“Selamat datang di dunia yang tidak nyata ini,”

Ucapan itu seolah-olah tepat untuk dikatakan di jaman kita sekarang ini, jaman yang oleh banyak kalangan disebut sebagai metaverse.

Padahal kalau ditelisik lebih jauh sudah sejak lama umat manusia hidup dan menghidupi dunia yang tidak nyata sebelum hadirnya teknologi digital.

Dengan kemampuan berbahasa manusia sejak semula sudah mulai menciptakan ‘dunia yang tidak nyata’. Kisah, cerita, legenda dan lain sebagainya yang kemudian berkembang menjadi ‘pengetahuan’ dan dinyakini sebagai ‘nyata’, benar dan kebenaran.

Kenyataan yang dikontruksi dalam hubungannya dengan bahasa dan kemudian diterima sebagai ‘kebenaran’ adalah sopan santun, nilai dan moralitas.

Karena diulang terus menerus sejak jaman nenek moyang akhirnya kebenaran itu mempengaruhi otak dan berada dalam memori otak serta diwariskan dari generasi ke generasi melalui gen.

Manusia kini mempunyai kebenaran yang disebut sebagai kebenaran obyektif, kebenaran subyektif dan kebenaran intersubyektif.

Dan perlu diketahui tanpa kebenaran obyektif sekalipun peradaban manusia bisa berkembang. Bukankah sepanjang rentang sejarah peradaban manusia, keyakinan bumi datar jauh lebih panjang dari kenyataan bahwa bumi adalah bulat. Dan ketika sebagian umat manusia meyakini bumi datar dan juga matahari mengelilingi bumi, toh kehidupan juga baik-baik saja.

Bahkan andai saja semua manusia selalu mengedepankan kebenaran obyektif, kehidupan justru menjadi tidak lebih asyik, tidak penuh dinamika atau barangkali manusia justru akan bertumbuh menjadi kelompok nihilis.

Kebenaran subyektif dan kebenaran intersubyektiflah yang membuat kehidupan di dunia menarik dan penuh warna.

Dimasa kecil dulu, permainan yang sering saya dan teman-teman mainkan adalah Jalangkung. Dalam bentuk besar dan dimainkan sebagai sebuah tontonan adalah Nini Thowok atau Nini Thowong.

Nini Thowok adalah sebutan untuk boneka yang dibuat dari Siwur atau gayung bertangkai panjang dari batok kelapa. Permainan ini beraroma mistis, sebab konon sebelum bisa dimainkan, siwur akan ditaruh di kuburan agar dirasuki oleh roh atau arwah.

Saat pertunjukan, Siwur akan didandani, diberi pakaian, diberi rambut dan riasan sehingga menyerupai perempuan, maka namanya Nini.

Para pemain akan menembangkan mantra secara berulang-ulang.

“Ayo mupu bocah bajang, rambute abang-abang’ { Ayo mengadopsi anak bajang yang rambutnya merah}.

Mantra terus dinyanyikan hingga kemudian boneka Nini Thowok bergerak. Dan pemegang boneka akan mengikuti gerakan boneka itu.

Karena cerita-cerita turun temurun, saya yang menyaksikan selain merasa seram juga senang. Saya dan semua yang menyaksikan percaya bahwa boneka Nini Thowok bisa bergerak karena ada roh yang merasukinya. Selain mengerakkan roh atau arwah itu bisa diajak berkomunikasi.

Meski demikian, Nini Thowok yang berkesan mistis dan spiritualis itu hanyalah pertunjukan yang biasa diselenggarakan setelah musim panen.

BACA JUGA : Revitalisasi Kota Tua Semarang

Isu boneka arwah atau spirit doll sejatinya merupakan isu lama. Selain ditemukan dalam bentuk-bentuk permainan juga banyak diabadikan dalam bentuk film. Salah satu film yang paling ternama adalah Annabelle yang merupakan spin off dari The Conjuring.

Hanya saja akhir Desember lalu kembali menjadi perbincangan saat Ivan Gunawan atau Igun berkisah tentang ‘anak’ dalam sebuah acara reality show dan bincang-bincang di channel youtube Boy William.

Igun yang dikenal masih lajang ternyata mengaku mempunyai anak dan yang disebut anak olehnya ternyata adalah boneka yang diberi nama Miracle dan Marvel.

Dalam penuturannya, Igun memperlakukan kedua boneka itu layaknya anak manusia sebenarnya. Igun menyakini kedua ‘anak’ itu mempunyai jiwa. Igun pun berencana nanti warisan kekayaannya akan diberikan kepada kedua ‘anak’ nya tersebut.

Sontak saja bincang-bincang Igun tentang anak adopsi yang adalah boneka itu menjadi perbincangan panas, trending topic di media sosial. Padahal banyak pesohor lain yang juga ‘memelihara’ boneka yakni Soimah, Ruben Onsu, Celine Evangelista. Roy Kiyoshi dan Furi Harun juga dikenal lebih dahulu mengkoleksi banyak boneka yang menyeramkan.

Kegemaran mengkoleksi atau menganggap boneka sebagai teman, anak dan lain sebagainya sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Dengan kemampuan empati, manusia memang bisa memperlakukan dan menganggap hal-hal non manusia sebagai manusia atau layaknya manusia.

Ada banyak laki-laki dewasa menyimpan boneka dan berasyik-asyik dengan boneka namun tak ingin diketahui oleh orang lain. Boneka itu adalah boneka seks.

Manusia sesungguhnya selalu butuh teman, namun berteman dengan sesama manusia tidak selalu menyenangkan dan menimbulkan rasa aman. Maka boneka menjadi salah satu pilihan disamping banyak pilihan lain seperti hewan peliharaan, tanaman peliharaan, kendaraan kesukaan dan lain sebagainya.

Terlebih lagi manusia memang bisa ‘jatuh cinta’ dan ‘jatuh hati’ pada hal-hal atau material non manusia. Bahkan tak sedikit yang tertarik secara seksual bukan hanya kepada binatang, melainkan tumbuhan bahkan jembatan sekalipun.

Hanya saja klaim bahwa boneka atau apapun bisa dimasuki oleh arwah itu adalah permainan sama seperti permainan Boneka Nini Thowok atau Jelangkung. Sedangkan klaim atau keyakinan seperti yang ditunjukkan oleh Igun bahwa ‘anak’ nya yang adalah boneka punya jiwa itu juga hanya sebatas klaim.

Jiwa memang ada dan itu hanya ditemukan dalam mahkluk yang mempunyai empati. Mahkluk yang mempunyai empati adalah mahkluk yang mempunyai kesadaran diri. Dan ini tidak ditemukan hanya dalam diri manusia.

Binatang seperti Lumba Lumba, Simpanse, Orang Utan misalnya adalah binatang yang mempunyai kesadaran tentang keberadaan dirinya. Binatang seperti ini bisa mempunyai empati yang ditunjukkan lewat upaya menolong sesamanya.

Salah satu cara untuk melihat apakah mahkluk hidup mempunyai kesadaran diri adalah dengan memberi cermin. Jika diberi cermin kemudian sibuk bercermin itu merupakan sebuah tanda bahwa mahkluk itu berkesadaran. Namun jika cuek saja maka itu menandakan dia tidak sadar dengan keberadaan dirinya.

Namun menganggap atau menyakini bahwa boneka punya jiwa tidaklah masalah. Toh kita memang terbiasa mempunyai keyakinan yang kemudian dianggap sebagai kebenaran. Dalam sistem kehidupan kita ada banyak kebenaran yang berasal dari keyakinan. Bahkan yang lebih parah ada banyak kebenaran yang berdasarkan kekuasaan atau authority based truth.

Maka jangan tergesa-gesa menilai bahwa Igun sedang stress, berhalusinasi atau bahkan gila. Malah jangan-jangan dengan memelihara boneka, Igun justru menjadi tidak stress, hidup lebih bahagia dan merasa punya tujuan hidup yang lebih jelas.

Di luar itu, kesukaan pada sesuatu bisa jadi juga dipengaruhi oleh trend atau kecenderungan jaman. Dan di jaman yang segala sesuatunya diukur dengan viralitas, bisa jadi apa yang dilakukan adalah bagian dari branding diri.

Dalam ilmu branding, popularitas bisa dibangun melalui kontroversi atau sensasi. Dengan melakukan itu seseorang kemudian diperbincangkan, namanya naik dalam ruang publik. Namanya akan bertahan jika kemudian kontoversi itu terus diperbincangkan, diperdebatkan  hingga kemudian akan surut setelah terkonfirmasi.

Apakah Igun memelihara spirit doll untuk memenuhi kebutuhan jiwanya atau sekedar mencari sensasi agar tetap viral, hanya dia yang bisa menjawab.

Namun sebagai bagian dari netizen yang beringgas dan ganas apalagi jika memakai akun anonim sebaiknya kita menahan diri untuk tidak cepat-cepat mengatakan bahwa itu adalah penyimpangan, ketidaknormalan dan lain sebagainya. Sebab hampir sebagian dari kita melakukan hal yang sama meski wujudnya tidak selalu berupa boneka.

BACA JUGA : Kuliner Itu Soal Rasa, Kenangan atau Suasana?

Menyusuri sejarah ‘Tuhan’ akan menjadi jelas bahwa keyakinan di balik sesuatu ada sesuatu yang mengerakkan telah bertumbuh semenjak nenek moyang manusia mempunyai kesadaran dan kemampuan berbahasa yang melampaui mahkluk lainnya.

Adanya roh, arwah atau apapun yang mengerakkan sesuatu dimulai dari kepercayaan yang dinamakan sebagai animisme. Animisme adalah keyakinan bahwa di dalam sebuah benda atau zat ada kekuatan dari dalam dirinya.

Kepercayaan itu kemudian berkembang menjadi dinamisme, bahwa di dalam benada atau zat ada kekuatan yang berasal dari luar dan kemudian bersemayam didalamnya. Pohon, gunung, mata air dan lainnya kemudian dihormati karena disitu bersemayam roh, arwah atau apapun yang mempunyai kekuatan.

Dalam perkembangan selanjutnya arwah, roh atau kekuatan itu kemudian dipersonifikasi. Karena jumlahnya banyak maka tumbuh kepercayaan yang disebut polyteis. Teis yang banyak itu dipersonifikasi sebagaimana manusia, namun mempunyai kelebihan yang jauh lebih tinggi dari manusia. Dalam film science fiction mungkin sepadan dengan mereka yang disebut sebagai super hero.

Dan puncak dari perjalanan kepercayaan akan roh, zat atau kekuatan diluar manusia yang mempengaruhi kehidupan adalah monoteis. Teis yang satu atau tunggal disebut sebagai Tuhan atau Allah, yang tidak terpersonifikasi karena jauh melampaui manusia dan kemanusiaan. DariNYA dipercaya roh atau elan vital ditiupkan sehingga mahkluk menjadi hidup.

Meski kebanyakan dari kita mengaku diri sebagai monoteis namun suka tidak suka di dalam diri kita masih terkandung memori genetik yang membawa kepercayaan mulai dari animisme, dinamisme hingga polyteisme.

Percaya bahwa benda mati bisa mempunyai kekuatan atau bisa dirasuki oleh roh atau arwah adalah sisa-sisa dari jejak animisme dan dinamisme dalam diri kita.

Jangankan percaya pada boneka yang mirip manusia dan mempunyai jiwa, tidak sedikit dari kita yang percaya bahwa batu akik, keris, tombak dan lain-lain juga punya kesaktian atau kekuatan. Benda-benda itu kemudian disebut sebagai pusaka yang pada masa tertentu akan dibersihkan dan diberi sesembahan sebagai ‘makanan metafisik’.

Jelangkung dan Nini Thowok mungkin tak lagi populer, namun kepercayaan yang mendasari di belakangnya masih tetaplah ada dan bertahan dari jaman ke jaman. Apa yang membedakan hanyalah cara dan platform untuk mengekpresikannya.