KESAH.IDSains dan teologi atau agama berjalan dalam jalur yang berbeda. Benturan antara keduanya terjadi karena dibenturkan oleh orang. Tugas sains adalah menggali fakta-fakta alam dan membeberkannya apa adanya. Sains netral karena tidak menilai baik atau buruk dan juga tidak berpretensi untuk memberi nasehat bagaimana seharusnya. Jawaban sains yang apa adanya kerap dianggap mengancam ruang Tuhan terutama dalam soal penciptaan.

Ini hanya cerita konga, mirip kisah mop Papua atau kesah-kesah mewaluh dalam kebiasaan masyarakat Banjar. Cerita omong kosong saja, sehingga kada jadi baras, begitu ujar urang Samarinda.

Kisah ini saya dapat di Manado sewaktu duduk-duduk bersama bapak-bapak dan nyong-nyong sambil bergiliran menenggak sloki cap tikus dicampur coca cola, cakol sebutannya.

Ketika mulai naik, Om Robert mulai gatal mulutnya. Bapak-bapak berbadan tinggi dan berkulit putih ini biasa dipanggil Budo atau Bule Manado. Kadang-kadang ada juga yang menyapa dengan sebutan Basten, postur, warna kulit dan wajahnya dicocok-cocokkan dengan Marco Van Basten, pemain sepakbola Belanda yang terkenal waktu itu.

Om Budo memang punya banyak cerita. Makanya sering jadi bintang setiap kali ada kumpulan yang bermodalkan botol.

Kala itu Om Robert bercerita tentang Guru Sekolah Minggu, yang oma-oma Manado lebih suka menyebutnya Sondag School. Kepada bocah-bocah yang mengikuti sekolah minggu, guru menerangkan tentang kemahakuasaan Tuhan, tentang bumi dan segala isinya sebagai ciptaan dan kepunyaan Tuhan.

Setelah berbusa-busa menerangkan, guru kemudian ingin menguji penerimaan murid-murid sekolah minggu. Dia mulai mengetes dengan pertanyaan-pertanyaan.

Pertama, guru itu bertanya “Anak-anak siapa yang punya bioskop,”

Spontan anak-anak menjawab “Orang China,”

Guru sekolah minggu maklum, jawaban pertama biasanya memang tidak tepat.

Kemudian dia menyampaikan pertanyaan kedua “Anak-anak siapa yang punya Mall,”

Lagi-lagi anak-anak menjawab “Orang China,”

Pertanyaan ketiga dan seterusnya, guru sekolah minggu bertanya siapa yang punya hotel, siapa yang punya mobil bagus, siapa yang punya bank dan seterusnya, tetap dijawab serempak oleh anak-anak sekolah minggu dengan jawaban “Orang China,”

Karena emosi, guru sekolah minggu kemudian bertanya “Tuhan orang mana?”

Anak-anakpun tetap serempak dan kompak menjawab “Orang China,”

Kamipun saki puru karena tertawa mendengar cerita Om Robert itu. Tak ada yang merasa terhina karena orang yang menceritakan rajin ke gereja dan menjabat sebagai Ketua Kaum Bapa.

Untung waktu itu China yang lebih suka disebut dengan Tiongkok belum semaju sekarang ini. Andaikan sudah maju mungkin saya akan menimpali dengan ungkapan yang kini amat terkenal yakni “Tuhan memang menciptakan langit dan bumi, namun sisanya diciptakan oleh orang China,”

Ketika mengingat-ingat cerita itu, diam-diam saya menemukan pesan dibalik cerita omong kosong sekumpulan orang yang mulai mabuk cap tikus coca cola itu.

Makna dari cerita konga atau waluh itu adalah sebuah kenyataan bahwa semakin hari ruang Tuhan telah semakin sempit.

Ruang Tuhan menyempit bukan karena manusia tidak religius lagi, tidak butuh spiritualitas melainkan karena telah muncul jawaban-jawaban dari sains terhadap pertanyaan-pertanyaan essensial yang dulu kerap dijawab oleh para Filsuf dan Teolog.

Jawaban para filsuf atau teolog atas pertanyaan mendasar bersifat epistemologis, masih memberi ruang pada unsur-unsur metafisik dan supranatural, sehingga ruang Tuhan masih terbuka lebar.

Lain halnya dengan sains yang menerangkan segala sesuatu yang bisa diterangkan secara apa adanya, berdasarkan bukti-bukti yang bisa ditemukan.

Biologi, ilmu yang amat erat dengan kehidupan dalam waktu yang lama terpengaruh oleh filsafat dan teologi. Biologi mempercayai penciptaan, ada elan vital yang berasal dari luar masuk dalam organisme tertentu sehingga hidup.

Ruang Tuhan dalam biologi tersingkir ketika Charles Darwin mengungkapkan teori evolusi yang terkenal itu, teori evolusi yang sering disalahpahami karena anggapan populer bahwa nenek moyang manusia adalah kera.

BACA JUGA : Homo Technologicus, Sapiens Yang Terteror Teknologinya Sendiri

Kembalinya biologi ke pangkuan sains, membuat bagaimana dan kenapa sesuatu terjadi atau ada mulai bisa diterangkan secara ilmiah. Ilmiah karena didasarkan oleh ilmu alam yang meliputi matematika, fisika, kimia dan biologi. Rahasia atau algoritma alam bisa dibuka dan digambarkan dengan terang satu persatu walau masih banyak menyisakan misteri.

Kecenderungan ini kemudian memunculkan tesis dari banyak intelektual terutama yang berlatar ilmu sosial bahwa agama akan semakin tidak relevan. Tuhan dan agama akan ditinggalkan karena manusia semakin tak punya alasan yang cukup rasional untuk mempercayai dan memeluknya.

Banyak orang juga percaya hal itu, sebagian lagi bahkan khawatir jika semakin banyak orang tak percaya pada Tuhan dan agama.

Namun lewat sebuah penelitian yang ketat, Pippa Norris dan Ronald Inglehart membuktikan sebaliknya. Penelitian yang dilakukan oleh mereka di 49 negara selama periode 1981 hingga 2007 menunjukkan hasil yang berbeda. Ternyata 33 dari 49 negara itu, warganya menjadi lebih religius selama tahun-tahun itu.

Dan yang semakin religus bukan hanya negara bekas komunis atau negara yang sedang berkembang tapi juga sejumlah negara yang masyarakatnya makmur seperti Amerika Serikat. Di negeri yang pendapatannya tinggi itu ternyata masyarakatnya juga sangat religius. Banyak gerakan dan kelompok religius tumbuh disana.

Namun sejak tahun 2007 keadaan dengan cepat berubah, banyak hal terdistrupsi karena teknologi informasi dan komunikasi. Ketika penelitian diulang dari tahun 2007 sampai 2019, ternyata keadaan berbalik, 43 dari 49 negara menjadi kurang religius. Terjadi penurunan kepercayaan pada Tuhan dan agama, semakin banyak yang menganggap Tuhan dan agama bukan lagi sumber penting dan bermakna yang diperlukan untuk kehidupan manusia.

Riset lain tentang indeks kebahagiaan menunjukkan negara-negara yang masyarakatnya tidak menggangap Tuhan dan agama penting ternyata memperoleh skor yang tinggi. Masyarakatnya bisa merasa bahagia, aman damai dan sentosa tanpa Tuhan dan agama.

Sementara kabar buruk justru datang dari negara-negara dengan indeks religius yang tinggi. Negara yang masyarakatnya 90 persen lebih mengatakan Tuhan dan agama penting dalam kehidupan ternyata dekat dengan korupsi. Pemerintahan di negara dengan indeks religius tinggi justru cenderung korup.

Sebuah riset yang dilakukan oleh University of Rochester untuk mengukur hubungan antara IQ dan agama juga menunjukkan hasil yang tidak mengembirakan. Masyarakat dengan tingkat beragama yang tinggi ternyata memiliki rata-rata kecerdasan yang lebih rendah dibanding dengan masyarakat yang tingkat beragamanya lebih rendah.

Tapi benarkah Tuhan dan agama akan musnah serta punah?.

Tidak, hal-hal atau kecenderungan yang tidak mengenakkan untuk orang beriman ini bukan menuju pada ‘matinya’ Tuhan dan agama. Melainkan perubahan pendekatan atau hubungan antara masyarakat dengan Tuhan dan agama.

Praktek keimanan pada Tuhan yang menurun terjadi pada model beragama yang menekankan institusi. Institusi agama yang cenderung menjadikan ajarannya menjadi hukum kaku di ruang publik dengan pemaksaan tafsir tertentu mulai ditolak oleh sebagian besar pengikutnya sekaligus mengkhawatirkan bagi pemeluk agama lainnya.

Klaim kebenaran dan keselamatan buta, dogma-dogma yang kaku karena tidak menyesuaikan dengan perkembangan jaman, pengetahuan dan teknologi membuat ajaran-ajaran tertentu menjadi tidak relevan. Sebagian kemudian ditinggalkan.

Melihat sejarahnya, ada banyak agama yang lahir dan muncul di bumi dengan ketuhanannya masing-masing. Dari kurang lebih 4300 agama, kini sebagian besar sudah tak lagi punya pengikut hingga tak relevan lagi.

Hanya sedikit agama yang bertahan, tetap relevan dan masih bertumbuh pengikutnya. Kemampuan bertahan bisa jadi karena para pengikutnya beriman secara berbeda dengan para pendahulu-pendahulunya. Pengikutnya semakin dewasa dalam beriman kepada Tuhan, sehingga bisa membangun interaksi yang baik dengan orang lain, masyarakat lain yang berbeda latar belakangnya.

Tuhan dan agama tidak lagi didekati dari sisi surga dan neraka, melainkan bagaimana membangun saling pengertian dan interaksi yang intensif untuk membangun kehidupan bersama, kedamaian dan keadilan untuk semua termasuk alam, lingkungan hidup dan mahkluk lainnya.

Dan ritual keagamaan diperlakukan sebagai bentuk kecerdasan sosial, warisan peradaban yang dirayakan bersama agar hubungan antar manusia semakin erat untuk memikirkan masa depan bersama.

BACA JUGA : Elektabilitas, Popularitas Non Substantif

Selama ini kebanyakan orang beranggapan saintis membunuh Tuhan dan agama. Padahal tidak ada keinginan dari sains untuk melakukan hal itu. Dalam sejarah peradaban kita, yang jelas-jelas terbukti ‘membunuh’ Tuhan justru para filsuf. Bahkan yang terparah justru dibunuh oleh pengikutNYA sendiri lewat perilaku yang bertentangan dengan ajaran-ajaranNYA.

Bahwa sains membuat ruang Tuhan semakin sempit memang benar. Ada fenomena yang disebut dengan ‘God of the gaps’, sebuah sudut pandang yang memanfaatkan sesuatu yang belum dapat dijelaskan secara sains untuk membenarkan keberadaan Tuhan.

Petir, gunung meletus, gempa bumi, angin ribut, hujan dan lain-lain yang dulu belum bisa dijelaskan bagaimana bisa terjadi diterangkan sebagai bukti dari kemahakuasaan Tuhan.

Kejadian-kejadian itu kemudian diterangkan secara supranatural. Sains kemudian bisa menjelaskan kejadian-kejadian itu secara natural, sesuai dengan hukum alam. Sehingga kejadian bisa berulang jika kondisi-kondisi tertentu dipenuhi.

Dan dengan kemajuan teknologi, sains bahkan bisa memprediksi dengan akurat meski belum sampai pada jam, menit atau detik yang tepat. Namun sains bisa memprediksi jauh lebih tepat ketimbang peramal yang mengaku memegang remote langit.

250 tahun lalu Benjamin Franklin membuat heboh lingkungan gereja karena menemukan teknologi menangkal petir. Bangunan gereja yang tinggi dilengkapi menara menjadi salah satu gedung yang sering menjadi sasaran sambaran petir.

Pemimpin gereja bingung, mau memasang penangkal petir atau menyerahkan pada kuasa Tuhan untuk melindungi gerejanya dari sambaran petir.

Menyerahkan sepenuhnya pada kuasa Tuhan sama artinya membiarkan jemaah yang berada dalam gereja untuk memuji dan memuliakan Tuhan berada dalam bahaya kala gereja tersambar petir.

Pada akhirnya gereja menerima penangkal petir. Tidak perlu menyangkal sains, karena menerima sains tidak berarti menyingkirkan Tuhan, walau sains telah mengambil sebagian besar wilayah yang dulu ‘diandaikan’ sebagai wilayah Tuhan.

Meski begitu masih banyak agamawan yang berusaha mempertahankan wilayah Tuhan secara buta. Seperti ketika terjadi pandemi Covid 19. Ada banyak pemuka agama yang dengan yakinnya mengatakan bahwa virus itu dikirim oleh Tuhan sebagai tentaranya untuk membalas kelakuan pemerintah atau masyarakat Tiongkok atas umat Tuhan di wilayah tertentu.

Namun sains membuktikan bahwa virus itu merupakan hasil mutasi genetik dari virus MERS yang beberapa tahun lalu muncul di Timur Tengah. Dan para ahli penyakit menular kemudian juga bisa membuktikan bahwa mereka yang kena bukanlah orang yang dihukum atau dikutuk oleh Tuhan, melainkan orang-orang yang tidak menjalankan prosedur pencegahan ketika berelasi dengan orang lain.

Ketika vaksin untuk menangkalnya ditemukan, para penemunya juga tidak mengatakan bahwa vaksin itu adalah pencegah atau pematah kutukan Tuhan.

Pada akhirnya ‘God of the gaps’ bukanlah cara pandang yang tepat untuk mempertahankan relevansi Tuhan dan agama dalam kehidupan manusia di dunia. Bertahan dalam paradigma bahkan kerap menjatuhkan kita dalam kondisi ‘Argument from ignorance’, ngotot mengungkapkan dan mempertahankan alasan pembenaran yang sesungguhnya berasal dari ketidaktahuan.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana dengan saya?. Apakah saya masih ber-Tuhan dan beragama.

Tentu saja saya ber-Tuhan dan beragama.

Setiap Hari Rabu Abu saya pasti ke gereja untuk menerima olesan abu di dahi. Pastor atau petugas ibadah yang mengoleskan abu dulu mengatakan “Ingatlah bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu”.

Ucapan ini didasarkan atas kisah penciptaan bahwa Tuhan menciptakan manusia dari tanah.

Tentu saja saya tak percaya bahwa manusia tercipta dari tanah. Saya lebih memilih Darwin dan biologi. Jauh lebih baik bagi saya bersaudara dengan kecambah, kangkung, tikus, sapi, monyet dan kera daripada dengan genting, kendi atau kuali.

Maka ucapan “Ingatlah engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” saya Imani bahwa diri saya ada karena unsur-unsur alam. Debu merupakan representasi dari unsur sangat kecil dan tak terlihat, unsur kimia.

Dan benar tubuh saya adalah gabungan dari berbagai unsur kimia yang ada di bumi, unsur yang kemudian menyatu membentuk organ-organ fisik. Organ-organ yang saling bekerja sama satu sama lain sehingga saya hidup, bertumbuh, bergerak, berketurunan dan kemudian akan mati. Mati berarti sebuah proses berhentinya kerjasama antar organ sehingga tak lagi ada gerak hingga kemudian unsur-unsur pembentuk tubuh akan tercerai berai kembali ke unsur semula.

Saya yakin tafsir dan keyakinan saya ketika menerima olesan abu di dahi itu tak berlawanan dengan ucapan “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil,”

Buat saya sains dan iman bukanlah dua hal yang bertentangan, dua-duanya ada dalam diri saya dan dimungkinkan tetap ada karena otak sebagai pengendali hidup mempunyai dua modus yakni modus emosional dan modus rasional.

Dalam faktanya kehidupan lebih mudah justru ketika otak bekerja dengan operating system emosional ketimbang rasional.

Otak emosinal inilah yang akan tetap memungkinkan Tuhan dan agama tetap abadi dalam diri manusia, walau mungkin cara ber-Tuhan dan beragama dari setiap generasi akan berbeda.

Dalam diri saya walau ruang Tuhan makin mengecil namun yang kecil itu tetap punya arti besar untuk kehidupan saya dan semoga juga untuk dunia.

note : sumber gambar – OKEZONE.COM