Diajak bertemu untuk ngobrol-ngobrol di restoran tentu saja menyenangkan. Namun ada kalanya ajakan seperti itu saya tolak bukan karena sok sibuk atau apapun melainkan karena restoran yang dipilih serasa tak cocok serta tak nyaman untuk ditongkrongi.
Resto yang biasanya saya tolak itu adalah resto vegan yang berada pada salah satu religius centre di Samarinda. Saya tak bermasalah dengan apapun yang ada dan disajikan disana, satu-satunya masalah – sayangnya itu yang paling penting untuk saya adalah tak ada satu sudutpun di kompleks itu yang memungkinkan saya untuk mengepulkan asap rokok.
Dan apa asyiknya ngobrol berjam-jam tanpa mengepulkan asap rokok?.
Kalau soal vegan, vegetarian atau gaya hidup yang menghindari mengkonsumsi daging jelas saya mendukung. Dari sebuah buku yang judul dan penulisnya saya lupa, tertulis bahwa cara makan manusia jaman sekarang sebenarnya kurang sehat karena lebih meniru gaya makan harimau. Manusia terlalu banyak makan daging, padahal melihat struktur giginya, seharusnya cara makan manusia lebih mendekati kambing.
Tapi apa boleh buat, sebab daging memang enak dan dianggap lebih bergizi sehingga cenderung disukai ketimbang sayuran, tahu dan juga tempe.
Selain itu semakin makmur sebuah masyarakat nampaknya kebiasaan makannya juga berubah, lebih banyak makan daging.
Di jaman saya kecil yang jarang-jarang makan daging dan andai ada telur biasanya akan didadar lalu dibagi-bagi. Jaman itu yang namanya warung sate, rumah makan ayam dan lainnya amat jarang. Maka makan di restoran merupakan peristiwa besar, bahagianya bisa berhari-hari.
Namun kini mulai dari jalan utama hingga ke gang-gang kecil yang namanya rumah makan, warung, kios bahkan penjual keliling semuanya menjajakan makanan penuh dengan daging.
Di media sosial terutama di youtube istilah ‘daging’ juga populer. Konten yang bernas, bermutu dan penuh dengan ilmu sering disebut sebagai ‘daging’ semua isinya. Daging merujuk pada selain enak dinikmati juga penuh ‘gizi’ atau bermutu.
Sebaliknya sayur, seperti dalam istilah ‘ayam sayur’ artinya adalah orang lemah, tak berdaya dan pengecut.
Hanya saja meski doyan makan daging seperti singa dan harimau, manusia tak sudi menyebut dirinya sebagai mahkluk buas. Padahal kurang buas apa manusia dibanding singa dan harimau?. Bukankah semua-semua dimakan oleh manusia?.
BACA JUGA : Scouting
Nenek moyang manusia yang kerap disebut sebagai hominin atau hominid, nenek moyang para primata atau kera-kera besar pada mulanya bukanlah pemakan daging. Hominid di masa lalu itu hidup dengan mengkonsumsi buah, pucuk daun, biji, bunga, kulit kayu dan umbi-umbian.
Perubahan bentang alam kemudian menimbulkan tekanan hidup. Hidup di dalam hutan namun kemudian hutan berubah menjadi padang rumput dimana banyak herbivor merumput, membuat hominid yang tadinya adalah pengumpul kemudian menjadi pemburu.
Hominid kemudian mengenal sumber makanan baru yaitu daging dari herbivor. Mulanya bukan dengan membunuh melainkan memulung dari sisa para predator. Namun lama kelamaan hominid kemudian mempunyai kemampuan berburu, mengembangkan teknologi untuk menangkap dan membunuh binatang buruan.
Awalnya daging dimakan sebagai daging mentah. Tentu belum terlalu lezat dan butuh banyak energi untuk mencernanya. Namun ketika hominid mengenal api, mampu menahklukkan api, mengkonsumsi daging menjadi menyenangkan. Daging yang dibakar, dipanggang atau diasapi menjadi lebih mudah dicerna dan lebih lezat rasanya.
Keturunan hominid, terutama manusia {homo sapiens} kemudian menjadi yang terdepan dalam urusan mengkonsumsi daging. Menguasai api, mampu mengembangkan teknologi perburuan hingga budidaya serta tradisi kuliner yang kaya kemudian menempatkan manusia sebagai penguasa tertinggi piramida rantai makanan. Manusia menjadi pemakan segala.
Kelak terbukti kebiasaan makan segala terutama daging yang lezat membuat manusia terbiasa makan berlebihan. Daging yang dimasak rica-rica bikin nafsu makan meledak, pedas di mulut merangsang untuk tambah nasi. Selain kelebihan berat badan, di dalam tubuh juga akan terjadi penumpukkan berbagai zat atau material berbahaya.
Kondisi yang kemudian melahirkan berbagai macam penyakit baru untuk manusia, salah satu yang terkenal adalah kanker.
Masalah lain yang kerap timbul adalah masalah pencernaan seperti perut kembung dan sembelit.
Masalah populer lain akibat pola makan yang tidak seimbang dan berlebihan adalah peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh. Kelebihan kolestrol akan menimbulkan sakit kepala, tidak nyaman di tengkuk, kesemutan, rasa kebas di dada dan lain-lain.
Meski menimbulkan banyak masalah namun daging dan segala olahannya tetap menjadi kuliner kesukaan manusia.
BACA JUGA : Ajining Raga Saka Busana
Gaya dan pola makan yang tidak senada dengan bawaan alam membuat banyak kelompok manusia berada dalam masalah. Orang-orang yang makmur banyak yang penyakitan dan makin banyak laki-laki muda terkena serangan jantung.
Lahirlah gaya hidup yang kemudian menerapkan pola makan tanpa mengkonsumsi makanan yang berasal dari hewan. Para penganjur dan pengikutnya tidak makan daging, mulai dari daging sapi, daging babi, daging unggas, ikan, udang hingga kerang-kerangan.
Kaum yang menyebut diri sebagai vegetarian ini hanya mengkonsumsi makanan berupa sayur, buah-buahan, kacang-kacangan dan biji-bijian. Selain itu mereka juga mengkonsumsi umbi-umbian serta jamur.
Yang disebut sebagai vegetarian mempunyai beberapa tipe, seperti :
Lacto-vegetarian yang tidak mengkonsumsi daging merah, daging unggas, ikan dan telur tetapi masih mengkonsumsi susu dan produk turunannya.
Ovo-vegetarian yang tidak mengkonsumsi semua makanan yang berasal dari hewan beserta produk turunannya namun membuat perkecualian untuk telur.
Lacto-ovo-vegetarian yang tidak mengkonsumsi daging merah, daging unggas dan ikan namun tetap mengkonsumsi telur, susu dan produk olahannya seperti keju dan yoghurt.
Selain tipe diatas ada juga yang disebut sebagai fleksitarian dan pescatarian. Fleksitarian tidak mengkonsumsi daging merah tetapi terkadang masih mengkonsumsi ayam, ikan, susu dan produk turunannya.
Sedangkan pescatarian tidak mengkonsumsi daging merah dan daging unggas tetapi mengkonsumsi ikan dan makanan laut lainnya.
Dengan demikian fleksitarian dan pescatarian secara teknis tidak termasuk dalam tipe vegetarian.
Diluar gaya dan pola makan vegetarian ada juga yang disebut dengan vegan. Tidak disebut sebagai vegetarian karena vegan dianggap sebagai versi ekstrem dari gaya hidup vegetarian.
Kaum vegan tidak hanya menolak dan menghindari makanan yang bersumber dari hewan. Namun mereka juga menghindari segala macam bentuk ekploitasi pada hewan. Ekploitasi yang selain manjadikan hewan sebagai sumber makanan juga bahan pakaian, kosmetik maupun tujuan lainnya.
Kaum vegan akan menolak produk turunan yang bersumber dari hewan yang meliputi gelatin, madu, albumin, kasein dan suplemen minyak ikan.
Akhirnya gaya atau pola makan mana yang terbaik?.
Hidup sehat tidaklah hitam putih. Ada banyak hal yang mempengaruhi kualitas kesehatan manusia dalam hal konsumsi makanan. Tidak ada yang bisa dimutlakkan.
Apa yang paling penting dipenuhi adalah kebutuhan tubuh yang terdiri dari asupan luar yang kemudian bisa mendorong tubuh untuk memproduksi kebutuhan lain dalam dirinya.
Secara sederhana tubuh butuh nutrisi, berupa makro dan mikro nutrisi. Dan sebagaian kebutuhan nutrisi itu bisa dipenuhi dengan makanan bergizi.
Nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh antara lain protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air.
Nasehat terbaik soal makan adalah hidup bukan untuk makan melainkan makan untuk hidup. Itu artinya bijaklah dalam memilih dan memilah apa yang hendak kita makan. Sebab kunci dari kesehatan tubuh ada pada apa yang kita makan sehari-hari.








