KESAH.IDBermula dari bengkel kendaraan pada masa perang, usai jaman tembak-tembakan mereda Hans Trunkenpolz berkeinginan menghasilkan motor buatan sendiri. Lahirlah KTM, motor buatannya di Mattighofen, Austria. Motor itu kemudian dikenal dengan nama KTM. Motor berkarakter agresif ini kini dikenal di berbagai ajang balap dunia. Di Moto GP, KTM berjaya di kelas Moto 3 dan Moto 2, asa untuk menjadi penguasa kelas tertinggi muncul lewat Pedro Acosta. Namun memasuki musim 2025 mendung mulai memayungi karena KTM dililit kesulitan keuangan. KTM di-PHP gelembung permintaan saat COVID 19.

Beberapa tahun terakhir ini fajar motor Eropa merekah. Peningkatan daya saing Ducati di Moto GP diikuti oleh KTM dan Aprilia.

Tiga pabrikan Eropa ini seolah mulai mengeser trio Jepang yang ditinggal oleh Suzuki sehingga hanya menyisakan Yamaha dan Honda.

Semenjak tahun 2022 semakin kelihatan Honda dan Yamaha ketinggalan dalam aerodinamika dan cengkraman ban serta pernak-pernik elektronik lainnya.

Kisah Moto GP seperti menjadi ajang balapan motor Eropa, motor Jepang menjadi pengembira. Yamaha dan Honda diolok-olok bukan tengah balapan tapi ikut Sunmori, Sunday Morning Ridding.

Menjelang musim Moto GP 2025, Honda dan Yamaha berbenah dengan mulai terbuka untuk merekrut para insinyur dari Eropa untuk memimpin pengembangan.

Sebaliknya mendung hitam justru mengayuti Eropa, terutama KTM yang diterpa masalah keuangan.

Perusahaan yang sangat agresif mengembangkan bisnis motornya ini tertimpa masalah likuiditas. Akusisi terhadap Gas Gas, Husgvarna dan MV Agusta serta agresifitas produksi saat COVID 19 membuat KTM mengalami seret penjualan.

Sebagai produsen motor yang agak spesifik, motor-motor bernuansa sport atau adventure, KTM memang kelewat optimistik. Ekspansi besar-besaran tak memperhitungkan daya serap pasar.

Permintaan akan motor yang cenderung naik pada saat Covid 19 dianggap sebagai tanda kenaikan permanen, padahal yang terjadi adalah sekedar gelembung yang siap pecah lalu anjlok.

Karena pembatasan sosial saat Covid 19, banyak orang di Eropa kemudian gabut. Untuk mengisi waktu sebagian kemudian bermotor. Permintaan motor meningkat.

Dan KTM kemudian meningkatkan produksinya. Dengan potensi yang dianggap besar, KTM percaya diri melakukan pinjaman untuk mengembangkan produksi. Ketika kebijakan pembatasan sosial dicabut, kehidupan kembali pada ritme semula, penjualan motor KTM bukan hanya menurun tetapi terhenti. Ada ribuan motor berjejer tanpa pembeli di show room dan gudang.

Motor-motor itu sulit untuk dijual sebab motor KTM bukan motor untuk pemakaian hari-hari seperti kebanyakan motor yang diproduksi oleh Honda dan Yamaha.

Lebih siap lagi, prestasi KTM di berbagai ajang balap yang membuat nama KTM dan GAS GAS dikenal luas ternyata tak seiring dengan peningkatan penjualan.

KTM terancam bangkrut dan masa depan berbagai kegiatan dan proyek balapnya terancam.

Di Moto GP, KTM yang mempunyai calon bintang masa depan yakni Pedro Acosta telah merekrut pembalap lain yang ternama untuk memperkuat tim-nya. Memindahkan Pedro Acosta dari tim satelit GAS GAS untuk bertandem di tim pabrikan dengan Brad Binder, KTM merekrut Maverick Vinnales dan Enea Bastianini untuk memperkuat Tim KTM Tech 3.

Dengan gonjang-ganjing yang terjadi di induk perusahaan, masa depan para pembalap KTM menjadi tidak jelas. Harapan untuk berprestasi di KTM dan menyaingi atau mengganggu dominasi Ducati nampaknya sulit untuk diwujudkan.

Bahkan Ducati telah bergerak cepat. Kehilangan banyak pembalap berbakat, Ducati kemudian memanfaatkan kesempatan. Pedro Acosta didekati oleh Ducati.

Dalam formasi sekarang, Ducati memang mempunyai pembalap yang prestasinya kurang mengembirakan. Adalah Franco Morbideli yang tetap bertahan di Moto GP karena kedekatannya dengan Valentino Rossi. Karir Morbideli yang tidak terlalu cemerlang setelah berpindah dari Yamaha masih bisa diselamatkan di tim asuhan Valentino Rossi.

Tahun 2026, bisa saja kursi Franco Morbideli digeser oleh Pedro Acosta andai memilih meninggalkan KTM.

BACA JUGA : Los Galacticos

Tanda-tanda KTM akan mengalami kesulitan sebenarnya sudah bisa dibaca dari sikap Dorna yang berkelit kala KTM ingin menambah tim satelit.

Usulan KTM itu disampaikan ketika Suzuki mundur dari ajang balap Moto GP.

Belajar dari Ducati yang kemudian dominan karena menurunkan 8 pembalap, KTM ingin melakukan hal yang serupa. KTM berencana akan menurunkan 6 pembalap agar memperoleh lebih banyak data untuk mengembangkan motornya.

Namun Dorna menolak dengan alasan slot sudah penuh.

Mungkin Dorna sebagai penyelenggara Moto GP tahu kalau KTM bakal kesulitan pendanaan jika harus menurunkan 6 pembalap sehingga balapan menjadi tidak maksimal, lintasan balap kurang seru dan itu akan merugikan Dorna sebagai penyelenggara.

Di sisi lain Dorna nampaknya memang tak ingin menambah pembalap di lintasan. Jumlah tim dan pembalap saat ini sudah cukup. Rencana Dorna untuk merubah Moto GP dari 1000 cc menjadi 850 cc di tahun 2027, juga menjadi alasan bagi Dorna untuk tak menambah tim balap saat ini.

Lebih baik bagi Dorna untuk menambah tim atau pembalap nanti pada tahun 2027. Mungkin bukan tim satelit KTM melainkan Suzuki yang kembali dan BMW yang akan mencoba peruntungannya di Moto GP setelah mencetak prestasi besar di WSBK.

Keseriusan BMW untuk masuk ke balapan Moto GP konon dibuktikan dengan anggaran yang cukup besar untuk membeli data dari Suzuki.

Niat KTM untuk terus bertahan di olahraga bermotor tetap besar. Sponsor utama mereka yakni Red Bull juga belum surut bahkan tetap berniat untuk bersama-sama mencari jalan keluar.

Tapi tetap KTM terguncang dan agak pincang.

Walau tetap bisa mempertahankan kiprahnya di berbagai lintasan balap, pada akhirnya keberhasilan dalam lapangan komersil atau penjualan harus dibuktikan.

Seperti Suzuki, mundurnya pabrikan Jepang dari Moto GP bukan karena krisis keuangan. Suzuki mundur karena penjualan mereka jeblok, maka perlu jeda diluar lintasan untuk mengembangkan motor yang lebih menarik pembeli.

Dan CEO Suzuki telah menyatakan jika penjualan Suzuki membaik maka mereka akan kembali ke Moto GP lagi.

Matahari yang cerah tak selalu pertanda bahwa hari akan hujan. KTM yang bersinar dalam beberapa tahun terakhir ini ternyata juga demikian. Memiliki tim dan pengembangan yang ideal namun terpukul oleh situasi di luar lintasan.

BACA JUGA : Trims Esteh

KTM atau Kraftfahrzeuge Trunkenpolz Mattighofen, artinya kendaraan bermotor Trukenpolz Mattighofen. Sulit sekali diucapkan terutama oleh orang-orang yang tidak berbahasa Jerman.

Pendirinya adalah Hans Trunkenpolz yang membuka bengkel di Mattighofen, Austria. Perusahaan motor ini bermula dari sebuah bengkel mobil.

Hans Trunkenpolz mulanya memang mempunyai bengkel untuk kendaraan perang. Setelah perang berakhir, dia berpikir untuk menghasilkan motor buatan sendiri.

Nama KTM sendiri didaftarkan oleh Ernst Kroenreif salah satu pemilik saham terbesar.

Bengkel mobil kemudian bermetamorfosa menjadi pabrik motor dengan karakter yang dikenal agresif. Nama KTM identik dengan motor sport dan adventure.

KTM masuk di pasar Indonesia lewat kerjasama dengan Bajaj dari India. Bajaj memiliki saham besar di KTM.

Penetrasi pasar KTM Bajaj cukup sukses. KTM kemudian membangun pabrik perakitan sendiri di Jawa Timur.

Dengan membangun perakitan sendiri harga jual KTM di Indonesia makin menjadi kompetitif.

Hanya saja karakter dan model motor KTM yang agak spesifik kemudian membuat penjualan di Indonesia tidak membesar. Walau nama KTM dikenal namun tampilan motor di jalanan kurang kelihatan.

Bagaimanapun juga di Indonesia seperti banyak negara lainnya motor yang paling populer adalah motor untuk pemakaian sehari-hari. Model yang paling diminati adalah motor bebek.

Dan untuk memasuki pasar ini, KTM mesti bersaing keras dengan Honda dan Yamaha yang sangat populer. Suzuki dan Kawasaki yang sejak lama bercokol di pasar Indonesia saja kesulitan.

Namun jika melihat trend motor bebek matik yang lama kelamaan cenderung bermodel scooter, mestinya Bajaj punya pengalaman yang bagus. Bajaj pernah terkenal dengan produk scooter-nya di Indonesia dengan bentuk yang mirip-mirip Vespa produk dari Piaggio, Italia.

Nama Bajaj sendiri bukan sesuatu yang asing di telinga. Yang pernah ke Jakarta pasti tahu Bajaj dan mungkin pernah menaikinya.

Bajaj kendaraan umum roda tiga terkenal karena yang tahu mau belok kemana hanya Tukang Bajaj dan Tuhan.

Semoga saja KTM lewat kerjasama dengan pihak-pihak lainnya mampu keluar dari kesulitannya.

Sehingga nama KTM masih akan ada di berbagai ajang balap motor dunia.

Kesulitan yang dialami KTM saat ini hingga beberapa saat kedepan kemungkinan akan membuat peta persaingan di balapan Moto GP menjadi perubah. Pembalap-pembalap dan para mekanik di tim KTM pasti tidak tenang menghadapi ketidakpastian.

Dengan materi pembalap yang bagus, bukan mustahil para pembalapnya akan digoda oleh tim-tim lainnya.  Dan Ducati sudah melakukannya dengan mengoda Pedro Acosta.

Nanti seiring dengan mulainya seri 2025, jika Brad Binder, Enea Bastianini dan Maverick Vinalles bisa tampil meyakinkan, mungkin saja tim-tim lain juga akan merayu mereka.

Dan KTM yang tengah berjuang untuk lepas dari kesulitan bakal makin merana jika tak segera menyibak awan gelap yang sedang menaungi induk usaha mereka.

note : sumber gambar – GRIDOTO