KESAH.IDLewat serangkaian revolusi yang panjang dan berdarah-darah, Tiongkok tumbuh menjadi kekuatan dunia dengan dasar pemikiran Marxian. Berbeda dengan Pancasila di Indonesia, Marxisme di Tiongkok menjadi subyek pembelajaran utama di universitas-universitas terkemuka. Generasi tercerdas Tiongkok antusias mempelajari marxisme. Sedangkan generasi tercerdas Indonesia ogah mempelajari Pancasila secara mendalam.

Mereka yang mendalami studi ilmu budaya pasti akrab dengan istilah Sekolah Frankfurt atau Frankfurter Schule.

Sebutan ini mengacu pada mahzab yang dihasilkan oleh sekelompok pemikir yang memiliki afiliasi dengan  Institut für Sozialforschung di Frankfurt, Jerman beserta sekelompok pemikir-pemikir lainnya yang kodipengaruhi oleh mereka. 

Sebutan ini bermula ketika pada tahun 1930  Max Horkheimer diangkat sebagai direktur lembaga riset sosial tersebut. 

Beberapa filsuf terkenal yang dianggap sebagai anggota Mazhab Frankfurt ini antara lain Theodor Adorno, Herbert Marcuse, Walter Benjamin, dan Jürgen Habermas. 

Kelompok ini juga sering disebut sebagai Cafe Marx karena mereka mempunyai ketertarikan intelektual terhadap neo-marxian lewat kajian kritis atas ortodoksi Marxisme yang diterapkan oleh regim diktator proletariat ala Uni Soviet.

Teori atau mazhab Frankfurt menjadi sebuah perkembangan marxian di Eropa. Dengan cara menolak ideologisasi dari sebuah pemikiran filosofis.

Menjadikan sebuah pemikiran menjadi ideologi berwatak ahistoris. Pengetahuan menjadi dogma yang kaku, dijaga untuk tidak berubah dari waktu ke waktu.

Padahal pengetahuan bersifat dinamis, selalu berubah dari waktu ke waktu karena perkembangan jaman dan situasi-situasi baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Hal lain yang dikritik oleh mazhab Frankfurt adalah determinisme ekonomi apa marxisme ortodoks, bahwa basis ekonomi itu menentukan superstruktur yakni kesadaran.

Marxisme ortodoks memandang kelas sosial, entah itu borjuis atau proletar akan menentukan cara berkesenian, berinteraksi dengan orang dan lain-lain.

Dari kritisisme ini kemudian mazhab Frankfurt membangun teori rasionalitas. Dengan teori rasionalitas ini mazhab Frankfurt masuk ke dalam kajian mendalam tentang aspek-aspek modernitas seperti ilmu pengetahuan, industri dan kapitalisme.

Mazhab Frankfurt menyebut modernitas dikuasai oleh rasionalitas intrumental. Rasionalisme intrumental ini tampil dalam bentuk-bentuk ideologi besar seperti fasisme, komunisme, kapitalisme dan lain-lain.

Pemikiran mazhab Frankfurt ini kemudian memicu gerakan dalam masyarakat terutama kelompok mahasiswa yang disebut sebagai gerakan kiri baru.

Bahkan juga memunculkan kelompok yang sangat radikal, yakni RAF, Rote Armee Fraktion.

Kelompok kiri baru dan RAF menjadikan pemikiran mazhab Frankfurt sebagai basis gerakan, mengideologisasi teori-teori ilmiahnya.

Pemikiran sekolah Frankfurt diideologisasi karena masih berada dalam konteks marxis, kritis terhadap ortodoksi komunisme dan anti fasis, anti imperialis bahkan anti amerika.serta cenderung pro dengan yang terjadi di China dan Amerika Latin.

Namun pada akhirnya mazhab Frankfurt memutuskan hubungan dengan gerakan mahasiswa karena tidak menyetujui radikalisasi, ideologisasi teori yang bisa menghantar pada kekerasan.

Dalam dunia ilmu pengetahuan terutama teori sosial, mazhab Frankfurt memberi sumbangsih yang bermakna lewat teori kritis. 

Teori kritis mazhab Frankfurt mendorong pengembangan kesadaran kritis dan emansipatoris praktek manusia dalam melihat realitas yang penuh ketimpangan dan ketidakadilan.

Bagi mazhab Frankfurt ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, teori harus berpihak untuk membebaskan mereka yang tertindas dan terpinggirkan dengan memberi kesadaran kritis. Mahzab Frankfurt menolak positivisme.

Pada akhirnya ortodoksi Marxisme yang digabungkan dengan Leninisme lewat komunisme, bangkrut dengan keruntuhan Uni Soviet. 

Komunisme seolah-olah berakhir, marxisme seperti menjadi tidak lagi relevan dengan jaman. Kalah dengan kapitalisme yang lebih terbuka terhadap kritik sehingga lebih dinamis.

BACA JUGA : Kiri Baru, Marxisme Abad 21 Tiongkok

Bandul sosialis komunisme kemudian mengarah ke benua Asia. Sekurangnya masih tersisa dua negara komunis sosialis yang besar, Korea Utara dan Tiongkok.

Wajah komunisme yang suram dan menyimpang karena ortodoksi ada di Korea Utara. Diktator proletariat disana berpusat pada satu keluarga. Mirip kerajaan yang dimulai dari kakek, diturunkan ke anak lalu ke cucu.

Kehidupan di Korea Utara penuh dengan propaganda. Rakyat yang selalu terancam kelaparan dibuat kenyang dengan utopia dan dibuat tidak melawan dengan tekanan senjata.

Korea Utara mirip Berlin Timur ketika disandingkan dengan Korea Selatan yang bisa diibaratkan sebagai Berlin Barat saat masih dipisahkan dengan tembok.

Namun sosialis komunis di Tiongkok menjadi anomali. Tiongkok adalah negara sosialis komunis yang punya pertumbuhan ekonomi, industri dan teknologi yang sejajar dengan negara-negara liberal kapitalis.

Lewat eksperimentasi Marxisme panjang, mulai dari revolusi kebudayaan, Partai Komunis China bisa membawa Tiongkok menjadi kekuatan yang menyaingi kejayaan Amerika Serikat.

Sosialis komunis di Tiongkok seolah tampil dengan wajah lain, lebih ramah, lebih dinamis dan flexibel dengan perkembangan jaman.

Xi Jinping, Presiden Tiongkok menyebutnya sebagai Sosialisme berciri khas Tiongkok.

Bisa jadi hal ini berhubungan dengan sistem pendidikan di China yang menjadikan Marxisme sebagai bidang kajian yang setara dengan ilmu-ilmu lainnya.

Setiap universitas mempunyai fakultas marxisme, pemikiran filosofis dan ekonomi Karl Marx terus didalami dan diintepretasi dalam kontek Tiongkok dan global. 

Mulai dari pelajar hingga mahasiswa mesti mengambil pelajaran tentang marxisme.sebagai mata pelajaran dan kuliah wajib.

Fakta ini kemudian sering membuat khawatir bagi sebagian masyarakat Indonesia. Karena ada banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Tiongkok.

Masyarakat Indonesia khawatir mereka yang belajar disana pulangnya akan membawa paham komunis.

Kekhawatiran yang sebenarnya berlebihan, karena tidak ada kewajiban mahasiswa asing untuk mengambil pelajaran marxisme. 

Kebijakan Tiongkok soal sosialis komunis berbeda dengan Uni Soviet, yang mengembangkan pengaruh berdasarkan ideologi. 

Tiongkok melawan liberalisme dan kapitalisme tidak dengan mengedepankan ideologi melainkan dengan inisiatif pembangunan, ekonomi dan keuangan.

Regim sosialis komunis Tiongkok menggunakan senjata soft power yang serupa dengan negara liberal kapitalis.

Marxisme oleh PKC dikembangkan layaknya spiritualitas agama-agama lewat kesaksian dalam bentuk teladan kelakuan buat dengan mengkotbahkan ayat-ayat dan menekankan dogma-dogma ajaran.

Ideologisasi Marxisme dalam bentuk sosialisme komunis diterjemahkan dalam bentuk-bentuk yang bisa dieksekusi, tindakan nyata, masyarakat dibiarkan bebas berekpresi selama tidak melawan kepentingan dan keamanan negara.

Berlawanan dengan prinsip yang biasa diterapkan di negara sosialis komunis, Tiongkok membiarkan warganya memupuk kepemilikan pribadi dan menjadi kaya. 

Dalam sepuluh tahun terakhir, Tiongkok menjadi negara dengan pertumbuhan orang kaya tercepat di dunia.

Tiongkok membiarkan usahawan menjadi konglomerat, kaya raya namun tidak membiarkan mereka menggunakan kekayaan untuk memberi pengaruh di luar ekonomi. 

Kekayaan atau akumulasi modal harus dipakai untuk menciptakan kesempatan ekonomi dan pekerjaan untuk banyak orang.

Orang di China boleh kaya tapi tidak boleh mengkritik pemerintah. Berani mengkritik bisa hilang dari peredaran, perusahaannya bisa dinasionalisasi.

Kontrol atas uang memang sangat ketat di Tiongkok. Bisa jadi secara tradisi dipercaya bahwa uang adalah sumber kejahatan. Tanpa kontrol yang ketat uang akan dikorupsi, dijadikan senjata untuk menyuap dan lain-lain yang kemudian melemahkan cita-cita kesejahteraan bersama.

Tiongkok kemudian menjadi sangat anti korupsi. Koruptor akan dihukum berat bahkan sampai ditembak mati.

Meski secara ekonomi Tiongkok menguat dan menjadi kiblat ekonomi baru namun catatan soal HAM selalu buruk di mata negara-negara kapitalis liberal.

Hanya saja kalau ditanyakan kepada kebanyakan warga Tiongkok, bisa jadi mereka tak bermasalah dengan hal ini. 

Cengkeraman yang kuat dari Partai Komunis China tidak dinilai dalam moralitas baik atau buruk, melainkan dipandang sebagai konsekwensi dari sebuah pilihan ideologi.

BACA JUGA : Tuhan Yang Tersenyum

Indonesia pernah digambarkan sebagai salah satu macan asia. Negara berkembang yang akan segera menjadi negara maju karena pertumbuhan ekonomi dan industri yang kuat.

Namun hingga Presiden yang ketujuh ternyata ramalan itu tak terbukti. 

Dalam soal ekonomi dan industrialisasi, Indonesia lebih memakai modus ‘menunggang angin’, selalu membonceng pada kecenderungan atau trend global sehingga sistem dan praktek ekonomi makin menjauh dari konstitusi.

Secara konstitusional sistem ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi berdasarkan Pancasila sebagai dasar negara.

Tapi bahkan secara teori seperti apa ekonomi Pancasila atau ekonomi kerakyatan tak pernah jelas. 

Kalau secara teori saja tak jelas apalagi agenda atau eksekusinya. Masing-masing menafsir sendiri dan kemudian merasa paling Pancasila.

Sebagai dasar atau ideologi negara Pancasila tidak menjadi sumber kajian ilmiah yang dalam di perguruan tinggi. Mereka yang menulis skripsi, tesis atau disertasi tentang Pancasila mungkin malah ditertawakan rekannya.

Andai saja di Universitas dibuka fakultas Pancasila mungkin juga tak ada yang mendaftar sebagai mahasiswa. 

Pun juga dengan partai sebagai kekuatan politik terutama di Indonesia, tidak ada partai yang punya pandangan dan rencana pembangunan yang kuat berdasarkan ekonomi Pancasila.

Partai Demokrasi Indonesia Pejuangan pernah dikenal sebagai partai wong cilik. Sebutan yang menunjukkan orientasi atau keberpihakan pada rakyat kebanyakan yang menderita. 

Tapi opsi untuk berpihak pada rakyat kecil nampaknya makin melemah, hingga ada yang berseloroh “Partai Wong Cilik sudah jadi Partai Wong Licik”.

Bagaimana Pancasila bisa diterjemahkan dalam konsep yang operasional dalam agenda pembangunan bisa dipelajari dari Tiongkok dengan marxisme-nya.

Pancasila mesti terus menerus diterjemahkan secara dinamis agar tak beku menjadi ideologi yang kaku, dogmatis dan hanya indah dalam pidato.

Tak perlu segan atau takut belajar hingga ke China, karena pergi kesana dan mempelajari bagaimana mereka membangun negara dengan jumlah penduduk yang kelewat banyak itu tidak akan membuat kita jadi komunis apalagi ateis.

Jika kita tak berani belajar maka Indonesia akan jadi negara gagal. Negeri dengan kekayaan sumber daya utama ini akan terus menjadi negeri pasar.

Pasar yang pembelinya lebih suka memilih produk-produk dari luar. 

Dan produk Tiongkok akan merajalela karena murah meriah dan tak kalah keren dengan produk Jepang, Korea Selatan, Eropa dan Amerika Serikat.

Pancasila didalamnya terkandung semangat dan nilai religius, sosialis, liberalis, emansipatoris dan penghormatan pada hak-hak asasi manusia, sejatinya merupakan kekuatan yang maha besar yang bisa menjadikan Indonesia sebagai poros kekuatan lain selain blok liberal kapitalis dan sosialis komunis.

Sayangnya kita tak pernah punya peta jalan pembangunan ekonomi Pancasila.

Mungkin kita mesti menunggu sampai ada yang mendirikan Partai Pancasila Indonesia. 

Partai yang ketika menang dan berkuasa akan membuat Kurikulum Pancasila, kurikulum khas Indonesia.

note : sumber gambar – SUARA.COM