KESAH.IDSebagai negara berketuhanan.dan warganya dikenal karena keramahtamahannya, Tuhan dan agama di Indonesia akhir-akhir ini ditampilkan secara menakutkan. Orang dengan mudah menuduh orang lainnya sebagai penista atau penghina Tuhan dan agama. Kaum beriman lebih sering tampil dengan wajah marah, ketimbang ramah dan penuh welas asih.

MAW Brouwer, pastor dari Ordo Fransiskan memilih Indonesia sebagai tempatnya untuk mengabdi.

Ditahbiskan sebagai imam tahun 1949 di Belanda, setahun kemudian Brouwer melakukan pelayanan di Jawa Barat.

Sejak kedatangan pertamanya, Brouwer terpesona dengan bumi Pasundan. Keindahan alam dan keramahtamahan penduduknya membuatnya begitu mencintai Jawa Barat.

Brouwer yang dikenal suka menulis merangkai kalimat dalam artikel yang diterbitkan oleh koran nasional  untuk menyatakan kekagumannya pada Tanah Pasundan ini.

Dia menuliskan bahwa Jawa Barat diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.

Kalimat ini kemudian menjadi sangat populer, lebih populer dari Brouwer sendiri.

Konon di Jalan Asia Afrika Bandung di sebuah tembok tertulis “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum

Yang menuliskan barangkali tidak tahu kalau kalimat itu pertama kali nukilkan oleh MAW Brouwer. Memang Brouwer tidak menulis Bumi Pasundan, melainkan Jawa Barat.

Siapapun yang pernah ke Jawa Barat, ke tanah Pasundan pasti sepakat dengan kekaguman Brouwer itu. Tanah Pasundan memang indah. Penduduknya ramah dan gemar bergurau. Nada bicaranya mengalun berirama.

Pesona kecantikan wanitanya juga ternama. Saking lebaynya sampai ada yang mengatakan “Dari 10 perempuan Sunda yang lewat di jalan sebelas diantaranya cantik,”

Neng Sunda memang geulis.

Brouwer menghabiskan sebagian besar hidupnya di Jawa Barat hingga suatu masa karena masalah kesehatan.harus meninggalkan tanah yang dicintainya untuk kembali ke negeri Belanda.

Andai saja Brouwer berkeliling Nusantara, berinteraksi dalam dengan penduduknya mungkin dia akan menulis Indonesia terlahir ketika Tuhan sedang tersenyum.

Setelah kembali ke Belanda, Brouwer tutup usia di tahun 1991.

Kenangannya tetap indah meski dia tak menutup mata pada beberapa kenyataan buruk tentang berapa tidak manusiawi perlakuan pemerintah pada tahanan atau mereka yang dituduh PKI. Menurut Brouwer mereka ini hidup menderita, sementara orang lain yang melihat dan prihatin tak bisa melakukan apa-apa. Yang ingin menolong juga takut, takut pada pemerintah yang bisa dengan mudah ‘mem-pki-kan” seseorang atau sekelompok orang.

Kalau boleh berandai-andai, bisa jadi Brouwer akan mengedit kembali kalimatnya kalau saja dia masih hidup dan berada di Indonesia saat dua pemilu terakhir.

Negeri yang dibayangkan terlahir ketika Tuhan sedang tersenyum itu tiba-tiba beringas. Karena pilihan, banyak orang kemudian menampilkan perilaku penuh kemurkaan. 

Tuhan pun tak lagi tersenyum.

BACA JUGA : Sedemikian Pentingkah Bakso Bagi Orang Samarinda?

Tuhan yang sedang tersenyum memang bukan pernyataan teologis. Dasar biblisnya juga tidak kuat. Mungkin sulit menemukan ayat dalam kitab suci yang menyatakan Tuhan tersenyum apalagi melucu.

Tersenyum atau melucu tidak sesuai dengan gambaran ke-maha-an Tuhan, maha segala galanya.

Tuhan memang kerap digambarkan sebagai maha pemaaf, namun bukan berarti suka tersenyum atau tertawa-tawa.

Meski tidak terlalu rajin ke gereja lagi, pada masa dimana saya hari-hari ke gereja, teramat jarang saya mendengarkan kotbah yang bisa membuat tersenyum apalagi tertawa terbahak-bahak.

Saat mengikuti ibadah, bagian kotbah adalah bagian paling tepat untuk menutup mata, tertidur.

Kalau ada yang melucu di mimbar biasa karena tak bikin persiapan. Kotbahnya tidak dituliskan sebelumnya, jadi hasil improvisasi saja.

Lagi pula melucu di mimbar rumah ibadah juga kerap bermasalah. Karena pasti ada yang tak berkenan.

Pasti akan ada yang menasehati “Kotbah itu bukan untuk lucuan. Tuhan dan agama itu bukan humor,”.

Makanya kotbah atau kajian yang segar tentang Tuhan dan agama jarang ditemukan di mimbar rumah ibadah. Biasanya hal-hal itu hanya ditemukan di luaran, saat pengkotbah tidak terikat oleh peribadatan, atau sedang mendakwahkan Tuhan dan agama tidak dalam rangka ritual peribadatan.

Dan terbukti pertemuan keagamaan diluar rumah ibadah pesertanya sering tumpah ruah, suasananya meriah karena pengkotbahnya bukan hanya membawa senyum namun juga tawa.

Walau begitu, yang hidup dan dihidupi sehari-hari tetaplah ajaran yang disampaikan lewat mimbar-mimbar di rumah ibadah. Ceramah atau kotbah-kotbah lain diluar itu yang menyegarkan hanya dianggap hiburan, bukan ajaran iman. Karena iman harus serius.

Karena saking seriusnya bahkan ketika Tuhan dan agama dipolitisasi sekalipun juga masih diimani.

Seorang calon kemudian dianggap sebagai representasi dari kepentingan Tuhan dan agama, sehingga harus dibela mati-matian. 

Yang lain, meski kualitasnya juga kurang lebih sama kemudian dianggap sebagai musuh Tuhan dan agama.

Akibatnya saling tuduh. Dan Tuhanpun makin tidak tersenyum, agama menjadi seperti mudah marah-marah, karena sebagian pengikutnya pemarahan.

Kerap mengatakan Tuhan pemaaf, maha pengampun namun banyak orang dengan mudah menganggap orang lain sebagai penista atau penghina agama.

Tuhan pengampun tapi pengikutnya pemarahan hingga tampilan dan perilakunya menakutkan.

BACA JUGA : Ruang Tuhan Yang Makin Sempit

Gus Dur dikenang dan dikenal sebagai tokoh agama yang banyak mempunyai kisah tentang Tuhan, agama dan pengikutnya yang membuat senyum dan tawa.

Beberapa gurauan atau cerita lucunya di masa sekarang ini bisa dikategorikan dark joke atau ditepi jurang. Bisa membuat seseorang diadukan ke kantor polisi, dipersekusi atau diintimidasi karena dianggap sebagai penista.

Suka mengucapkan “Begitu saja kok repot”, humor-humor Gus Dur sederhana hingga disukai oleh masyarakat banyak dan bisa membuat kaum elit terkekeh-kekeh.

Namun dibaliknya tetap ada makna yang besar, sikap iman yang memberikan ruang besar kepada Tuhan. Urusan Tuhan serahkan pada Tuhan tak perlu dicampuri.

Makanya Gus Dur juga pernah mengatakan “Tuhan tak perlu dibela”.

Pun juga dengan agama, kalau membela agama tak perlu dengan kekerasan, karena kekerasan selalu melahirkan kekerasan.

Kisah-kisah yang disampaikan oleh Gus Dur senada dengan kisah Abunawas di Persia atau Nasrudin Hoya di Turki.

Kisah yang kerap ditemui dalam tradisi sufisme dimana Tuhan digambarkan sebagai yang serba ramah. 

Renungan tentang Tuhan, iman dan agama yang disampaikan secara segar dan kocak namun mencerahkan juga bisa ditemukan dalam sebuah buku berjudul Burung Berkicau, karya masterpiece dari Anthony De Mello.

Karena dia seorang pastor Katolik, tulisannya yang populer kemudian dikomentari oleh Kongregasi Ajaran Iman, bagian dari Kepausan yang waktu itu dipimpin oleh Kardinal Ratzinger.

Kelak Ratzinger dipilih menjadi Paus dengan nama Benediktus XVI.

Secara singkat tulisan Anthony De Mello tidak seluruhnya mewakili ajaran Gereja Katolik. Beberapa dianggap menyimpang dan menjauh dari isi ajaran Kristiani.

Dogma memang kerap membuat Tuhan menjadi kaku, seolah tak punya urat senyum.

note : sumber gambar – NU.OR.ID