KESAH.ID – Jangan mengira inovasi Es Teh lahir di Indonesia. Konon kebiasaan memberi es batu ke seduhan teh lahir di bagian selatan Amerika Serikat. Tapi harus diakui, kini Es Teh menjadi minuman paling populer di Indonesia. Di setiap ruas jalan selalu berjejer gerai, kios atau booth penjual Es Teh ukuran jumbo. Beberapa start up Es Teh pun tumbuh di Indonesia, salah satu yang pernah ngehit adalah Es Teh Indonesia. Es Teh memang pantas dinobatkan sebagai salah penyelamat ekonomi Indonesia karena banyak orang mengantungkan hidup dari usaha Es Tehnya.
Dulu saya mengenalnya sebagai es balok, karena belum banyak orang punya lemari es atau freezer untuk membuat es batu. Pabriknya ada di sisi sungai yang akan saya lewati setiap kali pergi dan pulang sekolah.
Dari jalan akan kelihatan kesibukan pegawainya mengeluarkan balok es dari cetakan, lalu menariknya dengan gancu. Es balok dijual di kios, esnya ditumpuk dengan dilapisi karung goni dan merang padi biar tidak lekas mencair. Jika tak dibeli utuh satu balok, penjual akan memakai gergaji es untuk memotong-motong seukuran yang dimaui pembeli.
Yang membeli es balok umumnya kios minuman es atau penjual es keliling.
Rasanya sampai tahun 90-an masih banyak pabrik es balok yang beroperasi. Ketika saya pindah ke Manado awal tahun 90-an, masih ada pabrik es balok di Jalan Samratulangi 17.
Saya jarang membeli es batu, kecuali ada acara di rumah. Kata ibu saya minum-minuman yang diberi es batu tidak sehat.
Namun lama-lama populasi lemari es meningkat, juga lemari es yang khusus untuk membuat es batu. Mulai ada rumah-rumah yang di pintu depan ditulis ‘Jual Es Batu’.
Batuknya tidak lagi balok tetapi bulat memanjang karena air dibekukan dalam kantong plastik.
Mulai muncul kebiasaan orang untuk minum es teh. Bongkahan es batu dimasukkan dalam gelas atau wadah berisi teh, rasanya segar sekali.
Entah sejak kapan muncul kebiasaan orang minum es teh. Mungkin sekitar akhir tahun 80-an baru muncul menu es teh di warung-warung, terutama warung bakso, soto, sate dan lainnya.
Saya ingat, Ibu saya selalu melarang jika saya memesan es teh sehabis makan bakso. Padahal mulut yang pedas dan panas terasa nyaman serta enak jika meneguk es teh.
Teh dingin memang enak, makanya produsen minuman teh kemasan atau botolan akan menyertakan tulisan “Lebih enak jika dinikmati dalam keadaan dingin”.
Waktu di asrama sekolah setingkat SMA, siang-siang setelah jam makan penghuni asrama boleh keluar sampai halaman depan sekolah. Di sisi kanan luar halaman depan ada warung makan. Saya dan beberapa teman sesekali kesana, minum es teh. Tapi ada teman lain mengingatkan, katanya kalau sering minum es teh perut akan buncit.
Sebenarnya saya memang tak terlalu militan dalam meminum es teh. Saya lebih memilih es jeruk. Dan pilihan yang paling sering kalau nongkrong adalah minum kopi, kadang kopi es.
Yang ada di kepala saya soal teh, ialah teh tubruk. Teh wangi, panas, manis dan kental atau wasgitel. Setiap pagi ibu saya selalu menjerang teh, kadang di gelas besar, kadang di teko. Dulu di rumah juga selalu ada seduhan teh dalam teko untuk diminum kala haus tanpa gula arau teh anyep.
Di warung juga selalu tersedia ceret yang berisi air teh, yang disediakan untuk siapa saja yang mau minum. Teh anyep itu gratis, namun lama kelamaan digantikan air putih yang mulanya juga gratis. Tapi kini jarang ada warung yang menyediakan air minum gratisan.
Kalau berlibur di rumah nenek, selain minum teh panas pagi, biasanya sore hari kami juga berkumpul untuk minum teh ditemani cemilan. Teh dijerang dalam teko lalu diminum dengan gula batu, kalau tak ada gula batu ya diganti dengan gula aren.
Di asrama juga begitu. Setiap sore kami akan minum teh hangat dan makanan kecil, sebutannya potus.
BACA JUGA : Juru Lambe
Teh dikenal sebagai minuman jauh lebih dulu dari kopi, ribuan tahun sebelumnya. Tapi es teh adalah hasil inovasi lebih lama. Dan jangan mengklaim kalau es teh lahir di Indonesia.
Sebab sejarah teh di Indonesia belum lama, karena teh dibawa dan diperkenalkan oleh Belanda seperti halnya kopi.
Seperti kopi, mulanya teh juga merupakan minuman eklusif. Rakyat jelata dilarang meminumnya. Teh umumnya hanya dinikmati dan diminum oleh bangsawan, keluarga raja.
Lalu dimana es teh lahir?. Menurut sejarah es teh justru lahir di Amerika Serikat bagian selatan. Ada yang menyebut tidak sengaja, karena orang memasukkan es salju didalam seduhan teh, iseng belaka. Lalu karena enak, mereka kemudian membuat es teh dengan es batu.
Tapi ada juga yang mengatakan kalau es teh lahir dalam sebuah expo atau pameran dagang. Penemunya adalah saudagar teh yang ikut berjualan. Karena cuaca waktu sangat panas, dia memasukkan es batu kedalam seduhan teh dan hasilnya sebuah minuman yang enak menyegarkan. Es teh pun kemudian terkenal.
Di Indonesia, teh yang sudah terkenal sebagai minuman lalu lebih sering dibuat menjadi es teh karena makin banyak orang bisa membuat es batu di rumah. Peralatan atau teknologi untuk membuat es batu semakin mudah. Jadi es batu tak perlu di beli di pabrik atau pengecer es balok.
Berkembang di warung-warung makan, mulanya di warung bakso, soto dan lainnya hingga warung tegal serta angkringan, es teh kini dijual di kios-kios sendiri. Ada banyak kios es teh baik yang mandiri maupun berjejaring atau waralaba.
Dalam lima tahun terakhir bisnis es teh manis jumbo berkembang bak cendewan di musim hujan. Es teh original jumbo bertahan dibanding demam Thai Tea dan boba-bobaan.
Dengan harga yang ramah di kantong dan rasa yang enak menyegarkan, kios, kedai atau warung es teh tumbuh lebih cepat dari kedai kopi-kopian.
Warung kopi sekalipun juga memperoleh sumbangan penjualan yang cukup bagus dari es teh. Banyak orang yang ngajak ngopi ke warung kopi ternyata minumnya es teh.
Popularitas Es Teh bahkan telah menarik pebisnis untuk mengembangkan perusahaan start up berbasis Es Teh. Yang terkenal adalah Es Teh Indonesia. Di tingkat lokal muncul pula start up teh lokal yang gerainya bisa mencapai puluhan.
Walau menjadi lahan bisnis yang paling menantang karena banyak kompetitornya, namun bisnis Es Teh masih menjadi bisnis yang terus menarik banyak orang untuk mengeluti. Masalahnya untuk memulai bisnis Es Teh tidak perlu modal yang teramat besar, pun juga modal ketrampilan tak terlalu tinggi. Asal pilihan bahannya standar-standar saja, Es Teh sudah enak, terlebih ketika sengatan terik mentari seperti mencubit-cubit kulit.
Bisnis Es Teh juga tak perlu lokasi premium. Yang penting ada orang disitu dan orangnya masih punya rasa haus. Tak seperti kedai kopi yang mesti beriklan untuk menarik perhatian penyuka kopi. Pembeli Es Teh tak perlu dipancing dengan story telling yang berisi note-note jenis teh yang dipakai untuk membuat minuman.
Yang penting asal berada di tempat yang dilewati banyak orang, tidak sulit untuk berhenti dan parkir sejenak maka umumnya gerai Es Teh akan ramai.
Kalaupun kemudian gagal, kerugian yang dialami tak akan sebesar kedai-kedai jenis lainnya. Gagal bisnis Es Teh tidak akan membuat hidup merana, terkecuali modalnya berasal dari pinjaman online.
BACA JUGA : Los Galacticos
Meski kios Es Teh menjaadi kios terpopuler, jarak antara yang satu dengan yang lainnya terkadang hanya 100 sampai 200 meter, namun untuk yang ingin berusaha dan memperoleh penghasilan yang cukup layak membuka bisnis jualan Es Teh masih jadi pilihan.
Tapi kalau ingin jadi kaya raya, sultan atau milyader rasanya sulit kalau dari jualan Es Teh saja. Jadi kalau ingin kesana kemari naik Lamborgini atau Ferrari mungkin mesti memulai bisnis Timah, Nikel, Batubara atau menambang Emas sekalian.
Menjadi minuman terpopuler, harga ramah di kantong konsumen dan tidak sulit untuk membuatnya, Es Teh mestinya diberi penghargaan sebagai komoditas paling inklusif.
Ya Es Teh telah menjadi salah satu penyelamat bangsa. Banyak orang bisa beroleh rejeki tanpa peningkatan kapasitas dengan mentor, trainer atau fasilitator bersertifikat.
Dan terima kasih pula untuk para penyelenggara event publik, entah yang bersifat keagamaan, sosial, politik atau hiburan. Acara-acara publik ini membuat penjual Es Teh tidak kekurangan pembeli.
Bahkan para penampil sering kali memborong Es Teh yang dijual dengan cara dijinjing.
Sekarang bahkan tak sedikit pengunjung acara yang juga turut memborong Es Teh untuk dibagikan kepada pengunjung lainnya.
Entah yang berjualan itu memang benar penjual atau orang yang sekedar mengadu untung untuk dapat borongan, tak usah diperdulikan. Namanya juga usaha, biar orang itu adalah penjual dadakan tak perlu disoal. Namanya juga aji mumpung, asalkan tidak mumpung atau nyambe nyopet dompet pengunjung.
Dan yang paling dahsyat, tanpa mengembel-embeli diri sebagai aktivis, oposisi atau kaum kritis, ternyata ada seorang penjual Es Teh yang bisa membuat pejabat negara terjungkal.
Pak Sunhaji, seorang penjual Es Teh betulan yang diteriaki goblok oleh Utusan Khusus Presiden yang merangkap penceramah berhasil memancing kemarahan masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia yang kebanyakan adalah konsumen Es Teh Jumbo yang harganya bervariasi antara 3 sampai 7 ribu ramai-ramai marah. Mereka merasa terhina karena penjual minuman kesukaannya dinista oleh pejabat negara.
Karena kejadiannya menjelang akhir tahun, maka Es Teh layak untuk dinobatkan sebagai Drink of The Year dan Pak Sunhaji juga pantas untuk dinobatkan sebagai Man of The Year.
Nah, kalau ada yang meminta saya untuk memilih media iklan luar ruangan yang paling melekat soal Es Teh maka saya akan memilih one way yang terpasang di sebuah mobil mikrolet yang terparkir di Jalan Trisari, Samarinda.
Iklan bergambar Pak Harto itu, seperti biasa diberi ucapan yang seolah disampaikan oleh penguasa Orde Baru itu. “Piye kabare … Iseh Penak, Selalu Teh Too”
Selalu Teh, orang Samarinda pasti tahu gerai Es Teh Jumbo itu.
note : sumber gambar – SUSURGANG








