KESAH.ID – Kisah hidup Ferdy Sambo adalah cerita bintang, latar belakang, keluarga dan karirnya cemerlang. Tapi masa depan sang bintang yang gemilang berakhir dengan cepat karena kematian sang ajudan. Dalam sekejap kisah karir yang moncer, melejit dengan cepat dan mendapat hormat dimana-mana menjadi kisah tragedi Yunani. Peradilannya yang menjadi panggung sandiwara berakhir dengan keputusan hukuman mati.
Menjelang pemilu banyak lembaga survey merilis tingkat popularitas dan elektabilitas kandidat serta partai politik. Antara lembaga yang satu dengan yang lainnya umumnya mirip-mirip, namun ada juga yang jauh berbeda karena tidak semua survey berpegang teguh pada metodologi yang sahih. Bukan rahasia lagi kalau ada survey yang berprinsip “Maju tak gentar membela yang bayar”
Dalam politik pemilu terutama yang berbasis one man one vote, popularitas dan elektabilitas merupakan unsur penting. Sebagai sebuah konsep yang berbeda, keduanya berhubungan erat.
Popularitas merujuk pada sejauh mana seorang tokoh atau partai politik dikenal dan disukai oleh masyarakat. idealnya popularitas politisi atau partai politik dibangun lewat track records, pengalaman dan perjalanan karyanya dalam masyarakat, entah lewat sikap, tindakan, gagasan, ide dan juga kebijakan.
Namun popularitas juga bisa dibangun lewat pencitraan, penampilan, kharisma dan lain-lain yang tidak selamanya positif. Ada politisi atau partai politik menjadi terkenal karena terkena kasus.
Sedangkan elektabilitas adalah kemungkinan seseorang atau partai politik akan dipilih dalam pemilu, memenangkan pemilu. Popularitas pada satu sisi bisa mendukung elektabilitas namun pada sisi lain juga bisa mengembosinya. Semua tergantung dari apa yang membuat politisi atau partai politik terkenal.
Dengan demikian dalam kontek politik, popularitas tidak selalu seiring dengan elektabilitas. Di Indonesia, walau seseorang populer belum tentu memiliki elektabitas tinggi karena ada faktor lain yakni dukungan partai politik. Seseorang yang populer jika tidak didukung oleh partai politik sulit untuk menang.
Menjelang pemilu 2024, Prabowo Subianto selalu menjadi tokoh dengan popularitas tertinggi sebagai calon presiden.
Wajar saja kalau Prabowo terkenal. Putra Begawan Ekonomi, Soemitro Djojohadikoesoemo ini mulai dikenal sejak menjadi ‘Menantu Emas’ Presiden Suharto. Berkarir di militer, nama Probowo moncer lewat berbagai operasi strategis di masa orde baru. Namanya terus berkibar hingga menjelang reformasi.
Memutus hubungan dengan keluarga regim Suharto, pada tahun 2008 Prabowo mendirikan Partai Gerindra. Sejak saat itu Prabowo Subianto selalu maju dalam pemilu presiden.
Pada pemilu 2009, Prabowo maju sebagai wakil presiden berpasangan dengan Megawati Sukarno Putri. Kemudian pada pemilu tahun 2014, Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden berpasangan dengan Hatta Radjasa.
Pemilu terakhir pada tahun 2014, Prabowo kembali mencoba peruntungan menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan RI berpasangan dengan Sandiaga Uno.
Tiga kali berturut-turut maju dalam pemilu presiden terakhir dan dianggap masih akan maju dalam pemilu presiden ke depan, nama Prabowo Subianto menjadi yang teratas dalam pengenalan publik. Hampir semua yang mempunyai hak pilih mengenal Prabowo.
Soal popularitas yang bisa menyaingi Prabowo Subianto bukan Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Airlangga Hartanto atau Ridwan Kamil melainkan Ferdy Sambo.
Ini bukan hanya dugaan atau karang-karang karena berdasarkan survey yang dilakukan oleh LSI Denny JA pada Oktober 2022 lalu diperoleh hasil bahwa 87,5 persen populasi Indonesia pernah mendengar kasus pembunuhan polisi dan mengenal Ferdy Sambo.
Dan di jajaran para bakal capres 2024 yang populer hanya Prabowo Subianto yang dikenal diatas 87,5 persen. Ganjar, Anies, Airlangga, Kang Emil dan Puan yang sudah malang melintang dalam politik masih belum dikenal seluas Sambo.
Kabar baiknya, Ferdy Sambo tidak mungkin dicalonkan menjadi capres atau cawapres karena dijatuhi hukuman mati oleh hakim di pengadilan tingkat pertamanya.
BACA JUGA : Childfree Serum Anti Aging Alami
Nama Ferdy Sambo mulai dikenal sejak Juli 2022 lalu dimulai dari kisah tentang polisi baku tembak di rumah kediamannya. Kasus ini kemudian dikenal dengan nama Tembak Menembak Polisi Duren Tiga.
Kasus ini hampir menjadi kisah tembak menembak antar polisi yang biasa saja andai tak ada wartawan yang mengulik kejanggalan saat penguburan Brigadir Joshua di kampung halamannya. Upacara penguburannya terasa biasa-biasa saja untuk seorang polisi. Tidak ada upacara kehormatan militer, walau polisi tidak lagi termasuk dalam jajaran militer.
Andaikan tak ada wartawan lokal yang kepo, kasus tembak menembak yang sebenarnya adalah sebuah pembunuhan terencana tidak akan meledak dan terus mewarnai panggung pemberitaan serta obrolan publik yang terus bertahan hingga paruh bulan kedua 2023.
Drama pembunuhan terhadap Brigadir Joshua bermula dari simpang siur keterangan yang diberikan oleh kepolisian di berbagai tingkatan. Rekayasa dan penghilangan barang bukti dilakukan secara sistematis melibatkan banyak pihak lewat relasi kuasa maupun pertemanan.
Awalnya berjalan cukup mulus namun kemudian muncul pengacara yang mewakili keluarga Brigadir Joshua. Mulailah muncul duga-duga menyangkut penyebab terjadinya peristiwa. Dugaan disambut oleh pihak sebelah untuk melakukan saling bantah.
Publik kemudian terpengaruh dan mulai memunculkan praduga-praduga baru.
Kasus yang diskenariokan sebagai tembak menembak antar ajudan kemudian berkembang menjadi dramatis mengalahkan sinetron drama-drama televisi. Isu yang pertama diangkat memang seksi, pelecehan seksual dari polisi berpangkat rendah pada istri polisi berpangkat tinggi, bukan polisi biasa karena Sambo termasuk dalam salah satu bintang yang tengah naik daun di kepolisian.
Karena menyangkut pelecehan, pihak yang dilibatkan kemudian meluas. Kasus menjadi bias kemana-mana. Ada yang percaya namun banyak juga yang merasa tak masuk akal. Dalam benak publik yang lebih masuk akal adalah peselingkuhan.
Kematian Brigadir Joshua kemudian dianggap pembunuhan, dilakukan untuk menutup aib dengan cara pinjam tangan. Bharada Eliezer dikambing hitamkan. Kisah makin dramatis setelah pengacara Eliezer juga mulai bernyanyi selantang pengacara keluarga Brigadir Joshua.
Simpang siur kemudian memunculkan teori-teori konspirasi baru, masih ada yang berbau seksual namun kemudian mengarah kepada kejahatan yang disembunyikan. Brigadir Joshua dibunuh karena dianggap tahu hal-hal yang disembunyikan oleh Ferdy Sambo dan komplotannya. Joshua dikhawatirkan akan membongkarnya.
Skenario makin berkembang, muncul teori tentang perang bintang. Ada pergolakan di tubuh kepolisian, faksi-faksi sedang saling menjatuhkan. Skenario ini muncul ketika ada surat penyelidikan yang bocor, laporan yang belum ditindaklanjuti oleh kepolisian tentang korupsi polisi dalam pertambangan batubara illegal di Kalimantan Timur.
Kasus ini menyangkut seorang anggota polisi dari Samarinda bernama Ismail Bolong. Saat surat laporan hasil pemeriksaannya bocor, Ismail Bolong telah mengundurkan diri dari kepolisian. Terakhir terdengar kabar Ismail Bolong diperiksa dan ditahan di Jakarta, namun tidak ada kabar persis soal perkembangan kasusnya.
Akhirnya Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka, sebagai otak pembunuhan berencana. Ada banyak tersangka lainnya, sebagian tidak terkait dengan pembunuhan secara langsung melainkan terlibat dalam aksi untuk menghalang-halangi penyelidikan lewat berbagai persengkokolan untuk menghilangkan barang bukti, mengaburkan peristiwa yang sebenarnya.
Banyak polisi termasuk yang berpangkat cukup tinggi dipecat dan diberi hukuman yang berat.
Peradilan yang berlangsung berbulan-bulan terus diberitakan, sebagaian bahkan menyiarkan secara langsung dari ruang sidang. Peradilan atas kasus Sambo ini bisa disebut sebagai peradilan terakbar untuk abad ini.
Masyarakat yang begitu intens mengikuti perjalanan peristiwa ini pada akhirnya bersorak ketika Ferdy Sambo dijatuhi hukuman mati dan menangis haru tatkala Bharada Eliezer yang sebelum dituduh sebagai pelaku utama kemudian dijatuhi hukuman yang lebih ringan dari tuntutan jaksa karena oleh hakim dianggap sebagai justice collaborator.
BACA JUGA : Semua Akan NU Pada Waktunya
Jaksa menuntut Ferdy Sambo dengan hukuman seumur hidup, namun hakim memutuskan hukuman yang lebih tinggi yakni hukuman mati. Jarang-jarang hakim memutuskan tuntutan hukuman diatas apa yang dituntut oleh jaksa.
Namun hakim memang punya hak untuk memutuskan, apapun itu berdasarkan keyakinan mereka atas apa yang terjadi selama proses persidangan.
Masalahnya keputusan hakim untuk menganjar hukuman mati pada Sambo tidak didasari atas motif yang jelas dibalik peristiwa itu.
Banyak pihak yang mengerti hukum tentu saja tersentak diam. Umumnya mereka yang paham hukum berpendapat bahwa satu perbuatan pantas disebut jahat atau tidak karena motif yang melatarbelakanginya.
Kontroversi lainnya adalah hukuman mati tidak lagi dianggap populer. Kebanyakan negara sudah menghapus hukuman mati dari daftar kitab hukumnya. Yang lainnya masih punya namun sebagian tidak lagi diterapkan. Amnesti Internasional juga mengecam hukuman mati, karena hukuman itu mengambil hak manusia paling asasi yakni hidup.
Hanya saja publik kebanyakan masih membawa nilai “mata ganti mata” atau “darah bayar darah” maka yang membunuh lalu dihukum mati dianggap sebagai hukuman yang berkeadilan.
Di mata publik hukuman mati atas Sambo dan hukuman ringan atas Eliezer dianggap mewakili keadilan versi publik, memuaskanrasa keadilan masyarakat yang pandangannya tentang keadilannya bercorak biner.
Di luar semua pandangan itu, keputusan hukuman mati atas Ferdy Sambo memunculkan beberapa skenario termasuk diantaranya skenario perang bintang, pertempuran antar faksi yang ada di tubuh kepolisian.
Tentu saja Sambo tidak akan segera ditembak mati. Keputusan hakim masih bisa diuji lewat berbagai upaya hukum mulai dari banding sampai peninjauan kembali hingga meminta grasi pada presiden yang bisa membuat keputusan hukumannya berubah.
Prosesnya bisa panjang, kalau diulur-ulur bisa lebih dari 3 tahun sehingga nanti akan mengikuti panduan hukum sesuai dengan KUHP yang telah diperbaharui. Dalam KUHP baru yang akan diberlakukan tahun 2026 nanti, seorang terpidana mati harus menjalani hukuman 10 tahun terlebih dahulu. Dan jika mendapatkan surat kelakukan baik hukumannya bisa dikoreksi, bukan hanya jadi hukuman seumur hidup melainkan hukuman lain yang memungkinkan seorang terpidana mati akan dibebaskan setelah menjalani hukuman dalam rentang waktu tertentu paska hukuman 10 tahun pertamanya.
Dugaan lain, Sambo dijatuhi hukuman mati karena tahu terlalu banyak tentang A-Z di tubuh kepolisian, terutama hal-hal atau praktek yang tidak benar. Dijatuhi hukuman mati akan membuat Sambo nothing to lose untuk membongkar semuanya.
Jika Sambo menyanyi dengan bebas niscaya praktek-praktek busuk dalam tubuh kepolisian akan terbongkar secara meyakinkan, karena dibongkar oleh orang dalam, seseorang yang bisa jadi ikut terlibat.
Dengan demikian langkah untuk melakukan reformasi dalam tubuh kepolisian akan menjadi lebih cepat karena penyakitnya telah terkuak secara meyakinkan.
Tapi sekali lagi itu hanya duga-duga, otak atik matuk kata orang Jawa. Yang pasti kasus dan persidangan yang melibatkan Ferdy Sambo patut digelari sebagai persidangan abad ini. Belum ada sebuah kasus yang mampu terus menarik perhatian masyarakat selama dan sepanjang kasus ini. Bahkan di tengah jaman dimana informasi sangat cepat bergerak, saling timpa satu sama lain, kasus Sambo tetap bertahan, berada dalam top mind masyarakat Indonesia di berbagai lapisan.
Akan seperti apa Sambo pada akhirnya, mungkin kita tak perduli lagi karena sebagian akan segera lupa. Bahkan ketika kelak 3, 4, 5 atau berapa tahun lagi Sambo kemudian dibebaskan mungkin kita tak akan peduli lagi.
note : sumber gambar – DISWAY.ID








