Penjajah pasti buruk karena selalu menindas dan menganggap rendah yang dijajah. Meski begitu kadar keburukan antara bangsa penjajah yang satu berbeda dengan yang lainnya.
Dulu sewaktu masih belajar di bangku sekolah menengah, saya dan beberapa teman pernah berandai-andai tentang hal itu. “Andai saja dijajah oleh Inggris, mungkin saja sekarang Indonesia lebih maju,” begitu duga-duga kami waktu itu.
Membandingkan antara bekas jajahan Inggris dan Belanda memang terasa berbeda. Bekas negara jajahan Inggris masih diurusi, ada perserikatan di antara mereka. Daerah yang masih aktif diduduki oleh mereka yakni Hongkong, nampak juga lebih maju dari wilayah lain di China daratan.
Sebagai bekas negara jajahan Belanda, pelajaran bahasa asing di sekolah adalah bahasa Inggris. Sehingga ada seorang teman yang kepala selalu pusing setiap tiba pelajaran bahasa Inggris berujar “Kalau saja dulu dijajah Inggris pasti kita semua nggak kesulitan ngomong Inggris,”.
Begitulah selalu ada yang terbaik di antara terburuk . Padahal yang namanya penjajah selalu saja buruk. Dibandingkan dengan Belanda, Inggris juga tidak lebih baik. Ketika mengkoloni daerah Shanghai, kolonial Inggris memperlakukan orang China tak lebih dari binatang.
Di sebuah pintu gerbang pada sebuah taman tertulis papan peringatan “Dilarang masuk : anjing dan orang China”.
Sementara dalam berbagai catatan sejarah Indonesia, penjajah Belanda selalu menempatkan orang China lebih tinggi derajatnya dari kaum pribumi Indonesia yang disebut sebagai inlander.
Saat Belanda membuat layanan angkutan umum kereta api atau trem di perkotaan, inlander tak leluasa untuk menaikinya. Belanda membuat kelas, kelas utama atau kelas 1 khusus untuk kaumnya, Belanda dan Eropa, kelas 2 hanya boleh dinaiki oleh orang China dan Arab. Dan kelas 3 atau yang biasa disebut sebagai kelas kambing, baru bisa dinaiki oleh orang pribumi Indonesia.
Lama dijajah oleh Belanda, perilaku mereka sebagai penjajah kini diabadikan dalam banyak bentuk kebijakan serta perilaku kebijakan para pemimpin, pembesar dan punggawa negeri.
Wargapun atas salah satu cara juga terus memelihara watak sebagai inlander, alih-alih bangga terhadap karya dan produk bangsa sendiri, sebagian besar warga negeri ini dalam hal konsumsi atau apapun lebih berorientasi pada produk luar negeri.
Masyarakat post kolonial pemerintah dan perangkatnya memang belajar mengelola negara serta pemerintahan seperti halnya para penjajah. Rajin benar membuat peraturan yang isinya melarang-larang dan memungut-mungut ini serta itu.
Sementara rakyatnya meski dipompa dengan jargon dan doktrin nasionalisme tetap saja selalu merasa tak percaya diri, inferior jika berhadapan dengan warga dari negeri lainnya. Semua yang datang dari luar negeri selalu dianggap lebih baik, lebih bermutu dan lebih bergengsi.
BACA JUGA : Politik Dinasti
Karena tanahnya subur, kaum kolonialis mulai dari Spanyol, Portugis hingga Belanda banyak membawa berbagai tanaman komoditas untuk dibudayakan di negeri Nusantara.
Salah satu yang sangat terkenal hingga sekarang adalah tembakau. Tanaman dengan nama latin nicotina tabacum dipercaya berasal dari benua Amerika, entah bagian selatan atau utara.
Dilihat dari namanya, penyebutan tembakau kemungkinan berasal dari bahasa Spanyol yaitu tabaco.
Sebagai komoditas, tanaman tembakau dikelola secara besar-besaran pada masa kolonial Belanda. Tingginya nilai tembakau di Eropa membuat Gubernur Jenderal Belanda menetapkan kebijakan kultur stelsel, tembakau adalah salah satu komoditas yang wajib ditanam.
Belanda membuka onderneming atau perkebunan raksasa yang ditopang oleh oleh tanam paksa. Pada masa itu tembakau Deli, sangat ternama di Eropa.
Produksi yang berlebihan dan perilaku buruk terhadap pekerja perkebunan, membuat produk tembakau Belanda menurun harganya. Sejak tahun 1904 jumah perkebunan tembakau terus menurun. Meski demikian setelah jaman kemerdekaan produk tembakau dari Indonesia masih dianggap sebagai salah satu yang terbaik.
Meski dibawa oleh kaum kolonial dan dijadikan komoditas untuk memeras keringat rakyat, namun tembakau kemudian berkembang menjadi tanaman budidaya dan mata pencaharian bagi sebagian masyarakat hingga sekarang.
Tembakau, baik sebagai tanaman maupun sebagai bahan konsumsi kemudian dekat dengan masyarakat Indonesia, dianggap menjadi bagian dari budaya nusantara. Ada banyak kisah tentang tembakau baik dalam bentuk folklore maupun ritual.
Di lereng Gunung Sumbing, Sindoro dan Prau dikenal upacara among tebal. Upacara ini dilakukan saat menjelang penanaman bibit tembakau di hari pertama. Upacara ini ditujukan untuk menghormati orang suci yang dipercaya memperkenalkan bibit tembakau untuk pertama kali. Menurut cerita, bibit tembakau konon diperoleh Ki Ageng Makukuhan dari Sunan Kudus.
‘Mbako’ atau tembakau konon berasal dari ucapan Ki Makukuhan saat mengobati orang sakit dengan mengatakan “Iki tambaku” {ini obatku}. Dan orang sakit itu sembuh.
Di Candi Borobudur dan Candi Sojiwan terdapat relief yang mengambarkan tempat sirih dan wadah dubang serta figur orang mengunyah. Gambar itu ditsfsir sebagai tengah mengunyah sirih.
Dalam tradisi Jawa mengunyah sirih atau nginang kemudian identik juga dengan nyusur atau mengunyah tembakau. Tak ada perbedaan prinsip antara nyirih, nyereh, nginang dan nyusur, membuat berkembang tafsir spekulatif bahwa tembakau telah dikenal oleh masyarakat Nusantara sebelum kedatangan orang Eropa.
Kisah kedekatan masyarakat Nusantara dengan tembakau juga dicatat dalam Babad Tanah Jawa. Rokok mulai digemari orang Jawa setelah Panembahan Senapati wafat. Menurut catatan Sultan Agung, Raja Mataram adalah perokok kelas wahid.
Kisah rokok juga ada dalam cerita Rara Mendut dan Pranacitra. Dalam kisah percintaan ala Romeo dan Juliet dengan latar masa pemerintahan Sunan Amangkurat I, rokok diceritakan sebagai barang yang populer dan dikonsumsi secara luas. Merokok disebut dengan istilah ngudut {ngaudut}, eses atau ses.
Istilah rokok atau merokok baru muncul di abad 19, berasal dari kata Belanda ro’ken. Istilah ini untuk menyebut orang yang mengisap pipa atau cerutu.
Dan hingga kini merokok menjadi salah satu kegemaran sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun sebagai kesukaan masyarakat dalam sepuluh atau duapuluh tahun terakhir ini mulai dibenci oleh pemerintah.
BACA JUGA : Kaum Ekstimis Bernama Vegan
Memberi pendapatan kepada negara 100 trilyun lebih per tahun, menyediakan lapangan kerja bagi ribuan orang dan memberi keuntungan kepada banyak pedagang kecil, rokok semakin hari semakin diemohi oleh negara.
Wacana untuk membuat harga rokok menjadi sangat mahal sehingga yang biasa merokok akan mengurangi atau berhenti mengepulkan asap semakin mendekati kenyataan.
Negara atau pemerintah merasa perlu mengontrol konsumsi rokok karena kebiasaan merokok dapat menurunkan kwalitas kesehatan dan produktifitas masyarakat. Konon penyakit akibat rokok membuat negara mengalami kerugian atau kehilangan uang berkali lipat dari penghasilan yang disumbangkan oleh cukai rokok atau cukai hasil tembakau.
Adalah benar bahwa negara atau pemerintah ingin rakyatnya produktif dan sehat serta hidup berkualitas. Dan sayangnya urusan produktifitas, kesehatan dan kualitas hidup tidak semata hanya berdasarkan rokok. Bahkan ketika seluruh rakyat Indonesia tidak merokok, tak berarti produktifitas, kesehatan dan kualitas hidupnya akan otomatis membaik.
Rokok kerap kali dijadikan kambing hitam. Seseorang yang sakit akan ditanya “Merokok atau tidak?” begitu menjawab merokok, maka rokok segera akan disebut sebagai penyebab penyakitnya.
Di masa lalu, obat sering dianggap sebagai racun. Maka obat hanya dikonsumsi pada saat dibutuhkan. Namun kini muncul kecenderungan lain, ada banyak obat dikonsumsi terus menerus dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup. Contohnya agar bisa tetap berkonsentrasi, agar tetap bugar, agar berat badan seimbang, agar tetap bisa ereksi dan lain sebagainya.
Pun demikian halnya dengan rokok. Negara atau pemerintah terlalu banyak berada dalam sisi timbangan negatif. Tidak menghitung atau mengkonversi nilai kesenangan, kebahagiaan, semangat, konsentrasi dan hal-hal lain yang ditimbulkan karena merokok.
Kesimpulan bahwa rokok menimbulkan masalah yang lebih besar ketimbang manfaatnya kerap kali kurang jujur karena ada kepentingan-kepentingan tertentu. Termasuk salah satu diantaranya adalah tidak suka melihat rakyat senang.








