KESAH.ID – Bakso hampir tak pernah gagal membangkitkan selera. Daging giling berbentuk bola-bola disajikan dengan kuah kaldu hangat dengan berbagai pelengkap digandrungi begitu banyak orang. Makanan rakyat ini populer karena rasanya enak dan harganya murah meriah, bersahabat dengan saku kebanyakan masyarakat. Namun ada juga bakso premium, hasil kreasi terbaik pengusaha makanan dan minuman yang harganya ramai jadi gunjingan.
Sudah duapuluh tahunan saya tinggal di Samarinda, sebagian jengkal wilayahnya pernah saya lewati. Ada yang sambil lalu, ada pula yang benar-benar saya perhatikan. Tapi jika ada yang bertanya apa ciri khas Samarinda, saya masih tetap kebingungan menjawab.
Jangankah saya, mereka yang mendapat sematan gelar budayawan sekalipun mungkin juga tak bisa segera tegas menjawab. Pasalnya Samarinda memang gado-gado jadi sulit sekali untuk menentukan uniqueness-nya.
Tapi ya nggak apa-apa kalau Samarinda tak seperti Yogyakarta atau Bali. Toh dalam realitas alam dikenal istilah “Keteraturan alam itu adalah ketidakteraturan,”, maksudnya tentu bukan semrawut.
Jadi identitas Kota Samarinda adalah tidak punya identitas, dalam arti kota ini terbuka dan egaliter. Semua boleh datang, menunjukkan identitasnya masing-masing dan saling menerima. Itulah Samarendah, duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
Maka saya setuju, ketika Walikota Samarinda punya visi “Terwujudnya Samarinda sebagai kota pusat peradaban,”. Sebab nature Kota Samarinda memang demikian, menjadi tempat pertemuan berbagai peradaban dan tidak terjadi benturan antarnya.
Yang profan dan religius bisa berdampingan, yang tradisional dan yang modern atau populer bisa beriringan. Tidak melupakan yang lampau dan tak menolak yang sedang jadi tren.
Dalam soal berbahasa, orang yang datang ke Samarinda tidak akan menjadi ‘Orang Samarinda’ karena tidak ada bahasa yang dominan disini. Tidak seperti orang yang datang ke Manado yang kemudian mesti berbahasa melayu logat Manado, atau ke Yogya yang kemudian bikin orang jadi kejawa-jawaan.
Orang dari berbagai daerah yang datang dan tinggal di Samarinda tetap bisa berbahasa daerahnya sendiri, bebas tanpa khawatir orang lain yang mendengar dan tidak paham merasa sedang dibicarakan.
Untuk itu mestinya Samarinda harus mendapat awards peradaban, yakni turut menjaga kelangsungan hidup berbagai bahasa daerah di Nusantara. Penghargaan itu jauh lebih bermakna ketimbang mengejar Piala Adipura.
Dan orang-orang yang berbahasa sendiri-sendiri itu kemudian disatukan kalau tidak dengan bahasa Indonesia ya bahasa banjar dalam logat Samarinda.
Selain membawa bahasa, yang datang ke Samarinda juga membawa serta keseniannya. Pertunjukan Kuda Lumping atau Jaranan mudah ditemui di Kota Samarinda. Maka ketika mengadakan Festival Kesenian Nusantara, tak perlu mengundang peserta dari daerah lain, sanggar atau kelompok kesenian di Samarinda sudah cukup nusantara.
Terbiasa berada dalam ekosistem kebhinekaan membuat pencarian orisinialitas bukan obsesi kebanyakan warga Kota Samarinda. Memaksakan hal semacam itu malah jadi tidak laku, seperti Sarung Samarinda, Batik Samarinda atau bahkan mungkin Baju Adat Pengantin Samarinda.
Sebab yang laku ya tetap sarung BHS atau Gajah Duduk, batik Pekalongan atau batik Solo dan pengantinnya memakai baju adat Jawa, Sulawesi, Banjar, Kutai, Batak atau baju pengantin ala Eropa.
Seingat saya tahun 2014 lalu entah detik.com atau kompas.com menulis tentang ayam cincane yang disebut sebagai kuliner khas Samarinda {Kaltim}. Saya tanya olahan ayam kampung itu kepada teman yang lahir dan besar di Samarinda, ternyata tak tahu.
Dan sepanjang saya tinggal di Kota Samarinda, saya belum menemukan warung yang di list menunya ada ayam cincane itu. Waktu itu yang justru ramai adalah ayam gepuk, ayam lalapan yang kemudian disusul dengan ayam geprek dan ayam penyet.
Kini yang terkenal adalah ayam ganja, ayam ungkep yang digoreng kemudian disertai compliment kangkung goreng. Ayam ungkep yang digoreng sebelum populer dengan sebutan nasi uduk Bandung.
BACA JUGA : Pilih Mana, Jalan Lubang Atau Lubang Berjalan?
Selain Sumedang yang terkenal karena tahunya, Bandung menjadi nama dari Jawa Barat yang terkenal di Kota Samarinda, ada bubur bandung, roti bakar bandung dan siomay bandung. Yang masih berjuang adalah Tasikmalaya, lewat nasi tutuq oncom-nya.
Provinsi yang bertetangga dengan Jawa Barat yakni Banten juga dikenal di Samarinda lewat bubur ayam banten. Biasa ditambah dengan nama yang punya seperti Budi Banten, Eka Banten dan lain-lain.
Bubur ayam memang merupakan salah satu makanan yang populer di Kota Samarinda, ada yang menjual sebagai makanan untuk sarapan. Umumnya dijual dengan gerobak, namun kebanyakan lainnya berjualan sepanjang hari, pagi, siang, sore hingga malam. Selain bubur ayam bandung dan banten, bubur ayam samarinda juga terkenal.
Dan beberapa tahun terakhir ini banyak juga yang mulai menjual bubur manado atau tinutuan. Sama seperti rica-rica, yang menjual bukan lagi orang Manado atau Minahasa. Yang belum banyak diketahui oleh orang adalah midal, bubur manado yang disiramkan pada mie basah. Midal hanya dijual oleh warung manado atau warung minahasa.
Label kota-kota lain baik dari luar pulau maupun tetangga memang mudah dijumpai di warung atau kedai-kedai di Kota Samarinda. Yang paling banyak melabeli dengan nama kota adalah soto dan bakso.
Ada soto banjar, soto lamongan, soto semarang, soto madura, coto makassar, coto pangkep, soto kudus, soto padang dan soto betawi. Namanya yang bermacam-macam juga tercermin dari jenis kuah dan daging yang dipakai.
Ada soto berkuah bening, kekuningan sampai buthek. Ada yang pakai daging sapi, daging ayam dan kikil. Kalau saja ada soto minahasa atau manado maka bahannya rusuk babi.
Berbincang soal soto kalau tidak hati-hati bisa membuat konflik berbau SARA berbasis kuliner. Sebab soto jenisnya memang bermacam-macam, berbeda sekali satu sama lainnya. Soto dari Jawa dan Banjar bisa dibilang pelit daging, mangkoknya penuh dengan kuah. Beda dengan soto dari Sulawesi atau Sumatera yang isinya daging semua. Gara-gara soto, kita bisa menuduh orang Jawa pelit dan orang Banjak sekek.
Umumnya makanan yang populer di Indonesia terpengaruh atau bernenek moyang dari kuliner Tiongkok. Namun ternyata ada juga sumbangsih dari Amerika Serikat, yakni ayam goreng tepung yang dulu dipopulerkan oleh KFC.
Ayam ‘KFC’ menjadi makanan hari-hari mulai, harganya juga murah. Ada yang menjual sepotongnya 6 ribu rupiah. Setiap tahun selalu saja ada gerai ayam goreng tepung yang populer, kalau tertarik untuk merasakan mesti siap-siap untuk berdiri mengantri. Antriannya bisa berkelok-kelok seperti ular.
Selain digoreng dengan tepung begitu saja, sekarang juga banyak yang menjual daging dada atau paha tanpa tulang digoreng dengan tepung lalu disiram saos, steak ayam. Sama seperti ‘KFC’ semua juga bersaing untuk menjual dengan harga yang paling murah.
Jenis ayam-ayaman ini memang paling cocok dijuduli “Rasa bintang lima, harga kaki lima,”.
Betul, di hotel berbintang steak ayam bisa dihargai 150 ribu belum termasuk pajak, sementara di kedai atau warung pinggir jalan bisa ditebus dengan harga 25 ribu bahkan ada yang dibawahnya.
Di tengah lautan makanan yang beragam, kalau ada yang meminta saya untuk menominasikan makanan apa yang paling populer atau lazim di Kota Samarinda maka saya akan memilih nasi goreng dan bakso, walau saya lebih suka tahu tek tek.
Kenapa?. Karena di hari pertama lebaran dimana kebanyakan warung, kios atau kedai makanan tutup yang jualan nasi goreng dan bakso tetap buka di beberapa tempat.
Sulit mencari hari dimana tidak ada orang berjualan nasi goreng dan bakso.
BACA JUGA : Ruang Tuhan Yang Makin Sempit
Popularitas nasi goreng dan bakso paling tidak bisa membuktikan teori Yunan yang mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari sebuah daerah yang berada sebelah Barat Daya Tiongkok, berbatasan dengan Myanmar, Laos dan Vietnam.
Makanan yang sudah diakui sebagai kekayaan kuliner Nusantara ini resepnya diperkenalkan oleh kaum migran dari Tiongkok. Resep nasi goreng dibawa oleh orang-orang Yangzhou yang berasal dari Provinsi Jiangsu, Tiongkok. Sedangkan bakso berasal dari bahasa Hokkien, Bak So yang artinya daging giling.
Bakso menjadi makanan khas nusantara karena dagingnya diganti daging sapi. Dan bola-bola daging kemudian ditambah mie kuning, mie putih {soun}, bakwan, tahu, tetelan dan lain-lain. Yang disebut bakso umumnya adalah mie bakso. Jenis bakso lainnya adalah bakso atau bakwan Malang karena ditambahi bakwan, tahu, pangsit rebus atau goreng.
Nasi goreng dan bakso menjadi makanan paling populer karena sesuai dengan logika mulut, perut dan hati rakyat, istilahlah murmer, murah meriah. Artinya rasanya relatif enak, porsinya besar dan harganya sesuai kantong.
Walau pangsa pasarnya lebar, namun jamaah nasi goreng dan bakso ternyata sensitif harga. Strategi pricing untuk menyasar kelas menengah ke atas kerap bikin jengah rakyat kebanyakan. Seolah mereka tak rela makanan rakyat itu dibandrol dengan harga bintang lima.
Kedaulatan rakyat seolah terganggu jika ada nasi goreng dan bakso yang mahal harganya, melampaui akal kebanyakan rakyat jelata.
Jalan A. Yani yang dulu dikenal dengan nama Cendrawasih pernah dihebohkan oleh nasi goreng habis dua porsi gratis. Warung Putri Kediri yang dimiliki oleh Pak Suwito ini hanya menjual mie dan nasi goreng, porsinya jumbo hingga dijuluki nasi goreng kuli.
Warung ini viral karena didatangi oleh Food Vlogger, Next Carlos. Dan warung nasi goreng atau mie goreng dengan harga murah namun porsi kuli bukan hanya Putri Kediri. Dengan harga sekitar 15 ribu rupiah, ada banyak warung yang nasi atau mie gorengnya bisa mengenyangkan untuk dua orang, dua orang yang bukan kuli bangunan.
Dan minggu-minggu lalu Samarinda juga heboh, terutama di media sosial. Bukan karena video Food Vlogger, melainkan nyinyiran para netizen yang jiwa rakyat jelatanya terusik.
Bakso memang kerap bikin heboh Kota Samarinda. Ada bakso yang ramai kemudian dituduh pakai daging babi. Ada juga yang dituduh pakai pesugihan, didalam panci kuahnya ditaruh celana dalam atau BH. Dan ada juga tukang bakso yang menghilang, meninggalkan motor dan rombongnya.
Tapi kehebohan kali ini soal harga, bakso dengan atau tanpa mie harganya 40 ribuan.
Harga itu sebenarnya tidak masalah untuk warga Kota Samarinda yang terbiasa dengan kalkulator rusak para penjual makanan. Uang segitu untuk anak-anak Samarinda adalah uang jajan sehari-hari, buktinya Starbuck yang segelas minumannya mesti ditebus dengan harga 50 ribuan keatas selalu ramai oleh anak-anak muda.
Harga 40 ribuan menjadi masalah dan bikin gundah karena itu bakso, makanan rakyat kebanyakan, lambang kedaulatan masyarakat umum.
Mungkin netizen khawatir, kalau warung bakso yang harganya 40 ribu semangkok itu ramai nanti Pak Lek bakso yang berkeliling dengan motor atau grobak bakal ikutan menaikkan harga. Harga bakso kebanyakan bakal terpompa.
Dengan harga 40 ribuan tentu saja bakal membuat hak semua warga untuk menikmati bakso dengan bebas merdeka sulit untuk diwujudkan. Padahal dalam bakso {mungkin juga nasi goreng, mie ayam, pecel, ayam ‘kfc’} masyarakat Samarinda dipersatukan dalam perasaan senasib sebangsa.
Dalam bakso saya menemukan Samarinda memang sama rendah. Warganya diikat oleh kesetaraan bahwa yang namanya makanan rakyat itu mesti dijual serendah-rendahnya. Semurah-murahnya sehingga bisa dinikmati oleh semua orang tanpa merasa dompetnya bocor.
Untuk yang menjual bakso dengan harga premium tentu saja tak perlu berkecil hati. Tidak apa-apa diboikot, toh yang memboikot memang tak pingin membeli. Adalah wajar harganya mahal karena daging sapi juga tidak murah.
Itulah resiko melakukan marketing online, mempromosikan dagangan lewat berbagai jalur di media sosial. Semua bisa bersikap kritis, bebas berpendapat, mulai dari komentar rasional, emosional, religius sampai nyinyir.
Tak apa, ngomongin bakso barangkali memang lebih menarik daripada berbincang tentang copras capres dan colag caleg yang mulai menjemukan itu.
note : sumber gambar – ORAMI.CO.ID








