungkapan, jatuh cinta itu rasa yang muncul dari mata lalu turun ke hati.

Selalu dimulai dari ketertarikan dari indera, terutama mata. 

Dan suka atau tidak suka itu tanpa alasan, muncul begitu saja. 

Jika kesukaan itu begitu kuat maka dinamakan jatuh cinta.

Hanya saja jatuh cinta itu mesti ada alasannya. Maka ketika ditanya, ada seribu alasan untuk membenarkannya. Mulai dari merasa cocok, merasa nyambung, merasa nyaman disampingnya dan lain sebagainya.

Padahal di balik semua alasan itu ada yang jarang diungkapnya yakni keinginan untuk berhubungan seksual dengannya.

Kenapa berhubungan seksual?. Ya tentu untuk meneruskan kehidupan. Karena dalam diri setiap orang ada dorongan untuk memelihara kehidupan dengan meneruskan keturunan.

Hubungan seksual yang kemudian dilembagakan dalam perkawinan tujuan utamanya adalah meneruskan kehidupan, beranak pinak.

Dalam dunia binatang pada umumnya yang regenerasinya melalui tindakan seksual, jatuh cinta adalah fase bujuk rayu. 

Yang jantan menarik yang betina agar mau berhubungan seksual dengannya, yang betina memancarkan signal untuk siap dibuahi.

Dan sensasi jatuh cinta itu tak bertahan lama, begitu bujuk rayu berhasil, perlahan rasa itu akan sirna.

Fakta ini dengan mudah ditemukan dalam kenyataan sebagian besar percintaan romantis tidak berakhir dengan pernikahan. Tak sedikit kisah pacaran nan aduhai berakhir ketika salah satunya meminta untuk dinikahi.

Bahkan pacaran banyak yang putus, umumnya setelah terjadi hubungan seksual sebelum nikah. 

Yang cowok biasanya mengakhiri dengan mantera “aku tak punya rasa lagi”.

Yang cewek umumnya mengakhiri dengan mantera “tak ada kepastian darimu”.

BACA JUGA : Coldplay Itu Sejenis Virus Ganas Kah?

Kita sering dikejutkan oleh berakhirnya hubungan percintaan dalam sebuah perkawinan. 

Suami istri yang kelihatan baik-baik saja, bahagia dan telah dikaruniai anak tiba-tiba memutuskan untuk berpisah, mengakhiri kisah cintanya.

Siapa yang menduga, penulis dan penyanyi lagu Surat Cinta Untuk Starla akan bercerai dengan istrinya?.

Mari kita ingat kembali lirik lagu yang pernah memuncaki kolom pencarian Google Search Engine di tahun 2017 ini.

Lagu ini diawali dengan syair “Teruntuk kamu, hidup dan matiku”.

Narasi ini menggambarkan bagaimana perasaan jatuh cinta mampu membuat seseorang memastikan dirinya akan sehidup semati dengan seseorang yang dijatuhcintai.

Dunia seolah milik mereka berdua, yang lain hanya ngekost, pendatang atau imigran.

Pendek kata tak ada yang lain selain dirimu. Semua keindahan dan pesona hanya ada pada yang dicintainya.

Maka Virgoun menulis “Telah habis cintai ini tak lagi tersisa untuk dunia. Karena telah kuhabiskan cintaku hanya untukmu,”.

Dan ternyata cintaku hanya untukmu, sehidup semati hanyalah narasi indah dalam lagu. 

Pesona cinta yang adalah segalanya hanya bertahan tak sampai 10 tahun. Pupus dengan alasan yang sangat sederhana, “body” sang cinta tak lagi menarik hati.

Jadi lagu Surat Cinta Untuk Starla yang bisa membuat hari perempuan sedunia luluh ternyata hanya narasi untuk menyembunyikan ketertarikan seksual, nafsu inderawi.

Maka cinta adalah narasi yang mudah dikoreksi dengan alasan ini itu, termasuk tak lagi sevisi dan semisi padahal diawal pernikahan tak pernah merumuskan visi misi seperti calon walikota, bupati, gubernur atau presiden.

Ingat rentang cinta itu terbatas, hormon cinta bisa dengan mudah menguap jadi benci.

Maka pernikahan adalah langkah awal dan sulit untuk mentransformasi cinta menjadi komitment untuk bersama, memahami dan menerima satu sama lain tanpa syarat serta bersedia untuk terganggu seumur hidup.

note : sumber gambar – BIEM.CO