KESAH.ID Tan Malaka pernah menuliskan pandangan bahwa kemerdekaan dari penjajah belum akan membuat kemajuan jika bangsa masih terjajah oleh logika mistika. Sebuah kepercayaan yang menganggap segala sesuatu disebabkan oleh roh atau hal-hal gaib. Kegemaran ini juga dikritik oleh Mochtar Lubis yang gerah melihat kepercayaan terhadap tahayul yang begitu besar oleh masyarakat Indonesia. Perjuangan dan pendidikan untuk mengikis kepercayaan atau keyakinan pada tahayul ini kini banyak dilakukan oleh kreator konten. Namun jauh lebih banyak kreator konten yang justru membangkit-bangkitkan atau mengekploitasi tahayul, termasuk dukun atau paranormal.

Menghasilkan cuan dari main-main sepertinya menyenangkan. Tak perlu jadi seorang gamers untuk itu. Cukup bikin akun di media sosial lalu bikin konten. Yang paling gampang tentu lewat akun Tik Tok, disana ada banyak video main-main yang penontonnya jutaan.

Entah bagaimana cara monetisasi di Tik Tok, sepertinya pemilik akun mesti live lalu yang menonton akan memberi gift. Dan gift itu kemudian bisa diuangkan.

Salah satu contoh pemilik akun Tik Tok yang sukses adalah Gunawan Sadbor. Tiktoker yang terkenal karena live joget Patuk Ayam ini bisa beroleh hasil jutaan. Selain gemar menyumbang untuk kegiatan dan fasilitas di kampungnya, Gunawan tak pelit berbagi ilmu dan kesempatan. Dia mengajak orang sekampungnya untuk ikutan live.

Selain Tik Tok, Facebook juga mulai diserbu para newbie yang ingin beroleh uang hasil monetisasi. Facebook jadi pilihan karena ekosistem Youtube yang lebih dahulu menyediakan ruang untuk kreator konten realtif sudah matang, sulit untuk yang sekedar mau coba-coba.

Sebagai aktivis Facebook, sering kali muncul notifikasi permintaan pertemanan dari orang-orang yang tak saya kenal, jumlah teman yang sama juga kelewat sedikit. Dari profilnya terlihat pemilik akun adalah seseorang yang tengah berupaya memonetisasi akunnya lewat konten-konten harian.

Saya teramat jarang mengiyakan.

Dan beberapa hari lalu ada permintaan untuk menyukai dan mengikuti sebuah halaman. Halaman yang dari profilnya merupakan laman dari sekelompok komunitas sosial. Salah satu komunitas paling teruji dan konsisten menolong orang lain di Samarinda.

Dari salah satu kontennya yang menarik untuk saya adalah sebuah ajakan untuk menyumbang tiket. Ada orang dari Malaysia, pengusaha pemula sarang burung walet. Dia sudah membangun sarang walet namun tak terisi-terisi burung. Bangunan sarang burungnya kurang memikat untuk burung walet datang.

Dia berkorespodensi dengan seseorang di Samarinda yang katanya mempunyai buluh perindu. Dan ingin membelinya. Lalu dari Malaysia dia terbang ke Kalimantan Timur, namun ternyata kena tipu. Uang habis, paspor juga hampir kedaluwarsa, dia tak bisa menghubungi keluarga karena HP-nya rusak. Dan lebih celaka dia tak hafal nomor keluarganya juga.

Jauh-jauh datang dari Malaysia untuk membeli buluh perindu namun kena tipu.

Saya tak tahu seperti apa buluh perindu itu, tapi konon itu merupakan jimat sapu jagat. Khasiat atau manfaat yang dipercaya ada banyak. Yang paling populer adalah untuk pengasihan, semacam pemikat bagi lawan jenis. Sedangkan untuk pasangan yang sudah menikah, bulu perindu bisa memberi efek harmonis, pasangan akan saling setia dan terhindar dari perselingkuhan.

Selain sebagai pengasihan, bulu perindu juga bisa menjadi penglaris. Pemilik buluh perindu yang berdagang atau berusaha akan laris manis. Untuk yang sedang memulai usaha, apa yang dimulai akan menuai kesuksesan.

Buluh perindu juga kerap dipercaya meningkatkan kewibawaan. Atasan atau pimpinan akan dipercaya dan dihormati anak buah atau bawahannya.

Sebagai bangsa serumpun, apa yang dipercaya oleh masyarakat Indonesia umumnya juga dipercaya oleh masyarakat Malaysia. Kesamaan terhadap hal-hal mistis dan gaib ini umumnya terjadi antara orang Indonesia dan Malaysia yang berasal atau terpapar oleh kebudayaan Borneo.

BACA JUGA : Trims Esteh

Kepercayaan pada benda-benda yang berasal dari tumbuhan, logam, batuan, minyak dan lain-lain yang punya kekuatan atau pengaruh gaib sebenarnya merupakan kepercayaan lama. Kepercayaan ini muncul pada masa nenek moyang menganut animisme dan dinamisme. Mereka percaya di dalam benda ada kekuatan, roh atau hal-hal lainnya sehingga bisa digunakan untuk membantu manusia secara gaib.

Meski kemudian kebanyakan sudah menganut kepercayaan monoteis, keyakinan pada animisme dan dinamisme masih terekam dalam diri karena diwariskan lewat memori genetik.

Masyarakat juga membantu pengawetan dan pewarisan kepercayaan seperti ini. Kelompok yang bergelut dalam dunia metafisik dan paranormal mesti disebut sebagai garda depan pelanggengnya.

Walau kerap mengedepankan alasan tradisi, kearifan tradisional dan melestarikan kebudayaan, pada dasarnya hal yang melandasi adalah ekonomi.

Orang-orang yang disebut sebagai orang pintar, dukun atau paranormal kerap menjual aneka benda ini dengan harga yang sangat mahal. Agar tak bercorak komersil, mereka menyebut pertukaran uang dan benda itu sebagai mahar.

Benda-benda yang di toko atau kios alat-alat perdukunan yang harganya hanya puluhan atau ratusan ribu kemudian dimahari dengan nilai jutaan.

Apakah benda-benda itu memang punya kekuatan gaib atau ajaib?. Faktanya tidak. Manfaat benda-benda itu yang seperti manfaat pada umumnya.

Apakah tidak bernilai?. Bisa saja bernilai, bernilai sebagai karya seni atau benda koleksi jika merupakan barang langka atau unik.

Seorang kreator konten yang menyebut diri sebagai Pesulap Merah, sering membongkar fakta tentang benda-benda dengan kekuaatan metafisik atau perdukunan ini. Dia berkali-kali mendatangi toko atau penjual benda-benda ini di berbagai kota.

Benda yang katanya punya kekuatan gaib, punya khodam dan lain-lain itu dijual sama persis dengan dagangan biasa. Jika dibeli dalam jumlah banyak harganya akan lebih murah. Benda-benda itu adalah buatan pengrajin, tidak ada benda yang diperoleh secara gaib.

Sebagian lain memang ditemukan atau dicari, misalnya batuan atau fosil-fosilan, begitu juga dengan bagian dari tumbuhan.

Buluh perindu yang membuat warga Malaysia terlunta-lunta di Samarinda sebagaimana dikabarkan lewat halaman facebook, ternyata harganya hanya puluhan ribu saja. Tapi bisa dimahari oleh orang yang mengaku-ngaku punya dengan harga sampai puluhan juta.

Emas yang sering diceritakan sebagai hasil penarikan gaib ternyata juga dijual. Nama dagangnya ‘kuningan sari’, bentuknya memang mirip seperti emas batangan namun bukan benar-benar emas. Harganya juga tak sampai ratusan ribu.

Yang tertarik untuk mendapat emas batangan lewat ritual penarikan biasanya akan diminta oleh orang pintar atau komplotannya untuk membeli minyak. Makin mahal minyaknya makin besar benda yang bisa ditarik secara gaib dari alam.

Dan di penjual benda-benda perdukunan hanya aneka minyak yang warna-warni itu hanya puluhan ribu. Tapi dukun atau komplotannya bisa meminta ganti jutaan rupiah.

Benda-benda lain yang sering ditunjukkan oleh orang pintar sebagai hasil penarikan gaib seperti keris atau benda-benda pusaka lainnya, juga dijual dengan rata-rata harga dibawah seratusan ribu. Yang mencari manfaat dari benda-benda ini pasti buntung, rugi serugi-ruginya.

BACA JUGA : KTM Merana

Beberapa tahun sebelum proklamasi kemerdekaan, Tan Malaka menulis tentang ‘logika mistika’ dalam sebuah buku dengan judul Madilog, singkatan dari materialisme, dialektika dan logika.

Tan Malaka mengartikan logika mistika sebagai cara berpikir yang menggangap segala sesuatu disebabkan oleh pengaruh roh atau hal-hal gaib.

Bagi Tan Malaka cara berpikir seperti ini menjadi akar yang menghambat perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Alih-alih membebaskan diri dari penjajah, Tan Malaka berpandangan bahwa membebaskan diri dari penjajahan logika mistika adalah cara untuk memerdekakan diri yang sesungguhnya. Walau bebas dari penjajah namun jika masih terjajah oleh cara berpikir ini maka kemerdekaan atau pembebasan tak akan menghantar pada kemajuan.

Atas cara yang berbeda, Mochtar Lubis pernah mengungkapkan kritik yang sama lewat sebuah sinisme dalam pidato kebudayaan 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki.

Mochtar yang pernah di penjara di jaman orde lama itu mengemukakan daftar sifat-sifat yang sayangnya buruk dari orang-orang Indonesia. Ada daftar yang cukup panjang yang bakal membuat telinga panas. Salah satunya adalah kegemaran pada hal-hal tahayul.

Mungkin otokritik atau sinisme Mochtar Lubis cenderung berwatak stereotipe dan generalisasi. Walau begitu tetap saja masuk diakal, karena pandangan subyektifnya itu pada beberapa hal merupakan hal yang obyektif.

Sampai hari ini masih ada sosok-sosok yang berani menegaskan sikapnya yang anti tahayul di muka publik. Mereka tampil sebagai guru-guru publik untuk mengedukasi cara berpikir yang bebas dari tahayul. Rocky Gerung menyebutnya sebagai cara berpikir kritis, walau dia tak secara khusus melakukan de-tahayulisasi.

Pesulap merah menjadi salah satu contoh terdepan de-tahayulisasi terutama dalam lapangan perdukunan atau laku-laku lain yang mengarah kepada kesaktian, energi super, mediumisasi dan lain-lain.

Dan sekelompok kreator konten lainnya juga melakukan aksi yang mengambil inspirasi dari Tan Malaka. Mereka menamai inisiatifnya sebagai Malaka Project.

Ferry Irwandi salah satu founder Malaka Project juga giat melakukan de-tahayulisasi lewat channel pribadinya. Baru-baru ini Ferry menantang dukun santet untuk menyantet dirinya. Dan sampai hari ini dia masih sehat-sehat saja walau menerima banyak ancaman.

Dia bahkan terus membongkar fakta tentang barang biasa yang diklaim dengan label religi. Label yang kemudian manfaatnya menjadi over klaim.

Sosok lain yang kerap membongkar cara berpikir dan kepercayaan pada hal tahayul adalah Ryu Hasan. Dikenal dengan sebutan Dok Des, Ryu tampil menjelaskan tentang cara kerja otak manusia. Intinya tak ada hal gaib di dunia, yang ada adalah hal-hal yang belum bisa diterangkan sehingga dianggap gaib.

Sebagai pembelajar neurosains, Ryu Hasan bersifat lebih netral dengan cara tidak memberi penilaian moral. Sebagaimana cara kerja sains, Ryu hanya menerangkan konsekwensi dari cara berpikir.

Dan karena sains bukan kepercayaan maka menurut Ryu sains tak terobsesi untuk membuktikan kebenaran atau mencari kebenaran. Sains hanya ingin menerangkan sejauh yang bisa dibuktikan. Makanya sains tak mencari pengikut. Mau diikuti atau tidak ya terserah.

Soal kenapa kebanyakan masyarakat Indonesia percaya tahayul, mungkin benar yang kerap diucapkan oleh Ryu Hasan bahwa kebanyakan kita lebih suka dianggap bersaudara dengan genting daripada dengan taoge.

note : sumber gambar – INDOFENGSHUI