Gemar membincang berbagai macam aplikasi yang moncer diantara aplikasi lainnya tak berarti saya akrab dengan penggunaannya. Salah satunya adalah Gojek yang telah terinstall tak lama sesudah diluncurkan namun jarang saya aktifkan.
Super aplikasi ini biasa hanya saya gunakan jika berada di luar kota Samarinda utamanya kota-kota besar di pulau Jawa.
Pertengahan bulan Desember hingga awal Januari lalu aplikasi Gojek terutama ride hailing yakni go ride dan go car kerap saya gunakan. Waktu itu saya berkesempatan berkeliling beberapa tempat di DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Sebelum memulai perjalanan saya terlebih dahulu menginstall aplikasi mobile banking untuk mempermudah jika perlu melakukan top up pada dompet go pay dan kartu e money. Ini sebagai bentuk antisipasi karena saya tahu beberapa tempat yang akan saya datangi memberlakukan transaksi cash less.
Dan mengisi uang elektronik melalui ATM kini semakin sulit karena jumlahnya semakin hari semakin berkurang. Banyak ATM Centre di pusat-pusat perbelanjaan hanya tinggal biliknya saja sedangkan mesinnya sudah dicopot.
Kalau ada yang bertanya kenapa saya hanya menginstall aplikasi GoJek, jawaban saya nggak muluk-muluk. Pilihan itu bukan karena semangat nasionalisme karena GoJek adalah karya anak bangsa melainkan karena memori smartphone saya kecil sehingga kalau ditambah dengan aplikasi e hailing lain seperti Grab, Maxim dan lainnya kinerja smartphone saya menjadi semakin lemot.
Memang ada ruginya kalau hanya menginstall satu aplikasi karena pengalaman sebagai pelanggan akan menjadi berkurang. Saya tidak bisa memilih yang paling menguntungkan atau paling murah. Padahal persaingan antar aplikasi serupa pada saat ini adalah saling bersaing dalam memberi diskon dan juga rewards.
Tapi tak apalah, toh ada keuntungan lainnya misalnya menjadi lebih akrab dengan driver. Seperti kejadian ketika saya berada di Purworejo yang untuk kemana-mana saya lebih banyak menggunakan go car. Sehari menggunakan antara 3 hingga 4 kali selama kurang lebih 4 hari saya bisa bertemu dengan seorang pengemudi berkali-kali. Usut punya usut ternyata driver go car di Purworejo hanya berjumlah 8 orang.
Karena sedikit maka waktu tunggu dari pemesanan hingga kedatangan sering kali agak lama. Tapi ya tidak apa-apa toh irama kehidupan di Purworejo tidak mesti secepat Jakarta, Bandung, Semarang dan Yogyakarta.
BACA JUGA : Boneka Yang Akan Diberi Warisan
Bepergian sendiri ke kota besar seperti Jakarta atau Surabaya selalu membuat saya khawatir tersesat. Apalagi kalau alamat yang harus dituju ada dalam perkampungan.
Mendatangi alamat dengan naik taksi selain mahal juga kerap kali membuat kebingungan jika pengemudinya bertanya “Lewat tol apa tidak,” atau kalau diberi ancer-ancer gedung tertentu pengemudinya akan bertanya “Lewat sisi mana, depan atau belakang”.
Cara yang agak murah adalah dengan menaiki kendaraan umum, bisa atau kereta dari bandara. Baru nanti dari stasiun pemberhentian naik becak, bajai, angkot atau ojek.
Tapi lagi-lagi menaiki kendaraan umum seperti itu punya masalah tersendiri. Selain mesti tahu persis dimana harus berhenti juga harus punya kemampuan menawar. Terlebih bajaj, becak dan ojek pangkalan yang sering kali main gethok harga sembarangan.
Tapi sekarang kekhawatiran itu mulai agak berkurang karena hadirnya e hailing. Alamat yang berada dalam perkampungan sekalipun tak sulit lagi untuk dijangkau, meski kadang meleset sedikit.
Awal bulan Desember lalu saya mendapat undangan menghadiri sebuah acara di Kota Depok. Namun sebelum ke Depok saya diminta datang ke rumah pengundangnya yang ada di Kota Bekasi. Dari Bandara Soeta saya naik bis dan turun di Jatiasih.
Berbekal share loc alamat yang mesti dituju saya kemudian memanggil go ride. Di aplikasi jelas terlihat ada driver di mana-mana. Namun butuh waktu untuk menunggu kedatangan mereka di titik jemput. Harus dimaklumi karena jalanan macet atau meski kelihatan dekat ternyata jalurnya searah sehingga driver harus memutar.
Di banding dengan ojek pangkalan, jelas driver go ride umumnya lebih ramah dan lebih melayani. Mereka berusaha memberi layanan terbaik sebab pemakai jasa yang tidak senang bisa jadi hanya diam-diam namun kemudian melaporkan lewat aplikasi. Laporan yang bisa berakibat buruk untuk para driver.
Setelah melewati jalan besar kemudian masuk gang, mulai dari perumahan lalu ke perkampungan. Sebenarnya saya mulai khawatir, jangan-jangan bakal sulit menemukan rumah yang mesti saya tuju. Dalam perjalanan saya juga menghidupkan rute lewat dokumen share loc yang dikirimkan pada saya.
Dan setelah berkelok-kelok, nampak posisi saya telah melewati titik yang mesti dituju. Saya beritahukan kepada driver bahwa sepertinya sudah lewat. Peta di driver menunjukkan masih pada jalur. Google memang selalu bisa mencarikan jalan meski sudah lewat.
Tapi driver setuju untuk putar balik dan akhirnya saya menemukan nama gangnya lalu masuk ke gang tersebut. Dan peta menunjukkan saya sudah dalam posisi yang mesti dituju.
Saya hubungi nomor yang diberikan namun tidak menjawab. Karena yakin sudah sampai saya persilahkan driver untuk kembali. Namun dia kukuh bertahan “Saya tunggu saja dulu sampai ketemu orang yang mau ditemui,”.
Lalu saya menelepon nomor lain dan diangkat lalu diberikan petunjuk tanda-tanda pada rumah yang mesti saya datangi. Rumah itu tidak jauh dari tempat saya dan driver berdiri.
Setelah alamat yang mesti saya tuju ketemu, driver kemudian meninggalkan saya. Dan sembari menuju pintu gerbang rumah tujuan, saya memencet tombol untuk memberi tips pada driver yang mengantar saya tersebut. Jumlahnya tidak perlu saya sebutkan, namun pasti membuatnya senang.
BACA JUGA : Revitalisasi Kota Tua Semarang
Tidak semua orang mempunyai pengalaman yang baik dan menyenangkan saat memakai aplikasi GoJek. Ada teman saya yang meng-uninstall dari smartphonenya karena bermasalah dengan driver-nya akibat salah menaruh titik.
Sampai sejauh ini pengalaman saya masih baik-baik saja. Mungkin karena saya jarang memakainya sehingga setiap kali memakai dan menikmati jasa go ride atau go car serasa sebagai sebuah pertolongan.
Di Jakarta, kota terbesar di Indonesia yang selalu membuat saya tak percaya diri itu, go ride membuat saya leluasa pergi sendirian. Meski terkadang membonceng kendaraan roda dua di jalan raya Kota Jakarta bikin deg-deg-an juga, namun toh tetap menyenangkan.
Sementara di Yogyakarta meski lebih banyak berjalan kaki dari satu titik ke titik lainnya, ketika pindah dari satu hotel ke hotel lain yang agak jauh jelas go car diperlukan. Di Yogya saya lebih memilih go car yang berupa taxi, hasil kerja sama antara Go Jek dengan salah satu operator taxi di Yogyakarta. Pengemudinya jauh lebih ramah dan sigap dalam membantu.
Yang paling menarik adalah di Bandung. Driver go ride ramah-ramah dan suka mengobrol. Sambil membawa motor mereka bertanya sudah pergi ke mana saja. Jika dirasa destinasi yang dituju kurang menarik mereka akan menunjukkan tempat-tempat yang pantas untuk dikunjungi. Mereka antusias memberikan informasi tentang berbagai destinasi di Kota Bandung.
Dan di Bandung saya baru tahu kalau tujuan bisa diedit. Muasalnya ketika driver go ride mengantar saya ke satu tempat dan ternyata yang hendak saya tuju tutup. Dia menawarkan tujuan lain sambil memberi petunjuk untuk mengedit tujuan.
Semua cerita ini tidak saya maksudkan sebagai iklan untuk GoJek. Saya hanya menceritakan GoJek karena hanya aplikasi e hailing itu yang terinstall di smartphone saya. Andaikan saja memori smartphone masih gemuk pasti saya juga akan menginstall aplikasi e hailing lainnya seperti Grab, Maxim, NuJek atau bahkan aplikasi-aplikasi lokal yang mencoba mengekor keberadaan mereka.








