KESAH.IDKemampuan menguasai api disusul dengan penemuan jarum, roda dan seterusnya yang membuat Homo Sapiens mempunyai peradaban. Berkali-kali terjadi revolusi mulai dari revolusi kognitif, revolusi pertanian, revolusi industri, revolusi teknologi informasi/digital, peradaban manusia terutama ilmu pengetahuan dan teknologi sudah mampu ‘menciptakan’ kehidupan. Ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memunahkan manusia dan berganti menjadi transhuman.

Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, saya dan anda yang umurnya sudah lima puluhan tahun ini pasti punya pengalaman tentang seorang teman, sahabat atau rekan yang dengan bangganya mengatakan “Saya nggak akan pakai komputer, saya nggak akan pakai internet atau saya nggak akan pakai handphone. Karena saya tak mau tergantung pada teknologi,”

Heroik sekali.

Andai saja yang mengatakan itu masih hidup sekarang ini bisa dipastikan dia bakal sengsara kalau nggak punya komputer, sambungan internet dan smartphone.

Penemuan teknologi baru memang selalu melahirkan sekelompok orang yang akan menentang, atau menolak untuk memakainya dengan berbagai alasan. Diberi sekalipun akan tetap menolak. Namun sikap semacam itu tidak akan bertahan lama andai teknologi itu kemudian menjadi mainstreams.

Bertahan hanya ingin naik ojek pangkalan, bakal membuat mencari tukang ojeknya akan lebih lama dari perjalanan yang hendak ditempuh. Kemana-mana bakal terlambat atau bahkan malah batal.

Pada dasarnya dilahirkan sama dengan binatang lainnya, manusia menjadi berbeda dengan binatang vertebrata, mamalia dan primate lainnya karena teknologi.

Manusia dan beberapa jenis binatang mungkin saja punya kecerdasan yang hampir sama. Namun kecerdasan binatang tidak sampai membentuk peradaban, sehingga secerdas apapun binatang tetap hidup dalam hukum alamnya atau cara hidup alamiahnya yang bersifat evolutif.

Sebuah kebetulan kecil kemudian membawa manusia melampaui cara hidup alamiahnya dan kemudian berkembang makin jauh melampaui hukum alam. Manusia mampu membuat agenda kehidupannya sendiri.

Kebetulan itu adalah kemampuan manusia menguasai, memelihara dan menggunakan api.

Api menjadi teknologi pertama yang dikuasai oleh manusia yang mendisrupsi cara hidupnya. Dengan api manusia kemudian mempunyai banyak waktu luang yang pada akhirnya mendorong revolusi kognitif, membuat cara berpikir dan cara kerja otak manusia berkembang sangat pesat ketimbang binatang.

Api yang mempunyai sifat merusak itu pertama kali digunakan untuk ‘merusak’ bahan makanan alamiah. Daging yang dirusak oleh api kemudian menjadi lebih lunak bahkan lebih enak sehingga bukan hanya mudah dicerna melainkan rasanya juga menyenangkan.

Dari dan dengan api manusia kemudian bisa melahirkan banyak produk turunan, mulai dari arang, gerabah, sampai logam-logaman yang dibentuk baik untuk perkakas maupun senjata.

Manusia yang tadinya lemah dibanding dengan binatang lainnya kemudian menjadi kuat karena api, bukan hanya punya senjata menghadapi predator melainkan juga cuaca dan waktu di malam hari, manusia mampu melawan dingin dan gelap malam.

Maka lumba-lumba meski termasuk binatang yang cerdas, tidak akan mungkin menciptakan peradaban karena tak mungkin menguasai api.

Pun juga monyet dan kera besar seperti gorilla, simpanse, orang utan, bonobo walau bisa meniru manusia, bisa naik sepeda, bisa memainkan alat musik serta lainnya, sulit akan melampaui atau menyamai manusia selama mereka belum bisa mendayagunakan api.

BACA JUGA : Elektabilitas, Popularitas Non Substantif

Karena api, manusia kemudian dibentuk oleh teknologi. Bahkan kemudian secara genetik karena penguasaan teknologi dalam gen manusia kemudian terbentuk bakat untuk memanipulasi kondisi alam. Dan teknologi pada dasarnya adalah kecerdasan buatan. Dengan demikian dunia manusia menjadi sangat berbeda atau menjadi revolusioner karena kecerdasan buatan.

Adanya kecerdasan buatan maka kematian seseorang tidak membuat ‘kecerdasan’ menghilang, karena kecerdasan buatan tidak akan berakhir atau hilang saat yang membuatnya mati. Kecerdasan inilah yang diwariskan dan kemudian dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Yang disebut dengan kecerdasan buatan pada dasarnya adalah alat, perangkat, sistem atau metode yang memungkinkan manusia mengatasi keterbatasan biologisnya untuk mencapai kesenangan, kebahagiaan, panjang umur, sejahtera dan lainnya.

Namun yang disebut teknologi atau kecerdasan buatan tidak hanya terbatas pada alat, aplikasi atau gadget. Manusia juga mengembangkan teknologi sosial, perangkat yang membuat manusia terikat dengan kelompok atau manusia lainnya untuk memungkinkan manusia bisa bekerjasama secara luas, bahkan dengan orang yang tidak dikenal sekalipun.

Meski mempunyai kecerdasan sosial, binatang tidak mampu menyaingi manusia dalam urusan kerjasama. Kemampuan binatang untuk bekerjasama terbatas, dalam jumlah yang besar kehadiran bintang di sebuah tempat yang sama akan lebih banyak berakhir dengan kekacauan.

Ada banyak binatang hidup secara berkelompok, namun jumlahnya relatif terbatas. Jika melewati batas tertentu biasanya akan ada yang memisahkan diri dan membentuk kelompok baru. Dan antar kelompok tidak bisa bekerjasama.

Kemampuan manusia bisa bekerja sama secara luas dimungkinkan karena adanya teknologi sosial, kecerdasan buatan dalam bentuk norma, etika, hukum, sistem religius dan berbagai macam acara atau upaya adat.

Kecerdasan sosial buatan ini membuat manusia yang berbeda-beda bisa merasa satu, senasib sependeritaan, turunan dari nenek moyang yang sama dan lain-lain, sesuatu yang kemudian mengikat manusia yang satu dengan yang lainnya walau tidak saling kenal dekat.

Gajah, Orang Utan atau Lumba-lumba bisa berempati, bisa menolong binatang lainnya yang celaka atau ada dalam bahaya. Namun hanya manusia yang bisa prihatin dengan sesama manusia lainnya yang menderita di benua lainnya. Namun orang utan di Kalimantan Timur tidak akan prihatin dengan orang utan yang menderita di kebun binatang yang ada di Amerika Serikat.

Ekpresi keprihatinan, dukungan dan lainnya kepada manusia di tempat atau belahan bumi lainnya dimungkinkan karena teknologi, teknologi informasi dan komunikasi.

Maka teknologi atau kecerdasan buatan yang tadinya merupakan alat bantu kemudian menjadi ‘perpanjangan manusia’. Teknologi memungkinkan apa yang tadinya sulit dilakukan kemudian bisa dengan mudah dilaksanakan.

Roda, sepeda, motor, mobil, perahu, pesawat adalah perpanjangan manusia, sehingga bisa berpindah atau bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dengan lebih cepat daripada menggunakan kaki. Dengan teknologi transportasi manusia kemudian memperpanjang jangkauan kakinya.

Bahkan pada puncaknya manusia kemudian bisa memperpanjang hidupnya. Dengan penemuan obat-obatan, prosedur operasi, vaksin dan lain-lain. Ada banyak penyebab kematian termasuk kematian massal kini bisa diatasi oleh manusia lewat teknologi kesehatan.

Dan yang termuktahir, ektensi atau perpanjangan manusia telah mencapai perpanjangan pikiran. Internet adalah bentuk perpanjangan yang paling nyata dari pikiran manusia. Karena internet pikiran manusia kemudian menglobal. Orang bisa bertukar pandangan, gagasan, kekhawatiran, ketakutan, kebahagiaan dan harapan secara global. Hambatan komunikasi seperti bahasa bahkan dengan mudah diatasi dengan aplikasi.

BACA JUGA : Toleransi Bukan Antar Agama Tapi Antar Umat Beragama

Keinginan untuk melampaui kondisi alamiah dan kemampuan untuk ‘meng-hack’ segala sesuatu kemudian semakin tak terbendung. Tidak ada lagi jalan pulang, peradaban terus maju, walau ada sekelompok orang atau masyarakat yang secara sadar memilih untuk berhenti, menutup diri dari semua kemajuan pengetahuan dan teknologi.

Dengan pengetahuan dan teknologi, rahasia atau hukum-hukum alam mulai terkuak. Manusia lebih tepatnya orang atau sekelompok orang tertentu bisa mengembangkan produk-produk buatan, meniru produk-produk alam.

Peradaban manusia berhasil meniru hal-hal yang alamiah, segala sesuatu yang kemudian dikenal dengan nama sintetis, buatan atau artificial.

Manusia bisa membuat angin, udara sejuk, udara panas, udara bersih dan lain-lain, segala sesuatu yang kemudian membuat tidak tergantung seratus persen pada kondisi alam. Di negara panas, bisa muncul tempat hiburan yang didalamnya orang bisa bermain salju.

Kemampuan semacam ini mungkin menyenangkan namun ada banyak kemampuan yang lahir dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat orang khawatir. Sekelompok orang mulai bisa ‘menciptakan’ kehidupan.

Manusia bisa melahirkan mahkluk baru lewat laboratorium lewat cara aseksual. Juga bisa membiakkan tumbuhan atau tanaman dengan kultur jaringan. Dan yang terbaru, ilmu biologi sintetis yang tengah berkembang mampu membuat daging ayam tidak dalam bentuk ayam. Daging tumbuh dalam laboratorium tertentu yang kelak jadi pabrik.

‘Peternak’ bisa memanen daging tanpa perlu membersihkan kandang dari kotoran ayam, tidak perlu menyembelih hingga meninggalkan limbah. Tidak menimbulkan sampah dan polusi yang bikin tetangga sirik.

Pengetahuan dan teknologi semacam ini tidak sulit, begitu ditemukan penemu atau perusahaannya bisa menjual dalam bentuk starter pack. Orang lain atau perusahaan lainnya segera bisa melakukan hal yang sama hanya dengan pelatihan singkat.

Dengan lisensi open source, sebuah pengetahuan yang kemudian diimplementasikan menjadi teknologi bahkan bisa berkembang lebih cepat karena orang lain bisa melakukan pengembangan atau inovasi lanjutan.

Apapun yang bisa diimplementasikan pada tanaman dan binatang secara teknis bisa juga dilakukan pada manusia. Jika ilmuwan mampu memperpanjang umur tikus misalnya, maka model atau algoritmanya juga bisa diterapkan pada manusia.

Jika ilmuwan bisa mengedit DNA tumbuhan dan DNA binatang sehingga melahirkan tumbuhan serta binatang yang unggul maka hal yang sama juga bisa dilakukan pada manusia. Karena pada dasarnya hidup adalah rangkaian reaksi-reaksi kimia. Jika rangkaian itu bisa dipetakan maka manusia atau mahkluk seperti apa yang diinginkan bisa diciptakan.

Peradaban trans human sudah lahir, sadar atau tidak sadar kita sesungguhnya sudah menjadi manusia ‘jadi-jadian’. Kini untuk pergi jauh kita tak perlu berkeringat, karena ada kendaraan. Mau makan enak tak perlu ke restoran yang punya master chef yang handal, cukup pencet layanan pesan antar dan tak lama kemudian makanan akan terhidang.

Dulu ada pepatah “Malu bertanya sesat dijalan” kini tak perlu lagi kita bertanya karena telah dibekali dengan google map.

Smartphone kemudian menjadi perpanjangan ingatan, tempat kita menyimpan memori yang bisa dengan cepat dipanggil. Kalau ada yang bertanya ini dan itu tak perlu lama lelah-lelah kita berpikir, cukup ketik kata kunci di google search engine, atau kalau ingin keterangan yang panjang lebar tinggal tanya lewat ChatGPT.

Segala sesuatu diluar diri kita sekarang sudah serba cerdas. Kitapun tak perlu banyak mikir.

Namun inilah yang kemudian menakutkan. Teknologi kemudian menjadi teror atas eksistensi manusia. Secara komunal kita menciptakan peradaban ini namun kemudian menjadi teror untuk diri kita bersama.

Kita manusia kemudian takut jika pengetahuan dan teknologi perkembangannya menjadi tidak terkendali.

Dan sayangnya kita memang tak bisa dan tak mungkin mengendalikan perkembangan pengetahuan serta teknologi sepenuhnya, karena akan selalu ada anomali.

note : sumber gambar – ANTONIOPASCOTTO.IT