Sebelum Karni Illyas populer dengan ILC, Najwa Shihab dengan Mata Najwa, Dedi Corbuzier dengan Hitam Putih, Tukul Arwana lebih dahulu populer dengan Empat Mata yang kemudian berubah menjadi Bukan Empat Mata.

Tukul yang lucu namun tak pandai meredaksi pertanyaan yang cerdas dan bernas memandu talk show dengan bantuan pertanyaan lewat sebuah laptop. Makanya Tukul sering mengucapkan “Kembali ke laptop,”.

Sok ke-inggris-inggris-an salah satu nasehat yang kerap diucapkan oleh Tukul adalah “Don’t Judge A Book From It’s Cover” 

Jangan menilai buku dari sampulnya, begitu kira-kira terjemahan bebasnya. Sebuah nasehat yang sulit karena pada umumnya orang akan menilai buku pertama-tama memang lewat sampulnya.

Tukul kerap mengungkapkan nasehat semacam itu bukan karena dia adalah tokoh literasi. Nasehat itu adalah perumpaan atas kebiasaan kita dalam menilai orang lain berdasarkan penampilan luar.

Di masyarakat kita ada banyak kisah tentang perbedaan perlakuan hanya karena penampilan. Seseorang tidak dilayani dengan baik di toko hanya karena penampilannya seperti orang tidak punya uang.

Atau pelayan tidak sigap dan segera melayani pelanggan di restoran karena wajah serta penampilan tidak mentereng.

Di café, seorang pelanggan yang sudah duduk lama namun hanya memesan segelas minuman biasanya juga akan di-jutek-i jika bertanya password wifi.

Karena kebiasaan menilai berdasarkan penampilan maka orang-orang jelata, kaum proletary yang penampilannya susah di up grade kerap kali harus menahan sakit hati karena mengalami perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan.

BACA JUGA : Cicak Kawin di Dinding

Ada pepatah Jawa yang mengatakan ‘Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana’.

Dilihat sepintas pepatah ini berlawanan dengan ‘Don’t Judge A Book From It’s Cover”.  Namun sebenarnya tidaklah demikian. Pepatah Jawa ini muncul dari kesadaran bahwa kita terbiasa dengan cepat menilai orang lain.

Karena kebiasaan semacam ini maka perlu ada antisipasi yakni dengan menjaga mulut dan juga penampilan. Dalam konteks Jawa inilah yang dinamakan dengan sopan santun.

Memang ada banyak situasi yang tidak memungkinkan seseorang menilai orang lain secara mendalam. Pertemuan-pertemuan yang singkat namun penting hasilnya bisa buyar hanya karena soal sepele misalnya salah bicara atau salah berpakaian.

Jadi tidak ada salahnya cara bicara dan berpakaian menjadi perhatian. Sebab adalah bahaya jika kita datang melamar kerja lalu yang menerima lamaran dan mewawancarai kita menganggap kita adalah orang urakan. Jika anggapan seperti itu muncul bisa dipastikan meski kompeten besar kemungkinan kita tidak akan diterima.

Terlebih lagi jika harus melamar anak orang. Datang dengan penampilan dan gaya bicara yang membuat orang tuanya tak berkenan, meski cinta setengah mati, tahi kucing rasa coklat, niscaya cinta mati itu akan ditolak oleh kedua orang tuanya.

Sayangnya dalam soal pakaian, nasehat ini kemudian ditafsir secara berlebihan. Nasehat ‘Ajining Raga Saka Busana’ tidak dimaksudkan agar kita berpakaian mahal, modis, bermerek dan up to date. Busana yang dimaksudkan adalah pakaian yang pantas, tepat, rapi dan bersih.

Kapitalisme memang pintar mengakumulasi nilai-nilai dan kebijakan tradisional untuk menjadi mesin uang. Soal kepantasan, kerapian dan kebersihan kemudian disulap menjadi tuntutan untuk memakai busana yang bermerek dan  tentu saja mahal.

Para pemroduksi fesyen memberi jaminan jika memakai busana karya mereka otomatis seseorang akan dihargai, penampilannya akan dipuji bahkan membuat orang di sekitar menjadi keder.

Dan itu terbukti, yang kere pece, proletar sejati apabila sekujur badannya dari kepala hingga kaki diselimuti oleh produk fesyen bermerek, penampilan bakal mentereng, menjadi bintang di lingkungannya. Seseorang auto naik kelas hanya karena atribut yang dipakai di sekujur badannya.

Maka demi mengejar itu dan agar bisa masuk dalam circle tertentu tak sedikit yang kemudian menipu dirinya serta orang lain dengan memakai produk KW alias palsu.

BACA JUGA : Mengakrabi GoJek

Kebanyakan orang ingin tampil gaya dan proper.  Tapi tak semua punya kemampuan untuk membeli pakaian dan aksesories bermerek serta berkelas.

Lalu bagaimana bisa tampil maksimal dengan budget minimal?.

Jawabannya adalah slow fashion. Ada penjelasan panjang tentang slow fashion, namun salah satu implementasi darinya adalah ketika menginginkan pakaian baru tidak berarti harus membeli baju baru.

Pakaian baru bisa didapat dari bertukar dengan teman, menyewa atau dengan membeli baju bekas yang kelihatan masih baru {preloved}.

Preloved adalah istilah untuk bisnis jual beli barang fesyen {pakaian, tas, sepatu dan lain-lain} dalam kondisi bagus serta layak pakai. Barangnya adalah barang pribadi dan bukan rombeng dengan harga yang lebih terjangkau.

Barang yang dijual preloved biasanya merupakan barang bermerk dari berbagai lini fesyen. Bahkan tak sedikit yang merupakan koleksi pribadi dan langka di pasaran. Maka yang dibeli sebenarnya bukan hanya barangnya melainkan juga nilai atau prestise dari produk itu.

Dalam banyak kasus membeli barang preloved kerap kali didasari oleh keinginan meningkatkan status sosial di lingkungan atau untuk memperoleh pengakuan dari orang lain.

Selain preloved yang lazim dikenal sekarang terutama di kalangan anak-anak muda adalah thrifting.

Istilah thrift awalnya berarti keberuntungan. Ini bermula dari bursa pakaian atau barang bekas yang diimport atau hasil donasi dari luar negeri. Dulu dijual dalam bentuk tumpukan, sehingga kerap dinamai sebagai cakar, cakar bongkar atau awul-awul.

Karena dijual acak perlu perjuangan dan ‘keberuntungan’ untuk mendapat barang yang pas. Beruntung karena barangnya bagus dan harganya super murah. Sehingga ada keberuntungan lain yaitu hemat, uang yang mestinya habis dibelanjakan bisa disimpan atau dibelikan barang lain.

Dari barang acak kemudian muncul thrift store, dimana barangnya dipilih, entah berdasarkan model maupun merk. Sehingga tak sedikit thrift store yang kemudian menjual barang bekas namun bermerek. Kondisinya macam-macam namun banyak diantaranya yang masih mirip baru atau 90% bagus tanpa cacat.

Kalaupun ada kelemahan biasanya hanya pada model yang mungkin ketinggalan satu dua langkah dari model terbaru yang dikeluarkan oleh brand. Namun untuk masyarakat umum yang tak terlalu paham informasi terbaru dalam dunia fesyen, tetap saja sudah keren. Toh yang penting bermerek, bukan KW dan harganya murah.

Rajin berburu dan tekun mencari dari satu thrift store ke thrift store lainnya untuk mencari segala sesuatu yang pas dengan badan, hati dan kantong niscaya akan menghasilkan penampilan yang sesuai dengan ‘Ajining Raga Saka Ing Busana’.

Tak ada salahnya bergaya dengan pakaian, namun jangan sampai menyamakan harga diri atau kepercayaan diri hanya senilai merk sebuah pakaian. Pun demikian halnya ketika menilai orang lain.