KESAH.IDBerhasil menjadi FYP, video tik tok biasanya akan viral juga di media sosial lainnya. Viralitas yang akan menarik perhatian termasuk dari Presiden. Video “Provinsi Dajjal” yang diupload oleh Bima dari Australia membuat Presiden Joko Widodo menjajal jalanan rusak di Lampung dan mengambil alih perbaikannya. Kementerian PUPR akan memperbaiki jalanan yang rusak dengan anggaran kurang lebih 800 miliar.

Judul tulisan ini sebenarnya tidak bagus karena dengan mudah saya akan dituduh sebagai berpikiran seksis.

Tapi tak apalah, sebab jalan berlubang dan lubang berjalan itu memang merupakan bagian dari pengalaman saya dulu ketika menjadi anak lorong di Minahasa dan Manado.

Saya sewaktu masih nyong-nyong dulu kerap duduk-duduk di depan gang sambil menikmati cakol, cap tikus campur coca cola. Dan cakol adalah air kata-kata, kebanyakan yang meminumnya kemudian akan cerewet, lancar bercerita.

Di Eropa ada pepatah “In vino veritas”, dalam anggur ada kebenaran. Maknanya adalah orang yang minum anggur {mabuk anggur tepatnya} akan jujur, mengatakan apa yang dipikirkan atau dirasakan tanpa tedeng aling-aling.

Pun demikian orang yang minum cakol, biasanya akan mengatakan apa adanya termasuk ketika menceritakan aib dirinya sendiri, apalagi aib orang lain. Pendek kata, makin mabuk makin tak ada yang disembunyikan. Makanya begitu sadar, biasanya orang mabuk akan malu atau menyesali ucapannya.

Kebiasaan alo, kalau sedang mabuk dan kehabisan bahan pembicaraan maka akan melakukan permainan cigulu-cigulu, atau tebak-tebak yang bernuansa lucu.

Cigulu menurut asal katanya dalam bahasa melayu logat manado adalah singkatan dari cigi kong gulung-gulung atau tarik lalu digulung.

Permainan ini menarik karena seseorang akan mengajukan pertanyaan yang membuat orang lain berpikir atau menebak apa yang dimaksudkan oleh yang memberi pertanyaan. Dan pertanyaan atau jawabannya selalu mempunyai konteks tertentu sehingga sering sulit untuk ditebak.

Pertanyaannya biasanya tidak sulit, hal-hal yang umum berkaitan dengan kehidupan. Namun mencari jawabannya tidak mudah, harus ditebak-tebak terutama karena konteks yang dimaksud oleh pemberi pertanyaan.

Comtohnya begini “Ada tiga basudara kong masuk panjara, kaluar badarah-darah,” {Ada tiga orang bersaudara masuk penjara lalu keluar berdarah-darah}.

Pertanyaannya bernada negatif, sehingga memancing jawaban yang negatif pula.

Tapi jawaban apa yang diinginkan oleh pemberi cigulu-cigulu?.

Ternyata jawaban yang benar adalah makan pinang.

Kok bisa?.

Ya namanya juga cigulu-cigulu.

Ketika makan pinang, seseorang akan memasukkan dalam mulutnya tiga hal yakni sirih, pinang dan kapur, lalu dikunyah-kunyah dan kemudian ludahnya akan merah.

Tiga saudara itu adalah sirih, pinang dan kapur, penjara adalah mulut dan berdarah-darah adalah ketika meludah {keluar dari mulut yang diibaratkan penjara} berwarna merah.

Nah soal lubang dan jalan, waktu itu cigulu-cigulu yang dilontarkan oleh salah satu anak lorong yang nongkrong bersama saya adalah “Di Jawa banyak lubang di jalan, kalau di Manado banyak ….?”

Pertanyaannya mudah, ada banyak hal di jalan Manado. Tapi tak ada satupun jawaban yang dianggap tepat oleh yang memberikan cigulu-cigulu.

Semua mengaku menyerah hingga akhirnya berharap yang memberi pertanyaan yang menjawab.

Dan jawabannya ternyata “Banyak lubang berjalan,”.

Ada yang tak puas dan terpancing emosinya karena merasa dipermainkan lalu bertanya “Ngana ini, mana ada lubang kong bajalang,”

Yang diprotes kemudian menjawab “Kalau ngana nda percaya, pigi jo lihat sandiri di Bole, TKB deng lapangan Tikala,”

Akhirnya konteks jawabannya ditemukan. Yang dimaksud dengan lubang berjalan adalah pekerja seks komersil yang waktu itu kerap mencari pelanggan di ujung jalan Boulevard Manado {Jalan Pierre Tendean}, jalanan disekitar Taman Kesatuan Bangsa dan lorong-lorong sekitar lapangan Tikala, yang tak jauh dari Balai Kota Manado.

BACA JUGA : Ruang Tuhan Yang Makin Sempit

Baru-baru ini tentang lubang di jalan jadi omongan dimana-mana gara-gara video tik tok yang diunggah oleh Bima. Sebenarnya lubang di jalan biasa saja, terjadi di mana-mana dan banyak orang mengunggahnya.

Tapi saking jengkelnya, Bima yang sudah setahun di Australia itu menyertakan sumpah serapah di videonya dan menyebut Lampung, provinsi tempat dia dilahirkan sebagai Provinsi Dajjal.

Mungkin tidak sedang minum anggur sehingga Bima tak ikut menyebut soal lubang berjalan. Atau bisa jadi memang sudah tidak relevan, karena PSK sudah tak lagi di jalan melainkan rebahan di kamar hotel dan kos-kosan sambil menawarkan diri di Michat.

Ada yang meradang karena sebutan Provinsi Dajjal itu dan kemudian mengadukan unggahan Bima ke polisi. Gubernurnya ikut tersinggung bahkan terindikasi mengintimidasi orang tua Bima yang adalah ASN di salah satu OPD bagian dari pemerintahan daerah Lampung.

Oleh Gubernur, orang tua Bima dianggap gagal mendidik anaknya.

Gara-gara itu video Bima jadi viral.

Andaikan dibiarkan saja, dianggap angin lalu seperti biasanya mungkin Presiden Joko Widodo tak akan pergi kesana untuk menjajal lubang di jalan.

Ungkapan kekesalan yang dianggap tidak sopan itu ternyata berhasil membawa Presiden ke Lampung.

Dan hasilnya jalanan rusak penuh lubang diambil alih penyelesaian oleh pemerintah pusat. Menteri Perdagangan dan Menteri BUMN yang ikut serta dengan Presiden ikut tersenyum, namun Menteri PUPR hanya tersenyum kecut karena diminta menanggung getahnya.

Ajaibnya, Gubernur Lampung yang ikut berdiri tidak jauh dari Presiden Jokowi saat menyampaikan keputusannya itu ikut bertepuk tangan, gembira sekali.

Padahal seperti halnya Bima, Presiden Jokowi sebenarnya sedang mau mengatakan bahwa sang gubernur tidak becus mengurus anggaran untuk memelihara jalan.

Jadi sebenarnya yang salah didik dan tidak sopan itu Bima atau Gubernurnya?.

Entahlah, tapi nanti akan diuji ketika sang gubernur mencalonkan diri kembali. Andai gubernur yang sekarang ini mencalonkan lagi dan kemudian terpilih, maka kita mesti menafsir ulang apa yang disebut sebagai salah didik dan tidak sopan itu.

Apapun itu yang pasti jalanan di Provinsi Lampung memang banyak yang rusak parah. Gambarannya bisa ditemukan dalam tulisan Tika, jurnalis Radar Lampung TV, yang sering juga menulis untuk koran Radar Lampung.

“Sungguh butuh perjuangan untuk menuju rumah Tiktokers muda tersebut. Banyak sekali jalan rusak yang harus saya lewati untuk sampai ke kediamannya,” ujar Tika.

Tika dimintai tolong oleh Dahlan Iskan untuk menemui keluarga Bima. Perjalanan jurnalistik Tika itu kemudian dituliskan oleh Dahlan Iskan dalam disway.id dengan judul Dajjal 800 Milyar dan Tika Bima. Tulisan Tika untuk mengambarkan perjalanan dipuji sebagai tulisan yang bagus oleh Dahlan Iskan dan dimuat utuh dalam tulisannya yang berjudul Tika Bima.

Tidak sia-sia perjuangan netizen membela Bima, walau banyak pula yang mengejeknya dan kecewa ketika Bima menyebut Megawati sebagai janda.

Netizen bersatu ternyata sulit untuk dikalahkan dan berbuah 800 milyar untuk memperbaiki jalanan di Provinsi Lampung.

BACA JUGA : Homo Technologicus, Sapiens Yang Terteror Teknologinya Sendiri

Setelah merasakan jalanan rusah di Lampung, Presiden Joko Widodo kemudian menjadikan akun instagramnya menjadi kolom aduan. Masyarakat diminta melaporkan jalan rusak dengan mengirim foto atau video, di kolom komentar.

Seorang warga Kota Balikpapan dengan cepat memanfaatkan kesempatan. Memposting jalanan rusak yang disebutnya sebagai kubangan di saat hujan dan lumbung debu di saat panas. Postingan di-tag ke Presiden Jokowi.

Ibu Kota Negara Nusantara, Ibukota yang baru wilayahnya dikelilingi oleh Provinsi Kalimantan Timur. Makanya orang Kaltim kerap merasa Ibu Kota Negara ada di Kaltim.

Walau menjadi daerah tetangga atau mitra IKN namun masih banyak warga di berbagai wilayah Kaltim yang sejak jaman kemerdekaan akrab dengan kubangan dan debu di jalanan. Banyak wilayah yang sampai sekarang belum punya jalan yang layak.

Ada pula jalan penghubung antar kabupaten atau kota yang tidak jadi-jadi, sedangkan yang lainnya selalu rusak kembali tak lama setelah diperbaiki. Salah satu yang bikin pening, adalah jalan penghubung antara Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat. Karena jalanannya rusak, waktu tempuhnya menjadi dua kali lipat, hampir setengah hari dengan kendaraan darat.

Meski pengusaha kapal dan speed bersyukur karena semakin banyak yang memilih perjalanan lewat sungai, namun tetap banyak kerugian yang timbul akibat jalanan yang terlalu rusak. Mobilitas jadi lambat dan laju putaran ekonomi terhambat.

Syukurlah Kota Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kaltim mulai berkurang lubang di jalanannya. Jalanan mulai jarang berlubang karena sebagian sudah dikonversi menjadi jalan semen.

Tentang jalan di Samarinda, tanpa dilapori Presiden Jokowi sudah tahu, masalahnya adalah genangan. Karena sering tergenang jalanannya jadi rusak, semennya terkikis, retak dan sering ada patahan hingga ambles.

Jadi tak perlu lapor ke Presiden, cukup posting di media sosial saja jika ada jalanan rusak. Posting saja, nggak usah di-cc atau di-tag ke Presiden, Gubernur atau Walikota. Sebab postingan warga Samarinda tentang kotanya akan dipantau oleh pembantu walikota yang jumlahnya banyak.

Jika kerusakannya tak terlalu besar dalam beberapa hari saja pasti akan segera diperbaiki. Setelah diperbaiki, akan ada pemberitahuan di media sosial. Bukan di akun resmi pemerintah tapi lewat postingan naratif humanis dari pembantu walikota.

Meski punya masalah dengan lubang, antara Lampung dan Kaltim punya perbedaan besar. Yang kerap bikin pusing warga Kaltim adalah lubang yang lebih besar, lubang tambang. Lubang yang sengaja digali ini yang sering bikin jalan jadi rusak, tergenang bukan hanya seperti kubangan melainkan juga sungai yang airnya deras.

Ini yang perlu ramai-ramai dilaporkan ke Presiden Jokowi, sebab kalau lapor Walikota, Bupati atau Gubernur jawabannya mungkin bakal senada, “Itu bukan kewenangan saya,”.

note : sumber gambar – DISWAY.ID