Beberapa kali saya mendapat tugas yang sepele namun menyenangkan yakni jalan-jalan untuk menemani seseorang menuju sebuah tempat guna mengikuti suatu acara.

Salah satunya adalah pergi ke Jakarta, naik pesawat untuk mengantar seorang warga masyarakat terdampak tambang di Minahasa menjadi narasumber dalam sebuah pertemuan.

Karena warga yang dipilih sebagai nara sumber ini belum pernah bepergian ke luar daerah dengan menumpangi pesawat maka saya dipilih untuk mendampinginya agar dia mau berangkat dan percaya diri datang ke Kota Jakarta dengan menumpangi pesawat.

Kali lain saya pergi ke Bali dengan tugas yang sama. Membawa dan menemani seorang anak terdampak tambang untuk hadir dan mengikuti Indonesian People Forum. Kasusnya juga sama, anak ini belum pernah bepergian jauh keluar dari kampungnya. Dia hanya mau pergi kalau ada seseorang yang dikenal menemaninya.

Untuk tugas semacam itu tanpa berpikir panjang biasanya saya langsung mengiyakan. Selain karena menyenangkan, saya juga paham bahwa memasuki pengalaman baru untuk pertama kalinya tidak selalu menyenangkan. Untuk mereka yang tak punya jiwa petualangan yang besar selalu dibutuhkan pemompa rasa percaya diri yang besar dan salah satunya adalah kehadiran orang yang dikenal serta mau menemaninya.

Tak sedikit orang melewatkan kesempatan ‘besar’ hanya karena takut pergi naik pesawat, kapal atau moda transportasi lainnya sendirian. Meski diterangkan bagaimana cara dan urutannya belum tentu mau. Andai sudah khawatir sejak awal, tutorial apapun memang kerap tak berguna.

BACA JUGA : Ajining Raga Saka Busana

Di masa kecil saya dulu dikenal istilah ‘bawang kopong’. Istilah ini disematkan kepada anak-anak yang ikut bermain namun tidak ‘dianggap’ sebagai pemain sungguhan.

Yang disebut bawang kopong biasanya anak-anak yang umurnya atau keahliannya tidak setara dengan yang lainnya. Namun ingin tetap ikut bermain.

Diperbolehkan ikut namun permainannya tidak dihitung atau dinilai, anak atau seseorang tersebut akan disebut sebagai ‘bawang kopong’.

Istilah bawang kopong bukanlah istilah yang merendahkan atau melecehkan. Tapi justru merupakan sebuah diskriminasi positif. Karena umur atau hal lain sebenarnya anak tersebut belum layak atau tidak boleh ikut, namun kemudian boleh ikut serta meski tidak diperhitungkan.

Anak-anak yang lebih kecil biasanya tidak keberatan dianggap sebagai bawang kopong, mereka senang karena boleh ikut bermain, terlibat dan tidak kesepian karena hanya bermain sendiri.

Saya dulu juga pernah menjadi bawang kopong di Taman Kanak-Kanak. Ikut bersekolah walau tak tercatat sebagai murid resmi. Saya hanya ikut-ikutan karena iri melihat anak-anak lain pergi ke sekolah. Baru nanti pada tahun kedua, saya benar-benar tercatat sebagai murid Taman Kanak Kanak.

Bawang kopong ibarat mentoring, mencoba pengalaman sesuatu tanpa beban karena kalau salah atau tidak bisa akan dimaklumi. Dengan menjadi bawang kopong, seorang anak belajar dan mempersiapkan diri jika nanti berada dalam situasi atau kondisi tertentu, saat ada tuntutan untuk ini atau itu jika mengikuti permainan atau hal-hal lainnya.

Dalam kehidupan kerap kali kita memang perlu mencoba sesuatu agar tahu. Tidak selalu hal-hal yang rumit atau sulit melainkan juga hal-hal yang sederhana seperti memesan kopi di Starbuck.

Ada banyak orang kecele dan merasa diabaikan di Starbuck karena dia datang masuk dan kemudian duduk manis di kursi menunggu ‘pelayan’ datang menawarkan daftar menu dan menanyakan pesanan.

Padahal cara pesan di Starbuck tidak demikian. Seseorang harus langsung datang ke kasir dan menyebutkan pesanannya. Setiap pesanan akan diberi nama karena nanti bila pesanan sudah siap akan dipanggil. Tidak ada pesanan yang akan diantarkan ke meja tempat pelanggan menunggu.

Pesan di Starbuck juga bisa bikin kikuk. Sebab Starbuck punya istilah sendiri untuk ukuran gelasnya. Starbuck tidak menamai gelas dengan kecil, sedang dan besar, melainkan tall, grande dan venti. Tall kurang lebih setara dengan 354 ml, grande setara dengan 473 ml dan venti setara dengan 591 ml. Sembarang menyebut salah-salah mesti menghabiskan kopi panas lebih dari setengah liter sendirian.

Tata cara seperti ini kemungkinan besar hanya diketahui oleh mereka yang sudah pernah pergi kesana. Yang sebagian diantaranya juga mengalami pengalaman yang membuat senyam-senyum malu sendiri.

Agar tak terjerumus, malu atau kikuk maka menguasai ruang atau atmosfer menjadi penting. Caranya tentu saja dengan mencoba meski sebenarnya tak kita perlukan. Bisa jadi kita tak perlu pergi ke mall atau hotel, tapi coba saja agar nanti tak gugup menaiki escavator, menyurusi lorong mall yang mungkin membingungkan, atau tak paham jika naik ke lantai kamar hotel mesti lift-nya memakai kartu.

Coba-coba ini penting agat nanti tidak minder atau bikin malu ketika ada saatnya sungguh perlu untuk pergi ke mall atau hotel.

BACA JUGA : Cicak Kawin di Dinding

Dalam dunia perekrutan dikenal istilah talent scouting, sebuah proses pemanduan atau pencarian bakat. Ada seseorang atau sekelompok orang yang secara khusus memantau orang atau kelompok tertentu untuk melihat dengan dalam, mengamati dalam jangka waktu tertentu guna menentukan siapa yang akan direkrut.

Sedangkan dalam dunia aktivisme istilah scouting merujuk pada pengamatan atas lokasi atau kondisi tertentu sebelum sebuah aksi dilakukan.

Pemantauan atau pengamatan ini perlu dilakukan agar aksi berjalan efektif, karena setiap langkah aksi bisa dilakukan dengan tepat dan cepat.

Apa yang diamati adalah ruang dimana aksi akan dilakukan, tujuannya tentu saja untuk melakukan penguasaan terhadap ruang. Bagaimana situasinya, apa saja yang ada disana, pada jam tertentu kondisinya sepert apa, halangan apa yang mungkin muncul disana dan lain sebagainya.

Dari hasil pengamatan ini detail rencana aksi bisa disusun dan disimulasi, sehingga aksi akan terkonsolidasi dengan baik dan tidak memunculkan banyak improvisasi di lapangan yang bisa mengacaukan jalannya aksi.

Sama halnya dengan pemandu bakat, scouting untuk aksi harus dilakukan senormal mungkin. Pemantau atau pengamat hendaknya berada di area yang diamati tanpa kentara, hadir seperti orang-orang lainnya. Sebab jika terlalu heboh dan mencurigakan bisa dianggap sedang mematai-matai bahkan malah dikira hendak maling atau melakukan kejahatan lainnya.