KESAH.ID – Mengamati sejumlah kebijakan pembangunan selama dua periode pemerintahan Presiden Jokowi terlihat jelas ada pola yang hampir sama dengan yang dilakukan Xi Jinping di Tiongkok. Namun mungkin kita malu-malu mengakuinya karena ada trauma hubungan masa lalu dengan Tiongkok yang tidak elok.
Xi Jinping tiada tanding. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Presiden Tiongkok dua periode yang berhasil merubah konstitusi hingga berpotensi menjadi presiden seumur hidup.
Seperti Indonesia, masa kepresidenan di Tiongkok dibatasi dua periode, dua kali lima tahun.
Pembatasan masa jabatan presiden mulai diberlakukan di Tiongkok oleh Deng Xiaoping pada tahun 1982. Tujuannya untuk menghindari kekacauan dan malapetaka seperti pada masa Mao Zedong yang memerintah seumur hidup.
Sebelum.Xi Jinping, hanya ada dua presiden yang berhasil menduduki jabatan dua periode yakni Hu Jianto dan Jiang Zemin.
Xi Jinping menjadi yang ketiga sekaligus meruntuhkan batasan itu, karena parlemen China yang beranggotakan 3000 orang menyetujui pembatalan pembatasan masa kepresidenan. Xi Jinping akhirnya berhasil duduk sebagai presiden Tiongkok untuk periode ketiga.
Dilihat dari darahnya, Xi Jinping merupakan anak dari salah satu pendiri Partai Komunis China, ayahnya merupakan sahabat dari Mao.
Pada jaman revolusi kebudayaan yang diluncurkan oleh Mao, Jinping terpaksa berhenti sekolah dan selama 7 tahun bekerja sebagai buruh pertanian dan hidup dengan makan bubur beras.
Revolusi kebudayaan gagal, Xi Jinping kembali berkumpul dengan keluarganya yang kemudian kembali aktif di PKC.
Langkah Jinping untuk bergabung dengan PKC beberapa kali dijegal oleh ayahnya. Namun Jinping tetap kukuh pada pendiriannya. Dan perlahan-lahan karier politiknya naik hingga menduduki posisi puncak.
Peta jalan karier politiknya dimulai dengan bergabung di militer. Dari sana Xi Jinping kemudian mendapat berbagai penugasan dari partai. Jinping pernah menjadi walikota Shanghai, juga gubernur di provinsi Fujian. Hingga akhirnya menjadi presiden.
Perjalanan kepemimpinan Xi Jinping mirip Presiden Joko Widodo, yang mulai dari Walikota Solo, Gubernur DKI hingga Presiden RI dua periode.
Bisa jadi suara-suara Jokowi 3 periode terinspirasi oleh langkah Xi Jinping di Tiongkok.
BACA JUGA : Tuhan Yang Tersenyum
Bagaimana Xi Jinping bisa menjadi tokoh yang begitu kuat di Tiongkok?.
Tentu saja kekuatan Xi Jinping tidak lepas dari kedudukannya di Partai Komunis China. Seperti Mao, Jinping adalah Marxisme sejati. Dia percaya bahwa komunisme akan mengalahkan kapitalisme.
Di tengah kebangkrutan komunisme di Eropa, dengan runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet, Tiongkok masih percaya diri bahwa komunisme belum mati. Namun komunisme harus diintepretasi dan dieksekusi dengan cara baru.
Mao gagal ketika meletakkan kekuatan komunisme lewat petani sebagai soko gurunya.
Dan kemudian Tiongkok merubah strategi ke arah industrialisasi, industri manufaktur lewat kontrol negara yang kuat melalui BUMN.
Xi Jinping kemudian memformulasi pemikiran politik ekonominya dengan label “Sosialisme ala Tiongkok”.
Praktek yang jika diterapkan di alam politik ekonomi barat akan diolok-olok sebagai munafik. Menyembunyikan watak kapitalis di balik topeng sosialis.
Padahal tidak demikian. Karena tradisi pemikiran Tiongkok berbeda dengan barat yang terpengaruh Filsafat Yunani. Tiongkok mempunyai pemikiran filsafatinya sendiri.
Dalam praktek kapitalisme barat campur tangan pemerintah pada sektor privat amat kecil, sektor swasta diberi kebebasan seluas-luasnya untuk mengeruk keuntungan bahkan kemudian bisa lebih besar dari negara.
Lain halnya dengan di Tiongkok. Meski dibiarkan membesar dan menjadi kaya, tapi ada batas-batas yang ditetapkan oleh negara, ideologi partai, yang pastinya tunggal yakni Partai Komunis China.
Sektor swasta yang besar dan kemudian dianggap mengancam atau membahayakan kepentingan partai maka akan diintervensi, kalau melawan akan dinasionalisasi.
Gurita Alibaba Group yang dimotori oleh Jack Ma, dilarang oleh pemerintah Tiongkok ketika akan melakukan IPO dinpasar global. Pemerintah tak ingin Alibaba dimiliki oleh investor di luar Tiongkok.
Beberapa konglomerat lain yang melawan dibabat oleh Xi Jinping yang tak peduli dengan isu Hak Asasi Manusia yang sering ditiupkan oleh sekutu-sekutu Amerika Serikat.
Untuk banyak negara lain isu HAM menjadi sebuah isu yang sensitif, namun tidak demikian dengan Tiongkok. Masyarakatnya sudah terbiasa dengan “pengaturan” yang sangat ketat dari pemerintahan yang berada dalam kendali partai komunis.
Selama masyarakat mengikuti apa yang menjadi garis kebijakan partai, tegak lurus dengan partai maka tak akan diberlakukan secara semena-mena.
Bebas terkendali, mungkin begitu situasinya.
Namun jika yang dilakukan oleh orang per orangan, kelompok termasuk kelompok agama dan swasta mulai dianggap membahayakan keamanan dan kemapanan ideologi partai maka akan ditertibkan dengan cara yang keras. Loyalitas terhadap partai menjadi yang paling utama.
Agama selama dipraktekkan sebagai lalu spiritual dan kebudayaan tidak akan diganggu, namun ketika mulai dipakai sebagai gerakan atau pondasi politik, pasti akan direpresi.
Pun demikian dengan koruptor. Korupsi bukan hanya dianggap merugikan keuangan negara atau pemerintahan, melainkan juga tanda ketidakloyalan pada ideologi partai sehingga akan ditangani dengan sangat keras.
Xi Jinping dikenal sebagai pemimpin yang sangat anti korupsi dan tak segan memberikan hukuman sangat berat pada koruptor.
Walau ada tenggara, tuduhan korupsi kerap dipakai sebagai cara untuk melenyapkan atau menghentikan lawan-lawan politiknya. Hingga dirinya kemudian menjadi sangat kuat dan berpengaruh.
BACA JUGA : Sedemikian Pentingkah Bakso Untuk Orang Samarinda?
Dulu Tiongkok dikenal dengan julukan Negeri Tirai Bambu. Julukan ini sesuai dengan fakta bahwa mereka mempunyai banyak jenis bambu. Binatang ikonik Tiongkok yakni Panda juga memakan bambu.
Selain banyak jenisnya, bambu dari Tiongkok juga terkenal bermutu bagus, tidak mudah patah sehingga bisa dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam perkakas dan juga bangunan.
Bambu yang tumbuh bergerombol dan menutupi bidang tertentu kemudian cocok dengan kenyataan Tiongkok yang berpaham sosialis, rumpun bambu terlihat dari luar namun didalamnya tidak kelihatan. Demikian juga dengan Tiongkok, kelihatan dari luar namun tak banyak yang tahu apa yang terjadi didalamnya. Bambu yang bergerombol menutup rapat keadaan didalam.
Tiga puluhan tahun lalu produk dari Tiongkok membanjiri pasar dunia. Made in China, bersaing dengan Made in Japan, Made in USA dan lainnya.
Namun produk Tiongkok lebih populer karena lebih murah, meski cepat rusak dan layanan aftersales-nya tak ada.
Sebutan “buatan China” tidak bernada netral, ada nada merendahkan. Mulai dari motor China (mocin), hp China sampai mobil China.
Semua disebut China, karena orang tak peduli mereknya. Merek seolah tak penting karena produk China bisa dimereki sendiri sesuka hati yang mendatangkan. China seperti tak perduli dengan hak cipta, yang penting laku banyak.
Namun sepuluh atau dua puluh tahun terakhir berubah, bukan hanya industri manufakturnya melainkan juga industri teknologinya.
Motor dan mobil dari China mulai meningkat kualitasnya, mulai dipasarkan dengan cara yang mirip produk-produk dari Jepang. Ada dealernya, ada layanan after sales-nya, ada service centernya.
Kemajuan yang paling pesat justru di ITK, produk teknologi komunikasi digital dari Tiongkok tidak lagi disepelekan. Oppo, Huawei, Xiomi dan lainnnya mulai bersaing dengan Samsung, Aple, Nokia, HTC, Sony dan lain-lain.
Dalam dunia internet atau digital Tiongkok bukan lagi pengekor. Dibawah Xi Jinping, Tiongkok berhasil membangun kemandirian dalam teknologi digital, membangun ekosistem sendiri.
Dengan jumlah penduduk yang besar dan geografi yang luas dan beragam kondisinya, Tiongkok berhasil menjadikannya sebagai laboratorium sehingga apa yang dikeluarkan dari sana sudah diuji lebih dahulu di dalam negerinya.
Ekosistem internet Tiongkok adalah ekosistem tertutup. Tersambung dengan internet namun dilarang memakai sistem dari luar, google, facebook dan media sosial serta aplikasi dari luar dilarang pemakaiannya. Tiongkok mengembangkan perambah, mesin pencari, media sosial, messenger dan pembayaran onlinenya sendiri.
Embargo dari Amerika Serikat menjadi tidak mempan. Ketika Huawei diboikot oleh Amerika Serikat dan kemudian dilarang memakai platform google mobile service, Huawei tidak tumbang. Satu atau dua tahun kemudian bahkan Huawei kembali berkibar dengan OS-nya sendiri.
Tiongkok kemudian tumbuh menjadi kekuatan “alternatif” baru dalam bidang ekonomi, keuangan dan teknologi. Kiblat tak melulu lagi mengarah ke Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa.
Dengan kekuatannya, Tiongkok bahkan lebih cepat memperoleh “sekutu” baru karena dalam hubungannya dengan negara lain tidak membawa sentimen politik dan ideologi serta ancaman kekuatan lain seperti embargo, boikot, pengucilan dan lain-lain yang biasa dipakai Amerika Serikat.
Geopolitik Tiongkok membuat pusing kepala Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Soft power Tiongkok semakin menguat, bahkan berhasil merasuk ke jantung Amerika Serikat lewat Tik Tok.
Yang pusing kepala dengan Tik Tok bukan hanya pemerintah Amerika melainkan juga tech industry disana.
Popularitas media sosial berbasis video pendek ini sampai membuat Meta meniru dengan menyematkan reels di Facebook dan Instagram. YouTube pun juga menyematkan fitur baru You Tube Short namun ternyata tak mampu menyaingi pengaruh Tik Tok.
Dan pemerintah Amerika Serikat kemudian bertindak, terpaksa mengambil tindakan yang “memalukan” yakni berniat melarang Tik Tok jika pemilik Tok Tok tidak menjadikannya sebagai perusahaan Amerika Serikat.
Amerika Serikat terus berupaya menekan laju pengaruh Tiongkok, namun lingkaran pengaruh Tiongkok di tingkat Global tetap makin menguat lewat OBOR dan BRICK.
Tiongkok yang tadinya gencar membangun infrastruktur dalam negeri kini mulai giat membangun infrastruktur di negeri dan benua lain untuk menjadi jalur distribusi produknya.
Dan birokrasi dalam proses transaksi juga disederhanakan, lewat BRICK, transaksi dagang termasuk pinjaman dan investasi tak lagi memakai USD melainkan uang lokal atau negara masing-masing yang mengikat dalam perjanjian bilateral.
Tiongkok menampilkan arus baru, membangun pengaruh global dengan pondasi kiri baru, lewat intepretasi Marxisme yang khas, yang dilabeli sebagai sosialisme berciri khas Tiongkok.
Lepas dari segala trauma hubungan di masa lalu dengan segala sesuatu yang berbau Tiongkok, kita mesti menimbang masa depan Indonesia dengan belajar dari pengalaman mereka.
Ingat sudah sejak lama kita diberi wejangan “Belajarlah sampai ke negeri China,”
note : sumber gambar – KUMPARAN.COM








