KESAH.ID – Bunda Corla membangkitkan kembali memori yang belum lama berlalu, kesukaan masyarakat pada dangdut koplo. Irama yang mengajak bergoyang dan lirik yang mudah dihafalkan walau tak bermakna dalam membuat koplo menjadi musik partisipatif, penyanyi dan penonton sama-sama berdendang dan bergoyang dengan heboh. Corla yang tampil sederhana dan sederhana menjadi idola baru masyarakat yang rindu sosok tanpa pencitraan yang keterlaluan.
Musik ‘Ngak ngik ngok’ begitu kecam Sukarno kala menanggapi demam terhadap grup musik The Beatles yang mewabah ke seluruh dunia.
Sukarno geram karena syair lagu dari The Beatles hanya berisi kisah percintaan dan gaya hidup hippies yang bakal meninabobokan serta menjerumuskan generasi muda Indonesia.
Presiden RI pertama itu bukan pembenci seni. ketidaksukaan terhadap musik barat sebenarnya lebih dilandasi pada semangat melawan imperialisme dan kolonialisme baru. Musik barat yang populer oleh Sukarno dianggap sebagai bagian dari imperialisme modern lewat kebudayaan.
Koes Plus yang gemar rock-rock-an kemudian menjadi korban dari semangat Sukarno yang mengebu-gebu untuk menentang neokolonialisme barat lewat musik. Koes Plus sempat ditangkap dan dipenjara karena menyanyikan lagu-lagu penyanyi barat dengan tampilan rambut gondrongnya.
Nasionalisme ala Sukarno ini kemudian menjadi pupuk yang subur bagi berkembangnya musik dangdut. Musik yang diklaim sebagai musik asli Indonesia karena berbasis pada irama melayu.
Makanya kelompok musik dangdut selalu menamakan dirinya sebagai OM, Orkes Melayu.
Dangdut adalah sebutan yang berasal dari bunyi “tak, tung,dang, dut” dari salah satu alat musik utamanya yakni tabla.
Sosok Ellya Khadam menjadi salah satu penyanyi pemula yang mempopulerkan genre ini di tahun 50-an. Dan ketika dianggap sebagai ‘music of my country’ karena semangat anti nekolim Sukarno, muncullah raja dan ratu dangdut Indonesia.
Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih dinobatkan oleh masyarakat sebagai Raja dan Ratu Dangdut karena popularitasnya.
Orkes Melayu atau dangdut waktu itu beraroma India dan Arab.
Rhoma dengan nuansa dakwahnya dan Elvy dengan goyang India-nya.
Sebagai genre musik yang populer, dangdut kemudian dimanfaatkan sebagai alat politik. Dangdut identik dengan kampanye pemilu.
Rhoma Irama pun berseteru dengan regim orde baru karena tak mau ikut bergabung dalam rombongan dangdut versi Golkar. Rhoma memilih menyanyi bersama OM Soneta Grup untuk PPP.
Karena sikapnya itu Rhoma Irama kemudian dikenal sebagai salah satu sosok oposan terhadap pemerintahan orde baru melalui musik. Diapun dianggap sebagai politisi dan sempat menjadi anggota DPR mewakili utusan golongan.
Selain tak bisa dipisahkan dari pemilu, dangdut juga lekat dengan goyang. Lagu dangdut sesendu apapun tetap memancing orang untuk bergoyang. Dangdut tanpa goyangan ibarat sayur tanpa garam.
Musik yang membuat penontonnya selalu terlibat ini kemudian kerap menuai masalah terutama ketika erotika dijadikan jualan utamanya. Dulu dikenal istilah Dangdut Sekaten, pertunjukan musik dangdut di panggung hiburan di acara Sekaten Keraton Yogyakarta.
Penampilan penyanyinya dikenal barbar. Tampil di panggung yang tinggi, pegelaran dangdutnya selalu ramai karena penyanyinya kerap secara sengaja menunjukkan celana dalamnya.
Dangdutnya diawasi oleh hansip. Jika penyanyinya keterlaluan akan kena semprit. Peluit dibunyikan oleh hansip dan aksi penyanyinya akan dihentikan.
BACA JUGA : Warung Up Normal Tumbang Tanpa Pamitan
Goyang dangdut semakin asik dengan kemunculan genre baru yang berasal dari Jawa Timur. Jenis dangdut baru ini dikenal dengan sebutan Koplo.
Istilah koplo merujuk pada kondisi seseorang yang sedang fly, melayang setelah menenggak minuman keras atau menelan pil yang bikin orang bergoyang-goyang. Pil itu disebut sebagai pil koplo.
Dalam konteks lain koplo juga merupakan sebutan dalam bahasa Jawa untuk orang-orang yang berperilaku dungu atau bodoh.
Musik dangdut koplo yang berkembang di Pantai Utara Jawa ini bisa dikatakan sebagai obat. Obat penenang bagi masyarakat yang saat itu sedang mengalami ‘kegilaan sosial’ akibat transisi politik paska orde baru.
Masyarakat yang stres, khawatir atau berada dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpastian sejenak terhibur serta melupakan keadaan karena hanyut dalam ketukan musik yang rancak. Ketukan kendang dangdut koplo yang cepat dan padat memang membuat pendengarnya akan bergoyang penuh semangat.
Yang penting goyang, soal liriknya nggak usah diperhatikan apalagi diresapi.
Dangdut jenis ini sebenarnya di tingkat akar rumput sudah muncul sejak masa orde baru namun baru kemudian mbrojol dari rahimnya seolah mengisi kekosongan kreatifitas paska runtuhnya pemerintahan Suharto.
Popularitas koplo di publik luas tak lepas dari kemunculan Inul Daratista lewat Video CD yang beredar di kios-kios kaki lima. Nama Inul meledak bukan karena lirik lagu yang memikat melainkan karena predikat goyangannya, Goyang Ngebor.
Gadis dengan gaya, cara bicara dan berpikir yang sederhana ini kemudian ‘merevolusi’ tubuh music dangdut. Goyangan dan cara Inul berpakaian membuat Raja Dangdut murka. Lagi-lagi karena kesederhanaannya Inul tidak siap berpolemik dengan Rhoma Irama. Andaikan tak banyak yang membela, Inul pasti rela pulang kampung, berhenti bernyanyi untuk membantu ayah ibunya di rumah.
Tapi protes keras Rhoma Irama ternyata tak membuat dangdut koplo surut. Setelah goyang ngebor Inul, muncul banyak goyang-goyang lainnya. Ada goyang gergaji, goyang ngecor hingga goyang bebek.
Dan mediapun menyambut, yang kontroversial selalu menjadi berita baik. Inul pun laris manis, yang tadinya hanya bernyanyi di panggung kampung ke kampung kemudian menyanyi dari hotel ke hotel. Penontonnya bukan lagi orang pinggiran yang lelah dengan kehidupan.
Inul sekalipun tak menyangka kalau kemudian genre dangdut yang dinyanyikan olehnya kemudian masuk layar kaca. Inul tampil di televisi bukan hanya untuk bernyanyi, wajahnya juga dikenal pemirsa karena penampilannya di sinetron.
Kisah dan perjuangannya bernyanyi kemudian dijadikan cerita oleh Arwendo Atmowiloto dalam sebuah sinetron yang berjudul Kenapa Harus Inul?. Dan Inul Daratista menjadi bintang utamanya.
Inulpun kaya raya dan bermetamorfosa sebagai pengusaha hiburan. Menyanyi bukan lagi kesibukan utamanya.
Muncul generasi berikutnya dengan gaya yang berbeda. Ada Siti Badriah, Via Vallen dan Nella Kharisma yang pesonanya mulai ke-korea-korea-an.
Mereka menjadi generasi dangdut koplo di internet. Video musik Lagi Syantik yang dinyanyikan Siti Badriah ditonton ratusan juta kali lewat Youtube. Dan Via Vallen terpilih menjadi pelantun lagu Meraih Bintang, lagu resmi Asian Games 2018.
Rhoma Irama tak lagi bersuara, namun suara sumbang senada atas dangdut koplo masih kencang. KPI, kaum moralis dan pemuka agama masih kerap mencak-mencak, menganggap penyanyi dan lagu dangdut koplo tidak mendidik. Memang betul karena mereka adalah penyanyi dan tak pernah mengklaim dirinya sebagai pendidik publik, mereka hanya menghibur.
BACA JUGA : Vonis Mati Di Peradilan Abad Ini
Sebagaimana gelombang, nasib dangdut koplo juga timbul tenggelam. Ketika masyarakat terlena oleh lagu-lagu dengan nada, irama dan syair senja, koplo seolah terlupakan. Silih berganti muncul penyanyi-penyanyi yang memanjakan imaji anak-anak muda dengan kebebasannya berimajinasi dan bersuara. Lagu-lagu puitis dengan permainan kata yang tak biasa begitu mempesona.
Namun pada akhirnya internet memang berkuasa. Siaran langsung di media sosial kembali membawa dangdut koplo ke permukaan.
Dari negeri seberang jauh di sana, Bunda Corla yang merantau bekerja di Jerman menjadi pembuka peti memori. Bunda yang kocak ketika ngoceh tentang apa saja, kerap bernyanyi saat live di IG-nya.
Sudah puluhan tahun meninggalkan tanah air dan sibuk bekerja di Jerman sana, memori lagu yang ada di kepala Bunda Corla yang paling fresh mungkin lagu-lagu koplo.
Maka lagu-lagu itulah yang kerap dinyanyikannya di siaran langsung yang ditunggu-tunggu pengemarnya di tanah air. Bunda Corla jadi idola baru.
Dari mulut Bunda Corla yang suara serak-serak becek itu, lagu seperti No Comment, Hamil Duluan, 1 Jam dan 1000 Alasan kembali menjadi populer, ngetren lagi.
Dunia bisnis selalu cekatan melihat peluang, viralitas menjadi jaminan mutu sebuah produk akan laku. Sebuah label rekaman dengan sigap mengajak Bunda Corla membuat mini album dengan judul Mari Kita Bergoyang Dangdut.
Single perdana Bunda Corla dengan judul yang sama dirilis pada 1 Januari 2023 dan dalam sehari video musiknya bisa meraup 150 ribu views serta trending di Youtube. Kini videonya sudah ditonton jutaan kali. Setelah itu disusul oleh single kedua berjudul No Comment, yang juga meraup sukses besar.
Itulah the power of viralitas, saat disukai apapun yang meluncur dari seorang idola akan digemari. Lagu yang bukan dinyanyikan oleh penyanyi sekalipun akan disukai.
Peristiwa semacam ini biasa saja, terus terjadi mulai dari Duo Keong Racun, Norman Kamaru, Udin Sedunia hingga sosok yang baru lalu yakni Fajar Sad Boy.
Seperti halnya Bunda Corla mereka menjadi penghibur sejenak.
Popularitas Bunda Corla berpuncak ketika pulang kampung ke Indonesia, menyapa pengemarnya di berbagai kota lewat meet and greet dan mini konser pada tempat-tempat hiburan ternama.
Layaknya bintang besar, pengemar Bunda Corla meruah dan menyapa dengan histeria.
Di atas panggung kelihatan kerap kali Bunda Corla lupa lirik lagunya, tapi yang menyaksikan mahklum dan semua tetap terhibur dengan goyang hebohnya.
Walau berhasil membuat heboh namun Bunda Corla tidak akan masuk dalam catatan sejarah musik Indonesia, namanya hanya akan lewat tanpa apresiasi dan pujian yang tinggi. Namun Bunda Corla pasti tak peduli. Pun demikian dengan masyarakat pengemarnya yang barangkali tak lama lagi akan lupa pernah memuja dan mengemari Bunda Corla.
Satu hal yang pasti kemudian hari dangdut koplo akan berada di permukaan kembali lewat sosok lainnya yang muncul entah karena viralitas atau karena menekuninya sebagai jalan untuk bermusik.
Koplo yang lahir dari rahim masyarakat yang tak peduli dengan penilaian soal musik berselera atau tidak akan selalu ada untuk membuat masyarakat ikut bergoyang bersama idola-idola pilihannya.
note : sumber gambar OPEN AI








