KESAH.IDNahdatul Ulama telah memasuki usia 100 tahun. Dalam perjalanan panjangnya NU dan kaum nahdiyin mengalami pasang surut dalam hubungannya dengan regim politik kepemerintahan. Sering ada seruan kepada NU untuk kembali ke khittahnya dengan meninggalkan politik praktis dan fokus pada kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan dan bidang-bidang lain yang bersentuhan dengan kesejahteraan masyarakat banyak. Namun paska reformasi selalu sulit bagi NU untuk terbebas dari politik praktis, terlebih saat menjelang perhelatan pemilu.

Dahlan Iskan yang catatan hariannya saya baca setiap hari, menuliskan 4 artikel tentang Nahdatul Ulama yang tengah merayakan harlah ke 100 atau satu abad.

Tulisan pertama berjudul Abad Fikih, menyorot gong yang akan dibawakan dan diungkapkan oleh Ketua PBNU, Kyai Yahya Staguf tentang hasil Muktamar Fikih Peradaban.

Konon Fikih Peradaban akan dicanangkan sebagai kerja besar NU memasuki masa seratus tahun keduanya. Setelah selama seratus tahun pertama memperjuangkan ahli sunnah wah jamaah, seratus tahun berikutnya NU akan melakukan kerja besar membangun peradaban.

Fikih Berubah menjadi tulisan kedua Dahlan Iskan perihal satu abad NU. Lewat artikel ini Dahlan menguraikan perjalanan Fikih Peradaban yang dimulai sejak Kyai Yahya Staguf terpilih sebagai Ketua PBNU.

Hasil Muktamar Fikih Peradaban yang akan dibacakan dalam acara puncak harlah NU ke 100 diperoleh dari 280 halaqah yang diselenggarakan di pesantren-pesantren terkemuka NU.

Tulisan ketiga dari Dahlan Iskan berjudul Abad Banser. Sebuah tulisan ringan yang menceritakan Dahlan gagal masuk acara puncak walau mempunyai undangan VIP karena terjebak kemacetan di jalan tol.

Menyaksikan rangkaian acara puncak lewat live streaming, Dahlan Iskan melihat penampilan yang paling mencolok dan menonjol dalam puncak harlah NU berasal dari Banser NU. Di atas panggung, penampilan Banser diwakili oleh Erick Thohir, Menteri BUMN yang merupakan ketua panitia harlah NU ke 100. Erick Thohir menyampaikan pidato sambutan dengan memakai baju Banser.

Tulisan keempat atau yang terakhir berjudul Salam Baru. Dahlan Iskan menguraikan tentang kebiasaan jamaah NU mengucapkan salam ala NU. Salam yang konon diciptakan untuk membedakan mana yang jamaah NU atau bukan.

NU dikenal memiliki kekhasan dalam mengucapkan salam yakni Yakni memasukkan kalimat billahi taufiq wal hidayah. Itu diucapkan sebelum salam penutup wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Namun salam itu menjadi sangat populer dan kemudian banyak dipakai oleh jamaah atau kelompok lainnya. Salam itu kemudian terasa tak khas NU lagi. Gus Dur sekalipun tidak lagi menggunakannya, jika ditanya alasannya, sambil bergurau akan menjawab “Salam itu dipinjam Golkar dan tidak pernah dikembalikan lagi,”

Maka diciptakan tambahan salam yang baru, yang lebih sulit diucapkan oleh mereka yang tak belajar atau terbiasa dengan kehidupan pesantren yakni wallahul muwafiq ila aqwamit tharieq.

Dengan kalimat yang sulit itu maka mudah dibedakan siapa yang NU dan bukan.

Tapi sejarah juga berulang karena NU itu penting maka salam ala NU juga mulai dihafalkan dan diucapkan dengan fasih oleh siapa saja.

Peringatan Harlah NU ke 100 memang luar biasa. Saya tidak hanya membaca tentangnya lewat catatan harian Dahlan Iskan. Kemeriahan puncak acara harlah pada Selasa, 7 Februari 2023 juga saya baca di status teman-teman Banser Kaltim yang datang dengan menumpang kapal laut.

Pergi ke harlah mengarungi lautan, di Sidoarjo para Banser kemudian menghadapi lautan manusia.

Kurang lebih 100 anggota Banser berangkat bergelombang dari Pelabuhan Semayang Balikpapan menuju Tanjung Perak Surabaya. Menantang gelombang laut bukan halangan, namun begitu di Sidoarjo para Banser ini mesti berjuang membelah gelombang lautan manusia, Nahdiyin yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.

Tanpa Banser para tetamu, undangan yang terhormat dan tokoh-tokoh lain yang mesti tampil di panggung kehormatan tidak akan bisa tiba di tempat penyelenggaraan acara.

Dengan melupakan rasa haus dan lapar, Banser menyibak dengan penuh hormat lautan manusia demi suksesnya panggung acara Harlah NU memasuki abad keduanya sesuai penanggalan Islam.

BACA JUGA : Terpujilah Anak Anak Muda

Meski di-katolik-kan tak lama sesudah lahir, saya dibesarkan dalam lingkungan masyarakat dan keluarga besar muslim. Awalnya saya mengenal dua kecenderungan besar yang berbeda diantara masyarakat dan keluarga besar saya. Misalnya perayaan lebaran atau idulfitri yang berbeda hari.

Selain itu ketika ada yang meninggal, ada keluarga yang lek-lek-an ada yang tidak.

Kelak saya tahu dua hal yang berbeda yang dipraktekkan oleh masyarakat dan keluarga saya yang muslim ternyata berasal dari afiliasi tradisi yang berbeda. Yang satu mempraktekkan tradisi Nahdiyin dan yang satunya mengamalkan tradisi Muhammadiyah.

Tentu saya lebih dekat dengan tradisi kaum Nahdiyin karena menyenangkan. Saya senang pakai sarung kalau mewakili bapak pergi kendurian. Walau sering mlotrok karena tak terbiasa,  kancing gulungan sarung menjadi tempat saya untuk menyimpan rokok yang disajikan dalam gelas pada saat acara kenduri.

Tradisi lain yang saya tunggu-tunggu adalah Nyadran. Biasanya dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan atau bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa.

Pada hari yang ditentukan masyarakat beramai-ramai pergi ke kuburan, yang dibawa bukan hanya alat untuk bersih-bersih melainkan juga alat memasak dan bahan makanan termasuk seekor kambing yang masih hidup untuk disembelih disana.

Seluruh lingkungan kuburan dibersihkan dan setelah selesai akan ditutup dengan syukuran makan bersama.

Menilik sejarahnya, Nyadran adalah sebuah ritual atau upacara yang mulai dilakukan oleh masyarakat Jawa {tengah} sejak masa Hindu di Nusantara. Nyadran berasal dari kata sharadda sebuah upacara penghormatan pada arwah nenek moyang yang dianggap suci.

Upacara ini dimaksudkan sebagai bentuk rasa hormat pada nenek moyang dan syukur atas berkah air serta alam yang berlimpah.

Seiring dengan masuknya ajaran Islam terjadi pertemuan antara Hindu dan Islam dalam kebudayaan Jawa. Penyebaran agama Islam yang masif di tanah Jawa tak lepas dari peran Wali Songo.

Islam berhasil masuk dalam masyarakat Jawa Hindu dengan damai karena para wali memasukkan ajaran agama Islam dalam budaya yang telah ada sehingga mudah diterima.

Islam kemudian diterima oleh masyarakat Jawa lewat inkulturasi. Masyarakat Hindu Jawa kemudian menjadi masyarakat Muslim, mempunyai iman dan kepercayaan yang baru namun tidak kehilangan tradisi lama.

Tradisi lama yang berhubungan dengan Hinduisme dan juga Kejawen kemudian diberi tafsir baru yang sesuai dengan ajaran Islam.

Menghidupi ajaran Islam dengan corak seperti itu membuat NU kerap disebut sebagai kelompok Islam tradisional. Bukan dalam pengertian kuno atau ketinggalan jaman. Melainkan dalam konteks mewujudkan Islam yang khas Indonesia dengan cara mengintegrasikan teologi Islam dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya dan adat istiadat di Indonesia.

Menerjemahkan teks dalam konteks Nusantara {Indonesia} kemudian NU menyebut istilah Islam Nusantara.

Istilah Islam Nusantara tentu saja memancing pro dan kontra. Lepas dari segala salah sangka, prasangka buruk dan caci maki atas konsep itu, pro kontra semacam ini biasa untuk NU. Ini dikarenakan sejak lahirnya NU membawa semangat progresif untuk membawa ajaran dan syariat Islam tetap relevan dan sesuai dengan perkembangan jaman.

Kaum yang sering diidentikkan dengan sarungan ini sepanjang perjalanan sejarahnya mencatatkan pembaharuan-pembaharuan dalam pemikiran Islam di Indonesia bahkan di dunia.

Semangat pembaharuan itu terus diusung hingga sekarang. Ketua PBNU Kyai Yahya Staguf membawa Fikih Peradaban menjadi bidang garapan untuk membawa NU memasuki abad keduanya.

BACA JUGA : Bard Langkah Google Masuk Medan Perang AI Generatif

Menjadi ruang gerak keagamaan Islam dari kurang lebih 108 juta warga muslim Indonesia, organisasi kaum nahdiyin ini niscaya bisa disebut sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan barangkali di dunia.

Melihat kiprahnya selama satu abad, NU tidak hanya terbatas melakukan kegiatan bersifat keagamaan belaka, aktifitas sosial kulturalnya juga luas dan NU juga aktif dalam kegiatan politik baik politik praktis maupun umum.

Kelahiran NU memang tidak lepas dari sebuah respon keagamaan dan politik. Keberadaan NU bermula dari kebijakan baru Raja Saud yang ketika menduduki tahta sebagai pemimpin baru di tanah Hijaz yang sekarang kita kenal sebagai Arab Saudi.

Raja Saud yang beraliran Wahabi ketika bertahta memberlakukan kebijakan memberlakukan larangan bermazhab di Arab Saudi. Kaum muslim yang bermazhab akan dihukum. Tersiar pula kabar tentang penghancuran situs-situs Islam bersejarah dan rencana pembatasan ibadah haji.

Di Surabaya, pada 31 Januari 1926, KH Hasyim Asy’ari memimpin pertemuan para kyai untuk berembuk dan memilih delegasi yang akan berangkat ke Muktamar Alam Islami di Mekkah.

Ada lima poin yang berhasil disepakati dalam pertemuan itu sebagaimana dicatat oleh Choirul Anam dalam Pertumbuhan & Perkembangan NU (1985), yakni memberikan kemerdekaan bermazhab bagi muslim di Hijaz; meminta tempat bersejarah tak dihancurkan, seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan makam Nabi Muhammad; meminta pemerintah Hijaz mengumumkan tarif ibadah haji setiap tahun sebelum datangnya musim haji; meminta semua hukum di Hijaz ditulis agar lebih jelas dan tidak terjadi pelanggaran; dan meminta pemerintah Hijaz membalas pesan yang dikirimkan.

KH Raden Asnawi dari Kudus, Jawa Tengah terpilih sebagai delegasi untuk membawa pesan itu. Masalahnya delegasi ini mewakili siapa?.

KH Mas Alwi kemudian mengusulkan nama Nahdalatul Ulama dan disepakati para kyai lainnya. Dari kesepakatan itu kemudian ditandatangani nota pendirian NU.

Selama satu abad perjalanan politik NU ibarat gelombang, naik turun mengikuti perkembangan dan kadang-kadang menimbulkan ketegangan dalam dirinya sendiri maupun dengan para pihak di luar.

Namun magnet NU dalam politik selalu kuat. Pernah menjadi partai politik namun kemudian dilebur, NU juga menjadi basis dari lahir beberapa partai politik baru setelah reformasi.

Seing muncul seruan untuk kembali ke khittah agar murni menjadi gerakan keagamaan, budaya dan politik kemasyarakat umum, namun dengan jumlah jemaah yang teramat besar akhirnya NU mesti terus bersinggungan dengan politik praktis.

Suka tidak suka semenjak reformasi, pucuk pimpinan tertinggi hampir selalu diduduki oleh kaum Nahdiyin. Mulai dari Gus Dur, Jusuf Kalla hingga kini KH Mar’uf Amin.

NU memang selalu menjadi magnet politik dari pemilu ke pemilu pasca reformasi. Ibarat panggung, NU selalu menjadi tempat figur-figur politik untuk berebut simpati dan suara.

Yang terbaru, Erick Thohir, Menteri BUMN yang disebut-sebut sebagai calon wakil presiden paling potensial rela mengikuti kaderisasi GP Ansor dan Banser NU. Setelah menjadi anggota NU, Erick kemudian didaulat menjadi Ketua Panitia Harlah Satu Abad NU.

Saya kerap mendengar keluhan dari seorang kawan tentang betapa berkuasanya partai politik di Indonesia. Dia kerap mengatakan untuk menjadi apa saja di Indonesia ini harus lewat partai politik.

Ada benarnya. Namun saya lebih percaya pada anekdot yang berkembang diantara kaum nahdiyin, terutama pada saat menjelang pemilu. Setengah bergurau sambil menyiratkan rasa bangga, teman-teman nahdiyin saya kerap mengatakan “Semua akan NU pada waktunya.”

note : sumber gambar – NU.OR.ID